Oktober 2007


          Anda senang berada dalam kemapanan hidup dan kehidupan? Malas dan malah tidak peduli dengan perkembangan lingkungan yang ada? Hati-hati kalau anda bersikap seperti itu. Anda seolah memandang dunia kehidupan hanyalah sempit dan terbatas pada nurani anda saja. Tidak ada kaitannya dengan nurani sebagian besar warga lingkungan sekitar. Padahal ketika berbicara sistem, anda adalah bagian sub-sistem dari entitas sosial atau bahkan bagian dari kehidupan sosial ekonomi yang lebih luas. Dan antarsub-sistem saling berkait. Misalnya dalam dunia bisnis yang penuh tantangan; pertanyaannya anda berada pada posisi mana. Kalau anda sendirian mampukah anda hidup berbisnis tanpa melakukan perubahan. Tanpa berinteraksi dalam aktifitas bisnis dengan pihak lain? Sementara pihak lain tersebut sudah terbang jauh menggapai tujuan yang berubah sesuai dengan tuntutan perubahan?.

          Ketika misalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berubah (semakin maju) maka wajarlah setiap pelaku bisnis terdorong  melakukan penyesuaian misi dan tujuan serta strategi bisnisnya. Mereka melihat suatu perubahan dengan penuh makna. Artinya  disitu ada peluang maju. Kalau tidak, bakal ketinggalan bahkan terlindas oleh perubahan itu sendiri. Bagi mereka yang senang tantangan, perubahan diposisikan sebagai kebutuhannya. Sebagai sesuatu yang indah. Tak patut dicemaskan. Perubahan tidak dijauhi tetapi malah dinikmati. Mengapa? Karena disitu ada seni dan ilmu bagaimana perubahan dapat dikelola secara optimum. Disitu pula ada potensi kreatifitas dalam berinovasi.Walaupun sempat babak belur; naik turun performa namun sang pebisnis tersebut selalu merasa optimis.

        Keindahan lainnya dari suatu perubahan dicirikan oleh kesiapan setiap pelaku bisnis dalam menghadapi   resiko gagal.  Seperti Henry Ford (pendiri perusahaan Ford Motor) katakan, kegagalan adalah kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih baik. Malah, Walter Wriston (mantan pemimpin umum Citicorp) melihat kehidupan merupakan proses pengaturan resiko, bukan penghapusannya. Nah ada  lagi yang perlu diingatkan bagi mereka yang anti perubahan; ”jangan hanya duduk dan menunggu kesempatan yang datang….Bangkit dan ciptakanlah kesempatan itu” (Madam C.J.Walker,Pendiri Perusahaan Manufaktur). Dan ”sukses berasal dari fokus yang terus menerus pada pembaruan” (Gary Tooker, CEO Motorola).

Sumpah Pemuda :satu. tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Ikrar itu dideklarasikan 79 tahun yang lalu dalam Kongres Pemoeda di Jakarta. Lahir sebagai refleksi dari kebangkitan nasional. Ia juga sebagai cikal bakal  dan sumber inspirasi lahirnya kemerdekaan. Intinya adalah bagaimana dengan sumpah pemuda dapat diwujudkan spirit kebangsaan, kesatuan dan persatuan bangsa pada setiap warganegara Indonesia. Dalam tataran kehidupan bangsa jangka panjang ia merupakan sebuah kontrak politik. Pertanyaannya apakah semangat itu masih begitu menggelora hingga kini? Apakah  spirit sumpah pemuda yakni kemerdekaan dan kebebasan sudah terwujud? Kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan tidak perlu diperdebatkan. Namun utamanya kebebasan dari ketidak-adilan perlakuan hukum, keserakahan (korupsi), konflik sosial, kebodohan, kesehatan, dan kemiskinan ternyata belum sepenuhnya. Dari sisi kemiskinan antara lain terlihat dari angka pengangguran khususnya di kalangan pemuda.

Angka pengangguran terbuka pada tahun 2005 tercatat lebih dari sepuluh juta orang atau 9.86% dari jumlah angkatan kerja. Ditambah dengan pengangguran setengah terbuka sebanyak 27,.5% maka total angka pengangguran menjadi sekitar 29 juta jiwa. Dari angka  pengangguran terbuka, sebanyak 37.8% itu merupakan angkatan kerja berusia muda (15-24 tahun). Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada kalangan muda itu. Pada sisi mikro bakal terjadi perasaan stres dan depresi bahkan seperti warga tak berguna. Tidak jarang lalu nekad melakukan tindakan kriminalitas.  Pada sisi makro pengangguran merupakan pemborosan sumberdaya khususnya sumberdaya manusia (SDM), beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dan hambatan pembangunan jangka panjang. Lalu bagaimana sebaiknya? Apakah perlu ikrar sumpah pemuda yang baru?

Tidak perlu ikrar sumpah pemuda yang baru. Terpenting bagaimana menterjemahkan spirit sumpah pemuda dalam wujud nyata dalam suasana kebersamaan. Untuk itu sektor investasi seharusnya mampu mengatasi pengangguran. Memang hasilnya belum memuaskan karena investasi lebih banyak pada produksi manufaktur yang bercirikan kapital intensif. Sementara pembangunan pertanian dan perdesaan juga belum maksimum mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Selain menggerakkan dua sektor tersebut secara optimum tak ada salahnya kalangan pemuda membangun suatu ”gerakan nasional produktivitas” di berbagai sektor kehidupan untuk mengatasi pengangguran. Termasuk di dalamnya penerapan sistem pengembangan SDM yang link and match dengan dunia kerja. Gerakan ini akan menjadi payung dalam mengimplementasikan strategi pembangunan yang  pro growth, pro job, dan pro poor.   

Masalah SDM di Indonesia sangat kompleks. Hal ini dicirikan oleh beberapa indikator berikut:

o        Pertumbuhan angkatan kerja lebih besar

     ketimbang ketersediaan lapangan kerja.

o        Distribusi penduduk antardaerah tidak merata.

o        Ketidaksesuaian kompetensi SDM dengan pasar kerja.

o        Ketidakseimbangan kebutuhan pelayanan publik

     dengan jumlah petugas.

o        Distribusi informasi tentang pasar kerja yang

lambat atau timpang.

o        Pengangguran dan kemiskinan yang menyebabkan

     pendidikan dan kesehatan rendah.

Studi  Political and Economical Risk Consultancy (2001); derajad pendidikan di Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Paling buncit. Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina,  berada di atas Indonesia.Laporan UNDP, United Nations Development Programme, dalam “Human Development Report 2003” tentang kualitas pembangunan manusia. Dari 174 negara, Indonesia  berada pada peringkat ke-112. Sementara Singapura  mencapai peringkat ke-28, Brunei Darussalam ke-31, Malaysia ke-58, Thailand ke-74, dan Filipina ke-85.

           Selain itu kemudahan untuk berusaha di Indonesia pada tahun 2005-2006 berada di peringkat ke-135 dari 175 negara (International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia). Alasan sangat klasik terjadinya keterpurukan itu yaitu tidak efesiennya birokrasi.

o        Perizinan bisnis sudah berubah menjadi transaksi bisnis atau bisnis balas jasa.

o        Birokrat yang seharusnya melayani (aktif) publik berubah menjadi dilayani     (pasif) publik..

o        Kalau tidak dilayani, proses perizinan bakal semakin panjang dan lama yang meningkatkan biaya ekonomi tinggi.

          Kondisi itu menyebabkan derajad daya saing usaha Indonesia mencapai peringkat ke-60 dari 61 negara (survei International Institute for Management Development ;2006),.  Ada tiga indikator besar penyebab daya saing rendah.

Pertama, faktor ekonomi makro, seperti ekspektasi resesi dan kondisi surplus atau defisitnya suatu negara yang masih memprihatinkan. Tingkat pertumbuhan ekonomi relatif masih lambat, tingkat penyerapan tenaga kerja masih rendah, investasi berjalan lambat dan kemiskinan masih tinggi.

Kedua, institusi publik dan kebijakan yang diambil dalam melayani kebutuhan masyarakat masih jauh dari optimum. Masyarakat masih dihadapkan pada kesulitan memperoleh pelayanan maksimum.

Ketiga, teknologi yang digunakan dalam proses produksi masih belum menghasilkan produk-produk yang mampu bersaing di pasar global. 

Kegiatan politik di dalam suatu perusahaan berdimensi tiga yaitu dilihat dari karyawan, manejemen, dan organisasi. Dari sisi karyawan politik dimaksudkan sebagai teknik atau taktik yang diterapkan para karyawan untuk mempengaruhi aturan dan peraturan manajemen.Misalnya gerakan yang dilakukan oleh serikat karyawan. Dari sisi manajemen, politik dipandang sebagi teknik atau taktik yang diterapkan para manajemen agar setiap aturan dan peraturan perusahaan dapat dilaksanakan para karyawannya. Sementara itu dilihat dari sisi organisasi,politik sebagai teknik atau taktik bagaimana semua aturan dan peraturan perusahaan dapat dilakukan semua komponen organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tertentu.

Dalam artian lainnya, politik dicirikan oleh adanya kekuasaan. Ia merupakan kekuatan  intangible dalam suatu organisasi. Kekuasaan merupakan kemampuan potensial dari seseorang atau departemen dalam suatu organisasi untuk mempengaruhi orang lain atau dilakukan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Kekuasaan dapat terjadi hanya di dalam hubungan antara dua atau lebih orang baik dalam hubungan horisontal maupun vertikal. Hal itu dapat terjadi ketika ada perbedaan pemilikan sumberdaya, derajat dependensi, dan individu yang memiliki kekuatan-pengaruh.

Kekuasaan itu sendiri merupakan karakteritik personal. Artinya  bagaimana seseorang mampu mempengaruhi atau mendominsasi orang lain.Disinilah terkait dengan efektifitas MSDM stratejik. Dalam hal ini ada lima sumber kekuasaan yang mempengaruhi efektifitas MSDM yakni (1) Kekuasaan Legitimasi: wewenang yang diberikan organisasi,misalnya, kepada manajer, (2) Kekuasaan Imbalan: berasal dari kemampuan memberikan imbalan dalan wujud promosi, kenaikan gaji-upah, dan menghargai pada orang lain. (3) Kekuasaan Koersiv: wewenang menghukum atau merekomendasikan hukuman pada seseorang, (4) Kekuasaan Keahlian: berasal dari pemilikan ketrampilan dan pengetahuan yang lebih besar  tentang tugas yang dilaksanakan, dan (5) Kekuasaan Referen: berasal dari karakteristik individual seperti mengagumi manajer dan ingin seperti atau diindetikan sebagai manajer yang memiliki rasa penuh hormat dan kekaguman.

Dalam prakteknya lalu munculah apa yang disebut sebagai klik. Ia merupakan  refleksi dari karakteristik struktur hirarki suatu organisasi. Di situ bisa jadi ada ”rebutan” kekuasaan dan wewenang. Konsep wewenang formal berhubungan dengan kekuasaan wewenang namun lebih pada aspek lingkup. Sementara wewenang merupakan suatu kekuatan untuk menghasilkan outcome yang diinginkan namun diformulasikan dalam bentuk hirarki formal yang dicirikan (1) wewenang adalah posisi organisasi tetap, (2) wewenang diterima bawahan, dan (3) wewenang berdasar hirarki vertikal.

Apabila proses pengembangan kekuasaan dan wewenang, misalnya suksesi,  berjalan normal tanpa sikut menyikut, dan penyebaran intrik-intrik maka pengaruh politik terhadap MSDM stratejik akan efektif. Misalnya terjadilah suasana hubungan vertikal dan horisontal yang dinamis. Saling membantu dalam semangat kebersamaan. Dan pada gilirannya kinerja individu dan perusahaan akan semakin meningkat. 

Oleh Ustadz Nabiel Al Musawwa

Rasulullah Saw bersabda, “Jika kalian mencintai saudaranya (sesama mu’min), maka hendaklah ia memberitahukan kepadanya.”TAKHRIJ HADITS
Hadits ini dikeluarkan oleh :

1. Abu Daud, kitab al-Adab, bab Ikhbarur Rajuli ar-Rajula bi Mahabbatihilahu;
2. Tirmidzi, kitab az-Zuhdu, bab Ma Ja’a fi I’lamil Hubbi;3. Di-shahih-kan oleh Syaikh Albani dlm ash-Shahihah (417, 2515)

KANDUNGAN HADITS

Sebuah sistem yang sempurna aspeknya dan diturunkan oleh Yang Maha Sempurna pastilah tidak akan meninggalkan berbagai sisi, melainkan ia memberikan pedoman serta arahan bagi penganutnya. Demikianlah Islam sebagai sistem agama juga negara, politik dan ekonomi, dzikir dan aqidah, sosial dan seni, pengetahuan dan militer telah mengatur berbagai sisi yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh ummatnya walaupun kerap kali dianggap sepele, dan diantara sisi yang sering diremehkan itu adalah masalah tahni’ah (ucapan selamat) dalam kehidupan bermasyarakat.

Tahni’ah adalah bagian dari kehidupan berteman dan etika dalam bermasyarakat, oleh sebab itu Islam tidak mengabaikan hal ini dalam aturannya yang sempurna. Nabi Muhammad Saw mengajarkan kepada kita agar jika kita menyenangi perbuatan seseorang maka jangan segan-segan untuk menyampaikan kepadanya, sehingga yang bersangkutan dapat mensyukuri kelebihan yang dimilikinya dan merespon perhatian dari saudaranya. Dan orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah Swt adalah orang yang paling tinggi perhatiannya kepada saudaranya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw “Dua orang yang saling mencintai karena Alloh Swt, maka yang paling tinggi diantara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya[1].”

Dan kebiasaan memberikan ucapan selamat ini (sepanjang tidak menyalahi aturan syariat) merupakan tradisi yang sangat mulia (shifat al-‘ulya) yang dicontohkan oleh Allah Swt sendiri, simaklah bagaimana Alloh Swt senantiasa memberikan ucapan selamat kepada para hamba-Nya di dalam al-Qur’an. Ia memberikan ucapan selamat kepada hamba-Nya yang taat beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya : “Rabb mereka memberi ucapan selamat kepada mereka dengan rahmat, keridhaan dan jannah-Nya, dan mereka mendapatkan di dalamnya kesenangan yang abadi.” (Qur’an Surat at-Taubah, 9:21).

Demikian pula Ia memberikan ucapan selamat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang jujur dan selalu mengambil yang terbaik, sebagaimana dalam firman-Nya : “Dan oleh sebab itu sampaikanlah ucapan selamat kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik diantaranya.” (Qur’an Surat az-Zumar, 39:17-18).

Kebalikan dari hal ini, maka Islam pun melarang kita untuk memperlihatkan kegembiraan atas kesusahan orang lain apalagi jika kemudian menyebar-nyebarkan keburukan yang dialami oleh saudaranya tersebut kepada orang lain. Kepada mereka yang berbuat demikian, Allah Swt mengancam dengan azab yang pedih (artinya hal tersebut merupakan perbuatan dosa besar), sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an : “Sesungguhnya orang-orang yang suka agar perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang beriman, maka bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat.” (Qur’an Surat an-Nur, 24:19)

Ucapan selamat inipun berlaku bagi non-muslim, artinya kita dibolehkan bergembira dan mengucapkan selamat atas kegembiraan yang diraih oleh kenalan ataupun kolega yang non-muslim (dzimmi), sepanjang tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan ibadah (seperti ucapan selamat untuk hari keagamaan tertentu misalnya), karena dalam masalah aqidah dan ibadah maka bukanlah termasuk hal-hal yang masuk dalam wilayah bolehnya ditoleransi. Pembolehan pengucapan selamat dalam selain masalah aqidah dan ibadah ini didasarkan pada sunnah para sahabat radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Seandainya Fir’aun berkata kepadaku : Semoga Tuhan memberikan kebaikan atasmu, maka akan saya jawab: Dan juga atasmu. Tetapi Fir’aun telah mati[2]. Dibolehkan juga berdoa untuk orang kafir (dzimmi) sepanjang bukan doa yang berkaitan dengan keselamatan, rahmat dan barakah Alloh Swt (atau yang semisal dengan itu). Artinya seperti doa agar ia diberi hidayah, dipanjangkan umur dan diberikan kesehatan dan lain sebagainya. Sebagaimana dalam atsar sahabat berikut ini : Dari Uqbah bin Amir al-Juhani bahwa ia melewati seorang yang penampilannya seperti muslim, maka iapun mengucapkan salam dan dijawab oleh orang itu. Maka seorang anak tiba-tiba berkata kepadanya : Ia itu orang Nasrani! Maka Uqbah menghampirinya kembali lalu berkata : Sesungguhnya rahmat dan barakah Allah Swt hanyalah bagi orang-orang mu’min. Tetapi semoga Allah Swt memanjangkan hidupmu dan membuat harta dan anakmu menjadi banyak [3].

Wala taj’al fi qulubina ghillan lilladzina amanu…
[1] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, 423/544 dan di-shahih-kan oleh Albani dalam ash-Shahihah (450).

[2] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul-Mufrad, dan di-shahih-kan oleh Albani dalam ash-Shahihah (2/329).

[3] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan di-shahih-kan oleh Albani  (al-Irwa 1274).

Dan dia (Albani) berkata : Aku katakan atsar dari sahabat yang mulia ini menunjukkan bolehnya berdoa untuk panjang umur, sekalipun untuk orang kafir, apalagi untuk orang muslim tentu lebih utama. Tapi harus diperhatikan bahwa orang kafir itu haruslah bukan musuh umat Islam, dan karenanya berlaku juga ta’ziyyah kepada mereka, berdasarkan hal yang terkandung dalam atsar ini, maka ambillah faidah (hukum) ini.

Dikutip dari majalah Al-Hijrah; Al-Hijrah@cide-nsw.net; 14 Syawal 1428 H; Google,26 Oktober 2007

          Beberapa waktu lalu, ada seorang sahabat bercerita pada saya tentang pengalaman dia dalam berteman dengan seseorang. Kisahnya begini: “saya pernah ngobrol dengan seseorang, namun yang terjadi teman itu begitu dominan bicara tentang dirinya sendiri. Dia begitu asyik cerita tentang kesibukannya,  banyak diminta oleh instansi ini-itu sebagai pembicara, sampai jumpalitan, dan juga tentang kesuksesan keluarganya. Di sisi lain, dia alpa berinisiatif menyapa  tentang kondisi dan kesibukan saya dan keluarga saya. Kalau toh ada inisiatif saya untuk menceritakan sesesuatu tentang diri saya, hampir-hampir malas diresponi. Padahal diyakini, bahwa dia tahu saya banyak kegiatan, tambahnya. Tahukah dia bahwa dalam ngobrol seharusnya dapat diciptakan suasana menyenangkan dimana kehadiran masing-masing menjadi sama-sama penting; tidak ada yang dicuekin”? Begitulah sahabat saya itu berkeluh kesah.

          Lalu teman saya itu bercerita tentang hal yang lain; “ketika  punya cukup banyak program, saya pernah mengajak teman saya tersebut untuk mengerjakan sesuatu kegiatan seperti pengajaran, pelayanan pada masyarakat, dan penelitian. Bahkan saya kerap memberi pendapat tentang sesuatu pada dia. Namun demikian, belakangan ini dia sendiri hampir-hampir tidak pernah meminta jasa saya lagi untuk bekerja sama dengannya. Bahkan lama kelamaan sangat  jarang  meminta pendapat  saya dalam  bidang tertentu. Karena mungkin merasa dirinya sekarang sudah kompeten. Sudah menjadi orang penting”. Demikian  ungkapan panjang lebar sahabat saya bertubi-tubi sambil meminta komentar saya. 

         Lalu saya memenuhi permintaan teman itu, seperti ini: Ya, walaupun sangat jarang sekali, saya percaya hampir tiap orang pernah mengalami situasi seperti yang diceritakan teman itu. Dan dalam obrolan, ada orang yang cukup mendengarkan cerita dengan kesabaran, simpati dan empati. Dia  tidak peduli apakah orang itu tidak bertanya tentang dirinya, dan atau tidak meminta dia  lagi untuk berkerjasama dengannya. Itu adalah haknya. Di sisi lain  pasti ada juga yang merasa kesal dengan orang  yang begitu egois. Dan cenderung dengki. Hemat saya tidaklah seharusnya kita  bersikap demikian. Itulah komentar saya pada teman itu. …….dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki” (al-Falaq; 5).ataukah mereka dengki kepada manusia  lantaran karunia  yang Allah telah berikan kepadanya? (an-Nisa; 54). Sumber : Tb Sjafri Mangkuprawira, 2007, Rona Wajah:Coretan Seorang Dosen,Jilid 2,IPB Press.

Dalam menghadapi era global, setiap perusahaan yang bercirikan sebagai organisasi belajar menerapkan pengembangan sumberdaya manusia  (SDM) karyawannya dilihat dari sisi kultural, struktural, dan personal. Dari sisi kultural, suatu perusahaan akan mengubah strategi sumberdaya manusia yang selama ini bersifat rutin dan status-quo menjadi budaya pengembangan atau produktif. Intinya adalah bagaimana perusahaan mengembangkan budaya unggul di kalangan karyawan yang mampu bersaing di pasar. Perilaku produktif dikembangkan sebagai suatu sistem nilai, baik untuk individu maupun perusahaan.

Kemudian di sisi struktural dikembangkan suatu strategi manajemen kepemimpinan yang semula berorientasi hubungan atasan dan bawahan menjadi manajemen kemitraan antara atasan dan bawahan dan sebaliknya. Juga dapat terjadi pengubahan struktur organisasi yang semula gemuk menjadi ramping sesuai dengan prinsip-prinsip efektivitas dan efisiensi. Termasuk di dalamnya diharapkan fungsi MMSDM yang semula hanya dikelola oleh departemen atau divisi SDM secara bertahap untuk beberapa fungsi tertentu, misalnya pengembangan mutu karyawan dilakukan oleh departemen atau divisi lain secara terintegrasi.

Dalam hal dimensi personal, suatu perusahaan harus berorientasi pada pengembangan kebutuhan dan kepentingan karyawan disamping kebutuhan dan kepentingan perusahaan. Karyawan harus dipandang sebagai unsur investasi yang efektif dan jangan sampai terjadi beragam perlakuan yang bersifat dehumanisasi. Untuk itu peningkatan mutu karyawan menjadi hal yang pokok dan perlu dilakukan melalui kegiatan analisis masalah karyawan, komunikasi,  pelatihan, pengembangan motivasi dan kedisiplinan, penerapan manajemen kepemimpinan yang partisipatif, pengembangan keselamatan dan kesehatan kerja, manajemen perubahan, dan menjadikan perusahaan sebagai suatu organisasi pembelajaran. 

Laman Berikutnya »