Juli 2012


 

        Secara faktual dengan berpuasa ramadan memang fisik kita akan mengalami perubahan. Misalnya yang terjadi berupa rasa ngantuk karena terbangun ketika sahur dan kemudian tidur lagi sehabis solat subuh. Lalu kondisi fisik yang biasa sangat fit maka akan terjadi penurunan karena asupan enerji juga tidak sebanyak ketika tidak berpuasa. Namun demikian apakah beralasan untuk tidak bekerja secara produktif? Tidak juga. Hal ini sangat bergantung pada jenis dan beban pekerjaan serta kemampuan seseorang mengelola waktu dan tenaga. Termasuk juga menstabilkan semangat kerja. Kalau kita sadari bahwa bulan ramadan sebagai bulan kemuliaan maka spirit beribadah untuk memeroleh pahala semestinya juga tinggi. Dengan kata lain produktifitas kerja tetap terelihara seperti biasanya.

        Dalam pemahaman tentang produktifitas dan produktif disitu terkandung aspek sistem nilai. Manusia produktif  menilai produktivitas dan produktif adalah sikap mental. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin; hari esok harus lebih baik dari hari ini. Dia akan istiqomah dengan sabda Allah  dalam surat Al’Asr yang intinya kira-kira bermakna ”Amat rugilah manusia yang tidak memanfatkan waktunya untuk berbakti/amal soleh”. Dan tentu saja setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam hal mencapai produktifitas tinggi.

         Jadi  kalau seseorang  bekerja/beribadah termasuk ketika puasa, dia akan selalu berorientasi pada produktivitas kerja di atas atau minimal sama dengan standar kerja dari waktu ke waktu. Bekerja produktif sudah sebagai panggilan jiwa dan kental dengan amanah. Dia tidak terganggu oleh rasa lapar karena puasa. Dengan kata lain sikap tersebut sudah terinternalisasi. Tanpa diinstruksikan dia akan bertindak produktif. Itulah yang disebut budaya kerja positif (produktif) .

          Budaya bekerja produktif mengandung komponen-komponen: (1) pemahaman substansi dasar tentang bekerja, (2) sikap terhadap pekerjaan, (3) perilaku ketika bekerja,  (4) etos kerja dan (5) sikap terhadap waktu.  Bekerja seharusnya dipandang sebagai ibadah, kehidupan, panggilan jiwa, aktualisasi diri dan kesucian. Sebagai ibadah, bekerja dinilai sebagai tanda rasa syukur kepada Allah atas kehidupan yang dijalaninya.

         Bekerja dilakukan secara ikhlas semata-mata untuk memperoleh keridhoan Allah. Sebagai kehidupan, hidup diabdikan dan ditujukan untuk beribadah/bekerja sesuai dengan ajaran agama. Sementara sebagai panggilan jiwa, bekerja harus didasarkan pada  pengabdian secara profesional dan efisiensi waktu. Sebagai aktualisasi diri, bekerja terkait dengan peran, impian atau cita-cita dan keinginan kuat si pelakunya. Selain itu bekerja dipandang  sebagai sesuatu aktifitas padat dengan kesucian. Artinya ia harus dijaga dan tidak terkontaminasi oleh  perbuatan

 

        Gosip disini dimaksudkan sebagai pergunjingan tentang seseorang. Konotasinya bernuansa negatif. Misalnya membicarakan tentang aib seseorang seperti tentang keburukan hubungan sosial, kinerja buruk, kedisiplinan kerja, komitmen kerja dsb. Gosip bukan saja terjadi pada tataran horisontal namun juga vertikal. Mislnya gosip tentang perilaku pimpinan unit seperti otoriter, kurang memerhatikan kesejahteraan karyawan, banyak perintah dsb.

        Latar belakang terjadinya gosip begitu beragam. Bisa karena sakit hati, dendam, iri hati, kekesalan pada orang lain dsb. Tampaknya gosip ini seperti manusiawi. Namun karena namanya membicarakan orang lain dari sisi negatifnya maka gosip kalau dibiarkan akan mengganggu suasana kerja. Para karyawan merasa kurang nyaman. Begitu juga pimpinan unit kerja. Ketika gosip terjadi maka perhatian tiap karyawan tidak fokus pada pekerjaan. Selalu saja diliputi rasa khawatir digosipkan seseorang.

         Dalam keadaan demikian pimpinan unit katakanlah manajer harus segera bertindak. Dia harus mengidentifikasi siapa saja sebagai biang keladi gosip. Menyangkut hal apa sehingga terjadinya gosip. Dan mengapa itu bisa terjadi. Serta apa akibatnya pada suasana kerja. Kalau sudah teridentifikasi maka manajer hendaknya memanggil para karyawannya yang terlibat gosip. Disitu manajer melakukan wawancara dan sekaligus menilai siapa yang memulai gosip. Kemudian secara pendekatan personal dilakukan wawancara khusus dengan karyawan bersangkutan. Dalam kondisi seperti ini manajer hendaknya bertindak arif. Artinya yang dituju adalah penyelesaian masalah bukan memfokuskan pada pribadi seseorang. Kecuali kalau sang penggosip berperilaku semakin gawat misalnya sebagai menghasut dan melakukan tindakan kriminal.

         Pihak manajer perlu melakukan tidakan administratif terhadap karyawan yang perilakunya sudah mengarah pada keretakan hubungan antarkaryawan khususnya antara karyawan penggosip dengan yang digosipi. Ada beberapa yang perlu dilakukan yaitu mulai dari peringatan keras hingga pemecatan. Kalau perilakunya tetap saja tidak berubah maka apa boleh buat, manajer mengusulkan pada atasannya agar karyawan penggosip itu dipecat. Lebih baik memecat ketimbang mendiamkan bakteri penyakit gosip yang akan menjangkiti proses dan hasil pekerjaan. Dengan demikian suasana kerja bisa kembali nyaman dan kinerja karyawan kembali pulih bahkan membaik. Pada gilirannya kinerja organisasi pun juga meningkat.

 

          Saya yakin momen yang dinilai paling ditunggu-tunggu oleh umat yang berpuasa adalah ketika waktu berbuka puasa tiba dan datangnya Idul Fitri (satu syawal). Bukan saja karena nikmat selepas lapar dan dahaga tetapi juga karena nikmat telah menjalankan perintah agama dengan khusyu. Tiada lain yang diucapkan selain bersyukur ke hadirat Allah. Lalu mengapa begitu ditunggu-tunggu? Hal ini agaknya terkait dengan ajaran islam yang memerintahkan untuk menyegerakan berbuka karena berbagai alasan berikut (dikutip dari Al-Ghuroba’):

          Menyegerakan berbuka menghasilkan kebaikan. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Manusia akan terus dalam kebaikan selama menyegerakan buka.” (HR Bukhari dan Muslim). Menyegerakan buka adalah sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda(yang artinya), “Umatku akan terus dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Ibnu Hibban). Menyegerakan buka berarti menyelisihi Yahudi dan Nashara. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Agama ini akan terus jaya selama menyegerakan buka, karena orang Yahudi dan Nashara mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban). Berbuka sebelum shalat maghrib. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat maghrib (HR Ahmad, Abu Dawud), karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para Nabi. Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan buka, mengakhirkan sahur, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR Thabrani).

          Dari uraian di atas maka saya berpendapat ada makna utama lainnya dari menyegerakan  berbuka puasa yakni membangun perilaku bahkan budaya tepat waktu. Dengan budaya tepat waktu maka akan diperoleh manfaat yang berlipat ketimbang menunda-nunda. Budaya tepat waktu berarti disitu ada kedisiplinan dan komitmen tinggi. Seharusnya makna ini juga dapat kita ambil dari ibadah sholat, mengeluarkan zakat-infak-sedekah, dan pergi haji.

           Namun demikian mengapa masih ada umat yang melalaikan waktu untuk melakukan tiga kegiatan utama tersebut? Mengapa malas sholat sekalipun azan sudah tiba? Bahkan menunggu rapat dan menonton sinetron selesai dahulu baru kemudian pergi sholat? Mengapa ada orang kaya enggan ber-ZIS padahal masih begitu banyak kaum dhuafa yang perlu dibantu? Dan mengapa tidak menyegerakan berhaji walau sesungguhnya dia mampu? Dari sisi kehidupan muamallah lainnya, mengapa masih ada sebagian kita tidak menjalankan tugas tepat waktu?  Misal yang lain mengapa masih saja ada dosen yang terbiasa terlambat mulai mengajar dan juga membimbing mahasiswa? Mengapa masih saja ada pasien yang terlambat ditangani petugas kesehatan? Dst dst…..masih banyak lagi. Padahal menunda waktu melakukan sesuatu sama saja dengan menciptakan masalah-masalah baru. Ya Allah bukakanlah hati kami agar kami selalu taat menjalankan perintah-MU; Amiin. Diadaptasi dari Rona Wajah.16 September 2007

 

         Surat Al-Baqarah (2:193-184): ” Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan juga atas orang-orang yang sebelummu semoga kamu menjadi orang yang takwa.” Disini ditekankan mereka yang wajib berpuasa adalah orang yang beriman, bukan mereka yang kafir. Mereka yang beriman akan menyambut dan melaksanakan puasa sebulan penuh dengan sukacita. Mengapa demikian?

        Allah menjanjikan tiga keberkahan yang sangat luar biasa bagi umatnya yang lulus menjalani puasa dengan khusyu. Yang pertama adalah keberkaahan karena memeroleh rahmat bathiniah. Kedua ampunan doasa. Dan ketika adalah bebas dari neraka. Ketiga keberkahan tersebut mengandung dimensi jangka panjang dan kekal. Karena itu sangatlah wajar umat Islam menanti, menyambut dan menjalani bulan suci Ramadhan dengan sukacita.

         Pemahaman sukacita harus dilihat dari dimensi rasa syukur. Releksi rasa kebahagiaan karena masih diberi nikmat usia panjang untuk bertemu lagi dengan bulan kemuliaan. Namun demikian perlu disikapi dengan tetap tawadhu atau rendah hati. Tidak menyambutnya dengan cara berlebihan sehingga mengurangi makna puasa itu sendiri.

         Dalam kesempatan ini saya mohon dibukakan pintu maaf lahir bathin. Juga ingin menyampaikan selamat menjalani ibadah puasa Ramadan 1433 H sebulan penuh. Semoga memeroleh berkah, nikmah, dan hikmah.