Juni 2007


          Tidak jarang orang menarik kesimpulan atas fenomena tertentu secara tidak logis. Terlalu sederhana dan bahkan mengada-ada. Sering tergesa-gesa tanpa penyelidikan yang mendalam. Terlalu berorientasi pada subyektifitas. Berikut kisah lucu Nasudin.

        Suatu ketika dia  sedang berjalan-jalan dengan santai. Tanpa permisi ada orang jatuh dari atap rumah dan menimpanya. Orang yang terjatuh itu tidak terluka sama sekali, tetapi Nasudin yang tertimpa malah menderita cedera leher. Ia pun diangkut ke rumah sakit. Para tetangga datang menjenguknya dan bertanya, ”Hikmah apa yang didapat dari peristiwa itu, Nasudin?”. Jawaban Nasudin…Jangan percaya lagi pada hukum sebab-akibat. Orang lain yang jatuh dari atap rumah, tetapi leherku yang jadi korban. Jadi tidak berlaku lagi logika, kalau orang jatuh dari atap rumah, lehernya akan patah!’‘. ( 27 Agustus 2004 Republika Online).   

Iklan

          Berbagai media massa pernah mewartakan kemudahan untuk berusaha di Indonesia kembali berada pada kondisi  parah. Indonesia pada tahun 2005-2006 berada di peringkat ke-135 dari 175 negara. Hal itu dinyatakan oleh International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia. Alasan sangat klasik terjadinya keterpurukan itu yaitu tidak efisiennya birokrasi.

         Perizinan bisnis sudah berubah menjadi transaksi bisnis atau bisnis balas jasa. Birokrat yang seharusnya melayani (aktif) publik berubah menjadi dilayani (pasif) publik. Kalau tidak dilayani, mohon maklum saja, apa yang bakal terjadi. Proses perizinan bakal semakin panjang dan lama. Akibatnya bisa ditebak, terjadilah penyuapan dan pemerasan. Ujung-ujungnya terjadilah biaya ekonomi tinggi. Lalu bagaimana?

           Idealnya ya pangkas saja birokrasi itu. Sederhanakan saja proses perizinannya. Tindak saja pelayan publik yang nakal itu. Bla…bla…bla. Woow   pelaksanaannya tidak semudah ucapannya, Mbak dan Mas!! Semua perilaku sudah berlangsung sangat lama. Sudah mengeras seperti batu karang. Namun optimislah, mengapa tidak kita coba saja mencairkannya  sejak sekarang. Masih ada harapan ketimbang sesalan.   

Sudah diketahui umum bahwa ucapan seorang pemimpin (Amir) dalam rejim pemerintahan otoriter atau monarki absolut cenderung sebagai perintah dan tidak dapat ditolak. Kalau ada yang membangkang siap-siap saja bakal dihukum berat. Sangat beda dibanding di negara demokrasi. Berikut contoh dalam humor sufi yang saya kutip dari, Republika Online  (Jumat, 17 Oktober 2003).

Suatu ketika, Amir kota membacakan sebuah syair yang digubahnya dan meminta pendapat Bahlul. “Aku tidak menyukainya,” sahut Bahlul dengan polosnya. Amir pun marah dan memerintahkan agar Bahlul dijebloskan ke dalam penjara. Minggu berikutnya sang Amir memanggil Bahlul dan membacakan lagi syairnya yang lain di hadapannya. “Bagaimana dengan yang ini?” tanyanya. Bahlul segera bangkit berdiri.”Hendak ke mana kamu?” tanya sang Amir. “Ke penjara,” jawab Bahlul.

Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira, 2007, Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah,IPB Press.

 

           Dalam hidup dan kehidupan tak ada yang tetap. Kita semua pasti berubah dan ingin bertahan hidup. Begitu pula dalam dunia bisnis. Manajemen puncak (CEO) suatu perusahaan harus menyadari bahwa perubahan adalah suatu fenomena alami. Esensinya bahwa perubahan itu sesuatu yang fitrah namun perlu dipandang secara bijak. Dia  harus mempertanyakan pada dirinya sendiri apakah pola pikir yang sekarang dipakai masih dianggap relevan. Ataukah ketika  menegok ke dunia bisnis di luar yang begitu luas,  dia menilai pola pikirnya ternyata sudah memasuki wilayah darurat karena sudah begitu usangnya? Apakah dia terdorong meninggalkan keasyikan hidup mapan demi ketidakasyikan karena dihadapkan pada mendesaknya keperluan perubahan bisnisnya? Untuk itu seberapa jauh kepekaannya terhadap perubahan? (lebih…)

         Dalam dunia bisnis yang berubah cepat, perusahaan harus mampu mengadaptasi  ekses setiap perubahan atau resiko dari kegagalan yang mungkin muncul. Namun yang terjadi, reaksi pertama terhadap perubahan yang ada biasanya dalam bentuk resistensi. Disisi lain boleh jadi para individu mengekspresikan kepeduliannya melalui perubahan kebiasaan, norma dan cara-cara mengerjakan sesuatu.

          Dalam perusahaan, kemampuan akan berubah mungkin meningkat dengan menggunakan MSDM secara benar dan tepat. Sebagai contoh, perusahaan yang berkepentingan untuk menjadi lebih adaptif terhadap tekanan-tekanan lingkungan dan perubahan seharusnya menggunakan orang yang luwes dan mampu mengembangkan potensinya. Tujuannya agar yang bersangkutan  menyadari bahwa perubahan adalah sesuatu yang penting sebagai bagian dari pertumbuhan perusahaan.

         Lebih jauh, perusahaan seharusnya merumuskan standar yang fleksibel dan bervariasi dalam hal pendekatan perubahan dan pemberian penghargaan kepada karyawan yang inovatif. Selain itu perusahaan harus juga mendengarkan kritik para pelanggan untuk bahan penyusunan perubahan yang dikehendaki para pelanggan. Umumnya suatu perusahaan, dalam kondisi persaingan tinggi, dengan kemampuan perubahan yang besar akan sangat mungkin memuaskan, bertahan dan memberi daya tarik kepada  para pelanggan.

         Namun keberhasilan suatu perubahan membutuhkan waktu yang tidak pendek. Sebagai contoh, sekitar tahun 70an, industri otomotif untuk menghasilkan kendaraan model baru membutuhkan waktu tujuh tahun dimulai dari konsep baru.  Ford ketika memperkenalkan mobil baru Taurus/Sable hanya menghabiskan waktu 3,5 tahun karena perusahaan menyelenggarakan pelatihan bagi para karyawannya. Waktu yang lebih singkat itu merupakan hasil dari keterlibatan para tim pemasok bahan baku, ahli mesin, pabrik, distributor, pekerja perakitan dan pelanggan secara terpadu.

       Jadi hasil gemilang itu merupakan perpaduan antara kelompok-kelompok tersebut dengan perubahan yang terjadi dalam MSDM seperti dalam pelatihan, penyusunan pegawai, komunikasi dan sistem imbalan. Semuanya ini memberi manfaat bagi Ford dalam bentuk peningkatan keuntungan dan kinerja perusahaan. 

            Perusahaan tidak akan pernah berhenti menghadapi permasalahan di dalam dan di luar perusahaan. Permasalahan di dalam menyangkut aspek retrukturisasi organisasi perusahaan, akuisisi, dan merger serta aliansi strategik. Dalam aspek yang lebih operasional menyangkut manajemen finansial, produksi, pemasaran, manajemen administrasi dan manajemen sumberdaya manusia. Sementara itu masalah eksternal ditandai oleh aktifitas ekonomi pasar sedemikian dinamisnya seperti tuntutan pelanggan terhadap mutu dan keamanan produk, fluktuasi harga input dan output, ekspansi pasar perusahaan lain,  teknologi dan pesaing. Dalam upaya  mencapai keunggulan kompetitif, perusahaan harus  menghadapi tantangan bahkan  tekanan-tekanan internal dan eksternal itu. Salah satu pendekatannya adalah bagaimana mengefektifkan potensi sumberdaya yang ada. (lebih…)

          Beberapa waktu lalu secara serentak di  tingkat nasional diumumkan kelulusan siswa-siswa SMA dan yang sederajad. Ada yang gembira dan ada juga yang sedih tentunya. Seorang siswa perempuan menangis tersedu sedan. Sedih tak lulus ujian nasional (UN). Padahal katanya, rapor kemajuan studinya sejak di semester pertama sampai akhir bagus semua. Lalu bagaimana dengan sudut kecerdasan emosional dan spiritualnya? (lebih…)

Laman Berikutnya »