agama


PROPOSISI: semakin bahagia seseorang, semakin banyak berderma ataukah semakin banyak seseorang berderma, semakin bahagia dirinya. Diduga keduanya bisa saja terjadi. Semakin bahagia seseorang semakin gampang memberi buat orang yang membutuhkannya. Tetapi ilmuwan menyatakan bahwa pada akhirnya efek kumulatif dari tingkah laku yang dermawan membuat seseorang lebih bahagia. Kesimpulan dari polling yang dilakukan terhadap 19.000 orang dewasa di 24 negara pada tahun 2011 menunjukkan tidak ada hubungan positif yang mutlak antara kekayaan dengan kebahagiaan.

Laporan yang disampaikan oleh The Economist bahwa dari angka indeks kebahagiaan posisi rakyat Indonesia jauh lebih bahagia ketimbang rakyat Singapura. Kebahagiaan seseorang tidak diukur dari jumlah hartanya tetapi darimana asalnya dan bagaimana memanfaatkan hartanya. Mereka yang mengumpulkan harta dari jalur halal dan selalu berderma buat orang lain akan jauh lebih berbahagia dibanding mereka yang mengumpulkan harta dari korupsi dan kikir dalam berbagi.

Iklan

 

       Hampir bisa dipastikan sebagian dari kita yang sedang bekerja atau yang sudah pensiun pernah menduduki jabatan suatu organisasi. Dari jabatan yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya relatif sederhana hingga ke yang sangat kompleks. Apakah sebagai koordinator pelaksanaan tugas-tugas pengarsipan, keuangan, produksi, satuan keamanan, kepanitiaan hingga tingkat manajemen puncak sebagai presiden direktur dan menteri  bahkan presiden.

       Semua jabatan itu merupakan pengakuan pada seseorang atas  performa dan kepribadiaannya. Tentu saja setiap jabatan itu dipandang sebagai bentuk tanggung jawab yang harus ditegakkan oleh yang bersangkutan. Dengan kata lain ada unsur amanah di dalamnya. Di sisi lain apakah ada unsur kebahagiaan yang diperoleh sang pejabat itu?

      Setiap pemegang jabatan mungkin akan memandang jabatan itu bisa berbeda-beda. Ada yang menganggap amanah, ada yang menilainya sebagai meningkatnya status sosial, ada yang merasakan segalanya karena sudah dipercaya, dan mungkin pula ada yang memandang biasa-biasa saja. Selain itu ada yang menganggap jabatan itu sebagai anugerah namun ada juga yang memandangnya sebagai musibah. Akibat dari itu mungkin pula akan terjadi perubahan perilaku misalnya timbul sikap sombong, percaya diri semakin tinggi, semakin bersikap amanah, wajar-wajar saja dan bahkan justru semakin rendah hati. Dan itu semua sangat bergantung pada karakter setiap orang.

       Bagi mereka yang menganggap jabatan atau tugas itu sebagai amanah maka sudut pandangnya adalah pada konteks pengabdiaan. Setiap jabatan dipandang sebagai ladang akhirat. Setiap jabatan harus ditegakkan untuk kemaslahatan luas. Disitu ada makna hasrat kuat untuk berbagi. Bukan untuk dibanggakan dalam ujud keangkuhan dengan keegoannya yang dominan sehingga mengabaikan tanggung jawab. Bahkan ada yang menyalahgunakannya dalam bentuk perbuatan moral hazard seperti korupsi. Bukannya kebahagiaan yang diperoleh malah penderitaan keluarga.

      Karena itu makna yang paling dalam dari mereka yang  menegakkan amanah adalah peluang besar untuk mengembangkan amal soleh. Disitulah letak kebahagiaan sejati dari jabatan yang dipercayakan kepadanya yang diawali rasa syukur.  Untuk itu kebahagiaan yang ingin dicapai adalah buah dari proses dan capaiannya buat kemaslahatan umum karena terdorong ingin memeroleh ridha Allah semata.

 

        Silaturahmi yang dilakukan seseorang mengandung arti terjalinnya saling mengasihi satu sama lain. Dipercaya bahwa dengan silaturahmi, paling tidak ada dua hal yang ingin diraih. Pertama adalah dengan semakin tingginya intensitas bersilaturahmi maka usia kita semakin panjang. Namun bukan  dalam konteks usia biologis. Karena faktor usia merupakan otoritas sang pencipta yakni Allah. Yang dimaksudkan disini adalah nama baik mereka yang rajin bersilaturahmi selalu dikenang sepanjang masa sekalipun yang bersangkutan telah meninggal dunia. Makna nilai silaturahmi yang kedua adalah berkah bertambahnya rezeki. Dengan silaturahmi seseorang akan semakin terbuka kesempatannya untuk menjalin usaha-usaha yang berkait dengan promosi nama baik, karir dan pendapatan seseorang. Dalam hal ini maka silaturahmi di lingkungan kerja menjadi sangat penting.

        Ketika beberapa orang melaksanakan pekerjaannya di organisasi apapun pasti tidak akan lepas untuk saling berhubungan satu sama lainnya. Baik dalam konteks vertikal dengan atasan maupun horisontal dengan sesasama rekan kerjanya. Baik dilakukan formal maupun informal. Secara formal, disitu ada proses manajemen kineja  mulai dari yang sifatnya pemberian instruksi kerja, koordinasi, umpan balik, sampai evaluasi pelaksanaan dan hasil kerja dalam suasana silaturahmi. Dengan berbagi, tiap individu di unit kerja organisasi menjadi tahu betapapun beratnya masalah yang dihadapi, sesungguhnya yang bersangkutan tidaklah sendiri. Orang lain juga menghadapi masalah yang sama, bahkan mungkin lebih berat dengan bentuk yang berbeda.

        Jika sudah demikian, kita akan bisa lebih tegar menghadapi masalah, dan saling menguatkan. Insya Allah spirit hidup pun tumbuh kembali. Sementara selain formal, secara informal siltarurahmi diujudkan dengan kegiatan-kegiatan sosial internal organisasi. bentuknya berupa acara seni, olahraga, dan wisata bersama di suatu tempat. Maksudnya agar terjadi penyegaran lahir dan  bathin, dan terjalinnya suasana keakrabatan penuh dengan jiwa kekeluargaan tanpa ikatan hirarki jabatan yang ketat. Sekaligus mencegah terjadinya konflik horisontal dan vertikal. Selain itu silaturahmi bisa dimanifestasikan dalam bentuk ucapan selamat dan doa ulang tahun, selamat dan doa hari pernikahan, dan kunjungan ke rumah atau rumah sakit melihat karyawan atau atasan yang sedang dirawat sakit sambil mendoakan kepulihan kesehatannya.

       Dalam hal ini dibutuhkan pendekatan manajemen kinerja formal dan informal berbasis silaturahmi ini. Tujuannya mendorong setiap individu untuk bekerja semakin produktif lagi. Tentunya dalam kerangka kepentingannya masing-masing dan kepentingan organisasi. Setiap individu sesuai dengan posisinya melakukan evaluasi kinerjanya. Hasil evaluasinya digunakan sebagai dasar untuk  meningkatkan potensi dirinya. Semuanya dilakukan dalam kerangka menjaga dan bahkan meningkatkan kinerja baik individu maupun kinerja organisasi. Semakin tinggi intensitas dan mutu koordinasi kerja atau silaturahmi kerja maka semakin tinggi pula kinerja yang dicapainya. Sejauh mungkin, dengan silaturahmi, konflik kerja dapat dihindari. Daya saing usaha organisasi pada gilirannya juga akan semakin meningkat. Tentunya semua itu akan sangat bergantung pada niat dan kebijakan dari manajemen puncak.

 

       Pasrah? Apakah sama dengan menyerah? Putus asa? Dalam kamus, pasrah berarti menyerah(kan) sepenuhnya, misalnya marilah kita pasrah pada takdir dengan hati yang tabah; ia pasrah pada apa yg akan diputuskan oleh pengadilan. Contoh lainnya, berpasrah atau berserah diri adalah berpasrah/berserah diri pada Tuhan sambil berdoa agar terhindar dari malapetaka. Bagaimana pasrah di dunia kerja?

        Berpasrah diri dalam dunia kerja akan berbeda maknanya bergantung pada kasus yang dihadapi seseorang dan atau perusahaan. Seorang karyawan akan pasrah diri menerima hukuman dari manajemen ketika dia ketahuan melanggar disiplin kerja. Jadi karyawan bersangkutan menerima dengan lapang dada tanpa merasa kecewa atau jiwa yang tertekan. Dan tentunya setelah kejadian itu sang karyawan diharapkan akan mengelola dirinya dengan lebih baik. Namun akan berbeda makna ketika dia dituduh melanggar disiplin. Karena sifatnya masih tuduhan maka tidak sewajarnya sang karyawan tersebut lalu pasrah diri. Dia bisa mengelak tuduhan asalkan didukung bukti-bukti kuat akan ketidakbenaran tuduhan yang ditimpakan padanya.

        Perusahaan ketika mengalami musibah kebakaran salah satu pabriknya maka wajar manajemen pasrah atas kejadian itu. Apa mau dikata lagi. Itu mungkin kesalahan para karyawan dalam menerapkan prosedur pengamanan dan keselamatan fasilitas. Tentunya pihak manajemen akan berpikir keras untuk menghindari agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.  Begitu pula pihak  manajemen akan pasrah ketika kondisi perekonomian global berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Alasannya karena tidak mungkin perusahaannya mampu mengatasi sendiri perekonomian global. Namun di sisi lain tentunya manajer tidak berpasrah diri melainkan mencari jalan bagaimana perusahaan menyesuaikan diri dengan kondisi perekonomian tersebut. Misalnya bergantung pada sudut persoalannya, manajer bisa melakukan efisiensi di berbagai segi. Mulai dari aspek sumberdaya manusia karyawan hingga proses produksi dan distribusi.

        Dari contoh-contoh tentang pasrah di atas maka pertanyaannya apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh karyawan dan manajemen. Yang jelas pasrah disini tidak diartikan statis. Pasrah pasti punya hikmah di dalamnya. Pasrah bukan berarti berdiam diri. Karena itu ketika mengelola pasrah maka yang pertama harus diperhatikan adalah kemampuan menarik nilai yang terkandung dari setiap kejadian. Hal ini sangat penting untuk melihat sejauh mana kita ikhlas atau ridha dan sabar menghadapinya. Kemudian yang berikutnya adalah sikap pasrah harus diikuti suatu analisis atau diagnosis mengapa suatu kejadian itu muncul. Apa akibat-akibatnya pada seseorang, kelompok dan perusahaan.? Hal apa yang bisa dikendalikan sendiri dan mana yang harus dibantu pihak lain. Dari situlah pasrah akan membuahkan jalan keluar agar di kemudian hari akibat dari setiap kejadian bisa ditekan sekecil mungkin.

         Dengan demikian manajemen pasrah bukanlah diartikan hanya bagaimana kita ikhlas dan sabar menghadapai setiap musibah yang ada. Apalagi bersifat sangat statis dimana setiap program dan kegiatan dilakukan tanpa perencanaan dan antisipasi kalau mengalami penyimpangan. Manajemen pasrah disini lebih ditekankan pada bagaimana setiap karyawan dan manajemen tidak pesimis dan berdiam diri saja apalagi putus asa ketika menghadapi suatu masalah. Mereka harus responsif dan peka terhadap setiap kejadian baik di internal maupun eksternal perusahaan. Ada usaha aktif bagaimana perusahaan bisa maju tanpa harus menyerah pada kepasrahan diri.

 

….saling memaafkan dan menyambung-memererat tali silaturrahmi merupakan ajaran luhur dalam Islam….itulah salah satu tujuan halal bi halal…kalau dilaksanakan di suatu perguruan tinggi misalnya…apakah pas dalam prakteknya kental dengan hirarkis jabatan?…terutama di semua instansi pemerintah…sampai-sampai tempat duduknya pun berbeda dengan lainnya…bukankah lebih tepat dilaksanakan dalam suasana egalitarian atau kesetaraan?….memang tidak mudah melakukan reformasi acara halal bi halal dengan segara…karena ia terbangun dari proses konstruksi sosio-kultural sejak doeloenya…untuk itu dibutuhkan suatu proses dan waktu serta kehendak kuat dari manajemen puncak…

 

      Lebaran bagi umat islam adalah hari istimewa bahkan sakral. Termasuk mereka yang ada di dunia pekerjaan. Hari lebaran memiliki nilai spiritual kolektif yang tinggi. Dalam konteks pekerjaan para karyawan pun pasti menyambutnya dengan suka cita khususnya ketika menjelang hari-hari lebaran. Salah satu yang dinantikan adalah tunjangan hari raya atau THR. Tunjangan itu selalu didambakan ditambah dengan tabungan keluarga  tidak saja akan digunakan untuk keperluan membeli pakaian baru dan asesorinya, makanan dan minuman keluarganya. Namun juga dipakai untuk membeli sesuatu sebagai oleh-oleh bagi ortu dan handai taulannya di kampung halaman mereka.

         Karena itu karyawan akan semaksimum mungkin menunjukan kinerjanya paling tidak sesuai dengan standar perusahaan.  Karena dengan berkinerja tinggi sudah pasti kinerja perusahaan pun akan meningkat. Dengan harapan karena sudah berkinerja dengan baik maka THR akan tetap diterima oleh para karyawan. Dengan kata lain tak ada alasan perusahaan tidak memberi THR kepada para karyawannya.

       Yang mungkin harus menjadi perhatian para karyawan adalah bagaimana mengelola suasana lebaran itu sendiri. Dengan kata lain bagaimana melaksanakan program lebaran yang tidak harus dengan mengeluarkan biaya berlebihan. Pemahamannya adalah bagaimana karyawan harus mampu mengelola anggarannya seoptimum mungkin. Mereka harus sudah menyisakan anggarannya sedemikian rupa sehingga ketika mereka dan keluarganya pulang masih bisa tetap menjalani kehidupannya dengan baik. Dengan demikian mereka bisa bekerja kembali dengan normal. Dan kembali menyiapkan diri misalnya dengan menabung jauh hari untuk menyambut lebaran kembali di tahun berikutnya.

SELAMAT MENYAMBUT HARI KEMENANGAN. SEMOGA KITA TERMASUK DI DALAMNYA AAMIIN.

 

       Bulan ramadhan mengandung tiga hidayah buat mereka yang berpuasa dengan khusyu. Yakni memeroleh rahmat bathiniah, ampunan dosa, dan terbebas dari api neraka. Itulah yang menjadikan idaman kalangan muslim. Tinggal lagi bagaimana mengimplentasikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya agar dapat memenuhi persyaratan memeroleh hidayah tersebut.

        Salah satu fenomena sosial yang marak dalam bulan ramadhan adalah berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa seperti anak yatim dari keluarga miskin. Bisa berbentuk berbuka bersama, penyerahan bingkisan lebaran, dan juga uang santunan pendidikan. Tak kurang para artis dan pejabat dan partai politik seolah berlomba untuk menyelenggarakannya. Media TV menjadi salah satu jalur untuk menginformasikan kegiatan seperti itu. Tentunya perlu kita sambut kegiatan yang mulia itu.

       Kegiatan itu akan lebih bermakna lagi sekiranya berlanjut di hari atau bulan-bulan berikutnya. Karena yang dimaknai dari ibadah adalah tidak mengenal waktu dan tempat. Populernya kapan dan dimana saja. Namun demikian ibadah seperti berbagi itu haruslah dalam konteks investasi pendidikan dan pembangkitan usaha mencari nafkah. Artinya dengan berbagi uang jangan sampai membangun sifat bergantung pada orang lain. Uang yang dibagikan yang insya Allah berkelanjutan seharusnya bisa menjadi modal usaha atau biaya untuk pendidikan. Jangan memberi ikan tetapi berilah kail dan cara memancingnya. Pada gilirannya mereka diharapkan mampu mandiri dalam menghidupi diri dan keluarga.

Laman Berikutnya »