April 2010


 

        Hari ini tepat pukul 00.00 wib, Alhamdulillah usia saya genap 67 tahun. Dalam seusia itu saya patut bersyukur ke hadirat Allah swt. Selama ini saya memperoleh banyak nikmah kebahagiaan tak ternilai dengan usia relatif ‘panjang’ dari-Nya. Memang umur biologis saya sudah tergolong tua. Namun pertanyaannya, apakah umur pengabdian saya pada Allah, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara sudah setimpal dengan nikmah umur biologis yang diberikan Allah kepada saya? Agaknya belum.

        Karena itu saya harus menilai diri dengan selalu merendah  di hadapan Allah: Apakah saya sudah memelihara tubuh dan pikiran saya sebaik-baiknya sebagai refleksi dari menghormati titipan pemilik-Nya? Apakah saya sudah menjadi seorang suami sekaligus orangtua yang amanah dari seorang isteri dan tiga anak dengan tujuh cucu sesuai harapan keluarga?. Apakah saya sudah menjadi warga masyarakat teladan di sekitar tempat saya tinggal ? Apakah sebagai dosen, saya sudah menjalankan kewajiban mengajar, meneliti dan melayani masyarakat dan keigiatan ilmiah lainnya secara optimum? Apa saja yang sudah saya sumbangkan untuk membangun IPB khususnya dalam bidang keilmuan, pengembangan staf muda, dan institusi? Bagaimana pula untuk bangsa?. Kalau belum berkiprah di berbagai segi kehidupan secara optimum, mengapa demikian? Unsur kelemahan atau kelalaian apa saja yang masih saya miliki selama ini?

       Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus saya jawab dalam bentuk tindakan nyata ke depan. Tidak cukup hanya untuk direnungkan. Tidak gampang memang. Dalam sisa usia kini dan ke depan ini tentunya saya harus manfaatkan seopimum mungkin. Tak boleh ada yang diabaikan. Karena itu yang perlu saya lakukan adalah terus berkomunikasi dengan Allah secara khusyu dan tawadhu. Tentunya untuk selalu memohon petunjuk-Nya agar saya diberi kekuatan untuk terus berkiprah di dunia ini sebagai bekal hidup kekal di akhirat nanti. Ya Allah, hamba memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepada hambamu ini ( al-Qashas; 24). Amiin

 

Ada seorang pegawai negeri  yang berada di gedung, lantai 26. Tiba tiba ada yang berteriak,"Tuan Z…! Tuan Z…! anak perempuanmu mati tertabrak mobil!!"
Pegawai negeri itu kaget dan langsung melompat dari lantai 26. Saat tubuhnya melewati lantai 14, ia baru sadar kalau ia tak punya anak perempuan. Saat melewati lantai 5, ia baru sadar kalau ia belum menikah, apalagi punya anak perempuan. Saat sampai tanah, ia baru ingat kalau namanya itu bukan TUAN Z.
Adaptasi dari sumberNadya Anwar, Ketawa.com

Nah, apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Z? Emosikah? Panikkah? atau Linglungkah? Apakah kita juga pernah seperti dia walau kejadiannya tidak seekstrem  itu? Apa implikasinya? (1) jangan panik ketika memeroleh berita duka apapun khususnya yang menyangkut keluarga sendiri; (2) harus jelas apakah informasi itu benar adanya; (3) siapa sumber informasinya; (4) kalau sudah diketahui sumbernya dan informasi itu benar maka bersikaplah tenang menghadapinya; dan (5) segeralah mengambil tindakan secepatnya dan jika dianggap perlu meminta bantuan kepada pihak-pihak terkait.

 

       Sudah diketahui umum bahwa ucapan seorang pemimpin (Amir) dalam rejim pemerintahan otoriter atau monarki absolut cenderung sebagai perintah dan tidak dapat ditolak. Kalau ada yang membangkang siap-siap saja bakal dihukum berat. Sangat beda dibanding di negara demokrasi. Berikut contoh dalam humor sufi yang saya kutip dari, Republika Online (Jumat, 17 Oktober 2003).

       Suatu ketika, Amir kota membacakan sebuah syair yang digubahnya dan meminta pendapat Bahlul. "Aku tidak menyukainya," sahut Bahlul dengan polosnya. Amir pun marah dan memerintahkan agar Bahlul dijebloskan ke dalam penjara. Minggu berikutnya sang Amir memanggil Bahlul dan membacakan lagi syairnya yang lain di hadapannya. "Bagaimana dengan yang ini?" tanyanya. Bahlul segera bangkit berdiri."Hendak ke mana kamu?" tanya sang Amir. "Ke penjara," jawab Bahlul.

       Apa pelajaran yang bisa ditangkap dari cerita di atas? Pada dasarnya setiap orang memiliki kapabilitas dan hak untuk menilai sesuatu. Istilah ilmiahnya memiliki kompetensi. Namun dalam keadaan tertentu ketika setiap penilaian selalu ditolak oleh orang yang dinilainya maka dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti saja apa yang dikehendaki oleh orang itu. Dalam dunia kerja hal ini tidak jarang terjadi. Seorang karyawan diminta manajernya menilai gagasan sang boss tersebut. Ketika proses penilaian terjadi dan sang karyawan sudah menyampaikan hasilnya maka ada tiga kemungkinan yang ada. Pertama, manajer menerima hasil penilaian. Kedua netral-netral saja sambil sang manajer akan berpikir lagi. Dan ketiga manajer menolak penilaian tersebut. Dalam konteks pengembangan sumberdaya manusia (SDM), sang manajer seharusnya menghargai kepada karyawan bersangkutan, apapun hasil penilaiannya.

        Salah satu bentuk pengembangan SDM adalah memberi kepercayaan kepada setiap karyawan untuk mengembangkan daya prakarsa, daya cipta, dan daya kritisnya. Hal ini penting ketika perusahaan ingin memiliki kemampuan bersaing. Untuk itu dibutuhkan karyawan yang unggul antara lain adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu selain pelatihan maka kesempatan untuk terus mengembangkan bakat dan kapabilitasnya dalam dunia praktek menjadi hal yang sangat strategis. Karyawan harus dibiasakan untuk berpikiran maju. Salah satunya adalah berpikir kritis dan inovatif.

 

         Pemotivasian terhadap orang lain dan diri sendiri tidak mengenal kata akhir. Mengapa? Karena faktor-faktor yang menyangkut kepuasan dan ketidakpuasan seseorang bersifat dinamis. Bisa berupa faktor instrinsik dan ekstrinsik yang begitu kompleksnya. Katakanlah anda sebagai manajer suatu perusahaan. Anda membawahkan sejumlah karyawan. Disini salah satu fungsi manajer adalah membangun tim kerja yang efektif. Pertanyaannya apakah anda otomatis juga berperan sebagai motivator? Nah untuk mengetahuinya, anda harus memetakan cita-cita pekerjaan dan potensi motivasi anda.

          Yang pertama, memahami tujuan hidup anda seperti; apakah anda memiliki tujuan yang terinci; apakah ketika merumuskan tujuan anda dikaitkan dengan sumberdaya yang anda miliki; apakah anda selalu mengembangkan pengetahuan anda; apa dan bagaimana dengan karir anda; dan seberapa besar cita-cita anda sudah tercapai.

         Kemudian hal   yang kedua adalah anda perlu memahami identitas diri anda. Apakah anda termasuk menyukai diri anda sendiri; apakah anda termasuk pekerja keras; apakah anda biasa menghargai orang lain; apakah anda memiliki banyak teman yang baik; apakah anda memiliki selera humor; apakah anda menyenangi pekerjaan anda; apakah anda benar-benar sudah menjadi pembimbing; apakah anda mampu mengelola waktu anda dengan efisien; apakah anda memiliki rekan kerja yang baik; apakah anda memiliki naluri dalam mengatasi konflik; apakah anda melibatkan karyawan untuk merumuskan, melaksanakan, dan menilai tujuan kelompok atau perusahaan anda.

          Kalau jawaban anda sebagian besar bernilai positif berarti anda sudah menjadi motivator. Tidak saja untuk orang lain  tetapi juga untuk anda sendiri. Dengan kata lain anda sudah mampu membangun motivasi sekaligus komitmen kerja di kalangan karyawan. Anda sudah diteladani oleh para karyawan karena anda dipandang sebagai pekerja keras yang selalu meningkatkan pengetahuan, menghargai orang lain, dan melibatkan karyawan untuk berpartisipasi aktif.

          Disini anda sudah mampu membangun nilai-nilai organisasi belajar. Suatu set nilai yang berisikan tentang kepercayaan bahwa bekerja dengan keras, jujur, prestasi, siap dengan tantangan, dan amanah sudah merupakan nilai-nilai kehidupan pribadi dan kehidupan profesi semua karyawan. Pertanyaannya apakah semua manajer sudah mampu membangun suasana seperti itu?

 

Dengan tema “syiar kebajikan walau cuma satu kata”, Alhamdulillah blog Ronawajah telah menginjak  usia 36 bulan. Atau persisnya dilahirkan pada tanggal 23 April 2007. Pengasuhnya dari sikap cuek tentang perblogan sampai kemudian berubah menjadi begitu asyiiknya mengasuh dan merawatnya. Tidak kurang dari 724 artikel yang hingga kini dibuatnya. Dan 9155 komentar yang telah masuk dan ditanggapi satu persatu. Isi komen mulai dari yang bersifat umum antara lain apresiasi dan saran, tentang isi artikel, dan juga sebagai tempat konsultasi akademik dan curahan hati. Sementara jumlah “klik” yang mampir di blog hingga tengah malam ini mencapai 631.396 kali. Dalam kesempatan ini  Pengasuh Ronawajah mengucapkan terimakasih kepada para pembaca yang telah mampir ke blog ini. Mohon maaf seandainya pelayanan komentar balik kepada para pembaca terkadang terlambat. Doa, kritik dan sarannya selalu ditunggu demi perbaikan mutu syiar.

 

        Pandangan yang sangat tradisional yang masih berkembang di sebagian perusahaan urusan sumberdaya manusia (SDM) dengan segala aspeknya adalah tanggung jawab manajer SDM. Hal ini berkait dengan tidak mudahnya begitu saja mengatur pembagian bidang pekerjaan pada setiap unit perusahaan. Kalau tidak jelas sering terjadi friksi-friksi tanggung jawab, misalnya siapa sebenarnya yang mengurus masalah mutu SDM karyawan.

         Permasalahan dimensi mutu SDM bukanlah hanya urusan departemen atau divisi SDM dan karyawan semata, tetapi seharusnya merupakan tanggungjawab dari seluruh komponen organisasi. Artinya masalah mutu SDM seharusnya diatasi melalui pendekatan partisipatif dari  seluruh jajaran organisasi, dimana tiap individu aktif terlibat di dalam meningkatkan dan atau paling tidak menjaga mutu SDM yang sudah berada pada standar organisasi. Karena itu diperlukan manajemen mutu SDM (MMSDM) modern.

         Pendekatan modern  dicirikan oleh adanya kegiatan yang lebih berorientasi pada pencegahan penurunan mutu SDM dibanding  kegiatan mendeteksi dan memperbaiki penurunan mutu SDM. Prinsipnya pencegahan lebih murah dibanding perbaikan. Dengan demikian pendekatan seperti ini akan mampu mengurangi biaya produksi. Yang pada gilirannya dapat menciptakan nilai tambah yang meningkat.

         Pendekatan MMSDM moderen membutuhkan sistem umpan-balik yang efektif dan bersinambung. Analisis  hubungan mutu SDM dan kinerja karyawan serta kinerja perusahaan menjadi sangat penting dilakukan. Begitu pula evaluasi tentang keberhasilan, kekuatan dan kelemahan tiap program pengembangan mutu SDM perlu dilakukan secara terencana dengan baik. Disinilah komitmen manajemen puncak memiliki posisi sangat strategis dalam hal merumuskan kebijakan pengembangan mutu  SDM demi kelangsungan hidup organisasi.     

      Dalam hal ini, dukungan (agenda) manajemen puncak akan dapat mendorong dan memotivasi  karyawan untuk selalu meningkatkan mutu SDMnya. Sedangkan, pihak manajer membangun suasana kerja yang kondusif dengan kerap  memberikan penghargaan bagi karyawan yang berprestasi sehingga sekaligus membangun kebanggaan di kalangan karyawan terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan. 

          Hampir dalam setiap ungkapan tentang perilaku pengemis kepada seseorang yang dianggap mampu bilang “tolong pak/bu,saya lapar… sudah dua hari tak makan…”. Nah di sisi lain pasti kedengarannya sangat tidak masuk akal rasa lapar kok nikmat. Apalagi ada embel-embel rasa lapar karena tidak ada yang bisa dimakan alias tidak punya duit. Ya apa salahnya? Percaya tidak, rasa lapar itu justru akan mendatangkan nilai kebaikan bagi seseorang. Di bulan ramadhan misalnya, rasa lapar sebenarnya bukanlah suatu bentuk penderitaan. Lapar lewat shaum secara alami justru sebagai bagian dari proses pemulihan dari alat pencernaan yang hampir setahun lebih bekerja. Nah ketika waktu berbuka tiba, disitulah kenikmatan diraih disertai rasa bersyukur. Lebih dari itu ia mampu menumbuhkan   empati bagaimana rasanya menjadi orang miskin.

          Ketika rasa lapar terjadi pada orang yang mampu, dia dapat belajar dari kondisi kehidupan kaum papa. Bagi yang mampu, habis rasa lapar datanglah rasa kenyang. Namun bagi si miskin habis lapar datanglah lapar berikutnya. Si kaya seharusnya merasakan bagaimana perihnya perjuangan kaum miskin untuk bisa makan. Dia membayangkan si miskin akan melakukan apapun asalkan dia bisa hidup dengan jalan halal. Rasa lapar inilah makin membangunkan rasa dan jiwa dia untuk meningkatkan iman dan takwa. Dalam bentuk apa? Ya dalam wujud simpati dan empati untuk tidak bermegah-megah di lingkungan kaum papa. Malah berbagi rasa dengan memberi bantuan sedekah kepada kaum dhuafa untuk keluar dari kenestapaan.

         Bagi yang berlatar belakang  peneliti, dia akan mempelajari proses  terjadinya rasa lapar. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkannya mulai dari aspek ekonomi, biologis-fisiologis sampai ke faktor perilaku atau kebiasaan makan. Si peneliti secara kuantitatif akan mampu menganalisis dan memprakirakan misalnya dampak kenaikan BBM terhadap jumlah warga yang miskin. Dampak lumpur panas Lapindo terhadap kemiskinan. Semakin banyak yang miskin semakin banyak orang yang kelaparan. Kalau dikemas secara ilmiah, hasil analisis fenomena lapar itu bisa menjadi karya ilmiah bermutu. Lalu siapa tahu pula dia memperoleh penghargaan tinggi dari karyanya itu.  Itulah  nikmatnya menyelami rasa lapar.

          Sementara bagi si miskin, rasa lapar adalah suatu cobaan. Dia senantiasa berdoa untuk keluar dari rasa lapar karena kemiskinan. Dia bertasbih ketika perut melilit pertanda rasa lapar tiba. Dia bersabar dan berdoa…..bersabar dan berdoa serta terus berupaya. Banyak contoh  orang  yang awal hidupnya sering kelaparan lalu menjadi kaya.  Mereka berpendapat beban hidup tidak untuk ditangisi. Menurutnya justru harus dipandang sebagai unsur kekuatan. Dengan cara pandang seperti itu justru dia mampu melampauinya dengan sukses. Ada yang tadinya pemulung sekarang sukses sebagai pengolah (daur ulang) sampah plastik. Sementara lainnya, yang semula kuli kasar bangunan sekarang jadi pemborong sukses. Ada pula yang malang melintang sebagai supir “tembak” (tak menentu), sekarang malah menjadi penjual barang bagian-bagian mobil rongsokan yang sukses.

         Mereka yang dahulunya miskin dan kemudian sukses itu memang hidup dengan hati kuat, cinta akan kehidupan yang membara, dan spirit tinggi. Ya mereka tidak mau terjebak ke dalam beban hidup  rasa lapar berkepanjangan. Beban hidup diolah menjadi peluang hidup. Istilah kerennya "manajemen lapar". Menurutnya lebih baik mengenyam rasa lapar fisik ketimbang  lapar rohani: perasaan, semangat dan jiwa. Subhanallah.

       Saya percaya Anda, sekalipun kaya, pernah merasa lapar. So sentuhlah, rasakanlah dan resapilah rasa lapar secara maknawi. Maka Anda juga akan mampu memberikan sentuhan kebahagiaan  buat umat yang masih tertinggal. Sekurang-kurangnya buat Anda dan keluarga sendiri. Banyak jalan kearah itu. Menegakkan  zakat, infak, dan sedekah adalah bagian dari sentuhan itu.Selamat menikmati rasa lapar.

Laman Berikutnya »