Desember 2009


Ingat alm Gus Dur ingat ketika alm jadi panelis dan saya sebagai moderator seminar pengembangan pedesaan di IPB sekitar 20 tahun lalu. Beliau berbicara tanpa makalah. Dengan begitu lancar menyajikan teori dan empiris secara brilian. Sungguh saya sangat terkesan akan kejeniusannya.

Di balik sebutan sebagai individu kontroversi masih ada segudang sebutan seperti multikultural, humoris, generalis, jenius, humnais, pluralistis, dan guru bangsa fenomenal. Selamat Jalan Gus Dur. Semoga Allah memberi tempat terbaik di sisiNYA. AMIIN

Iklan

 

        Pengetahuan tentang komputer dan internet sudah begitu pentingnya dalam berkomunikasi global. Banyak sudah masyarakat yang memanfaatkannya untuk mencari informasi apapun dalam menambah pengetahuannya. Bahkan lewat internet terjadi interaksi sosial. Karena itu internet otomatis diposisikan sebagai jejaring sosial. Malah gara-gara menggunakan jejaring ini Prita sempat diperkarakan lewat jalur hukum sampai makan waktu 1,5 tahun. Pasalnya karena dia mengadukan kekecewaannya kepada sesama teman yang menyangkut pelayanan rumah sakit tertentu. Alhamdulillah dengan desakan para pendudungnya, yang antara lain lewat internet, yang terus gencar mendorong proses penegakan hukum yang adil maka dia bebas dari jerat hukum.

       Walau komputer sudah lama hadir di Indonesia, saya sendiri baru memanfaatkannya sejak April 2001. Tapi cuma baru untuk mengetik dan berkomunikasi serta mencari informasi lewat internet. Dan hampir tiga tahun belakangan ini, sejak April 2007, saya sudah manfaatkan untuk membuat dan mengisi blog saya hingga sekarang. Termasuk sejak lima bulan yang lalu ber-facebook ria. Namun saya masih belum intensif menggunakannya untuk pengolahan dan analisis data. Di sisi lain jangan kaget, beberapa teman saya, profesor, malah masih tergolong gaptek (gagap teknologi) komputer. Masih sangat konvensional. Jika ingin menulis sesuatu apapun mereka pakai mesin tik atau kalau lagi malas ya pakai tulisan tangan saja.

        Saya sendiri baru tahu tentang penggunaan komputer dan internet pada usia 58 tahun, sementara cucu-cucu saya (lima dari tujuh orang) sudah mulai tahu sejak usia rata-rata lima tahun. Umur cucu saya yang sudah aktif berkomputer tertua adalah 13 tahun dan termuda lima tahun. Mulai dari menggunakannya untuk ”games” sampai mengetik, membuat animasi, berkomunikasi dan browsing, mereka sudah trampil. Hampir setiap hari mereka menggunakannya. Kalah saya… Memang pemilikan dan akses pemanfaatan komputer era sekarang ini begitu mudahnya. Beda dengan zaman ketika saya masih kecil…..miskin.

 

        Kemiskinan di Indonesia masih menjadi perhatian serius semua pihak. Mengapa? Karena hal itu berkait dengan derajat kemajuan suatu bangsa. Termasuk tidak mudahnya mencapai bangunan masyarakat yang cerdas. Pertanyaan terhadap isyu yang berkembang adalah adakah hubungan antara kemiskinan dan semangat belajar? Tampaknya hampir tidak mungkin dihubung-hubungkan. Kalau toh ada hubungan, hipotesisnya yang secara akal sehat bakal diterima yakni semakin tinggi tingkat kemiskinan keluarga berhubungan dengan semakin rendah semangat belajar keluarga.

       Jadi tampaknya tidak ada keberdayaan bagi keluarga tertinggal untuk meraih tingkat pendidikan yang tinggi bagi anggota keluarganya. Orangtua sudah putus asa untuk menyekolahkan anak-anaknya ke tingkat yang lebih tinggi.Apakah kesimpulan itu selalu benar?. Secara agregat mungkin benar. Namun untuk beberapa kasus tertentu mangapa hipotesis itu ditolak? Untuk itu kita coba telaah dari unsur motivasi para kepala keluarga miskin dalam mengangkat harkat anak-anaknya di bidang pendidikan.

        Semangat belajar dan peluang untuk meraih tingkat pembelajaran yang semakin tinggi bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Sudah hampir diduga bahwa semakin miskin suatu keluarga semakin kecil peluang untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya. Intinya karena keterbatasan sumberdaya finansial. Namun apakah dengan demikian semangatnya untuk meningkatkan harkat pendidikan anak-anaknya pupus sudah? Bagaimana kalau kita melihatnya dari sisi motivasi orangtuanya? Dengan asumsi teori motivasi berlaku pada setiap individu maka seseorang yang berasal dari keluarga miskin, walau sekecil apapun, memiliki kebutuhan dalam bentuk harga diri dan aktualisasi diri. Kalau asumsi itu diterima maka semakin miskin orangtua semakin terdorong untuk menambah pendapatannya untuk pengeluaran konsumsi plus untuk investasi pendidikan anak-anaknya.

        Beberapa kasus membuktikan karena motif semangat untuk mencerdaskan anak-anaknya begitu besar maka tidak jarang ada bapak dan ibunya melakukan pekerjaan apapun asalkan legal atau halal. Beberapa bulan yang lalu, ada seorang ibu di Ambon yang pekerjaannya sebagai pemulung barang-barang plastik bekas telah mampu menyekolahkan dua orang anaknya kuliah di Universitas Patimura. Di Jawa Tengah ada seorang ibu yang berjualan jamu gendong telah mampu menyekolahkan dua orang anaknya sampai lulus. Yang satu lulus sampai tingkat strata satu sementara kakaknya strata dua. Di Jawa Barat ada seorang bapak yang pekerjaannya sebagai tukang distribusi air minum ke tiap rumah juga mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat program diploma. Dan masih cukup banyak kasus seperti itu termasuk yang ibunya sebagai asisten rumahtangga. Bahkan tidak semua para pelajar yang memenangkan medali emas dan perak di festival olimpiade internasional di bidang fisika, matematika, biologi, dan anstronomi berasal dari keluarga kaya.

 

         Beberapa hari lalu saya melihat acara di salah satu televisi nasional tentang berita tunda pertandingan sepak bola. Namun saya tidak disajikan suatu permainan yang elok. Malah disuguhkan sajian tawuran. Bahkan sampai di luar lapangan pun tetap terjadi. Diberitakan salah seorang polisi berpangkat ajun komisaris polisi meninggal karena kelelahan dalam melerai tawuran. Sudah menjadi tontonan rutin agaknya kalau antarpemain dan antarpendukung sepak bola bertawuran. Dari sisi pemain, tampilan sportifitas dalam berlaga jauh dari harapan. Tujuan main yang penting bagaimana supaya menang. Tidak perduli dengan aturan main yang fair. Tinju dan tendang tidak terhindarkan walau cuma gara-gara senggolan. Padahal tangan dan kaki itu kan titipan Allah. Tentunya untuk dipakai dalam kegiatan yang bermanfaat.

        Ironisnya disitu ada wasit. Kalau ada pelanggaran akan ditilang kartu kuning. Dan kalau sudah kelewat batas baru diberi kartu merah. Eeh….tetap saja mereka ngotot berkelahi. Wasit diremehkan dan dianggap tidak ada. Bahkan jadi bulan-bulanan pemain dengan memaki sambil mendorong-dorongnya. Penonton juga sama. Mereka emosinya mudah sekali terbakar ketika kesebelasan pujaannya ”dianiaya” atau dikalahkan lawannya.

         Mulanya biasa saja dalam bentuk teriakan-teriakan mengejek dan mengancam. Lalu botol air, batu dan kayu serta pembakaran sudah menjadi alat ampuh untuk melempari pemain kesebelasan dan pendukung lawan-lawannya. Kalau perlu saling kejar ke dalam dan luar lapangan. Jotos-jotosan dan tendang menendang sambil melempari apa saja yang ditemukan. Dari wajah-wajah mereka sepertinya mereka begitu puas dengan apa yang dilakukannya. Rasanya berbeda dengan di akhir tahun ’50an ketika saya masih aktif sebagai kapten kesebelasan Persija Remaja. Ketika itu aman-aman saja. Memang pernah sih sekali-kali kalau ”anak buah” saya dikasari langsung saya pegang baju lawannya, sambil menunjukkan kemarahan saya. Tetapi selesai sampai di situ.

       Ada apa denganmu hai pemain dan pendukung? Kenapa memiliki tujuan dan pemujaan begitu sempitnya? Susahkah bermain sportif? Bisakah menonton permainan dengan rileks dan tertib? Tidak terpengaruh emosi hasutan? Toh pihak ”lawan” itu sendiri sebenarnya saudara kita juga kan? Lalu pulang dengan santai tanpa beban kesal dan dosa? Terus bagaimana peran para petugas keamanan? Mereka sudah semaksimum mungkin berupaya mencegah dan mengamankannya. Namun tidak berdaya menghadapi massa beringas yang jumlahnya jauh lebih banyak. Peralatan pun terbatas. Sampai-sampai ketika hujan datang pun mereka berlarian terbirit-birit mencari tempat teduh. Lucu melihatnya. Bisakah mereka tetap dekat lapangan walau hujan dan tidak punya jas hujan?.

        Bisakah pihak panitia dan PSSI memutar otak mencari jalan terbaik menghindari terjadinya tawuran? Misalnya tindakan tegas kepada pemain yang tidak sportif. Juga tersedianya sistem pengamanan di dalam dan luar gedung yang solid. Selain itu diperlukan tindakan hukum kepada penonton yang berbuat onar. Masalahnya tidak sederhana memang. Perilaku sosial masyarakat merupakan buah dari proses panjang pendidikan di dalam dan luar keluarga. Sayangnya ternyata masih jauh dari efektif.

 

       Peneltian kualtitatif tentang manajemen sumberdaya manusia (MSDM) terbilang belum banyak dilakukan. Tipe penelitian ini memfokuskan pada kajian atas situasi yang nyata dari MSDM. Misalnya kajian tentang hubungan penerapan prinsip-prinsip organisasi pembelajaran dengan kinerja karyawan. Pendalaman telaahan ditekankan pada makna dan nilai visi, misi, tujuan organisasi pembelajaran dan perilaku karyawan. Diamati tentang makna yang tersembunyi dalam memahami interaksi sosial di dalam organisasi. Untuk itu peneliti menjadi instrumen kunci dalam mengolah data deskriptif, menganalisis dan mengkonstruksi obyek yang diteliti. Dalam hal ini ia harus menguasai teori, konsep, wawasan dan pengalaman empiris tentang MSDM dan keorganisasian.,

       Analisis kualtitatif yang digunakan didasarkan pada adanya hubungan semantis antarpeubah yang diteliti. Maksudnya adalah untuk menjawab rumusan masalah penelitian melalui pemaknaan hubungan antarpeubah. Misalnya prinsip organisasi pembelajarn sudah ditentukan berdasarkan rujukan kepustakaan. Begitu juga hubungannya dengan kinerja karyawan. Untuk itu perlu ditentukan teori apa yang akan digunakan untuk analisis kualitatif. Misalnya dengan menggunakan teori dari Peter Senge yang isinya ada lima prinsip organisasi pembelajaran yang meliputi system thinking, personal mastery, mental models, shared vision, dan team learning. Tentu pemilihan teori itu berdasarkan alasan ilmiah dan atau logis dan disesuaikan dengan tipe organisasi. Ditambah dengan hasil penelitian terdahulu maka sintesis dari tinjauan empiris plus rangkuman metodologi yang digunakan dalam studi terdahulu lalu dirumuskanlah kerangka pemikiran penelitian. Dalam analisis kualititatif kerangka pemikiran ini tidak bersifat kaku. Bisa saja dimodifikasi sesuai dengan kenyataan di lapangan.

        Dengan asumsi data sudah dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan responden dan tenaga akhli ditambah penggunaan laporan-laporan maka peneliti harus mengkatagorikan data yang terkumpul sesuai dengan tujuan penelitian. Misalnya kalau fokus menganalisis hubungan dua peubah sentral maka prinsip organisasi pembelajaran bisa dikatagorikan sebagai kelompok X dan kinerja karyawan sebagai kelompok Y. Katakanlah metode analisis sudah ditentukan dari beberapa pendekatan seperti analisis domain, analisis taksanomi, analisis komponensial, analisis tema cultural, dan analisis komparasi konstan.

        Dalam analisis domain dibutuhkan hubungan semantis. Gunanya untuk mencari dan memperoleh gambaran umum atau pengertian yang bersifat secara menyeluruh dari fenomena aspek MSDM yang diteliti. Yang diharapkan dari analisis ini adalah pengertian di tingkat permukaan mengenai domain tertentu atau kategori-kategori konseptual. Hubungan semantis bisa berupa aspek jenis, sebab akibat, alasan/persepsi, fungsi, dan karakteristik. Misal dari peubah sentral X dan Y; dilihat dari sisi jenis yakni kinerja adalah salah satu jenis keberhasilan organisasi pembelajaran. Kemudian dilihat dari sebab-akibat dijelaskan bahwa kinerja karyawan telah tercapai sesuai dengan standard karena penerapan prinsip organisasi pembelajaran yang efektif. Dilihat dari alasan/persepsi, karyawan ternyata  terdorong berkinerja tinggi karena prinsip organisasi pembelajaran mampu membangun motivasi. Ditinjau dari fungsi maka penerapan prinsip organisasi pembelajaran secara partisipatif mampu menarik para karyawan untuk ingin mengetahui dan memahaminya. Sementara telaahan dari karakteristik tampak kinerja merupakan bagian dari ciri-ciri penerapan prinsip organisasi pembelajaran yang berhasil.

        Contoh berikutnya adalah analisis taksanomi yang difokuskan pada salah satu domain (struktur internal domain) dan pengumpulan hal-hal/elemen yang sama. Misalnya taksanomi organisasi pembelajaran (X) yang terdiri dari fungsi dan karakteristik organisasi pembelajaran. Kemudian fungsi organisasi dijabarkan menjadi fungsi ke dalam dan keluar organisasi. Dan selanjutnya dirinci kembali menjadi beberapa subfungsi. Dalam hal karakteristik maka dapat diuraikan prinsip-prinsip organisasi pembelajaran apakah ditinjau dari sisi fisik dan nonfisik. Sisi fisik memiliki beragam karakteristik dari setiap elemen. Sementara dari sisi nonfisik diuraikan beragam karakteristik elemen prinsip-prinsip organisasi pembelajaran, dst. Begitu pula terhadap katagori kinerja (Y) dapat dijabarkan menjadi karakteristik kinerja berupa proses,output, dan outcome berikut rincian dari karakteristik elemen-elemennya.

        Penelitian kualitatif mensyaratkan digunakannya pendekatan holistik. Sang peneliti harus menjadikan dirinya sebagai bagian dari obyek organisasi yang diteliti. Misal dalam hal ini adalah dalam organisasi pembelajaran. Disini peneliti harus (1) menghayati tentang organisasi yang dijadikan sampel dan apa yang diteliti, (2) melakukan analisis domain katagori peubah X dan Y, (3) mengidentifikasi informasi domain dibanding dengan domain lainnya,(4) membuat dan mengembangkan diagram skematis dan pemetaan hubungan semantis, (5) penggambaran keterkaitan antardomain dan antarpeubah, dikaji kesamaan dan perbedaan serta tema-tema temuan dari gejala yang diteliti, (6) memunculkan tema-tema alternatif untuk dianalisis, dan (7) selalu mengaitkan setiap penemuan tema alternatif dengan teori-teori yang digunakan.

        Agar diperoleh uraian mendalam maka peneliti harus menuliskan hal-hal pokok yang ditemukan di lapangan dan dari studi pustaka. Kemudian dirinci lebih lanjut secara faktual dari kejadian berikut kronologi dan sebab musababnya. Penilaian terhadap pendapat para akhli, manajemen, responden, dan dari peneliti sendiri sangat penting untuk ditulis secara komprehensif. Dengan tema kultural peneliti harus mencari benang merah dari temuan di lapangan yang kemudian dikaitkan dengan, misalnya beragam aspek penerapan prinsip-prinsip organisasi pembelajaran dan dengan kinerja karyawan. Begitu pula perlu dicari nilai-nilai dan premis apa saja yang sangat berkaitan dengan penerapan prinsip organisasi pembelajaran, MSDM dan kinerja karyawan. Semua analisis yang berpangkal pada pandangan teoritis, faktual, dan logis ini sangat membantu tercapainya keberhasilan penelitian kualitatif.

 

        Bertepatan dengan hari ibu, tanggal 22 Desember 2009 yang lalu juga dirayakan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional. Menurut Departemen Sosial RI, Kesetiakawanan Sosial atau rasa solidaritas sosial adalah merupakan potensi spritual, komitmen bersama sekaligus jati diri bangsa. Karena itu Kesetiakawanan Sosial merupakan Nurani bangsa Indonesia yang tereplikasi dari sikap dan perilaku yang dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan. Bagaimana dalam prakteknya?

         Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai bangsa ramah. Kesetiakawanan seperti tolong menolong, kekerabatan sosial, dan gotong royong merupakan perilaku keseharian. Ringan tangan sudah menjadi kebiasaan. Apakah dalam kondisi belakangan ini ciri-ciri kesetiakawanan tersebut masih tampak signifikan? Ya sebagian besar masih ada. Namun ketika proses modernisasi gencar melanda ke setiap sisi kehidupan maka telah terjadi perubahan sosial. Lihat saja kehidupan di daerah perkotaan apalagi megametropolitan. Kehidupan di kalangan entitas mereka dicerminkan dengan sifat individualistik. Selain itu pengaruh media cetak dan elektronik yang sangat maju menyebabkan munculnya demonstration effect pada pola hidup yang semakin konsumptif. Tanda-tanda itu juga sudah merambah ke daerah perdesaan. Sementara gotong royong sebagai bentuk modal sosial yang paling tua semakin terdegradasi sejalan dengan masuknya arus ekonomi uang. Semacam perubahan pola pikir bahwa tak ada jenis kerja pun yang gratis. Disamping itu terjadinya konflik sosial di beberapa daerah merupakan proses perubahan dari modal sosial positif menjadi mengarah pada modal sosial negatif akibat dari kepentingan politik dan bahkan sara.

        Dalam kenyataannya tampak kadar dari modal sosial tidaklah statis. Tidak mudah dihindari perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi cenderung dapat menimbulkan deviasi modal sosial. Timbul perkembangan persepsi tiap individu terhadap hal-hal baru; apakah sebagai ancaman atau justru memerkuat modal sosial yang ada. Selain itu ketika masyarakat sudah semakin memiliki hubungan dengan pihak luar maka dibutuhkan fungsi kendali sosial terhadap setiap norma dan kebudayaan luar yang masuk. Pertanyaannya apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh entitas sosial agar dapat membentengi tantangan bahkan ancaman luar.

        Melemahnya modal sosial positif bisa jadi karena diintervensi oleh modal sosial negatif. Kalau masyarakat tidak mampu mengatasinya maka bakal terjadi penggerusan modal sosial positif yang ada; misalnya gangguan terhadap interkasi sosial, saling percaya yang menurun, pelanggaran norma sosial, krisis kepemimpinan dan akhirnya kerenggangan hubungan sosial. Meningkatnya semangat nilai-nilai budaya konsumerisme dan individualistik, misalnya, akan mudah menimbulkan konflik dan perilaku menyimpang. Perilaku yang tidak jarang ditemukan, misalnya primodialisme dan sentiment kedaerahan dan kesukuan bisa jadi dapat menimbulkan kerusuhan sosial. Begitupula yang menyangkut sindikat dan mafia kegiatan illegal dapat mengganggu ketenangan masyarakat. Hal itu semakin parah karena lemahnya fungsi kontrol sosial dan intensitas komunikasi yang rendah. Lama kelamaan terjadi krisis kepercayaan terhadap institusi sosial lokal yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

        Modal sosial positif adalah syarat utama bagi keberhasilan pengembangan masyarakat. Semakin kuat nilai-nilai sistem sosial atau jaringan sosial semakin meningkatnya volume dan mutu proses dan hasil pengembangan masyarakat. Ukuran outputnya adalah tercapainya kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Dalam hal ini modal sosial sangat berperan positif dalam mengurangi konflik social. Melalui penerapan kesetiakawan sosial dapat diprogramkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini tidak lepas dari adanya kepercayaan sebagai modal utama antara lain dalam membangun sifat-sifat atau nilai-nilai kohesi sosial, kebersamaan, toleransi, empati. Selain itu fungsi-fungsi kontrol dalam pengembangan masyarakat relatif longgar karena adanya saling percaya sesama individu dalam suatu kehidupan yang harmoni penuh dengan ciri-ciri kesetiakawanan sosial.

 

        Belum lama ini saya mendapat sebuah buku baru berjudul HR Transformation dari Bung Sadikin, mahasiswa bimbingan saya, program doktor Manajemen Bisnis IPB. Buku terbitan tahun 2009 yang ditulis Dave Ulrich bersama Justin Allen, Wayne Brockbank, John Younger, dan Mark Nyman itu menyajikan tulisan bagaimana suatu bisnis tidak saja menghadapi tantangan dari dalam perusahaan namun juga dari luar. Tantangan terhadap bisnis semakin ruwet saja ketika ada tekanan dan perubahan dari luar perusahaan seperti kondisi ekonomi, globalisasi, teknologi, persaingan, pelanggan dan demografi.

        Dalam situasi tantangan eksternal seperti itu pimpinan perusahaan harus mencari terobosan inovasi untuk mengelola pertumbuhan perusahaan baik jangka pendek maupun panjang. Sementara, sejalan dengan tuntutan eksternal itu, para pelaku professional SDM harus mentranformasi cara bagaimana mereka bekerja. Tranformasi mendasar itu semestinya berfungsi dalam hal bagaimana menempatkan departemen SDM diorganisasi sebagai pusat pelayanan, pusat keahlian, dan bagaimana SDM berada. Kemudian praktek-praktek SDM dirancang, dipadukan, dan diselaraskan dengan kebutuhan perusahaan; dan bagaimana kalangan professional SDM harus disiapkan sehingga mereka dapat berkontribusi semakin efektif.

        Di masa depan, SDM harus mempunyai hubungan fungsional yang dekat dengan para pemimpin bisnis. Dalam hal ini karyawan dapat berkesempatan berhubungan dengan para pelanggan, investor, para pemimpin masyarakat bisnis di luar. Keberhasilan SDM yang baik tidak diukur dari kegiatannya tetapi dari kapabilitas keorganisasiannya. Untuk itu para penulis menawarkan pedoman spesifik untuk mentransformasi departemen atau fungsi SDM, praktek SDM, dan professional SDM. Fokus pedoman ini merancang kembali, merekayasa, dan meningkatkan profesi SDM. Selain itu diungkapkan tentang peran spesifik untuk para manajer, professional SDM, karyawan, dan para ahli dalam mentransformasi peran SDM. Telaahan di buku ini semakin menarik karena dilengkapi dengan contoh-contoh studi kasus.

        Sebenarnya uraian tentang pentingnya memertimbangkan pengaruh faktor luar terhadap organisasi sudah banyak diungkap. Dalam konteks SDM dikenal sebagai Manajemen SDM (MSDM) Stratejik. Bentuk MSDM ini dikenal sebagai upaya pendekatan strategis dalam mengembangkan pendekatan manajemen personalia. Seperti diketahui manajemen personalia lebih fokus pada pembenahan SDM dalam segi-segi praktis dan rutin seperti masalah cuti, kedisiplinan kerja, rekrutmen, seleksi, pelatihan sampai pemutusan hubungan kerja. Faktor-faktor luar tidak menjadi konsiderasi utama perusahaan. Tidak berpikir strategis bagaimana meningkatkan mutu dan person SDM ke depan.

      Sementara MSDM stratejik tidak saja berpikir ke dalam tetapi juga keluar perusahaan. Seperti halnya buku ini, faktor-faktor seperti tekanan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan pasar kerja juga dipertimbangkan ketika menyusun program MSDM. Namun demikian tidak sampai secara terinci merumuskan tentang remedi SDM seperti yang ditulis dalam buku ini. Buku ini secara panjang lebar menawarkan tentang konteks SDM dan bisnis (mengapa), outcome dari transformasi SDM (apa), perancangan kembali SDM (how), dan akuntabilitas SDM (who). Sehubungan dengan transformasi SDM pula maka diharapkan karyawan tidak semata-mata sebagai operator atau staf tetapi juga sebagai mitra dalam menerapkan strategi perusahaan, ahli administrasi, karyawan unggul, dan sebagai agen perubahan.

Laman Berikutnya »