Pada dasarnya setiap orang itu pemimpin. Paling tidak memimpin dirinya sendiri. Hal ini sangat penting mengingat setiap orang dianggap memiliki tujuan tertentu dalam hidupnya. Idealnya seseorang memiliki visi kehidupan yang ingin dijalaninya. Untuk itu maka dia juga memiliki suatu perencanaan bagaimana caranya agar tujuan yang sudah dirancangnya tercapai. Bagaimana atau dengan cara apa untuk mencapai tujuan. Untuk itu sumberdaya apa saja yang harus dimiliki dan dikelola dengan optimal. Kapan dan dimana saja rencana akan dilaksanakan. Dan siapa saja yang bisa dilibatkan untuk membantu diri sendiri. Ketika rencana itu dilaksanakan bagaimana mengendalikan, mengawasi dan mengevaluasinya. Itulah memimpin diri sendiri dalam hal mengelola suatu program yang dibuat sendiri.

        Bagaimana kalau menghadapai masalah? Dalam konteks pekerjaan masalah yang dihadapi dapat berupa kondisi fisik sedang sakit, semangat kerja sedang menurun, kinerja juga menurun, hubungan dengan rekan kerja dan pimpinan agak renggang, dsb. Dengan kata lain bagaimana diri sendiri dapat mengatasi masalah-masalah tsb. Tanpa harus terlalu dan selalu mengandalkan pada orang lain. Khususnya yang menyangkut motivasi kerja dan relasi dengan pihak lain, kita harus menelaah apa saja faktor-faktor penyebabnya. Apakah faktor-faktor yang datangnya dari diri sendiri atau dari luar. Kalau dari dalam diri sendiri maka umumnya sangat terkait dengan pengendalian diri. Sementara kalau faktor penyebabnya dari luar maka dilakukan dengan cara membangun relasi yang harmonis.

        Pengendalian diri menempati unsur sangat penting dalam memimpin diri sendiri. Apakah itu yang menyangkut marah, stres, demotivasi, sedih, dsb. Unsur-unsur tersebut akan memengaruhi proses kehidupan diri sendiri. Bahkan akan memengaruhi pada lingkungan sosialnya.  Bentuk pengaruhnya bisa berupa proses menyelesaikan suatu pekerjaan yang lambat, bisa terjadi konflik dengan rekan kerja, dan pada gilirannya kinerja yang bersangkutan akan menurun. Sementara lingkungan sosialnya juga akan merasa terganggu akan ulah yang kurang menyenangkan. Karena itu manajemen pengendalian diri harus dilakukan.

       Manajemen pengendalian diri bisa dilakukan dengan cara pencegahan dan cara pemulihan. Cara pencegahan antara lain berupa memelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi hidup, motivasi kerja, stres dan penyebab serta solusinya, kesedihan, kemarahan dsb. Dari situ diharapkan kita bisa mencari solusi yang terbaik. Tahap pencegahan ini bisa juga dilakukan dalam bentuk perenungan diri misalnya lewat meditasi. Kemudian melakukan evaluasi diri secara bersinambung. Dengan demikian maka hal-hal negatif yang dimiliki sendiri bisa diantisipasi dan semakin berkurang.

       Sementara itu proses pemulihan dilakukan dalam bentuk mengendalikan diri secara langsung. Artinya ketika kita mengalami goncangan mental maka pendekatannya pun harus dilakukan dengan hati. Kita harus segera merenung apa dan mengapa sesuatu terjadi pada diri kita.  Bagaimana sebaiknya kita mengubah cara bersikap yang merugikan diri sendiri dan lingkungan. Bagaimana  kita harus mengubah cara berpikir yang terlalu mengandalkan otak belaka tanpa menggunakan hati nurani terdalam misalnya sabar, ikhlas dan bersyukur. Dan tentunya mengubah cara-cara bertindak tanpa pola yang jelas. Yakni dengan mengubahnya berdasarkan ilmu  pengetahuan, rasional, berpikir sistem, kerjasama kelompok dan inovatif.