Tepat tadi pagi(6/2/13), jam 10.10, dering telfon di hp -yang sudah lowbatt dan hampir mati- terdengar. Suara panik yang menyuruh saya ke Admission sekolah di terapkan teteh, Putri Farhah Thaliah (16). Kami bersekolah di tempat yang sama, Bina Nusantara International School Serpong. Saya sedang membeli crepes, karena sedang istirahat. Sekejap saya berfikir “Oh dia pengen curhat kali ya, yaudah deh santai masih ada setengah jam lagi”, tidak ada pemikiran apapun saat itu. Tiba-tiba Eni, istri Bpk. Sjafri, nenek kami, menelfon dengan suara menangis menyanyakan apakah saya sudah di jemput atau belum. Otomatis saya panik, eni itu adalah orang ter-strong, terkuat, tertegar yang pernah saya temuin dan tidak pernah menangis sesegukkan, baru kali ini.

Saya lari dari lantai satu ke lantai dua membenahi tas di kelas. Ketika sampai, saya Cuma bisa bertanya “Mbah kenapa sih?” dengan muka kebingungan. Mendengar jawaban teteh, saya terjatuh menangis merasakan sakit yang amat dalam, rasa kehilangan, rasa rindu yang tiba-tiba menancap begitu hebatnya.

Jam 12.30 saya sampai di Bogor, ceritanya begini.

Mbah, yang belum lama keluar dari rumah sakit, akhirnya mengikuti acara “Rabuan” di kampus IPB, Darmaga. “Ia memakai seragam FEM, masih memberi sapaan kepada semua yang datang, memberi amanah ke beberapa kenalannya, masih tersenyum sehat.” kata seseorang yang jalan di belakang saya setelah pemakaman. Katanya, saat Hymne IPB dinyanyikan, mbah sudah tidak sanggup berdiri. “kang, berdiri kang” tegur salah satu temannya. Dalam hitungan detik, mbah terjatuh dari kursinya sambil menyebut nama Allah SWT.

Perjalanan menuju Karya Bakhti di bantu oleh para security, ambulance, dan rekan rekan IPB lainnnya. Eni-pun langsung menyusul setelah mendengar kabar dari handphone mahasiswanya karena hp Eni mati. Namun ketika sampai, mbah sudah tidak Ada.. Innalillahi Wainaillaihi Rojiun… Selamat jalan mbah, selamat menempuh hidup yang jauh lebih baik, tetesan-tetesan air mata ini mendoakanmu sepanjang jalan, alunan ayat Al-Qur’an membimbingmu melewati semua ini. Berharap Mbah akan lebih tenang disana….

Suara ketikan ketikan di laptop beliau mengingatkan semua masa lalu kami, kami berdua. Di garasi yang sudah di renovasi menjadi tempat kerjaNya, Ditemani kalender MB IPB, speaker, penghargaan, aqua, buku-buku beliau, kamus, Al-Qur’an dan juga buku “Motivational Leadership” yang di tuliis oleh Scott Snair, Ph.D yang tergeletak terbuka di halaman 105 terbalik di mejanya.

Suasana rumah masih ramai, +/- dari 3000 orang menjengukMu Mbah, mengharapkan keajaiban, menantiMu kembali, berharap bisa bertemu untuk terakhir kalinya. Begitu disayangnya beliau, begitu dikasihi dan di hargai. Lebih dari 30 rangkaian bunga berucap “Turut Berduka Cita” di pajang di halaman rumah. Polisi, security, kerabat, semua datang membantu.

Saya ingat waktu dulu, lukisan pertama yang saya lukis saya berikan untuk mbah. Bergambar vas bunga dengan latar belakang jendela dan rak buku. Lalu lukisan terakhirpun adalah hadiah untuk mbah, ulangtahun mbah yang ke-65 tahun. Namun tak terasa 5 tahun telah berlalu, tidak ada lagi yang menegur menyuruh kami sekeluarga memakai seatbelt sebelum berangkat. Tidak ada lagi yang mengajak kami ber-wisata kuliner sekeluarga. Tidak ada lagi terdengar jerih tawaNya yang memberi kami ketenangan hati, jiwa, pikiran.

Belum berapa lama, saya menginap di Bogor sendiri. Mbah menitip pesan pada saya “Nanti, rumah sakit keluarga Mangkuprawira Ara yang terusin ya. Ara yang urus pas Ara udah jadi dokter spesialis nantinya”. Kita memang sering membicarakan masa depan, saya pernah berjanji kalau beliau pasti akan melihat anak saya nantinya. Akan bisa memegang dan menggendong anak saya. Tapi janji itu terputus. Satu janji yang tidak akan pernah saya langgar, adalah untuk menjadi seseorang di kemudian hari yang pasti akan membanggakan mbah. Entah berapa banyak halangan yang akan saya lewati, tapi ini semua hanya untuk mbah.

6 Februari, pukul 18:40 9 jam sudah berlalu, saya cucu ke-2 bapak Sjafri masih merasakan bahwa semua ini hanya sekedar mimpi buruk yang akan berakhir esok hari. “Mbah”, ya, itu panggilan sayang yang dilontarkan oleh para cucu-Nya. Semua serasa tidak nyata, serasa palsu, it hurts too much to be this real.

Mbah… semua terasa begitu cepat. Maafin Ara yang dulu sering marah-marah sama mbah pas kecil. Sering grasak-grusuk naik ke atas tangga kalau lagi marah sama mbah. Maaf, Ara belum bisa terlalu banyak menghabiskan waktu sama mbah. Ara senang, Ara yang menjemput mbah saat terakhir kali keluar dari rumah sakit. Tapi, kenapa harus secepat ini??

Ara akan selalu berdoa buat mbah, Ara akan selalu simpan dalam hati semua pesan-pesan dari mbah. Yang tenang ya mbah disana, semoga air mata ini bisa berhenti menetes dan hati ini bisa mengikhlaskanMu pergi… ALLAH akan selalu bersamamu mbah, jangan lupa untuk datang ke mimpi Ara kapanpun mbah bisa ya… Ara sayang mbah, sayang banget.

(Biandra Az-Zahra)