Agustus 2008


 

            Insya Allah malam ini   adalah tarawih pertama ummat Islam di Indonesia menyambut shaum ramadhan esok. Ramadhan suatu fenomena seribu bulan dimana diturunkannya al-Quran. Ramadhan, Ramadan atau Romadhon adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan agama Islam). Kekhususan bulan Ramadhan ini bagi pemeluk agama Islam tergambar pada Al Qur’an pada surat al Baqarah; 185 yang artinya:

bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…

Ramadhan, bulan yang selalu dirindukan dan ditunggu-tunggu ummat Islam. Di dalam shaum Ramadhan telah dijanjikan Allah sebagai bulan penuh rahmah, berkah dan magfirah; penuh ampunan bagi ummat yang beriman dan bertaqwa. Di bulan itu juga ummat Islam sangat dianjurkan untuk meningkatkan kedekatannya pada Allah. Begitu pula dengan amal ibadahnya. Amalan ini menjadi sangat penting ketika bangsa Indonesia masih berada pada suasana keprihatinan  sosial dan ekonomi. Tingkat kemiskinan dan pengangguran walau sudah menurun namun masih memprihatinkan.  

 Karena itu, bulan Ramadhan pantas disebut sebagai bulan untuk meningkatkan perasaan dan perilaku kebersamaan dan solidaritas kesolehan dalam membantu mereka yang  kurang beruntung hidupnya. Selain itu, ummat terpanggil untuk merenungi diri tentang apa saja yang telah diperbuat selama ini: Apa yang kurang dan bagaimana memperbaiki diri hingga menjadi manusia yang kembali fitrah. Putih dan bersih dari dosa. Allah  menjanjikan pahala berlipat bagi ummatnya yang selalu meningkatkan iman, taqwa dan beramal ibadah kapan dan dimana pun. Selamat datang Ramadhan sebagai bulan mempertebal iman dan membersihkan batin dengan mengendalikan segala godaan nafsu duniawi. Maaf memaafkan dan doa mendoakan. Amin. Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira, Ramadhan nan Mulia, Buku Rona Wajah : Catatan Seorang Dosen, 2007; jilid dua.

 

Selama dua hari, Kamis dan Jumat lalu, saya berada di Kabupaten Tulungangung Jawa Timur untuk suatu tugas mereview pelaksanaan program  Peningkatan Kesejahteraan Petani (Proyek Dep-Tan) di beberapa desa. Saya tidak akan menceritakan tentang proyek tersebut. Yang ingin disampaikan lebih pada rasa penasaran saya tentang tugas sang manajer yang kebetulan lulusan Jurusan Sos-ek Fakultas Pertanian IPB. Dia, seorang pria,  mantan mahasiswa saya kurang lebih 17 tahun lalu. Yang membuat saya penasaran adalah salah satu tugasnya yaitu melatih para kader Lembaga Pembangunan Desa di bidang konstruksi jalan, irigasi sederhana, mesin traktor, dan pengolahan hasil pertanian. Bayangkan padahal dia berlatar belakang pendidikan agribisnis yang lebih banyak berfokus pada analisis manajemen operasi, finansial dan ekonomi. Dengan kata lain telah mengalami transformasi keahlian dari yang bersifat lunak ke keahlian yang sifatnya keras (teknik). Kemudian saya bertanya bagaimana sampai bisa berubah seperti itu? Apakah yang bersangkutan pernah mengikuti pelatihan sejenis untuk melakukan tugas seperti itu. Ternyata dia pernah bekerja di suatu biro konsultan yang memberi jasa di bidang-bidang seperti diungkapkan di atas. Dari pelatihan yang pernah diterima plus pengalaman lapangan maka sang manajer itu punya percaya diri mampu melakukan tugas dalam bidang fisik kontruksi. Dan ini terbukti dia banyak diminta dinas pekerjaan umum untuk melatih para petugas lapang.

Bagi saya memang tidaklah mengagetkan bahwa cukup banyak alumni IPB yang mampu bekerja di luar bidang keahlian yang diterimanya selama berkuliah di IPB. Misalnya di dunia perbankan, sudah tidak aneh lagi bahwa tidak sedikit para alumni IPB yang menduduki posisi direktur. Kemudian di bidang jurnalistik  media cetak dan elektronik. Pemimpin Redaksi salah satu surat kabar nasional terkenal sejak lima tahun lalu dipegang seorang alumni IPB yang berlatar belakang disiplin ilmu produksi. Kepala LBN Antara pun sekarang dipegang oleh alumni program studi agribisnis Faperta IPB. Seorang mantan bimbingan saya (keahlian agribisnis) pernah menjadi direktur suatu perusahaan pelayaran nasional. Belum lagi ada beberapa alumni IPB sebagai kepala Biro Humas perusahaan televisi nasional. Dan masih banyak lagi mereka yang berkiprah di luar kompetensi utamanya. Termasuk budayawan alm. Asrul Sani dan Taufik Ismail, yang keduanya adalah dokter hewan lulusan UI-IPB.

Pertanyaannya apakah kalau demikian pola pendidikan tinggi di IPB termasuk gagal? Telah salah arah atau tidak mampu menerapkan kebijakan model link and match? Apakah fenomena seperti itu menunjukkan  proses pembelajaran di IPB tidak efisien? Atau malah ada kekuatan spesifik dalam proses pembelajaran di IPB sehingga para alumninya siap bekerja dimana saja? Ataukah telah terjadi kegagalan pasar yang dicerminkan pasar akan merekrut sarjana apapun? Yang penting derajat intelektual dan emosionalnya tinggi dan siap untuk dilatih dalam bidang pekerjaan tertentu?. Saya percaya ini juga terjadi pada alumni dari perguruan tinggi lain. Suatu fenomena yang patut dikaji secara mendalam baik dilihat dari proses pembelajaran, kurikulum, tingkat kejenuhan pasar terhadap sarjana di bidang-bidang tertentu, dan karakteristik perilaku permintaan pasar kerja. 

           

Perkembangan pentingnya kedudukan manajemen dalam suatu organisasi sudah mulai tampak menonjol ketika Adam Smith pada tahun 1776 membuat doktrin klasik yang disebut  the Wealth of Nations  (Robbins dan Coulter,2004). Smith menyatakan bahwa keunggulan suatu organisasi dan masyarakat dilihat dari pembagian atau spesialisasi pekerjaannya. Dengan cara itu produktivitas kerja karyawan akan meningkat dengan cara meningkatkan ketrrampilannya, terjadinya efisiensi waktu kerja, dan penghematan penggunaan tenaga kerja karena menggunakan beberapa jenis mesin. Spesialisasi pekerjaan menghasilkan keunggulan ekonomi karena terjadinya pembagian kerja yang spesifik atau fokus. Dengan cara ini produktivitas karyawan baik dalam hal jumlah maupun mutu menjadi semakin baik.

Robbins dan Coulter memberi contoh lainnya yakni buah dari revolusi industri pada  abad ke-18 di Inggeris. Inti dari revolusi ini adalah ditemukannya tenaga uap yang menggantikan fungsi tenaga kerja manusia. Terjadilah apa yang disebut dengan penghematan tenaga kerja. Selain itu, perusahaan juga dinilai akan memiliki keunggulan ekonomi (efisien) jika menggunakan seseorang (manajer) yang memiliki keahlian manajemen. Para manajer itulah yang bertugas untuk meramal permintaan pasar, menghitung kebutuhan sumberdaya, mengorganisasi karyawan, menentukan penggunaan teknologi, mengkoordinasi kegiatan, dan melakukan penjualan serta pemasaran hasil. Disinilah fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian menjadi sangat penting. Temuan ini lebih didasarkan pada observasi dan refleksi dari beragam kegiatan dan peran manusia untuk mencapai tujuan  organisasi.

            Perkembangan berikutnya adalah munculnya keragaman  pendekatan manajemen yang dilakukan oleh berbagai organisasi. Upaya para peneliti dan pengamat sepanjang abad 20 diarahkan lebih untuk mengetahui pada apa yang dilakukan para manajer. Perhatian sangat difokus pada hubungan fungsi-fungsi manajemen dengan produktivitas dan efisiensi kerja manual para karyawan. Hal demikian mendorong dilakukannya pendekatan ilmiah tentang manajemen.  Dari sudut administrasi umum, sekelompok ahli menelaahnya dari keseluruhan elemen organisasi yang tujuannya bagaimana membuat suatu organisasi semakin efektif.

Kemudian kemajuan berikutnya ditandai oleh maraknya penerapan model kuantitatif dalam praktik-praktik manajemen dan telaahan model perilaku manusia dalam organisasi. Jadi perkembangan teori manajemen modern dimulai pada tahun 1911 dimana Frederick W.Taylor (1856-1917) menerbitkan bukunya yang berjudul Principles of Scientific Management. Kontribusi  konkrit dari Taylor terlihat pada gagasan dan praktik manajemen ketika era industri sudah mulai berjalan. Saat itu banyak karyawan yang tidak terlatih masuk ke pabrik-pabrik baru. Mereka sangat belum siap untuk mengerjakan proses produk-produk industri. Lalu Taylor memperkenalkan bagaimana pembagian kerja diterapkan untuk berbagai pekerjaan-pekerjaan yang sederhana. Manajer kemudian dapat mencurahkan energi perhatiannya pada pemahaman tentang apa dan bagaimana mencapai yang terbaik dalam mengerjakan tugas-tugas utama mereka. Tugas utama mereka antara lain: menyeleksi karyawan secara ilmiah dikuti dengan pelatihan, memotivasi karyawan agar bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen, dan melakukan perencanaan dan pengendalian kegiatan-kegiatan produktif, utamanya untuk strata organisasi terendah. Jadi inti dari prinsip-prinsip manajemen menurut Taylor adalah (1) mengganti pendekatan tradisi yang bersifat spekulatif dengan pengembangan pendekatan ilmiah dalam melakukan setiap pekerjaan, (2) pelatihan dan pengembangan sumberdaya manusia/SDM bagi karyawan secara terorganisasi, (3) membangun kerjasama diantara karyawan sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah, dan (4) pembagian kerja serta tanggungjawab diantara manajemen dan karyawan secara proporsional.

            Hampir bersamaan dengan Taylor, Frenchman Henri Mayol (1841-1925) menerbitkan buku berjudul Industrial and General Administration (1916). Fayol mengungkapkan lima elemen manajemen administrasi yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pemberian komando, dan pengendalian  yang secara universal terjadi pada organisasi. Dia juga mencetuskan gagasan 14 prinsip manajemen yaitu pembagian kerja secara efisien, pemberian wewenang dan tanggungjawab pada manajer, penegakan disiplin karyawan, kesatuan komando, kesatuan arah, menghindari kepentingan individu ketimbang kepentingan umum, pemberian kompensasi bagi karyawan, sentralisasi keputusan, rantai skalar dalam garis wewenang, tatanan manusia dan barang yang tepat, keadilan dan kesamaan perhatian manajer terhadap karyawan, stabilitas individu, prakarsa, dan semangat tim. Kontribusi utama Fayol pada dua hal yaitu, pertama: dia menempatkan manajemen sebagai pusat utama suatu organisasi. Manajemen memainkan peranan penting dalam semua bentuk organisasi seperti pemerintahan, industri kecil atau besar, perdagangan, politik, keagamaan dsb. Untuk itu manajer harus memiliki keterampilan tinggi. Yang kedua, bagaimana agar supaya manajemen tampil terbaik dalam mengorganisasi perusahaan. Untuk itu dia membagi kegiatan perusahaan menjadi enam kelompok yakni kegiatan teknik, komersial, finansial, sekuriti, akunting, dan kegiatan manajerial.

             Dari studi tentang kenegaraan, kehidupan Gereja Roma Katolik, militer dan  industri pada tahun 1931, Mooney dan Relley dalam Crainer (2001) mengemukan empat prinsip utama dalam manajemen yakni (1) prinsip koordinasi yang mengarahkan perhatian dan kegiatan yang menyatu, (2) prinsip skalar yang dicirikan oleh arus hirarki dari otoritas dan jabaran tugas-tugas sampai ke level subordinasi, (3) prinsip fungsional, yang menekankan pada kebutuhan untuk tugas-tugas spesialisasi, dan (4) prinsip staf untuk menjawab kebutuhan akan nasehat dan gagasan-gagasan.

 

            Disamping para pionir manajemen di atas, pada abad ke-21 ada  seorang guru besar manajemen kelas internasional bernama Peter Drucker.  Dia mengatakan:

‘Every achievement of management is the achievement of a manager. Every failure is the failure of a manger. People manage, rather than forces or facts. The vision, dedication and integrity of managers determine whether there is management or mismanagement’.

Dalam bukunya “The practice of Management” dan “Management: Tasks, Responsibilities and Practices” di tahun 1973, Drucker memperkenalkan gagasannya berupa lima pokok peran manajerial yaitu: menetapkan tujuan, mengorganisasi, memotivasi dan berkomunikasi, mengukur, dan mengembangkan sumberdaya manusia. Tetapi yang perlu dipahami adalah keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi tidak saja ditentukan oleh faktor manajer tetapi juga oleh faktor-faktor eksternal seperti kondisi perekonomian, sosial, budaya, politik dan teknologi. Jadi manajer bukanlah seseorang yang mahakuat dan kuasa. Dia memiliki keterbatasan sebagai manusia biasa.

Dalam Wikipedia, monyet adalah hewan mamalia dari jenis primata. Hewan ini termasuk dalam keluarga kera. Saat ini telah ditemukan kurang lebih 264 spesies monyet di dunia. Karena persamaan fisiknya dengan monyet, beberapa jenis kera seperti simpanse dan gibbon kadang-kadang disebut juga sebagai monyet. Sewaktu saya duduk di sekolah rakyat bahkan hingga kini masih senang sekali membaca komik karangan RA Kosasih tentang hanoman dalam kisah Ramayana. Senang karena kisah kepahlawanannya dan jiwa kesatrianya. Hanoman (Sanskerta: Hanumān) atau Hanumat (Sanskerta: Hanumat), menurut wikipedia, juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.

Hewan satu ini, menurut kepercayaan China, memiliki ciri-ciri yang khas. Punya segudang keunikan dan kelucuan. Karena itu tidak aneh, orang yang memiliki shio monyet, selain cerdas ia mampu mencari solusi ketika menghadapi berbagai tantangan. Namun di sisi lain, monyet juga dikenal sangat licik. Dalam entitas monyet saja, mereka tidak pernah bertoleransi. Yang terjadi malah saling beradu muka dan tangan alias cakar-cakaran. Culas namanya. Kalau perilaku seperti itu mirip terjadi di kalangan masyarakat apakah kita pantas disebut monyet?

Kata monyet cukup banyak digunakan untuk hal lainnya. Misalnya cinta monyet yang bahasa inggrisnya adalah “puppy love”. Istilah ini banyak diumpamakan untuk mereka yang masih muda belia atau kanak-kanak yang sedang saling menyenangi satu sama lain. Putus nyambung, putus nyambung dst. Lalu ada yang disebut topeng monyet. Ini adalah bentuk peragaan ketrampilan  sang monyet yang ditonton khalayak  dari satu kampung ke kampung lainnya. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mendapatkan uang dari kepiawaian sang monyet bergaya. Pertunjukkan topeng monyet ini sudah sebagai profesi si empunya atau penyewa monyet.

Sebutan monyet yang satu ini luar biasa. Beberapa gelintir orang khususnya  pemimpin suatu instansi ada yang menggunakan kata monyet sebagai pernyataan kekesalan dan kebencian pada seseorang. Bahkan seolah sudah menjadi kesenangan dan kepuasan bathin sang pemimpin. Kalau sedang emosi yang tidak terkontrol dengan mudahnya sang penguasa mengumpat bawahan atau orang lain dengan kata-kata monyet lu! Disampaikan secara enteng-enteng saja.

Jelas sikap itu termasuk tidak dewasa. Sangat tidak bijak, apalagi kalau ucapan itu dilakukan oleh kalangan pejabat negara dan akademisi. Dia tidak sadar akan nilai-nilai kemanusiaan orang yang diumpatnya. Sejelek-jelek sifat manusia, yang punya harga diri, tidak pantas kata-kata itu disampaikan ke orang lain. Dalam lingkungan organisasi, hal itu dapat menyebabkan suasana kerja yang tidak nyaman yang akan menurunkan motivasi kerja para karyawan.  Kalau seperti itu lalu kepada siapa lagi karyawan bercermin tentang kebajikan? Apa yang terjadi kalau sang pemimpin bersangkutan  diperlakukan sama oleh orang lain atau bawahannya namun dengan ungkapan berbeda yakni manusia lu!  Nah, mana yang lebih bergengsi disebut kaya monyet atau kaya manusia.

 

Mengapa semakin banyak sarjana (termasuk diploma) pertanian, produksi pertanian tanaman pangan tidak semakin tinggi? Mengapa semakin banyak sarjana kehutanan malah semakin banyak kebakaran hutan, pemalakan hasil hutan, longsor dan banjir? Mengapa semakin banyak sarjana perikanan dan peternakan, tetapi kondisi asupan gizi masyarakat dari dua sumber komoditi itu masih rendah? Mengapa semakin banyak dokter semakin banyak pula derajat kesehatan masyarakat yang di bawah standar termasuk bayi yang kurang gizi? Mengapa semakin banyak sarjana hukum semakin banyak pula warga yang melawan atau melanggar hukum? Mengapa semakin banyak sarjana ekonomi, kondisi ekonomi tidak semakin membaik? Mengapa semakin banyak sarjana ilmu politik, kondisi perpolitikan kental dengan perilaku anarkis termasuk makin tidak sederhananya perpolitikan nasional karena semakin banyaknya jumlah partai politik? Mengapa semakin banyak sarjana kepolisian semakin banyak fenomena penyuapan, pemerasan, maling kelas teri dan maling kelas kakap? Mengapa semakin banyak sarjana agama semakin banyak orang yang tidak bermoral, korupsi atau melanggar hukum? Mengapa semakin banyak sarjana keteknikan semakin banyak kondisi infrastruktur yang tidak semakin membaik? Mengapa semakin banyak sarjana ilmu kependidikan, kondisi pendidikan kita masih kurang bermutu? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan isyu yang tidak mudah dijawab. Dan sudah pasti ada saja sarjana yang berkelit membantahnya.

Kalau hipotesis dalam bentuk pertanyaan di atas jawabannya ”benar”, ceteris paribus, maka apakah bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Jawabannya bisa ditinjau dari berbagai perspektif. Yang pertama adalah dari sisi metodologi dimana analisisnya hanya dilakukan secara parsial, tidak simultan; sementara variabel lainnya dianggap konstan. Begitu pula  ada intervening variabel yang tidak dianalisis. Dukungan teori bisa saja tidak ada. Yang kedua dilihat dari sisi pengertian proses pembangunan. Kita mengetahui bahwa ada beberapa pendekatan atau strategi pembangunan seperti pembangunan terpadu, pembangunan berkelanjutan, pembangunan secara holistik, pembangunan berbasis kebutuhan manusia, pembangunan yang direncanakan dari atas atau dari bawah, pembangunan berorientasi teknokratis dan partisipatif, dan pembangunan berbasis sumberdaya. Yang ketiga, pembangunan tidak mungkin hanya berorientasi pada monodisiplin, melainkan harus multidisiplin dan multidimensi. Yang keempat, dari tiga alasan tersebut maka tidak mungkin keberhasilan pembangunan hanya berkait dengan aspek jumlah dan mutu sumberdaya manusia saja. Memang faktor utama keberhasilan pembangunan adalah manusia pelakunya. Namun tanpa didukung unsur lainnya seperti sistem nilai kehidupan berbangsa,  bernegara, dan bermasyarakat, strategi pembangunan, finansial, teknologi, mutu proses manajemen pembangunan, infrastruktur, dan kesejahteraan pelakunya maka  posisi manusia dalam pembangunan menjadi kurang efektif. Mengapa? Karena aspek-aspek pembangunan seperti diuraikan tadi begitu kompleksnya.

Kalau dalam prakteknya, jawaban hipotesis itu sudah dengan menganalisis unsur-unsur keberhasilan pembangunan lainnya maka  mungkin fakta adanya hubungan negatif variabel jumlah sarjana dengan variabel keberhasilan pembangunan sektoral bisa saja terjadi. Dalam hal ini kalau dikaitkan dengan unsur mutu sumberdaya manusia maka unsur-unsur yang berhubungan dengan keberhasilan pembangunan adalah variabel sistem pendidikan nasional. Diduga  ada sesuatu yang keliru dalam sistem itu; apakah dalam hal visi, misi ataukah tujuan dan strategi pembangunan pendidikan. Kemudian dalam pelaksanaan program pendidikan di lapang kurang didukung oleh model pola pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa; mutu dosen; sistem pelaksanaan program yang efisien dan efektif; jumlah dan mutu fasilitas pendidikan dan penelitian; kesejahteraan dosen; dan suasana pembelajaran.

Ketika pemerintah sudah menetapkan anggaran biaya pendidikan tahun 2009 sebesar 20 % dari APBN seperti diamanatkan dalam amandemen UUD ’45 maka departemen pendidikan nasional harus sudah mulai menyiapkan strategi pendidikan nasional, khususnya pendidikan tinggi berikut program-programnya yang membumi. Diperlukan adanya urutan prioritas pembangunan pendidikan tinggi seperti peningkatan mutu dan kesejahteraan dosen, program penelitian ilmu-ilmu dasar dan terapan, fasilitas pembelajaran, dan pengembangan  kurikulum yang berorientasi pada kompetensi penguasaan ilmu dan soft-skills, pada pasar dan pengembangan keilmuan dan teknologi.Yang tidak kalah pentingnya adalah dalam hal manajemen programnya. Peluang terjadinya kebocoran anggaran bahkan korupsi benar-benar harus dicegah sehingga sebutan disclaimer yang sementara ini terjadi dapat dihilangkan. Untuk itu koordinasi pengembangan pendidikan tinggi menjadi sangat strategis.

 

 

 

 

Hasil survei angkatan kerja nasional Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2007 mencatat pengangguran 10.547.900 orang (9,75%), sedangkan pengangguran intelektual tercatat 740.206 orang atau 7,02%. Hasil survei serupa pada Februari 2008, total pengangguran sebanyak 9.427.610 orang atau menurun 1,2 % dibanding Februari 2007; sementara itu pengangguran intelektual  mencapai  1.461. 000 orang (15.5%)  atau meningkat 1,02% dari tahun 2007. Ini berarti mereka yang penganggur dari kalangan non-intelektual mengalami penurunan sebaliknya dari kalangan intelektual. Pertanyaannya, apakah golongan angkatan kerja yang non-intelektual lebih berpeluang mencari pekerjaan, atau lebih memiliki etos kerja ketimbang angkatan kerja intelektual? Ataukah ada faktor lain?

Fenomena pengangguran bisa dilihat dari perspektif makro dan mikro. Berdasarkan tinjauan makro perlu diketahui secara rinci: apakah pengangguran intelektual lebih banyak berasal dari luar jawa atau dalam jawa, dari bidang keahlian atau program studi mana saja, dan dari perguruan tinggi apa saja mereka berasal (PTN-PTS). Pertanyaan berikutnya apakah syarat minimum kelulusan penseleksian calon karyawan baru untuk beberapa pekerjaan tidak harus lulusan sarjana? Sementara itu, dilihat  dari unsur penyebab maka telaahan sisi makro yang selalu menjadi biang keladinya adalah (1) kebijakan pendidikan yang tidak berorientasi pada kebutuhan  pasar, (2) kebijakan ekonomi khususnya  investasi yang tidak mampu menyediakan lapangan kerja sesuai dengan jumlah angkatan kerja, dan (3) kebijakan pembangunan ekonomi yang cenderung berientasi pada padat modal ketimbang pada padat karya.

Ditinjau dari sisi mikro maka pengangguran intelektual bisa jadi disebabkan faktor karakter dan potensi akademik lulusannya. Pertanyaan yang diajukan adalah seberapa jauh intelektual penganggur dapat ikut menjawab tantangan pasar kerja? Dengan kata lain seberapa besar para penganggur dengan kemampuan intelektualnya dapat menciptakanj lapangan kerjanya sendiri? Dan bagaimana pula sumbangan mereka yang sudah bekerja dalam membangun kesejahteraan masyarakat? Diambil contoh, jumlah lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat selama 1929-1957, mampu meningkatkan pendapatan per kapita di negara itu sekitar 42 persen. Lebih jauh, Denison dan Chung (1976) mengidentifikasi bahwa peningkatan jumlah kelulusan perguruan tinggi di Jepang mampu meningkatkan pendapatan per kapita per tahun sebesar 0,35 persen selama 1961-1971. Dalam kaitan itu bisa diduga makin rendah mutu lulusan plus kurangnya spirit juang untuk menciptakan lapangan kerja sendiri maka semakin bergantunglah sang lulusan pada orang atau pihak lain. Apalagi kalau mutu lulusan adalah pas-pasan dilihat dari kecerdasan intelektual dan soft skillsnya. Bisa diduga pula alih-alih para lulusan menyumbang bagi kesejahteraan masyarakat tetapi malah menambah beban masyarakat dan negara.

Sehubungan dengan pemetaan jenis dan jumlah penganggur itu maka secara lebih khusus kebijakan pendidikan dapat disusun untuk menjawab kebutuhan pasar kerja. Namun demikian kita jangan terjebak pada pertimbangan sisi ekonomi pasar atau kebutuhan industri saja dimana hanya dengan membuka  program studi keteknikan, teknologi, dan kewirausahaan. Hal lain yang perlu dipikirkan adalah dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya pengembangan program studi khususnya yang berorientasi ilmu-ilmu dasar menjadi sangat strategis sebagai unsur fundamen dalam pengembangan teknologi. Karena itu lembaga-lembaga penelitian pemerintah dan swasta seharusnya dapat menjadi captive market bagi para lulusan yang berprofesi di bidang riset.

 

            Tiap individu cenderung pernah berharap. Berharap jadi orang pandai, jadi orang kaya, jadi orang terkenal, jadi kepala keluarga yang sukses, jadi orang berguna bagi lingkungan, jadi orang yang sehat jasmani rohani, jadi orang yang berkarir cemerlang, dsb. Tetapi ada juga orang yang tidak berharap macam-macam. Istilahnya terserah apa saja yang Tuhan berikan pada dirinya. Populernya biarkanlah seperti air mengalir. Kalau anda seorang karyawan, bagaimana dengan sudut pandang anda tentang ekspektasi?

Setiap karyawan pasti punya motivasi. Bisa dalam hal motivasi menjalani  hidup dan kehidupan yang baik maupun motivasi dalam meraih performa tertentu. Pada gilirannya motivasi tersebut mendukung timbulnya motivasi untuk meraih karir yang meningkat. Tentu saja harapannya bisa meraih tambahan kompensasi yang semakin besar. Selanjutnya kebutuhan rasa harga diri dan aktualisasi diri akan tercapai.  Itulah yang disebut bahwa ketika seseorang berharap sesuatu maka unsur utama penentunya adalah derajat dan lingkup motivasi yang dimilikinya. Semakin tinggi derajad harapan semakin tinggi pula motivasi dibutuhkan. Namun pertanyaannya apakah harapan itu realistis bakal tercapai?

Sebagai karyawan anda berharap sesuatu berarti berharap dapat mengubah hidup anda. Namun dalam prakteknya proses perubahan tidak bisa langsung hasilnya dapat segera dinikmati. Tidak secepat proses  menggigit sebuah cabe rawit; langsung terasa pedas. Kalau anda berharap terjadinya perubahan pada diri anda maka harus bisa menjawab beragam  pertanyaan mendasar; antara lain: Siapakah anda ini sebenarnya? Apakah anda sudah mengetahui apa itu konsep perubahan diri? Apakah anda perfeksionis, penganut paham realistis, atau pengimpi? Kalau mau berubah apakah anda sudah tahu bagaimana caranya? Apa saja syarat-syarat pokok dan syarat-syarat kecukupan yang perlu dimiliki untuk melakukan proses perubahan? Apakah anda sudah membayangkan apa yang kemudian dilakukan kalau anda berhasil dan sebaliknya kalau gagal?

Jawaban atas pertanyaan di atas pasti beragam dari satu karyawan ke karyawan lainnya. Tidak ada ukuran atau ketentuan yang seragam yang berlaku pada tiap orang. Mutu dan lingkup jawaban akan menentukan seberapa jauh anda berhasil meraih ekspektasi anda. Misalnya semakin paham tentang konsep perubahan, semakin tahu siapa anda sebenarnya, semakin realistis anda mencapai sesuatu, semakin terpenuhinya syarat-syarat pokok dan kecukupan maka semakin besar peluang dalam meraih harapan anda.  Tentunya anda juga harus realistis bahwa keberhasilan meraih ekspektasi lewat proses perubahan tidak serta merta hanya dipengaruhi oleh potensi diri anda. Masih ada unsur-unsur lain yakni kondisi eksternal seperti dukungan sistem promosi karir perusahaan, dukungan manajemen puncak, dan dukungan rekan  dalam suatu tim kerja.

Laman Berikutnya »