Tanggal 7 February, 2013 pukul 9:59 WIB. 24 jam telah berlalu, namun air mata ini tidak bisa berhenti menetes… Sulit merelakanMu pergi Mbah, sulit mengikhlaskan kepergianMu…

Pagi ini saya terbangun, mengira semuanya hanya mimpi.. Menuju lantai bawah, saya mencoba melupakan semua mimpi itu dan percaya bahwa mbah masih ada, untuk mengingatkan saya sarapan pagi ini. Tapi tidak, tidak ada suara yang memanggil nama saya menyuruh saya sarapan. Tidak ada suara ketikkan di laptop mbah bekerja di ruangannya. Tidak ada lagi, semua sudah hilang, selamanya.

“Mbah kan sering main pura-pura mati, pasti skarang juga lagi main.. Jangan lama-lama pura-puranya ya mbah” -@biandraazy. Tweet ini memang penuh pengharapan, penuh rekayasa, penuh….ketidak ikhlasan, tapi mbah, Ara masih pengen sama mbah.. Ara masih pengen bisa meluk mbah.. Ara kangen mbah..

Mbah itu suka beef burger tanpa keju, martabak manis coklat kacang tanpa keju, kalau makan manga atau jeruk pasti cuma setengah, setiap pagi di sediakan air hangat, air sirih. Tapi mbah suka nyemil, akhir-akhir ini mbah dan eni sering ke Michelle Bakery membeli cheese stick dan kue-kue kecil lainnya, yang biasanya 1 toples ada di meja kerjanya tapi Ara habiskan beberapa minggu yang lalu..

Aroma tubuhnya masih bisa saya cium disini, wangi khas dari mbah setiap saya memeluk dan menciumnya. Mbah, kake terbaik seorang cucu bisa dapatkan. Papah terbaik seorang anak bisa dapatkan. Seorang sobat yang membuat semua orang merasa bangga.. Kami kehilangan, mbah. Sangat kehilangan..

Tuhan, benarkah semua ini? nyatakah semua ini? Mengapa secepat ini? Ara belum sempat mengucapkan selamat tinggal…

(Biandra Azzahra)