Agustus 2011


 

        Dalam beberapa hari ini insya allah, ummat islam akan merayakan lebaran. Tidak saja institusi di tingkat mikro rumahtangga, di tingkat makro pun pada bakal sibuk menghadapi datangnya masa lebaran setiap tahun. Di tingkat makro, antara lain bagaimana pemerintah harus sudah mengantisipasi arus mudik lebaran. Bagaimana dengan infrastrukturnya? Bagaimana dengan armada angkutan? Bagaimana dengan petugas ketertiban dan keamanan? Bagaimana menjaga keseimbangan suplai dan permintaan barang-barang kebutuhan lebaran khususnya pangan?

          Di tingkat mikro, bagaimana sang kepala keluarga harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Yang pertama adalah menentukan apakah tahun ini akan pulang mudik atau tidak? Kalau ya mau kemana; apakah ke orang tua ataukah ke mertua; atau tidak kemana-mana alias tinggal di rumah saja? Kemudian bagaimana pulang mudiknya; apakah lewat darat, udara, ataukah laut? Apa saja yang akan dibawa sebagai oleh-oleh; apakah dalam bentuk barang ataukah uang, ataukah kedua-duanya? Bagaimana dengan keperluan untuk kebutuhan pangan dan pakaian keluarga untuk meramaikan suasana lebaran? Berapa zakat, infak dan sedekah akan dibagikan dan kepada siapa?.

          Nah untuk itu, bagaimana tentang besaran finansialnya?. Karena biasanya pengeluaran lebaran akan jauh lebih besar dibanding pengeluaran sehari-hari. Darimana sumbernya; apakah menambah jam kerja, menggadaikan barang-barang seperti motor, perhiasan, kulkas, ataukah meminjam uang dari orang lain, ataukah tidak menambah anggaran.? Dan jangan lupa ada kegiatan yang lain yakni mengatur pembagian pekerjaan rumah tangga ketika sang asisten rumahtangga pulang mudik. So itulah gambaran singkat bagaimana suatu keluarga melakukan perencanaan dan pelaksanaan program lebarannya. Apakah itu berlaku juga bagi sang keluarga dhuafa atau kaum papa?

         Siapapun, termasuk kaum dhuafa juga memiliki perencanaan lebaran. Namun tentu saja kita sudah bisa memperkirakan perencanaan lebaran yang dilakukan kaum dhuafa tidak seperti perencanaan ideal keluarga di atas. Walau dengan finansial seadanya, kepala keluarga mereka juga membuat perencanaan yang sama. Yang membedakannya adalah dalam hal lingkup kegiatan, jumlah dan nilai pengeluarannya. Walau dalam keadaan finansial yang pas-pasan, mereka juga sudah pasti paling tidak memikirkan tentang jenis makanan dan pakaian seadanya buat sang anak dan isterinya.

          Lebaran merupakan milik ummat islam. Lebaran dipandang sebagai fenomena relijius untuk mensyukuri nikmah Allah setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa ramadhan. Lebaran ditempatkan dalam suasana bathin yang sangat istimewa. Sekecil apapun lingkup kegiatannya, setiap keluarga akan merencanakan kedatangan hari yang ditungu-tunggu itu. Mereka bakal bersuka cita menghadapinya. Bagi mereka yang tergolong muzzaki tidak segan-segan dengan ikhlas mengeluarkan sebagian dari harta atau uangnya untuk membantu keluarga dhuafa atau mustahik. Mereka bakal memperoleh kebahagian lahir bathin yang sangat luar biasa. Mengapa? Karena mereka telah ikut membahagiakan orang lain. Mereka telah menerapkan rasa keadilan dan kebersamaan. Subhanallah. Selamat Idul Fitri 1432 H. Maaf memaafkan; Doa mendoakan. Amiin.

 

           Perilaku dalam bekerja keras dan cerdas, memimpin karyawan dengan persuasif, dan membangun hubungan vertikal dan horizontal yang harmonis merupakan contoh-contoh perilaku sifat terpuji dari seseorang. Karena berperilaku menakjubkan dari sekelompok karyawan dan pimpinannya maka kinerja perusahaan akan meningkat. Dari mana referensi keteladanan itu bisa dipelajari dan ditiru? Biasanya keteladanan itu datangnya dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang baik dalam berbagai segi maka para karyawan cenderung akan menirunya. Bahkan tanpa diperintah sekalipun. Hal ini lumrah terjadi dalam suatu organisasi termasuk perusahaan. Apakah kalau begitu sumber referensi keteladanan hanya dari pemimpin atau pimpinan unit?

           Memang referensi dari pimpinan merupakan sumber utama. Namun demikian tidak cukup. Ada sisi lain yang perlu dipenuhi yakni dari rekan sekerja. Para karyawan akan semakin terpacu untuk meningkatkan mutunya manakala melihat kemajuan rekan-rekan sekerjanya. Misalnya dalam hal kompetensi karyawan. Syarat untuk itu hanya dapat dipenuhi lewat proses pembelajaran seperti pendidikan-pelatihan dan magang. Karena itu karyawan yang belum banyak mengikuti pendidikan dan pelatihan akan terdorong oleh keberhasilan rekan kerjanya. Keberhasilan itu merupakan fungsi dari kinerja pendidikan dan pelatihan dan produktifitas kerjanya.

          Keberhasilan seorang karyawan disamping ditunjukan oleh produktifitas kerjanya juga oleh kinerja dalam bentuk perkembangan karirnya. Karir merupakan salah satu impian dari setiap karyawan. Mereka yang tergolong karirnya bagus sering menjadi rujukan karyawan lain yang belum berhasil. Mereka terdorong dan berkeinginan mencapai karir tersebut. Walaupun diketahui bahwa semakin tinggi posisi yang diraih semakin ketat persaingan karir yang dijalaninya. Dengan asumsi kondisi pengembangan karir berjalan normal maka faktor karir sangat menentukan spirit karyawan untuk meraihnya. Setiap karyawan terdorong untuk bekerja keras dan cerdas.

         Uraian di atas menunjukkan bahwa referensi keteladanan di tingkat pimpinan (vertikal) dan di tingkat rekan sekerja (horizontal) cenderung memiliki sisi yang berbeda. Kalau pimpinan dijadikan rujukan maka disitu terdapat proses berbagi nilai (shared values). Sistem nilai kepemimpinan dalam bekerja keras dan cerdas dari pimpinan cenderung mengalir ke kalangan karyawan. Lalu diperhatikan, dipahami, dan ditiru oleh karyawan dalam bentuk nyata. Sampai suatu ketika sistem nilai yang berbagi itu menjadi perilaku budaya kerja. Sementara rujukan horizontal cenderung menunjukkan terjadinya berbagi motivasi dan spirit untuk maju di antara sesama karyawan. Dalam prakteknya kalau sistem rujukan vertikal dan horizontal berlangsung sinergis maka akan menjadi fondasi budaya kerja yang semakin kokoh.

 

         Enam puluh enam tahun lalu Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Ketika itu Indonesia menyatakan lepas dari penjajah dengan segala bentuknya. Darah, air mata dan nyawa para pahlawan tidak terkira untuk kemerdekaan. Dari segi de-jure dan hukum internasional Indonesia memang sudah merdeka dan sudah lepas dari cengkeraman penjajah Belanda dan Jepang. Namun setelah 66 tahun merdeka, bangsa Indonesia patut merenungkan akan beberapa hal. Apakah benar kita sudah hidup semerdeka-merdekanya? Apakah bentuk penjajahan sudah benar-benar hilang dari bumi kita? Kalau belum dimana letak kesalahannya?

         Kita masih merasakan belum bebas dari penderitaan dalam bentuk lain. Yaitu masyarakat yang adil dan sejahtera. Masih banyak masalah yang dihadapi bangsa dan rakyat Indonesia. Kita belum terbebas dari rasa aman, derita kemiskinan, perlakuan hukum yang tidak adil, ketimpangan ekonomi, banyaknya pengangguran, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, dan banyak lagi. Masih banyak rakyat tergusur atas nama modernisasi bahkan cuma demi ketertiban dan kebersihan kota. Mengapa?

          Karena ada bentuk penjajah yang lain yaitu arogansi sebagian para pemimpin pemerintah pusat dan daerah, koruptor, manipulator bisnis, dan provokator sosial-politik. Masih banyak ”tor-tor” lainnya berupa penjarah kekuasaan, penjarah hutan, penjarah pertambangan, dan penjarah sumberdaya alam lainnya, penjajahan budaya modern termasuk narkoba, dsb. Ternyata jauh lebih sulit menghabisi penjajah domestik ketimbang terhadap penjajah asing. Yang paling nyata terlihat di depan hidung kita adalah penjajah domestik yang telah mampu menjadikan korupsi dan turunannya menjadi semacam budaya. Bagi sebagian orang berbuat seperti itu dianggap biasa-biasa saja. Kondisi itu sudah sangat begitu laten. Sudah sangat membahayakan. Saya khawatir sebagian rakyat Indonesia sudah tidak memiliki budaya malu untuk berbuat curang, kotor dan hina

         Sementara itu sebagian politisi kebanyakan sudah begitu berorientasi pada kepentingan politik, golongan dan individu. Di sudut lain, kepentingan kedaerahan dan keserakahan mengeksploitasi sumberdaya alam sudah berada dalam ambang bahaya kelestarian hidup. Belum ada tanda-tanda mereka memiliki kesadaran perlunya pembangunan berkelanjutan. Mereka begitu bebasnya telah merenggut arti kemuliaan dari suatu kemerdekaan. Karena itu kita berharap dengan ridha Allah, bangsa Indonesia mampu terus membangun simpati, emphati dan cahaya semangat solidaritas terhadap sesama terutama terhadap masyarakat yang masih tertinggal. Ya Allah maafkanlah bangsa kami dan berikanlah petunjukMU ke jalan yang benar. Selamat merayakan hari kemerdekaan, bangsaku. The journey never end. DIRGAHAYU !

 

         Ketika persaingan dunia bisnis tidak bisa dihindari maka manajemen perubahan menjadi sangat penting diterapkan. Namun demikian dalam kenyataannya proses perubahan yang terjadi tidak selalu mendapat respon positif. Resistensi dari dalam berpeluang terjadi. Terutama dalam hal-hal kebijakan yang menyangkut sisi efisiensi penggunaan tenaga kerja atau rasionalisasi. Termasuk yang ada kiatannya dengan manajemen karir dan kompensasi.

        Manajer perlu memahami mengapa organisasi harus siap menghadapi perubahan: apakah yang bersifat inovatif maupun strategis. Perubahan inovatif adalah perbaikan secara kontinyu di dalam kerangka sumberdaya yang ada. Sementara perubahan strategis adalah perubahan melakukan sesuatu yang baru. Berdasarkan derajat kedalaman perubahan dan metodenya maka jenis perubahan yang bakal manajemen hadapi meliputi perubahan rutin, darurat, mutu, radikal, dan kondisi makro.

        Perubahan inovatif adalah suatu proses yang dicirikan dengan adanya perbaikan apa yang sudah dilakukan. Perbaikan-perbaikan ini menyangkut dalam praktek pekerjaan dan proses, perubahan dalam rancangan, perakitan, distribusi produk atau perubahan dalam manejemen material. Sementara itu perubahan strategik meliputi : perubahan preferensi pelanggan, ukuran pasar, cara mendistribusi komoditi, cara mempromosi komoditi, perubahan unsur pendukung dan biaya tenaga kerja-operasional. Dalam pelaksanaannya, ada dua prosedur perubahan: (a) Prosedur perubahan inovatif yang memungkinkan organisasi memperbaiki efektifitas dengan mutu SDM yang terus dikembangkan; (b) Prosedur perubahan strategik yang memungkinkan organisasi merubah apa yang perusahaan lakukan dan cara melakukannya.

        Agar resistensi dapat ditekan demi tercapainya keberhasilan suatu program perubahan maka setiap orang harus siap dan mampu merubah perilakunya. Hal ini sangat bergantung pada apa yang mempengaruhi perilaku dan apa pula yang mendorong seseorang untuk berubah. Beragam faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku: pengetahuan, kepercayaan, ketrampilan, lingkungan dan tujuan perusahaan. Untuk itu sosialisasi intensif dan penerapan pendekatan partisipasi sangat dibutuhkan.

        Semua elemen organisasi penting dilibatkan sejak awal dalam merumuskan syarat-syarat agar perubahan berhasil seperti adanya kerangka perubahan, batasan perubahan yang diinginkan, target hasil, keterkaitan dengan tujuan perusahaan, komit pada kepemimpinan, memahami implikasi perubahan, memilih metode yang benar, melibatkan pemangku kepentingan, menggunakan strategi, dan memantau dan mengendalikan proses.

 

           Sebenarnya pensiun adalah fenomena alami ketika seseorang yang usianya dianggap sudah lanjut harus sudah tidak berstatus pegawai tetap lagi. Begitu pula yang bersangkutan tidak bisa mengelak ketika peraturan menyebutkan pada usia tertentu harus sudah siap pensiun. Dengan kata lain yang bersangkutan harus ikhlas. Namun kata pensiun tidak jarang diasosiasikan dengan gambaran “menakutkan”. Hal itu biasanya muncul setelah masa tiga bulan-enam bulan pertama masa pensiun dilewati. Ketika itu terjadi maka diperkirakan ada beragam fenomena psikologis yang muncul. Pertama, merasa bingung apa yang harus diperbuat akibat sudah tidak punya kegiatan lagi. Kedua merasa kesepian dibanding ketika masih aktif sebagai pegawai. Ketiga, merasa biasa-biasa saja. Kemudian bisa jadi karena sang pensiunan belum mempersiapkan rencana kegiatan sesudah pensiun secara matang. Hal demikian, bisa juga karena yang bersangkutan merasa tidak memiliki sumberdaya khususnya dana dan pengalaman serta jejaring bisnis.misalnya untuk berwirausaha. Sementara yang ketiga biasanya sang pensiunan sudah memiliki rencana kegiatan pasti yang telah dirintis sebelum pensiun.

          Sudah banyak rujukan bagi para pensiunan bagaimana mengisi kekosongan waktu. Umumnya isi rujukan berkisar pada bagaimana mencari peluang berwirausaha. Disitu diberi contoh berbagai peluang bisnis melalui investasi mulai dari modal relatif “kecil-kecilan” sampai modal “besar”. Diberi informasi pula bagaimana langkah-langkah yang perlu dilakukan. Sementara di bidang non-wirausaha seperti dalam kegiatan mengajar, memberi ceramah atau materi seminar dan menulis buku hampir-hampir tidak ada rujukannya. Padahal itu juga merupakan kegiatan mengisi masa pensiun yang produktif. Di sisi lain ada juga pensiunan yang tidak melakukan kegiatan yang bersifat “mencari nafkah”. Yang dilakukan para pensiun seperti ini adalah dalam bentuk kegiatan sosial. Mulai dari kegiatan di organisasi kemasyarakatan berskala tingkat rukun warga dan kelurahan sampai tingkat nasional bahkan tingkat internasional. Contoh untuk pensiunan seperti ini adalah yang dilakukan seorang jenius sekaligus pebisnis raksasa; Bill Gates. Dia memutuskan untuk pensiun pada 27 Juni 2008 dari Microsoft setelah lebih dari 33 tahun mengembangkan bisnisnya dengan penuh kontroversi dan keberhasilan puncak di dunia. Sekarang Bill Gates akan menghabiskan waktunya pada sebuah yayasan yang didirikan bersama istri dan keluarganya yakni Bill & Melinda Gates. Bagaimana masa pensiun diisi oleh seorang guru besar?.

          Sebagai seorang guru besar emeritus, saya sudah menjalani masa pensiun selama tiga tahun lebih. Alhamdulillah masih masih mendapat kepercayaan dari IPB untuk terus mengajar dan membimbing mahasiswa. Di tahun 2011 kegiatan mengajar dengan lima mata kuliah bagi mahasiswa semua dan di semua semester. Saya pun masih bertugas membimbing mahasiswa semua strata sebanyak 26 orang. Diperkirakan kalau jumlah mahasiswa bimbingan tidak bertambah maka berarti saya baru akan menyelesaikan bimbingan dua sampai tiga tahun ke depan. Terutama untuk membimbing 21 kandidat doktor. Kegiatan membina para dosen muda pun terus dilakukan.

           Di samping mengajar dan membimbing saya akan terus menulis buku ilmiah seperti yang selama ini saya lakukan. Insya allah tahun ini diharapkan sudah diterbitkan sebuah buku berjudul Manajemen Etika Binis yang ditulis bersama isteri saya. Penelitian dan menjadi konsultan pun masih akan terus dilakoni.Nah pilihan yang lain adalah ingin menjadi seorang blogger sejati. Berblog ria adalah pekerjaan yang begitu mengasyikan sejak empat tahun lebih. Karena blog-lah saya semakin terdorong untuk selalu membaca beragam rujukan ilmiah dan non-ilmiah. Saya harus taatasas sesesuai dengan motto blog saya: “Syiarkanlah kebajikan walau cuma satu kata semata-mata untuk memperoleh ridha Allah”.

          Bagi saya, pensiun adalah bukan sesuatu yang harus membuat sang pensiunan khawatir atau takut. Banyak yang bisa dikerjakan. Pilihan begitu banyak. Tidak kecuali mengasuh cucu di rumah; asalkan itu adalah pilihannya yang terbaik. Begitu pula dengan pilihan-pilihan lainnya. Pasti seorang pensiunan sekali memilih kegiatan tertentu dia sudah mempertimbangkan manfaat dan konsekuensinya. Jadi yang terpenting isilah waktu-waktu ke depan dengan kegiatan apapun. Insya Allah stres dan bahkan depresi tak bakal muncul. Demikian pula dengan seorang guru besar. Pilihan habitat akademik yang diambilnya mungkin menjadi dunianya yang paling membahagiakan.