September 2008


 

Insya Allah malam ini adalah malam takbiran. Takbiran berasal dari kata takbir. Bertakbir adalah menyeru keagungan Allah dengan khusyu. MengagungkanNya, karena Allah maha segalanya. Dalam sholat  ucapan takbir hadir berulang-ulang dan merupakan bagian dari rukun sholat. Sementara takbiran dikenal sebagai kegiatan takbir keliling. Bisa menggunakan mobil terbuka, sepeda motor, beca, dan delman serta jalan kaki. Biasanya disertai bunyi-bunyian terompet, musik, beduk dsb. Tak ada tuntunan islam bahwa takbiran dilakukan seperti itu. Jadi  bukan merupakan ritual agama. Takbir keliling hanyalah sebagai kegiatan tradisi di sebagian kalangan ummat islam Indonesia. Malah pernah  diadakan takbiran nasional di lapangan Banteng dan stadion gelora Senayan Jakarta.

Tidak sedikit perdebatan di kalangan ulama dan pemerintah apakah takbir keliling dinilai lebih banyak manfaatnya ketimbang mudharatnya. Bergantung  dari segi pandangnya. Ketika bicara takbiran itu sebagai salah satu syiar islam; mengapa tidak? Kan, sama saja syiar yang dilakukan selama ini seperti di mesjid, di gedung, dan di tempat lainnya? Demikian pendapat yang pro takbiran dimana pun diadakan. Sementara pihak lain menilai takbir keliling lebih banyak mudharat ketimbang maslahatnya. Menyewa kendaraan, alat musik, dan  petabuh membutuhkan biaya tidak sedikit. Suara musik, bedug bertalu-talu, dan joged sana-sini mengurangi kehusyuan takbiran. Sementara itu para peserta takbir keliling yang biasanya berakhir menjelang subuhan pasti akan lelah. Dan itu membuat sholat id’nya tidak khusyu. Bahkan ada yang mengatakan takbir keliling sebagai sesuatu yang ryia. Demikian pendapat yang kurang menyetujui takbiran atau takbir keliling. Sedangkan,  kalangan pemerintah lebih khusus melihatnya dari sisi keamanan dan ketertiban umum. Dengan tenaga terbatas, mereka sangat kewalahan mengatur jalannya takbiran. Takbiran tidak jarang mengganggu lingkungan dan kalau tidak disiplin bisa menimbulkan kecelakaan. Sependapat dengan sebagian ulama, pemerintah menganjurkan takbiran diadakan di mesjid, surau, dan atau di rumah saja.

Bagaimana sebaiknya? Tidak mudah memutuskan mana yang terbaik. Ketika suatu kegiatan seperti takbiran sudah menjadi tradisi maka tinggal selangkah lagi kegiatan itu menjadi budaya. Dalam budaya terdapat sistem nilai-nilai tertentu, kebiasaan, dan kesepakatan kolektif dari masyarakat bersangkutan. Dalam keadaan seperti itu mengubah  kebiasaan atau tradisi tidaklah semudah dalam mengubah industri. Perubahan dalam sisi budaya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Mengapa? Karena kesepakatan-kesepakatan kolektif telah terpatri oleh sistem nilai tertentu yang tidak mudah dihapus oleh siapapun hanya dalam tempo singkat. Kecuali dilakukan secara affirmative oleh pemerintah. Apakah dengan peraturan daerah ataukah surat keputusan nasional. Namun pertanyaannya apakah itu menandakan takbiran atau takbir keliling selama ini sudah segawat itu; sehingga harus diharamkan lewat aturan pemerintah secara nasional?

Idealnya  biarkanlah ummat memilih jalur takbirannya sendiri. Biarkan mereka takbir di manapun asalkan dijalankan secara tertib. Toh, takbiran itu tidak dilakukan tiap hari atau tiap minggu. Di sinilah dibutuhkan kesadaran ummat untuk memandang takbiran sebagai sesuatu yang sakral yang didalamnya penuh seruan keagungan allah. Para tokoh agama harus terus menerus melakukan sosialisasi tentang makna takbiran ke ummatnya. Takbiran yang tanpa harus dijalankan dengan hura-hura dan dekat ke sifat ryia. Sementara pihak aparat kepolisian dibantu masyarakat memang harus bekerja ekstra keras menertibkan jalannya takbiran. Dalam hal ini pemerintah harus bijak. Misalnya setelah melalui proses himbauan perlunya takbiran dilakukan secara tertib tetapi tetap saja mengganggu ketertiban. Maka silakan mengeluarkan aturan sejauh menilai takbir keliling sudah sangat membahayakan lingkungan dan bahkan menujukkan tanda-tanda menodai kesucian agama. Dan tentunya ummat islam harus sudah siap melaksanakannya dengan ikhlas penuh kesadaran tinggi. Semoga suasana malam ini tidak berhenti hanya sebatas suasana hening-sahdu ”bertakbir” mengagungkan nama allah….namun bagaimana hal itu dapat diwujudkan sebagai la’allakum tattaqun……semoga meraih posisi takwa…..amiiin.

 

Tugas utama seorang pembimbing adalah memberikan arahan tentang  penelitian yang akan dilakukan mahasiswanya, menelaah dan menguji hasil penelitiannya. Pola yang selama ini saya lakukan adalah melakukan pertemuan awal dengan semua  mahasiswa bimbingan, misalnya untuk mahasiswa bimbingan semester tertentu. Pada pertemuan itu dijelaskan proses bimbingan yang  diterapkan (teknik, waktu dan lokasi) termasuk  sudah melakukan tukar pendapat tentang topik tentatif penelitian. Arahan bisa dalam aspek-aspek topik penelitian, teori yang digunakan, kerangka pemikiran konseptual dan operasional, hipotesis, asumsi yang digunakan, model analisis empirik, metodologi penelitian, dan kedalaman analisisnya. Kemudian ketika mau bimbingan, mahasiswa harus sudah siap membawa ide atau konsep yang dibuatnya. Tidak dengan pikiran kosong. Bagaimana dengan  waktu dan lokasi bimbingan? Ya begitu fleksibelnya. Bisa di kantor dan bisa (sebagian besar)  di rumah. Bisa mahasiswa yang memberitahu dan bisa juga saya. Kalau ada tanda-tanda mahasiswa bimbingan agak lamban maka saya tidak segan-segan mengirim SMS menanyakan tentang kemajuan studinya.

Selama 30 tahun terakhir ini jumlah mahasiswa bimbingan saya sebanyak 461 orang yang terdiri dari 212 mahasiswa strata satu, 215 mahasiswa strata dua, dan 34 mahasiswa strata tiga. Mereka yang sudah lulus dari strata satu sebanyak 199 orang, strata dua sebanyak 183 orang, dan strata tiga sebanyak 14 orang. Latar belakang sosial para mahasiswa bimbingan mulai dari yang belum bekerja, aktifis LSM, aktifis partai, pegawai swasta, pegawai negeri termasuk dosen dan peneliti, pebisnis, pejabat eselon dua dan satu, mantan pejabat eselon satu, sampai jendral purnawirawan berbintang tiga.

Pola bimbingan yang   diterapkan selama ini bergantung pada golongan strata pendidikan. Semakin tinggi strata pendidikan mahasiswa semakin longgar proses bimbingannya. Alasannya karena semakin tinggi strata pendidikannya, mereka seharusnya semakin mandiri. Kecuali ada mahasiswa yang memiliki masalah khusus. Begitu pula, pola bimbingan  sangat bergantung pada mutu akademik sang mahasiswa. Semakin tinggi mutu akademik mahasiswa, derajad ketekunan, dan tingkat kedisiplinannya cenderung semakin kendor kendali bimbingan yang diterapkan. Mereka umumnya cepat  bisa lulus. Tentunya pula harus didukung dengan kedisiplinan dosen pembimbingnya.

Dalam prakteknya, seperti layaknya seorang manusia biasa, dosen pembimbing pun mengalami kegembiraan dan kesedihan dalam proses membimbing mahasiswanya. Dan ini sangat berkait dengan mutu mahasiswa bimbingan. Seperti diungkapkan di atas,  semakin tinggi mutu akademik dan kedisiplinannya semakin cepat sang mahasiswa bimbingan bisa lulus.  Karena itu semakin rendah mutu akademiknya, semakin ketat atau intensif proses bimbingan yang berlangsung. Belum lagi ditambah  faktor kelambanan dan kemalasan mahasiswa. Tidak aneh ada yang sampai empat bulan tidak nongol dan berjumpa dengan saya. Melapor pun tidak sama sekali. Padahal sudah berulang kali dikirimi SMS atau surat teguran dari bagian akademik fakultas. Dan sedihnya diantara mereka ada yang termasuk sebagai dosen di perguruan tingginya. Terkadang disertai urut-urut dada ketika menghadapi mahasiswa bimbingan yang begitu lambannya dalam menguasai permasalahan dan kerangka berpikir ilmiahnya. Ketika itulah dibutuhkan bimbingan intensif  disertai suatu kesabaran tinggi.

Bentuk kesedihan lainnya adalah kalau sang mahasiswa bimbingan tidak lulus. Sejauh ini mahasiswa strata satu lulus semua. Sementara mahasiswa strata dua ada empat orang yang tidak lulus. Faktor penyebabnya antara lain ada yang tidak memiliki etika akademik (plagiat), dan ada yang gagal lagi dalam kesempatan ujian ulangan. Sejauh ini, pada strata tiga, semua mahasiswa tidak ada yang gagal. Namun bukan berarti tidak ada masalah. Kalau ada di antara mereka  yang tidak lulus ujian kwalifikasi doktor (preliminary examination), saya juga sangat sedih. Bisa diperkirakan mereka mulanya akan terpukul. Namun saya yakin mereka tidak tenggelam dalam kesedihan berlarut-larut dan akan segera bangkit untuk menghadapi ujian ulangan.   Dalam situasi itulah  sisi non-akademik tidak luput menjadi perhatian saya ketika menjalankan proses bimbingan. Antara lain lewat pertemuan berkala (acara santai) dengan semua mahasiswa bimbingan, pertemuan kelompok, dan pertemuan individual. Dalam kesempatan itu tidak jarang diberikan semacam soft skills kepada mereka.

Secara keseluruhan, dari proses bimbingan, perasaan yang didapatkan relatif lebih bernuansa rasa gembira ketimbang rasa sedih. Bisa dibayangkan betapa gembira campur rasa harunya mahasiswa ketika yang bersangkutan dinyatakan lulus. Tidak ayal lagi saya pun akan larut dalam rasa syukur kebahagiaan. Kalau toh ada kegagalan mahasiswa, itu adalah hal yang biasa dari suatu proses belajar. Dari pengalaman, tampaknya derajad waktu kelulusan mahasiswa bimbingan  sangat berkait pula dengan mutu proses bimbingan. Untuk itu proses interaksi dalam bimbingan tidak saja sebatas aspek akademik tetapi juga non-akademik atau kekeluargaan. Seiring dengan itu tiap dosen  harus tetap berpegang pada koridor  prinsip-prinsip utama dalam menerapkan jaminan mutu akademik yang tinggi. Dengan kata lain jangan terbawa bias masalah pribadi. Saya percaya itulah yang selama ini dipupuk oleh para dosen IPB dalam meraih keberhasilan proses membimbing mahasiswa yang bermutu.

 

            Menggunakan kartu lebaran di Indonesia sebagai media silaturahim sudah sangat lama dikenal. Apabila tidak sempat bertemu dengan teman atau kerabat tertentu di hari lebaran maka kartu lebaran atau suratlah medianya. Disamping lewat  media kartu atau surat kilat juga lalu  berkembang dengan adanya telegram lebaran indah. Dengan kartu, surat atau telegram seseorang bisa menyampaikan isi hati  ucapan maaf memaafkan dan doa mendoakan kepada orang lain. Bicara melalui telepon langsung pun sudah menjadi hal yang biasa.

            Sejak lebih dari lima tahun lalu media kartu, surat dan telegram lebaran mendapat saingan berat dari telepon seluler. Lewat telepon itu seseorang dengan mudahnya dapat mengirim pesan singkat tertulis. Tetapi terkadang  walau ada telepon seluler namun masih ada juga yang mengirim kartu atau telegram. Ini lebih pada unsur selera dan kebiasaan saja. Bahkan saya sendiri menerima pesan lebaran dari beberapa orang yang sama  dengan seluler dan juga kartu. Yang jelas penggunaan telepon seluler sudah dominan sekali.  Sangat praktis, cepat dan murah. 

            Bisa dibayangkan lewat beberapa kemudahan (beberapa perusahaan saling kompetisi) SMS hanya dengan uang 100-200 rupiah saja seseorang bisa dengan mudah dan cepat mengirim pesan dan kemudian diterima oleh penerima dengan waktu sangat singkat. Sementara dengan media berbentuk surat harganya jauh lebih mahal yaitu sekitar lima ribu rupiah (harga kartu dan perangko). Belum lagi ditambah ongkos ke kantor pos terdekat. Sampai ke penerima juga butuh waktu lebih lama. Walaupun penggunanya relatif masih terbatas, ancaman lain terhadap penggunaan kartu atau surat  adalah alat fax dan internet. Akibat ekonominya bisa ditebak. Berapa ratus juta rupiah (milyar?), kantor pos kehilangan keuntungan (jual perangko) setelah adanya substitusi kartu atau surat lebaran dengan SMS?. Berapa  puluh juta rupiah kerugian yang diderita oleh industri pembuat kartu lebaran? Berapa pula kehilangan peluang ekonomi bagi pengelola (swasta) jasa pengirim surat?

             Yang  ingin ditarik dari fenomena di atas, betapa peran temuan teknologi baru   ( invensi dan inovasi ) telah mampu merubah perilaku masyarakat secara dinamis. Dengan perkembangan teknologi maju, masyarakat disajikan beberapa pilihan pengambilan keputusan. Mana hasil inovasi yang dinilai paling praktis, efektif, bermutu dan  paling murah itulah yang dipilih konsumen. Sementara itu sekali jenis teknologi dipilih maka terjadilah trade-off terhadap penggunaan teknologi lain. Pasti ada yang ditinggalkan atau dikorbankan. Di sisi lain ternyata telepon seluler memiliki berkah tersendiri. Sebagai media silaturahim di hari lebaran ia telah mampu menghilangkan batas hirarki status sosial antara ”atasan” dan ”bawahan”. Semua saling ber-sms ria. Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira. 2006 .Rona Wajah.edisi satu.IPB Press.

 

Dalam beberapa hari ini insya allah, ummat islam akan merayakan lebaran. Tidak saja institusi di tingkat mikro rumahtangga, di tingkat makro pun pada bakal sibuk menghadapi datangnya  masa lebaran setiap  tahun. Di tingkat makro, antara lain bagaimana pemerintah harus sudah mengantisipasi arus mudik lebaran. Bagaimana dengan infrastrukturnya? Bagaimana dengan armada angkutan? Bagaimana dengan petugas ketertiban dan keamanan? Bagaimana menjaga keseimbangan suplai dan permintaan barang-barang kebutuhan lebaran khususnya pangan?

Di tingkat mikro, bagaimana sang kepala keluarga harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Yang pertama adalah menentukan apakah tahun ini akan pulang mudik atau tidak? Kalau ya mau kemana; apakah ke orang tua ataukah ke mertua; atau tidak kemana-mana alias tinggal di rumah saja? Kemudian bagaimana pulang mudiknya; apakah lewat darat, udara, ataukah laut? Apa saja yang akan dibawa sebagai oleh-oleh; apakah dalam bentuk barang ataukah uang, ataukah kedua-duanya? Bagaimana dengan keperluan untuk kebutuhan pangan dan pakaian keluarga untuk meramaikan suasana lebaran? Berapa zakat, infak dan sedekah akan dibagikan dan kepada siapa?.

Nah untuk itu, bagaimana tentang besaran finansialnya?. Karena biasanya pengeluaran lebaran akan jauh lebih besar dibanding pengeluaran sehari-hari. Darimana sumbernya; apakah menambah jam kerja, menggadaikan barang-barang seperti motor, perhiasan, kulkas, ataukah meminjam uang dari orang lain, ataukah tidak menambah anggaran.? Dan jangan lupa ada kegiatan yang lain yakni mengatur pembagian pekerjaan rumah tangga ketika sang asisten rumahtangga pulang mudik. So  itulah  gambaran singkat bagaimana suatu keluarga melakukan perencanaan dan pelaksanaan program lebarannya. Apakah itu berlaku juga bagi sang keluarga dhuafa atau kaum papa?

Siapapun, termasuk kaum dhuafa juga memiliki perencanaan lebaran. Namun tentu saja kita sudah bisa memperkirakan perencanaan lebaran yang dilakukan kaum dhuafa tidak seperti perencanaan ideal keluarga di atas. Walau dengan finansial seadanya, kepala keluarga mereka juga membuat perencanaan yang sama. Yang membedakannya adalah dalam hal lingkup kegiatan, jumlah dan nilai pengeluarannya. Walau dalam keadaan finansial yang pas-pasan, mereka juga sudah pasti paling tidak memikirkan tentang jenis makanan dan pakaian seadanya buat sang anak dan isterinya.  

Lebaran merupakan milik ummat islam. Lebaran dipandang sebagai fenomena relijius untuk mensyukuri nikmah Allah setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa ramadhan. Lebaran ditempatkan dalam suasana bathin yang sangat istimewa. Sekecil apapun lingkup kegiatannya, setiap keluarga akan merencanakan kedatangan hari yang ditungu-tunggu itu. Mereka bakal bersuka cita menghadapinya. Bagi mereka yang tergolong muzzaki tidak segan-segan dengan ikhlas mengeluarkan sebagian dari harta atau uangnya untuk membantu keluarga dhuafa atau mustahik. Mereka bakal memperoleh kebahagian lahir bathin yang sangat luar biasa. Mengapa? Karena mereka telah ikut membahagiakan orang lain. Mereka telah menerapkan rasa keadilan dan kebersamaan. Subhanallah. Selamat Idul Fitri 1429 H. Maaf memaafkan; Doa mendoakan. Amiin.

 

Benarkah  sebutan negaholics atau difficult people hanya milik karyawan saja? Tidak juga. Sebagai manusia yang tak luput dari kelemahan, dua sebutan itu bisa juga terjadi pada manajer. Manajer, sebagai pimpinan unit, bisa  juga sebagai pengeluh, penunda solusi,  penggertak, penggugup, dan pendiam. Sebagai pengeluh, manajer bisanya hanya mengungkapkan keluhan-keluhan saja. Apakah keluhan menyangkut beratnya pekerjaan, karyawan yang bandel, kurangnya fasilitas kerja, dsb. Dia cenderung berdiam diri saja tanpa mencari pendekatan solusi. Kemudian sebagai penunda, manajer seperti karyawan bisa saja mengulur-ngulur waktu penyelesaian pekerjaannya. Dalam pandangannya masih ada waktu hari esok untuk mengerjakan yang diperintahkan direksinya. Atau kalau ada masalah yang dihadapi tidak segera diatasi. Padahal menunda satu masalah akan menimbulkan masalah lebih dari satu.

Selain itu manajer pun bisa sebagai penggertak. Dengan sedikit ancaman, manajer melakukan gertakan dengan suara keras kepada karyawannya. Namun tanpa alasan yang jelas yang bisa dipahami karyawan. Sementara itu ternyata manajer pun bisa menjadi penggugup. Kalau ada masalah sedikit saja, manajer segera bingung dan gugup. Tidak sigap menanganinya dengan tenang. Keadaan demikian tentunya bisa jadi membuat karyawan ikut gugup pula. Tak tahu apa yang harus dilakukannya. Nah,sebutan lain yakni pendiam, berarti sang manajer cenderung punya sifat tertutup. Dia sangat jarang sekali berkomunikasi langsung dengan lingkungannya. Pelit untuk mengutarakan pendapat atau masalah yang dihadapinya. Yang dilakukan cukup dengan memberi perintah dengan ucapan ala kadarnya. Atau berkomunikasi lewat media lain, bisa lewat orang lain atau tertulis.

Perilaku manajer di atas yang jelas akan memengaruhi lingkungan kerja. Bisa-bisa para karyawannya akan apatis dengan pekerjaannya. Fungsi kendali dari manajer akan tidak efektif. Ujung-ujungnya kinerja unit bersangkutan berada di bawah standar perusahaan. Pertanyaannya mengapa sampai ada perilaku manajer seperti itu? Apakah ada yang salah dalam sistem rekutmen calon manajer? Ataukah memang ada faktor-faktor penyebab intrinsik dan ekstrinsik? Dalam artikel ini tidak akan diuraikan faktor-faktor penyebab tersebut. Yang jauh lebih penting adalah apa yang harus dilakukan perusahaan dan lingkungan terdekatnya.

Dari sisi perusahaan, direksi sebagai atasan manajer langsung harus melakukan identifikasi apa saja faktor-faktor yang menyebabkan manajer berperilaku sulit. Setelah diketahui penyebabnya maka barulah direksi mengadakan pendekatan personal kepada manajer. Pendekatan sebaiknya dilakukan secara formal dan  informal. Secara formal, pihak manajer dapat diminta mengikuti pelatihan yang berdimensi membangun kepribadian seperti pelatihan soft skills, kepemimpinan, dan komunikasi efektif. Sementara itu, dalam pendekatan informal direksi secara pribadi memberikan pandangan dan saran-saran perubahan sifat atau sikap yang sebaiknya dilakukan sang manajer sulit itu.

Tentunya bergantung pada sebutan tipe manajer sulit tersebut maka saran pendekatan pun bisa berbeda-beda. Disinilah terjadi dialog atau interaksi seberapa jauh manajer memahami solusi yang disampaikan direksi. Katakanlah manajer menerima yang dianjurkan direksi yakni lewat pelatihan dan pembinaan diri sendiri. Maka selanjutnya pihak direksi perlu memantau proses perubahan yang ada. Sekaligus dilakukan penilaian terhadap kemajuan perubahan yang terjadi. Tentu saja karena keberhasilan perubahan merupakan fungsi dari proses dan dimensi waktu maka  pengaruhnya tidaklah bisa dilihat dalam tempo singkat. Dan ada unsur yang sangat signifikan pengaruhnya yakni unsur kesediaan dari manajer untuk berubah. Walaupun pihak direksi telah memberikan remedi permasalahan yang bagus namun kalau dalam prosesnya  ada resistensi atau minimal keraguan dari sang manajer tersebut untuk menerimanya maka perubahan yang terjadi bakal mengalami stagnasi.

 

Konon hingga abad 18 lalu, sebutan yang biasa ditujukan kepada para pekerja adalah “sang otot”. Mungkin  kita masih ingat istilah otot biasa dipakai dalam kaitannya dengan pekerjaan-pekerjaan di bidang pertanian dan pabrik. Mengapa disebut demikian? Karena para pekerja yang disewa itu menggunakan ototnya, umumnya kedua tangannya, untuk melakukan pekerjaan fisik. Mereka tidak tertarik untuk bekerja dengan menggunakan otak dan personalitasnya. Sebenarnya ini terkait dengan kondisi era sebelum revolusi industri. Hingga beberapa tahun dari abad 20, konsep sumberdaya manusia (SDM) atau manajemen personalia belum ada. Pola pekerjaan masih berbasis pada manual atau penggunaan tangan. Manajemen karyawan pun dilakukan secara tradisional. Artinya belum menggunakan prisnsip-prisip manajemen modern yang kental dengan penerapan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan. Apa yang dimaksud dengan standar prosedur operasional, standar kinerja, manajemen kempensasi dan karir, dan analisis kinerja belum dikenal.

Lama kelamaan dengan semakin modernnya kehidupan, semakin berkembangnya tuntutan efisiensi pola pekerjaan, dan semakin tingginya  pekerjaan yang bersifat lunak maka unsur “otak” memegang peranan sangat penting. Pada masa terjadinya revolusi industri maka mulai dikenal prinsip-prinsip efeisiensi kerja. Antara lain dalam bentuk penggunaan pekerja otot dalam jumlah yang minimum. Terjadilah substitusi penggunaan pekerja dengan penggunaan alat atau mesin. Atau istilah modernnya adalah mekanisasi. Tugas-tugas para pekerja di bidang fisik diminimumkan. Dan para pekerja dikembangkan SDMnya melalui pelatihan, pengalihan tugas, dan penempatan pada posisi baru yang banyak menggunakan potensi otak.

Seiiring dengan pekerjaan bersifat lunak  maka proses pengembangan sumberdaya manusia melalui jalur pendidikan semakin dibutuhkan. Pihak manajemen melihat pendidikan dan pelatihan akan mampu menghasilkan orang-orang yang trampil dan berbakat. Pihak manajemen percaya bahwa karyawan terutama yang bekerja di bidang perencanaan, evaluasi, dan rancangan perlu dikembangkan pengetahuan dan bakatnya. Sebagai tindak lanjutnya maka banyak perusahaan sudah membuat departemen khusus untuk menangani masalah-masalah sumberdaya manusia. Departemen ini berfungsi untuk melakukan perencanaan kebutuhan sumberdaya manusia, menganalisis pekerjaan dan bebannya, merekrut dan menseleksi calon karyawan baru, melatih, mengembangkan manajemen kompensasi, manajemen kinerja, manajemen karir, hubungan industrial, dan manajemen pemutusan hubungan kerja.

Walau belum sepenuhnya perusahaan melaksanakannya,  namun ada kecenderungan   pelibatan karyawan dalam pengambilan keputusan suatu perusahaan sudah berkembang. Filosofinya adalah tidak mungkin perusahaan bakal maju kalau tidak didukung oleh mutu SDM karyawan-karyawannya. Karena itu cenderung sudah banyak perusahaan yang menerapkan prinsip-pinsip partnership manajemen atau manajemen kemitraan. Para karyawan dianggap sebagai mitra dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Perusahaan lewat proses umpan balik memberi peluang kepada karyawan untuk melakukan penilaian kinerja dan memberi masukan-masukan cerdas. Jadilah para karyawan disebut sebagai mitra pihak manajemen.  Suatu bentuk transformasi struktural dari posisi karyawan sebagai pekerja otot dan semata-mata sebagai faktor produksi menjadi karyawan sebagai aset perusahaan yang berbasis manusiawi.

 

Ramadhan adalah bulan suci  ummat Islam. Bulan yang penuh rahmah, berkah dan magfirah; penuh ampunan bagi ummat yang beriman dan bertaqwa. Di bulan itu juga ummat Islam sangat dianjurkan untuk meningkatkan kedekatannya pada Allah. Begitu pula dengan amal ibadahnya. Bermuamallah, membangun persaudaraan sesama. Untuk itu segala hikmah shaum ramadhan disyiarkan tidak henti-hentinya di berbagai sudut media informasi dan tempat ibadah.

Namun pertanyaannya mengapa akhir-akhir ini, di bulan suci , masih ada sebagian khalayak yang melakukan tindakan tercela. Mencemarkan makna suci dari ramadhan. Menempatkan bentrokan atau kerusuhan sebagai luapan kemarahan. Emosional mengalahkan rasionalitas. Di sebagian kalangan mahasiswa bentrokan terjadi hanya karena masalah sepele;senggolan. Di kalangan pendukung calon kepala daerah ada kelompok yang kalah tidak siap untuk menerima kenyataan. Protes sana protes sini sambil diikuti bentrokan fisik sesama saudara.  Sementara itu ada pendukung kesebelasan juga mengamuk ketika kesebelasan kesayangannya kalah. Bentrok, bentrok, dan bentrok. Tentunya saya sebagai muslim sangat prihatin melihat kejadian itu.

Gambaran bentrokan seperti itu mudah-mudahan tidak merepresentasikan gambaran perilaku umat muslim Indonesia.   Kita berharap tiap muslim dan muslimah menggunakan sisa-sisa waktu bulan ramadhan ini untuk semakin bertafakur. Memohon ampun dan petunjuk dengan mendekatkan diri pada Allah. Tiada jalan lain. Diharapkan  mereka yang berpuasa namun terlibat dalam bentrokan untuk semakin merenung diri. Bahwa jangan sampai hikmah puasa yang diperoleh hanyalah rasa lapar dan dahaga saja. Tercemar oleh nafsu dan kepuasan emosional sesaat.Ya Allah berikanlah  petunjukMU  agar kami selalu berpikir dan bertindak di jalan yang lurus. Amiin.

 

Laman Berikutnya »