Kampus


 

          Tantangan yang dihadapi bangsa selama ini begitu bervariasi sepertilemahnya kualitas sumberdaya manusia, kemiskinan, pendapatan dan pemerataan yang timpang, pengangguran, ketertinggalan teknologi, infrastruktur, kerusakan lingkungan, tingginya volume impor bahan pangan, dan persaingan komoditi ekspor . Itu semua mengindikasikan terjadinya tragedi dalam hal kemanusiaan, liberalisasi pasar, rendahnya penguasaanteknologi dan kerusakan lingkungan.

         Tantangan tersebut tidak lepas kaitannya dengan karakteristik globalisasi gelombang ketiga atau tidak terkendalinya globalisasi neo-liberal yang semakin mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara dan bermasyarakat. Tanpa disadari gelombang tersebut telah banyak menguras sumberdaya alam, penguatan para pemilik modal, terjadinya ketimpangan pendapatan, dan timbulnya kesalahan alokasi sumberdaya termasuk berkembangannya pola konsumsi yang cenderung sangat materialistik dan sekularisme.

          Pada tahap sekarang dimana terjadi transisi demokrasi maka hal itu akan lebih bermakna bagi rakyat bila terjadi transformasi ekonomi. Hal demikian sangat diperlukan mengingat selama ini arus ekonomi yang terjadi di dunia berpihak kepada negara maju. Liberalisasi perdagangan, lalu lintas modal raksaksa dan rekayasa sektor keuangan bisa mengancam perekonomian nasional Indonesia. Dalam hal inilah IPB hendaknya mampu berperan sebagai pengoreksi dan pencetus gagasan-gagasan maju setiap kebijakan pembangunan nasional khususnya pembangunan pertanian.

       Tantangan Pembangunan Pertanian yang dihadapi bangsa Indonesia antara lain:1) belum maksimumnya produktivitas dan nilai tambah produk pertanian di beberapa sentra produksi disamping terjadinya konversi lahan di p Jawa yang sulit dikendalikan; 2) kurangnya perbaikan dan pembangunan infrastruktur lahan dan air serta perbenihan dan perbibitan; 4) masih kurangnya akses pembiayaan pertanian dengan suku bunga rendah bagi petani/peternak dan nelayan kecil; 5) belum tercapainya Millenium Development Goals (MDG’s) yang mencakup angka kemiskinan, pengangguran, dan rawan pangan; 5) kurangnya kebijakan yang proporsional untuk produk-produk pertanian khusus; 6) lemahnya persaingan global dalam berbagai dimensi produk, mutu, teknologi, sumberdaya manusia, dan efisiensi; 7) menurunnya citra petani dan pertanian serta pentingnya diciptakan suatu keadaan agar kembali diminati generasi muda: 8) masih lemahnya kelembagaan usaha ekonomi produktif di perdesaan; 9) pentingnya sistem penyuluhan pertanian yang inovatif; dan 10) bagaimana kebijakan insentif yang tepat agar sektor pertanian menjadi bidang usaha yang menarik dan menjanjikan.

         Pemikiran besar perguruan tinggi pertanian seperti IPB bisa dalam bentuk gagasan sistem pembelajaran, riset dan pengembangan berbasis pada kebutuhan pertanian arti luas, proteksi kepada petani untuk komoditi tertentu, tata niaga yang berpihak kepada rakyat, penguatan di sektor riil, perluasan lapangan kerja dan usaha yang berbasis kepada UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), pembangunan modal manusia di sektor pendidikan, kesehatan dan keagamaan, serta perhatian terhadap sistem nilai tukar dan rejim devisa.

        Pengembangan tridarma perguruan tinggi khususnya IPB masih menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Salah satunya yang utama adalah keterbatasan dana/anggaran untuk pendidikan, riset dan pengembangan, dan peningkatan kualitas dosen (studi lanjutan) dan tenaga kependidikan. Karena itu pengembangan jejaring kerjasama dengan industri dan bisnis multinasional dianggap sangat penting utamanya di bidang riset dan pengembangan.

Iklan

 

        Budaya akademik yang berkarakter baru bisa berkembang kalau IPB mampu memfasilitasi dalam bentuk program dan kegiatan akademik yang bersinambung. Setiap insan dosen terbuka peluangnya untuk mengembangkan potensi dirinya tanpa ketat dikungkung aturan birokrasi dan bahkan oleh ketidakadilan dan kekurangan-perhatian dari “seniornya”. Budaya akademik harus memiliki karakter bahwa mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan itu adalah manifestasi dari ibadah seseorang. Disitu kental ciri budaya akademik yang berkarakter ibadah bahwa “ilmu amaliah, amal ilmiah”.

        Di sisi lain maka dibutuhkan keteladanan sebagai karakter sejati para senior utamanya para guru besar dalam berbudaya akademik. Kegiatan mengajar, membimbing dan meneliti serta menulis jurnal dan buku ajar seharusnya menjadi perhatian yang tinggi ketimbang mencari jabatan-jabatan teknis. Para guru besar seharusnya mampu menjadi panutan dalam bidang kehidupan spiritual, memiliki wawasan keilmuan yang luas, berbudi pekerti luhur, dan profesional di bidangnya. Dengan demikian penerapan budaya akdemik seperti ini secara otomatis dan alami akan diikuti oleh para “yunior” dan mahasiswanya. Jangan sampai ada kesan seorang dosen baru rajin menulis karya ilmiah hanyalah ketika sibuk untuk meraih KUM jabatan akademik saja.

         Bentuk budaya akademik yang sangat substansi adalah datang dari setiap insan akademik utamanya dosen. Budaya menelaah bahan ajar, diskusi keilmuan, tinjauan teori-teori yang ada, penelitian, menulis buku dan jurnal ilmiah seharusnya menjadi aktifitas keseharian. Ada baiknya dikembangkan perilaku atau ekspresi ilmiah,seperti penelitian, yang diawali dari perenungan, perencanaan, penelitian, rekonstruksi/kontemplasi, penulisan, dan publikasi serta diseminasi karya ilmiah dalam bentuk seminar, penulisan dan publikasi ilmiah.

         Dalam konteks kehidupan modern maka IPB hendaknya mengembangkan jejaring lintas budaya akademik antarbangsa. Interaksi antarbudaya menjadi semakin penting dalam kerangka akulturisasi budaya tanpa menghilangkan budaya akademik berkarakter yang ada. Intinya adalah bagaimana dengan komunikasi budaya tersebut IPB memeroleh manfaat untuk mengambil sisi nilai baiknya suatu budaya akademik dari luar.

       Umum cenderung sudah memahami bahwa Hak Milik yang paling berharga di kalangan perguruan tinggi adalah kebebasan, otonomi, dan budaya akademik. Derajat budaya akademik di IPB diduga bukan saja berhubungan dengan birokrasi pendidikan tinggi tetapi juga akibat keadaan internal berupa interaksi sosiologis yang cenderung belum semua individu siap berbeda pendapat, bersaing dan berambisi untuk meraih kemajuan IPB itu sendiri. Kalau menyimpang mungkin khawatir disebut sebagai sikap arogan dan ambisius. Kalau dibiarkan maka IPB akan kehilangan karakter jati dirinya sebagai lembaga ilmiah/akademik yakni hilangnya intelektual yang bersikap kritis.

        Tradisi akademik berupa kebebasan untuk menyatakan pendapat apa adanya namun bertanggung jawab juga masih harus dikembangkan. Tidak perlu ada dinding tebal yang menghalangi setiap dosen menyatakan pemikiran-pemikirannya sekalipun mungkin bernada “pedas” asalkan didukung dengan kaidah ilmiah yakni obyektif dan kebenaran.

         Produk-produk kebijakan IPB termasuk Visi IPB juga perlu ditelaah mendalam baik dilihat dari substansial maupun teknis operasional apakah sudah ada kandungan unsur budaya akademik atau belum. Jangan sampai unsur-unsur non akademik dan sangat teknis sifatnya mendominasi dalam membuat indikator keberhasilan IPB. Misalnya penting dijadikan ukuran keberhasilan IPB adalah budaya meneliti dan menulis karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan masyarakat akademik nusantara bahkan mancanegara.

         IPB hendaknya mampu menciptakan suasana yang semakin nyaman dalam mengembangkan budaya akademik. Maknanya jangan sampai IPB larut terlalu kerap mengurus masalah-masalah teknis pembelajaran semata namun lupa mengembangkan potensi sumberdaya dosen dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya.

        Kalau kondisi “malas” untuk mengembangkan budaya akademiknya seperti mengembangkan suatu teori, meneliti, menulis buku ilmiah, dan jurnal ilmiah yang dikaitkan dengan latar belakang masalah kita sendiri maka sama saja kita menjadi “turunan dekat warga barat” dalam berbudaya akademik. Tinggal impor dan gunakan saja tanpa tinjauan kritis berbasis karakter unik bangsa kita. Kreatifitas kita bisa semakin melemah saja karena cukup dengan menggunakan pola pikir dan bertindak bagaikan perilaku konsumen.Jangan sampai generasi pelanjut didikan IPB banyak dijejali dengan teori-teori dari luar tanpa diperkuat dengan karakter, kekayaan dan masalah empiris bangsa.

         Harus diakui adanya kenyataan bahwa semangat dan kemampuan mahasiswa dalam hal membaca dan menulis cenderung masih lemah. Kondisi ini bukan karena faktor interinsik mahasiswa yang bersangkutan saja namun juga oleh pola pembelajaran yang ada. Mahasiswa jarang diajak aktif untuk berpikir kritis berbasis teori dan empiris. Selain itu diskusi-diskusi kelompok hampir jarang dilakukan karena terbatasnya dosen, waktu dan ruangan. Fenomena ini jangan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana namun harus dicari formula solusinya.

 

….saling memaafkan dan menyambung-memererat tali silaturrahmi merupakan ajaran luhur dalam Islam….itulah salah satu tujuan halal bi halal…kalau dilaksanakan di suatu perguruan tinggi misalnya…apakah pas dalam prakteknya kental dengan hirarkis jabatan?…terutama di semua instansi pemerintah…sampai-sampai tempat duduknya pun berbeda dengan lainnya…bukankah lebih tepat dilaksanakan dalam suasana egalitarian atau kesetaraan?….memang tidak mudah melakukan reformasi acara halal bi halal dengan segara…karena ia terbangun dari proses konstruksi sosio-kultural sejak doeloenya…untuk itu dibutuhkan suatu proses dan waktu serta kehendak kuat dari manajemen puncak…

 

         Hari ini saya menghadiri orasi ilmiah tiga orang perempuan Guru Besar IPB. Salah satunya adalah mantan bimbingan saya ketika dia menempuh pendidikan S1 dan S2 sekitar dua puluh tahun lalu. Tentunya hal ini sangat membanggakan dan sekaligus rasa syukur saya. Dengan demikian sejak kini  saya dan dia sudah  sama-sama profesor. Suatu kejadian yang saya anggap langka dari sejumlah mantan bimbingan saya selama ini.

          Sampai saat ini tidak kurang dari 450 orang alumni IPB (strata 1-3) yang pernah saya bimbing. Kalau mahasiswa yang pernah saya ajar, khususnya dalam ilmu Pengantar Ekonomi, Pengantar Manajemen, Pembangunan Pertanian, Manajemen SDM, Teori Organisasi, dan Kebijakan Pertanian, diperkirakan jumlahnya ribuan. Kini mereka tersebar sebagai dosen, birokrat, anggota legislatif, peneliti, dan wirausaha. Kalau saya hitung paling tidak terdapat ratusan lulusan IPB yang sudah berhasil sebagai akademisi dan pengamat sosial ekonomi tingkat nasional bahkan internasional seperti itu.

          Diperoleh kabar tidak kurang sebanyak 40 orang yang kini sedang menduduki jabatan eselon satu di pemerintahan. Disamping ada yang sebagai menteri dan presiden, hahaha. Bahkan beberapa diantaranya sudah lebih awal menjadi guru besar dibanding saya. Tentunya salahsatu unsur keberhasilan mereka adalah hasil proses pembelajaran yang dilakukan oleh suprasistem yaitu semua dosen yang berdedikasi tinggi disamping karena kemampuan dan upaya mereka sendiri.

            Sebagai dosen, saya bangga sekali dengan keberhasilan mereka. Tiada kata lain yang meluncur kecuali ungkapan rasa syukur….. yang mensyukuri ni’mat-ni’mat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus (An-Nahl; 121). Kebanggaan itu semakin bertambah ketika mereka membawa tambahan ilmu pengetahuan untuk dikembangkan, paling tidak di kampus IPB. Para mahasiswa baru tentunya semakin terbantu dan semakin kaya ilmu. Harapannya adalah mutu lulusan IPB semakin unggul.

           Bagi saya, sebagai orang yang pernah menjadi guru mereka, sekarang tidak mau kalah untuk menimba ilmu…..lalu saya “berguru” pada mereka. Dalam kesempatan tertentu saya biasa meminta informasi buku ilmu ekonomi, organisasi dan manajemen apa saja yang mereka miliki. Dan tidak segan-segan saya minta diajari bagaimana menjelaskan dan menggunakan suatu teori dan model analisis mutahir yang belum saya ketahui. Saya butuh itu sekalipun dari seorang mantan mahasiswa saya. Nah itulah senangnya bekerja di perguruan tinggi. Tidak mengenal bentuk hirarki struktural dan fungsional. Yang ada cuma suasana kolegial. Tidak perlu ada sungkan.

 

        Peneltian kualtitatif tentang manajemen sumberdaya manusia (MSDM) terbilang belum banyak dilakukan. Tipe penelitian ini memfokuskan pada kajian atas situasi yang nyata dari MSDM. Misalnya kajian tentang hubungan penerapan prinsip-prinsip organisasi pembelajaran dengan kinerja karyawan. Pendalaman telaahan ditekankan pada makna dan nilai visi, misi, tujuan organisasi pembelajaran dan perilaku karyawan. Diamati tentang makna yang tersembunyi dalam memahami interaksi sosial di dalam organisasi. Untuk itu peneliti menjadi instrumen kunci dalam mengolah data deskriptif, menganalisis dan mengkonstruksi obyek yang diteliti. Dalam hal ini ia harus menguasai teori, konsep, wawasan dan pengalaman empiris tentang MSDM dan keorganisasian.,

        Analisis kualtitatif yang digunakan didasarkan pada adanya hubungan semantis antarpeubah yang diteliti. Maksudnya adalah untuk menjawab rumusan masalah penelitian melalui pemaknaan hubungan antarpeubah. Misalnya prinsip organisasi pembelajarn sudah ditentukan berdasarkan rujukan kepustakaan. Begitu juga hubungannya dengan kinerja karyawan. Untuk itu perlu ditentukan teori mana yang akan digunakan untuk analisis kualitatif. Misalnya dengan menggunakan teori dari Peter Senge yang isinya ada lima prinsip organisasi pembelajaran yang meliputi system thinking, personal mastery, mental models, shared vision, dan team learning. Tentu pemilihan teori itu berdasarkan alasan ilmiah dan atau logis dan disesuaikan dengan tipe organisasi. Ditambah dengan hasil penelitian terdahulu maka sintesis dari tinjauan empiris plus rangkuman metodologi yang digunakan dalam studi terdahulu lalu dirumuskanlah kerangka pemikiran penelitian. Dalam analisis kualititatif kerangka pemikiran ini tidak bersifat kaku. Bisa saja dimodifikasi sesuai dengan kenyataan di lapangan.

        Dengan asumsi data sudah dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan responden dan tenaga akhli ditambah penggunaan laporan-laporan maka peneliti harus mengakatagorikan data yang terkumpul sesuai dengan tujuan penelitian. Misalnya kalau fokus menganalisis hubungan dua peubah sentral yakni prinsip organisasi pembelajaran bisa dikatagorikan sebagai kelompok X dan kinerja karyawan sebagai kelompok Y. Katakanlah metode analisis sudah ditentukan dari beberapa pendekatan seperti analisis domain, analisis taksanomi, analisis komponensial, analisis tema cultural, dan analisis komparasi konstan adalah analisis domain dan taksanomi.

        Dalam analisis domain dibutuhkan hubungan semantis. Gunanya untuk mencari dan memperoleh gambaran umum atau pengertian yang bersifat secara menyeluruh dari fenomena aspek MSDM yang diteliti. Yang diharapkan dari analisi ini adalah pengertian di tingkat permukaan mengenai domain tertentu atau kategori-kategori konseptual. Hubungan semantis bisa berupa aspek jenis, sebab akibat, alasan/persepsi, fungsi, dan karakteristik. Misal dari peubah sentral X dan Y; dilihat dari sisi jenis yakni kinerja adalah salah satu jenis keberhasilan organisasi pembelajaran. Kemudian dilihat dari sebab-akibat dijelaskan bahwa kinerja karyawan sesuai dengan standard karena penerapan prinsip organisasi pembelajaran yang efektif. Dilihat dari alasan/persepsi, karyawan terdorong berkinerja tinggi karena prinsip organisasi pembelajaran mampu membangun motivasi. Sementara ditinjau dari fungsi maka penerapan prinsip organisasi pembelajaran secara partisipatif mampu menarik para karyawan. Ditinjau dari karakteristik maka kinerja merupakan bagian dari ciri-ciri penerapan prinsip organisasi pembelajaran yang berhasil.

        Contoh berikutnya adalah analisis taksanomi yang difokuskan pada salah satu domain (struktur internal domain) dan pengumpulan hal-hal/elemen yang sama. Misalnya taksanomi organisasi pembelajaran (X) yang terdiri dari fungsi dan karakteristik organisasi pembelajaran. Kemudian fungsi organisasi dijabarkan menjadi fungsi ke dalam dan keluar organisasi. Dan selanjutnya dirinci kembali menjadi beberapa subfungsi. Dalam hal karakteristik maka dapat diuraikan prinsip-prinsip organisasi pembelajaran apakah ditinjau dari sisi fisik dan nonfisik. Sisi fisik memiliki beragam karakteristik dari setiap elemen. Sementara dari sisi nonfisik diuraikan beragam karakteristik elemen prinsip-prinsip organisasi pembelajaran, dst. Begitu pula terhadap katagori kinerja (Y) dapat dijabarkan menjadi karakteristik kinerja berupa proses,output, dan outcome berikut rincian dari karakteristik elemen-elemennya.

         Penelitian kualitatif mensyaratkan digunakannya pendekatan holistik. Sang peneliti harus menjadikan dirinya sebagai bagian dari obyek organisasi yang diteliti. Misal dalam hal ini adalah dalam organisasi pembelajaran. Disini peneliti harus (1) menghayati tentang organisasi yang dijadikan sampel dan apa yang diteliti, (2) melakukan analisis domain, (3) mengidentifikasi informasi domain dibanding dengan domain lainnya,(4) membuat dan mengembangkan diagram skematis dan pemetaan hubungan semantis, (5) penggambaran keterkaitan antardomain dan antar peubah, dikaji kesamaan dan perbedaan serta tema-tema temuan dari gejala yang diteliti, (6) memunculkan tema-tema alternative untuk dianalisis, dan (7) selalu mengaitkan setiap penemuan tema alternatif dengan teori-teori yang digunakan.

       Agar diperoleh uraian mendalam maka peneliti harus menuliskan hal-hal pokok yang ditemukan di lapang dan dari studi pustaka. Kemudian dirinci lebih lanjut secara faktual dari kejadian berikut kronologi dan sebab musababnya. Penilaian terhadap pendapat para akhli, manajemen, responden, dan dari peneliti sendiri sangat penting untuk ditulis secara komprehensif. Dengan tema kultural peneliti harus mencari benang merah dari temuan di lapang yang kemudian dikaitkan dengan, misalnya beragam aspek penerapan prinsip-prinsip organisasi pembelajaran dan dengan kinerja karyawan. Begitu pula perlu dicari nilai-nilai dan premis apa saja yang sangat berkaitan dengan penerapan prinsip organisasi pembelajaran, MSDM dan kinerja karyawan. Semua analisis yang berpangkal pada pandangan teoritis, faktual, dan logis ini sangat membantu tercapainya keberhasilan penelitian kualitatif.

 

         Kurang lebih tiga minggu lalu, dalam rapat organisasi kemasyarakatan, dimana saya sebagai ketua dewan pakarnya, saya mendapat pengetahuan untuk keempat kalinya tentang “gelar” seseorang yaitu CD. Di belakang namanya ada sederetan gelar SH, MSi, dan CD. Tahun lalu saya baru tahu ada artis terkenal yang sedang studi di salah satu perguruan tinggi negeri menyodorkan kartu namanya dengan embel-embel DR(CAN). Saya sempat tidak peduli dan anehnya tidak terdorong untuk mengetahui tentang embel-embel itu. Ternyata gelar tersebut merupakan singkatan dari mereka yang sedang studi program doktor. CD berarti candidate doktor. DR(CAND) merupakan singkatan dari doktor candidate; sama dengan singkatan DR(CAN).

          Saya lalu mencoba merenung. Rasa-rasanya tidak pernah ada peraturan dan aturan yang memperbolehkan atau melarang seseorang menggunakan tambahan gelar semaunya. Tidak pernah ada aturan yang mengatakan bahwa setelah mahasiswa melalui jenjang studi sekian semester berhak mencantumkan ”gelar” kandidat doktor. Karena belum ada aturan maka bisa saja seseorang yang sedang studi strata satu dalam bidang pertanian misalnya menggunakan gelar SP(CAND) atau yang sedang studi hukum bergelar SH(CAND). Bagaimana mereka yang sedang studi magister? Mungkin bisa saja mereka menggunakan gelar MSi(CAND), MM(CAND), MBA(CAND) dst. Terus terang saya ”buta” dalam hal ini. Apakah perilaku seperti ini karena meniru dari para mahasiswa kandidat sarjana dan doktor di luar negeri atau untuk gagah-gagahan?

         Kalau untuk gagah-gagahan lalu timbul pertanyaan ada gejala apa sebenarnya di masyarakat khususnya di kalangan akademik? Apakah memeroleh gelar kandidat sebagai segala-galanya sehingga orang lain akan lebih menghormati sang pemegang gelar ketimbang tanpa gelar? Kalau seperti itu apakah ada yang salah perihal persepsi pergelaran akademik? Saya percaya seseorang dihormati orang lain bukan karena gelar akdemiknya tetapi lebih pada performanya bagi masyarakat. Banyak yang tak bergelar namun personaliti dan performa pengabdiannya jauh lebih unggul dibanding mereka yang bergelar macam-macam. Kembali ke persoalan ”gelar” kandidat, itu semua terpulang pada motif yang memakainya. Mungkin pencantuman gelar lebih merupakan hak individualnya ketimbang hak sosial.

Laman Berikutnya »