Juni 2011


 

         Dua kata, hitam dan gelap, umumnya memiliki cap sesuatu yang negatif. Gambaran sesuatu yang tak diinginkan. Coba kita lihat contoh kata-kata berikut. Kata hitam biasa dipakai untuk kambing hitam, lembaran hitam, kampanye hitam, daftar hitam, dan ilmu hitam. Sementara kata gelap yang lebih diasosiasikan dengan kejadian illegal, antara lain dipakai untuk awan gelap, rapat gelap,sebaran gelap, uang gelap, pasar gelap, telepon gelap, imigran gelap, penumpang gelap, kekasih gelap, gelap hati, dan gelap mata. Pertanyaannya apakah kedua kata itu dipakai untuk selalu menggambarkan sesuatu yang penuh kenistaan? Hitam sebagai lambang kematian? Gelap sebagai sesuatu yang tidak senonoh dan melanggar aturan? Dan simbol tak ada harapan? Tidak juga.

          Selain sisi negatif, warna hitam, dapat dipandang sebagai simbol ketegasan. Pengaruhnya kuat dan tidak mudah dikotori warna lain. Warna lain kalau dicampur dengan warna hitam akan mampu memperkuat kesan warna tersebut. Selain itu ketika menulis dan mengetik apapun di atas bahan dasar putih akan lebih dominan ketimbang kalau memakai warna bukan hitam. Dalam konteks nilai komoditi ternyata teh hitam, anggrek hitam, dan pulip hitam banyak dicari konsumen. Pantas saja lalu komoditi tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi. Juga diketahui warna baju hitam yang dipakai seorang wanita memberi citra tubuhnya langsing. Dan bagaimana pula dilihat dari sisi kecantikan; seperti hitam manis? Dan bagaimana gambaran hitam dan putih sebagai lambang diskriminasi ternyata kini cenderung sudah punah? Dan ini tampak ketika banyak kaum hitam yang berprestasi di berbagai sisi kehidupan. Amerika saja dipimpin oleh presiden berwarna kulit hitam.

          Sisi positif dari kata gelap adalah sebagai unsur utama tercapainya keberhasilan suatu kegiatan. Misalnya,tak mungkin kita merasa nyaman menonton film di gedung bioskop kalau ruangannya terang benderang. Tak mungkin pula akan diperoleh foto rontgen dan foto biasa yang standar kalau tidak diproses dalam kamar gelap. Selain itu terdapat ungkapan…ada gelap ada terang. Ada pesimis ada optimis. Ada peluang buat siapapun berubah dari sisi kehidupan yang gelap ke kehidupan yang lebih bermakna. Ingat saja kata-kata dari sesuatu yang belum ada titik terang…lalu berubah….habis gelap terbitlah terang….gelap kan sirna. Begitulah pemaknaan optimis dari kata gelap.

          Kedua kata itu merupakan metafora kehidupan yang pasti dialami oleh siapapun. Pemakaian kata atau kelompok kata tersebut bukanlah dalam arti riil atau yang sebenarnya. Melainkan hanya sebagai lukisan atau simbol yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Bisa bernada ejeken, kehidupan pesimis tanpa harapan, perilaku amoral, pelanggaran aturan/hukum dsb. Metafora muncul bisa jadi merupakan produk kiasan bahasa daerah atau mungkin juga datang dari luar negeri. Ungkapannya bisa ditunjukan antara lain dari penggunaan bahasa, ayat kitab suci, hasil arsitektur, penafsirani warna, seni musik dan lagu, proses pembelajaran,dan pemandangan. Bahkan dalam dunia perseteruan penegak hukum pernah juga dipakai metafora yakni “cicak melawan buaya”.

 

            Apa ciri-ciri ketika sang bos sedang menunjukkan kekuasaannya? Lihat saja bahasa tubuhnya ketika berhadapan dengan subordinasi (bawahan), khususnya ketika sedang marah. Antara lain: (1) nada bicaranya banyak tekanan-tekanan dan membuat sang subordinasi seolah tanpa daya untuk meresponnya; (2) mengerutkan dahinya; (3) tangannya bertolak pinggang atau melipat tangan ke belakang; (4)tak menampakkan senyum; dan (5) duduk dengan menyilangkan kaki. Apa yang terjadi pada sang subordinasi?

          Ketika menghadapi bos dengan kekuasaannya maka subordinasi bisa saja mengalami grogi, bingung, dan tidak tenang atau biasa-biasa saja. Isyarat tubuhnya umumnya ditunjukkan dengan tatapan mata ke bawah atau kesamping, melipat tangan ke depan, dan bisa saja keluar keringat dingin. Kalau subordinasi tidak merasa bersalah ada perasaan bercampur baur antara mau marah atau mengalah. Saat itu subordinasi bisa saja merasa geram dengan raut wajah kesal dan bahkan merah padam. Ketika itulah subordniasi biasanya berdiam dan atau harus bersabar. Namun mereka yang berani” biasanya tidak mau mundur atau menyerah. Tentunya pada waktu yang tepat mereka punya dorongan untuk membela diri. Sebaliknya kalau memang bersalah biasanya subordinasi berdiam diri dan memberi isyarat tubuh mengiyakan (ngangguk-ngangguk) apa yang diucapkan sang bos. Dan dalam kondisi seperti itu subordinasi sebaiknya menyatakan bahwa di lain kesempatan dia akan melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi.

         Ketika sang bos sedang menunjukkan kekuasaannya berarti keegoannya sedang tinggi. Subordinasi dikondisikan sedemikian rupa untuk mau mendengarkan apa yang dikatakannya. Cenderung tidak bersedia menyediakan ruang terbuka bagi subordinasi untuk berespon dengah ucapan. Ketika itu dia ingin dihormati dan dipuji kepemimpinannya. Ada beberapa trik atau tip yang bisa digunakan oleh subordinasi yakni (1) jadilah pendengar yang baik dan simaklah kata-kata dan bahasa tubuh sang bos dengan cermat; (2) hindari untuk membantahnya ketika keegoan sang bos sedang taraf puncak; (3) berilah respon ketika ada tanda-tanda subordinasi diberi peluang untuk itu; (4) jangan kikir dalam memberi pujian atau penghargaan kepada sang bos secara wajar; dan (5) sebaliknya janganlah menunjukkan perilaku penjilat karena ini akan merusak karakter subordinasi bersangkutan.

          Sebagai manusia, siapapun dia, suatu ketika secara naluri berkeinginan untuk menunjukkan kekuasaan di hadapan orang lain. Mulai dari tingkat satpam, karyawan biasa, sampai manajemen puncak punya perilaku seperti itu. Dalam suatu keluarga pun sama saja; misalnya sang ayah-ibu, orangtua dan mertua, dan anak-anak tertua. Yang membedakannya hanya derajad dan frekuensinya saja. Ketika itu terjadi maka keegoan (egoistis dan egosentris) dari mereka yang menganggap dirinya “bos” menjadi lebih dominan ketimbang sisi rasionalnya.

         Ada hari istimewa bernama  hari cuci tangan sedunia (global handwashing day). Dengan mencuci tangan maka tangan akan terhindari dari kuman. Kampanye cuci tangan pakai sabun ini sebenarnya sudah diadakan di Indonesia sejak tahun ‘80an. Khalayak sasarannya adalah para murid pra-sekolah. Jadi sejak dini telah disosialisasi budaya bersih fisik. Intinya adalah tangan yang digunakan untuk makan misalnya sudah terbebas dari kuman. Dengan demikian siapapun yang mencuci tangannya akan tetap sehat. Namun pada kenyataannya belum diterapkan secara merata dalam perilaku keseharian.

         Cuci tangan yang satu ini sangatlah berbeda. Kalau cuci tangan fisik merupakan pangkal kesehatan maka cuci tangan yang satu ini sebaliknya. Makna cuci tangan yang ini adalah pelepasan tanggung jawab secara sadar dari seseorang atas perbuatannya yang menyimpang. Dengan kata lain telah terjadi cuci tangan pangkal kerusakan mental atau moral. Misalnya, kalau pemimpin yang dekat dengan pusat kekuasaan, sudah jelas menyelewengkan uang rakyat maka dengan dalih atau bersilat lidah merasa tidak bersalah. Dan terbebas dari tindakan hukum. Sebaliknya telah terjadi tindakan yang tidak proposional ketika koruptor yang berada jauh dari pusat kekuasaan terjerat hukum.

           Selain itu dalam kehidupan keseharian di bidang pekerjaan juga kerap terjadi. Contohnya, ada seorang pemimpin yang sudah jelas-jelas bersalah dalam melaksanakan tugas tetapi tidak mau mengakuinya. Malah sang bawahanlah yang dituding telah berbuat keliru. Ada semacam tindakan sewenang-wenang yang berbasis kekuasaan sang bos. Kekuasaan dinilainya sebagai perwujudan kekuatan untuk berbuat apapun termasuk menyalahkan orang lain. semacam menggeser tanggung jawab. Padahal itu sebenarnya cerminan keangkuhan dan kelemahan diri. Dia telah berperilaku tak bertanggung jawab atau cuci tangan.

          Kalau demikian apakah di Indonesia diperlukan ada hari membasmi perilaku moral cuci tangan? Rasanya tidak perlu. Bisa-bisa kontra produktif. Yang penting adalah perilaku amoral cuci tangan tersebut perlu direspon lewat pengembangan budaya bersih, tanggung jawab, keterbukaan, dan akuntabilitas (pertanggung-gugatan). Untuk itu maka tiada lain harus diteladani oleh para pemimpinnya mulai di tingkat rumahtangga sampai tingkat lingkungan masyarakat, lembaga pendidikan, instansi pemerintah, dan instansi lainnya. Selain itu peluang yang begitu lebar terjadinya cuci tangan jenis ini harus dipersempit. Salah satu penerapan sanksi hukum yang tegas kalau terjadinya penyimpangan tanggung jawab. Setelah pernah mandek program penayangan wajah-wajah koruptor, kini diusulkan penambahan hukuman kerja sosial bagi koruptor. Sanggupkah jurus baru ini menjerakan koruptor berdasi?

         Maybe yes, maybe no! Selama ini diskursus tentang kasus korupsi keuangan cenderung menyingkirkan unsur kebebasan moral dalam tindakan (sewenang-wenang). Bukankah manusia sebagai kebebasan (JP Sartre) cenderung melakukan apa pun, termasuk korupsi yang antara lain menyimbolkan kekuasaan untuk mewujudkan diri? Tanpa kontrol yang sehat, kebebasan akan membutakan nurani.

          “Keahlian” seorang manipulator adalah dalam menggertak orang. Dengan kata lain di lingkungan kerja manipulator tergolong penggertak, pedalang, bahkan boleh disebut sebagai pengganggu. Manipulator, disamping suka mengintimidasi, juga tidak jarang membujuk teman sekerjanya agar mau mengikuti apa yang diinginkannya. Salah satu contoh wujud tindakan sang manipulator adalah dalam bentuk manipulasi imbalan. Para manipulator tidak segan berbicara pada pengelola bahwa mereka butuh waktu tambahan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu perlu kerja lembur. Dengan demikian mereka akan memperoleh tambahan uang. Kalau tidak dipenuhi bisa jadi diantara mereka akan menyatakan atau mengancam keluar dari organisasi. Padahal yang terjadi adalah para manipulator ini sengaja menimbun atau memperlambat waktu penyelesaian pekerjaan. Dengan kata lain melakukan pekerjaan tetapi tidak mencapai standar waktu organisasi.

          Dalam bekerjanya manipulator sering kurang pamrih. Apa yang dikerjakannya bukan untuk mencapai tujuan organisasi tetapi lebih untuk mencapai sasaran keinginannya saja. Mereka jarang mau berbagi beban kerja. Maunya semua pekerjaan dilakukannya atau terpusat pada dirinya sendiri. Tak ada istilah kerjasama di kalangan manipulator. Motifnya adalah di balik itu mereka akan memperoleh ”nikmat” dari memperoleh tambahan kompensasi dalam bentuk finansial dan non-finansial. Jelas mengabaikan kepentingan kawan kerja dan organisasi. Kekompakan kerja pasti terganggu.

          Karena perilakunya seperti diuraikan di atas, umumnya manipulator bukanlah tipe pegawai pemalu, dan bukan penyegan. Namun di balik itu, walau diantara mereka ada yang tergolong orang yang akhli, ternyata bukanlah pekerja keras. Telah memanipulasi keahliannya demi mencapai kehendaknya semata. Mereka lebih banyak menuntut imbalan ketimbang bekerja sesuai standar organisasi. Disamping itu mereka tergolong yang tidak berniat untuk menutupi perbedaan-perbedaan yang ada dengan teman sekerja. Manipulator selalu merasa dirinyalah orang terpenting di lingkungannya. Cenderung selalu ingin tampil paling depan dengan cara menarik perhatian orang lain melalui bualan-bualannya. Karena itu mereka selalu meremehkan rekan kerja bahkan pengelolanya.

           Kehadiran pegawai yang tergolong manipulator tentunya dapat mengganggu proses pekerjaan di organisasi. Namun harus diakui pasti ada diantara sekian ratus orang, misalnya, ada saja beberapa pegawai yang bersifat itu. Walaupun cuma segelintir orang tetapi kehadirannya bisa menjadi unsur potensial dalam mengganggu lingkungan pekerjaan. Karena itu sebagai orang yang terdekat dengan para pegawainya, pihak pengelola harus mampu melakukan antisipasi.

          Pengelola sebaiknya menghindari konflik langsung dengan manipulator. Dengan kata lain pengelola tidak perlu membuka medan pertempuran dengan mereka. Justru yang perlu dilakukan adalah dengan pendekatan persuasi dan bimbingan-konseling. Harapannya agar manipulator menjadi sadar tentang perbuatannya yang kurang terpuji.Di samping itu agar para pegawai lain tidak terpengaruh oleh manipulator. Namun kalau dengan cara-cara itu tetap saja mereka tidak mau mengubah perilakunya maka apa boleh buat organisasi dapat mengeluarkannya.

 

      Tampaknya model kepemimpinan di perusahaan yang hanya mengandalkan pada kekuasaan saja sudah digolongkan usang. Selama ini seorang manajer lebih menekankan pencapaian target produksi dan penjualan. Mereka cukup memberi perintah, mengkoordinasi dan mengawasi karyawannya. Sangat jarang manajer membuat suatu tindakan yang sistematis agar para karyawannya didorong untuk memiliki jiwa kepemimpinan di suatu unit. Selama ini gaya kemimpinan manajer sangatlah rutin yakni melakukan persiapan kerja,pelaksanaan kerja dan pengendalian kerja para karyawannya serta evaluasi.

       Dengan semakin tingginya tuntutan konsumen/pelanggan dalam hal mutu dan sistem pengiriman maka perusahaan membutuhkan kepemimpinan mutu. Model kepemimpinan ini menekankan pada kesiapan para karyawan untuk memiliki budaya mutu. Setiap karyawan difokuskan bekerja dengan orientasi mutu. Untuk itu maka mereka perlu dikembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilannya. Caranya? Antara lain dengan menanamkan pengertian lewat sosialisasi dan internalisasi pentingnya jiwa kepemimpinan. Paling tidak mampu memimpin dirinya agar bisa bekerja dan berkinerja dengan baik.

      Dalam konteks kepemimpinan ini maka diharapkan setiap manajer dan karyawan selalu berorientasi pada kebutuhan dan tuntutan pelanggan serta pemilik modal. Untuk itu mereka perlu mengembangkan nilai mutu produk dan sistem pelayanannya. Dengan demikian karena diposisikan sebagai seseorang yang memiliki jiwa pemimpin maka mereka akan lebih bertanggung jawab. Di sisi lain mereka mampu bekerja dengan efektif dalam suatu tim kerja yang kompak. Satu karyawan sedang bekerja maka yang lainnya siap untuk membantunya jika dianggap perlu.

       Dengan demikian kredibilitas jiwa kepemimpinan setiap karyawan menempatkan mereka dalam posisi yang strategis. Dalam konteks produksi dan distribusi maka perusahaan akan lebih aman lagi. Kinerja perusahaan akan semakin meningkat. Sementara bagi karyawan akan lebih memudahkan bagi dirinya untuk menjadi pemimpin dalam kerangka pengembangan karirnya. Hal ini karena mereka diposisikan tidak hanya sebagai pekerja semata. Namun dilatih untuk menjadi pemimpin. Mereka adalah karyawan yang sekaligus disiapkan sebagai calon pemimpin yang tangguh. Tentunya yang berorientasi pada pelayanan prima terhadap pelanggan dan pemilik modal.

 

       Menunda melaksanakan sesuatu? Sudah bisa diperkirakan, hampir setiap orang pernah melakukannya. Lalu mengapa demikian? Bisa karena faktor malas, optimis masih punya waktu beberapa jam, esok atau di hari lain, dan karena tidak berminat penuh untuk melakukannya. Atau bisa jadi karena kondisi kesehatan sedang kurang bagus. Pertanyaannya apa yang bakal terjadi seandainya permintaan pasar atau pesanan pelanggan begitu tinggi tetapi disi lain upaya pemenuhannya oleh organisasi begitu lamban? Yang jelas menunda penyelesaian pekerjaan sesuatu berarti sekaligus menunda keberhasilan yang bakal diraih. Kalau penundaan terjadi berlarut-larut dan dilakukan sebagian besar karyawan maka bukan saja sang pemberi pekerjaan merasa kesal namun kehilangan kepercayaan dari orang lain.

       Kepercayaan dari orang lain sangatlah mahal nilainya. Harganya tak tergantikan dengan nilai materi atau uang sekalipun. Kalau demikian maka suasana kerja bisa terganggu. Apalagi kalau tidak segera diatasi oleh pimpinan unit. Karena itu pimpinan harus menerapkan pemahaman tentang makna suatu pekerjaan kepada para subordinasinya. Selain itu dingatkan pula bahwa menunda suatu pekerjaan berarti menimbulkan masalah. Kalau masalah juga ditunda berarti sama saja akan menciptakan masalah baru. Dan seterusnya sampai proses pekerjaan mengalami stagnan.

       Bergantung pada penyebabnya maka proses mengatasi masalah penundaan penyelesaian pekerjaan oleh pimpinan unit juga bisa berbeda. Yang paling berat adalah kalau sang karyawan memang pada dasarnya sebagai seorang pemalas dan yang tidak berminat pada pekerjaan tertentu. Dalam konteks ini beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pimpinan unit adalah (1) pengawasan dan pengendalian proses pekerjaan yang dilakukan karyawan secara regular atau terjadwal; langsung ke lokasi dan memelajari laporan kerja, (2) melakukan rapat koordinasi secara rutin dengan karyawan, (3) membangun motivasi kerja dan menerapkan model penghargaan dan “hukuman” kepada karyawan, dan (4) perlu pelatihan bersinambung khususnya kalau ada jenis pekerjaan baru yang membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan baru.

       Secara keorganisasian maka manajemen puncak perlu merumuskan sistem tata nilai bagaimana setiap elemen karyawan dan pimpinan menghargai pekerjaan tertentu. Untuk itu budaya organisasi dan budaya kerja seharusnya dikembangkan dalam bentuk implementasi nyata. Turunan dari kedua budaya dirumuskan dalam bentuk pelaporan kerja, sistem pemantauan kerja, peraturan tentang etika kerja, kedisiplinan kerja, penghargaan dan hukuman. Pemantauan dan evaluasi proses dan hasil pekerjaan sebagai bahan untuk melakukan umpan balik sepatutnya menjadi agenda rutin dari manajemen puncak.

Disalin dari blog Rona Wajah;19.03.2010

 

       Sebenarnya dalam sistem pemerintahan dan juga organisasi dibutuhkan birokrasi. Hal itu sebagai akibat logis dari adanya suatu struktur hirarki yang membutuhkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan. Namun sudah lama birokrasi yang rumit menjadi penyebab munculnya biaya ekonomi tinggi. Kasus korupsi di belahan instansi-instansi yang sudah lama bercokol muncul gara-gara birokrasi yang sangat permisiv munculnya perilaku moral hazard tersebut. Begitu juga birokrasi dalam bentuk pengeluaran izin berusaha yang sulit menyebabkan biaya yang harus dikeluarkan pihak pebisnis menjadi tinggi. Antara lain untuk ongkos pelicin agar  izin berusaha dapat segera dikeluarkan.        

       Jack Welch dikenal di kalangan bisnis sebagai CEO kaliber internasional. Gagasan, kritikan, keteladanan dalam memimpin bisnisnya banyak diamati dan ditiru. Salah satu pernyataannya yang kontroversial adalah ”birokrasi musuh produktivitas”. Welch berkata kepada para karyawannya untuk ”memukul dan menendangnya”. Para CEO General Electric berperang selama dua dekade melawan birokrasi dengan inisiatif-inisiatif seperti ”boundaryless” (tanpa batas) dan work out. Daftar nilai-nilai GE secara khusus menyebutkan ketidaktoleran perusahaan terhadap birokrasi (hal ini masuk daftar paling atas selama bertahun-tahun), dan menekankan pentingnya membangun suatu organisasi yang bercirikan kepercayaan, semangat, dan informal. Welch mengenali dampak birokrasi yang merugikan dan mengetahui bahwa jika ia tidak membersihkan organisasi dari keburukan ini, GE tidak akan pernah menjadi perusahaan kompetitor global yang disegani (The Jack Welch; Lexicon of Leadership; 2002).

       Pertanyaannya apakah ”perlawanan” Welch itu juga dimaksudkan pada birokrasi publik? Apakah birokrasi publik selama ini juga membunuh produktivitas kerja para pegawainya dan instansinya? Bahkan sebagai sumber timbulnya korupsi? Kalau benar begitu dimana peran etika administrasi atau kebijakan publik dalam birokrasi? Dan bagaimana pula dengan reaksi masyarakat umum yang berhak memperoleh pelayanan prima? Kalau saja kenyataannya semua terjawab dengan nilai negatif maka pantas saja para calon investor asing urung menanamkan modalnya di Indonesia. Bukan saja karena berbelit-beitnya mengurusi administrasi namun juga karena ketidakpastian hukum.

Laman Berikutnya »