Desember 2007


          Hanya dalam hitungan  jam, insya Allah kita akan meninggalkan tahun 2007 dengan penuh syukur, dan mulai memasuki tahun 2008. Sepatutnya kita merenung apa saja yang sudah dicapai bangsa selama  ini. Dan  apa saja yang sudah kita perbuat bagi negeri tercinta. Ya, patut diapresiasi, tidak sedikit keberhasilan pembangunan nasional di berbagai sisi kehidupan yang telah dicapai pada tahun 2007. Hal ini ditunjukkan oleh indikator  makro seperti semakin kondusifnya kondisi sosial-politik-keamanan di Aceh dari situasi keamanan yang parah dan begitu panjang, tingkat inflasi di bawah dua digit, suku bunga bank menurun, perkembangan ekspor yang meningkat, nilai tukar rupiah yang  menguat, indeks harga saham mencapai tingkat tertinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang lumayan mulai beringsut naik (walau tidak mencapai target).  Namun di sisi lain, selama ini masih terjadi hiruk pikuknya masalah yang dihadapi bangsa khususnya yang terjadi di lapangan. Masalah ricuhnya pilkada, kemiskinan, pengangguran, kesehatan dan gizi buruk, rendahnya akses pendidikan, keamanan, ketimpangan sosial, korupsi,  konflik sosial, bencana alam banjir-longsor-kebakaran hutan, dan pertanahan, masih menjadi unsur krusial.Sepertinya tak ada solusi tuntas.

  Walau di tahun 2007 bangsa Indonesia banyak mengalami keprihatinan namun di tahun depan   sebaiknya ada upaya dan sikap untuk  optimis dan tidak  memelihara  kesedihan hati. Mengapa? Karena saya yakin matahari sebagai sumber kehidupan masih terbit dari timur. Belum kiamat. Kalau  terlalu mengingat-ingat masa lalu,  itu sama  artinya kita menempatkan  diri  pada suasana yang tragis. Kita  bakal   terkungkung dalam perangkap keterpurukan. Kesedihan demi kesedihan tanpa berbuat apa-apa tak akan mampu mengatasi masalah. Hemat  saya, yang jauh lebih penting adalah berbuat yang terbaik  di posisi diri kita masing-masing  untuk keluarga, masyarakat, agama dan negeri tercinta ini. Insya Allah, apakah  sebagai presiden, menteri, gubernur, bupati/walikota, pejabat teras, pengusaha, profesional, dosen, pegawai biasa, sampai tukang beca sekalipun kita harus berbuat seoptimum mungkin.

Untuk mengurangi rasa duka, saya banyak mengutip beberapa untaian mutiara (huruf tebal) yang terdapat pada buku Don’t be Sad-La Tahzan karangan  Dr.Aidh bin Abdullah al-Qarni kaitannya dengan kondisi nasional  untuk mengantarkan bangsa ini memasuki tahun 2008:

Ø      Semua kejadian itu bukan hukuman Allah namun sebagai isyarat manusia harus selalu mengingat-Nya. Semua terjadi lebih karena ulah manusia dan kekeliruan sistem. Mulai dari lemahnya fokus strategi pembangunan dan manajemen pemerintahan sampai pada kurang efektifnya penerapan program reformasi di berbagai bidang, utamanya ekonomi dan hukum. Karena itu diperlukan evaluasi diri, perencanaan yang tepat, pengendalian dan pengawasan program secara ketat, ketegasan penegakan hukum, bertobat, bersabar, dan berbuat yang terbaik buat bangsaku. Keselamatan bagimu atas kesabaranmu (ar-Rad; 24). Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (az-Zumar; 10): Jangan bersedih, Tuhanmu mengampuni dosa dan menerima tau bat; seringlah memohon ampunan Allah; Ingatlah selalu kepada Allah; bekerja keraslah; Tunggulah  dengan sabar datangnya hasil yang membahagiakan; masih ada cara untuk memudahkan kita bersabar menghadapi setiap bencana.

Ø      Silang pendapat, misalnya dalam hal hasil pilkada, perbedaan pandangan tentang aliran agama, gerakan separatis, sampai timbulnya konflik horisontal dan vertikal mewarnai kehidupan bangsa selama ini. Tidak jarang sampai berdarah-darah. Jika tidak diatasi akan menimbulkan kerawanan keutuhan bangsa. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (al-Baqarah; 216): Jangan bersedih, ketika orang lain menzalimi, mencela dan meremehkan Anda; ketika kebaikan Anda tidak dihargai orang lain; kedengkian bukanlah sesuatu yang baru; maafkanlah perlakuan orang lain dan berbuat baiklah kepadanya;

Ø      Kecemasan masyarakat bisa jadi akan menimbulkan depresi berkepanjangan. Tidak tertutup kemungkinan ada orang yang putus asa dan mengambil jalan pintas yaitu menzalimi diri sendiri dan orang lain. Karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu (Ali ‘Imran; 153). Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami (Fathir; 34).  Jangan bersedih, selama Anda memiliki sepotong roti, segelas air dan sehelai pakaian di badan serta selembar tikar; jika Anda  berhadapan dengan masalah, justru seharusnya kuat menanggung dan tetap bersabar; carilah kebahagiaan di dalam diri Anda sendiri bukan dari sekeliling Anda.

Ø      Jangan berduka bangsaku. Mari mawas diri. Mari beroptimis diri. Percayalah Allah akan selalu beserta kita sejauh kita selalu dekat denganNYA dan berniat semata untuk memperoleh ridha-NYA: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (al-Baqarah; 155).

Artikel ini berupa adaptasi dari: Tb Sjafri Mangkuprawira, 2007, Rona

Wajah:Coretan Seorang Dosen.Jilid dua.IPB Press.

          Pentingnya kepedulian pihak perusahaan terhadap karyawan atau manajemen sumberdaya manusia (MSDM) selalu menjadi pusat perhatian berbagai pihak. Alasannya karena karyawan merupakan pelaku utama produksi dan pemasaran hasil. Tak mungkin strategi bisnis akan tercapai kalau tidak ada pelakunya. Karena itu selama karyawan bekerja mereka ditempatkan pada posisi penting sebagai aset perusahaan. Dalam hal ini yang diperhatikan oleh pihak manajemen adalah bagaimana caranya agar produktivitas kerja mereka dapat ditingkatkan melalui kegiatan-kegiatan pengembangan sumberdaya manusia. Bentuknya bisa melalui pendidikan dan pelatihan. Kalau produktivitas kerja semakin tinggi maka kinerja perusahaan akan meningkat. Akibatnya  kompensasi yang  bakal diterima karyawan pun akan bertambah. Dengan harapan, karyawan dan keluarganya mampu meningkatkan kesejahteraannya.

Pertanyaannya apakah perhatian pihak manajemen cuma sebatas pada sisi nilai output saja? Di sisi lain apakah  pihak manajemen tidak menyimak adanya karyawan yang  jenjang karirnya sudah mentok,  harapan harkat manusiawi yang menurun ketika karyawan berhenti bekerja, kehidupan keluarga yang terhenti setelah karyawan pensiun, dan terjadinya fenomena stres dan depresi kerja? Beberapa pertanyaan itu penting dijawab ketika perusahaan hanya menitik beratkan pada program yang relatif jangka pendek  yakni peningkatan produksi dan menurunkan biaya produksi dan demi kepuasan karyawan yang sifatnya sementara saja.

          Jangan sampai demi keunggulan kompetitif, perusahaan mendorong peningkatan produksi berikut dengan mengurangi  biaya tenaga kerja. Sementara di sisi lain unsur manusiawi karyawan nyaris diabaikan. Kalau ini dibiarkan maka dapat menjadi titik masalah kemanusiaan yang bakal semakin besar. Hal ini terjadi karena strategi yang diterapkan lebih pada efisiensi ekonomi ketimbang efisiensi sosial (motivasi, imbalan psikologis, kebutuhan mental yang nyaman, dsb). Padahal idealnya dua sisi efisiensi itu seharusnya seimbang. Kalau strategi terdahulu terus berkelanjutan, perusahaan berarti tak akan cukup bergairah untuk meningkatkan produktifitas dan biaya produksi yang rendah. Selain   itu perusahaan bakal tidak cukup cerdas atau memiliki kepekaan tinggi dalam mengelola karyawan yang karakaternya begitu beragam dalam menciptakan kepuasan terbaik bagi para karyawannya. Pada gilirannya kalau dua hal itu tidak terpecahkan akan mengakibatkan kesehatan mental kerja karyawan menurun.

         Untuk melindungi posisi karyawan dari pengabaian unsur manusiawi oleh pihak manajemen maka pendekatan yang dianggap terbaik adalah melalui penerapan model perilaku organisasi. Di dalam perilaku organisasi perhatian pokok adalah pada model kepemimpinan dan perilaku karyawan berikut unsur-unsur yang mempengaruhinya. Untuk itu perhatian sentral harus dipusatkan pada kegiatan mengelola keragaman dan stres karyawan secara optimum. Penerapan suasana kemitraan kerja antara manajemen dan karyawan, kepemimpinan yang nyaman, pemotivasian, dan pelatihan dapat diterapkan untuk meningkatkan mental kerja karyawan. Selain itu aspek-aspek membangun hubungan kerja (formal dan informal), pengembangan ketrampilan lunak (soft skills) manajemen dan karyawan, dan manjemen perubahan internal khususnya yang menyangkut imbalan non-finansial perlu lebih diperhatikan. Semua itu seharusnya tercermin dari strategi bisnis dan strategi SDM perusahaan yang berorientasi jangka panjang.

Menurut Badan Pusat Statistik dan Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2007 ini tercatat  warga buta aksara mencapai 18,1 juta orang dan sekitar 4,35 juta diantaranya tergolong usia produktif (15-44 tahun). Sementara, yang di atas 44 tahun terdapat 13,4 juta orang. Yang tragisnya dari semua yang buta aksara tersebut sebanyak 70 persen adalah perempuan. Bisa diduga angka-angka ini berpengaruh terhadap peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia.

Seperti diungkap Wikipidia (25 Desember 2007), pada tahun 2005, Indonesia menempati urutan 110 dari 177 negara, dengan indeks 0.697, turun dari posisi sebelumnya di urutan 102 dengan indeks 0.677 pada tahun 1999. Posisi ini cukup jauh dibandingkan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia (urutan 61/0.796), Thailand (urutan 73/0.778), Filipina (urutan 84/0.758) dan Vietnam (urutan 108/0.704).Pada tahun 2006 Indonesia mengalami kemajuan dengan angka IPM mencapai 0.711 dan berada diurutan 108, mengalahkan Vietnam yang mempunyai nilai 0.709. Kecenderungan dari angka IPM Indonesia adalah terus menerus naik (0.677 pada 1999, 0.697 pada 2005, dan 0.711 pada 2006) dan semakin mempersempit ketinggalanya dibanding negara-negara lain.  Pada tahun 2007 angka IPM Indonesia kembali naik menjadi 0.728. Laporan ini dikeluarkan oleh UNDP pada 27 November 2007, Indonesia berada pada peringkat 108.Batasan untuk klasifikasi negara maju adalah nilai IPM diatas 0.800.

Dalam keadaan IPM Indonesia yang masih dibawah standar negara maju maka pertanyaannya apakah untuk mendongkrak angka indeks, termasuk rendahnya tingkat melek huruf, tersebut semata-mata harus dilakukan oleh pemerintah saja? Seharusnya tidak demikian. Karena sifatnya jangka panjang maka kepedulian semua komponen masyarakat sangat dibutuhkan. Mulai di tingkat rumahtangga sampai nasional. Tidak ada salahnya, misalnya, kalau ada asisten rumahtangga yang buta aksara kemudian oleh sang majikan dikirim ke tempat kursus. Bisa juga dilakukan  kalau di rumah ada anggota keluarga yang bisa menyempatkan diri untuk mengajarkan tentang aksara kepada asisten rumahtangga tersebut. Begitu pula posyandu (pelayanan terpadu) di tingkat desa atau kelurahan seharusnya bisa mengadakan kursus semacam itu. Dengan demikian semua kegiatan dapat digolongkan sebagai sebuah gerakan moral.

Bagaimana peran perusahaan dalam hal ini? Peran perusahaan dalam ikut meningkatkan kesejahteraan sosial dan lingkungan diwujudkan dalam bentuk Tanggung Jawab Sosial Korporat (TJSK) atau Corporate Social Responsibility. Perusahaan diposisikan bukan saja sebagai entitas bisnis semata tetapi juga sebagai anggota sistem sosial. Tidak saja sekedar sebagai kegiatan ekonomi untuk meningkatkan keuntungannya tetapi juga perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan. Karena itu  harus disadari pula keberlangsungan hidup perusahaan sangat ditentukan oleh dimensi sosial. Banyak fakta membuktikan bahwa masyarakat bisa berperilaku resistensi ketika suatu perusahaan mengabaikan unsur-unsur sosial dan lingkungan. Karena itu program-program yang dapat dilakukan oleh perusahaan bukan saja dalam bentuk memberikan bantuan langsung dana kepada pihak lembaga penyelenggara pemberantasan buta aksara. Namun dapat pula mendirikan pusat-pusat kursus buta aksara plus segala fasilitasnya di sekitar perusahaan. Termasuk juga memberikan pelayanan pelatihan bagi para instruktur kursus buta aksara.

Pada umumnya mereka yang buta aksara adalah dari golongan miskin. Mereka, disamping mutu sumberdaya manusianya rendah, juga tidak memiliki akses finansial, teknologi, dan pasar dalam kegiatan ekonomi. Karena itu sebaiknya perusahaan yang menerapkan TJSK perlu melihat akar persoalan terjadinya penduduk yang mengalami buta aksara yakni kemiskinan. Mereka miskin karena buta aksara dan  mereka buta aksara karena memang miskin. Untuk itu perlu diterapkan model kursus yang terintegrasi dengan kegiatan eknomi. Artinya setelah warga menyelesaikan kursus, termasuk ketrampilan, mereka sudah disiapkan untuk menjadi wirausaha kecil mikro  plus kredit sangat lunak disertai supervisi intensif. Dengan demikian yang dilakukan oleh perusahaan adalah selain memberi cara mengail ikan juga plus alat kailnya.Secara gradual derajad kebergantungan mereka diharapkan bakal semakin menurun. Dengan kata lain itu terjadi akibat proses pembelajaran yang menciptakan kreatifitas dan motivasi berwirausaha, serta jiwa mandiri di kalangan penduduk. Bukan belas kasih semata.

Etika bisnis tidak terbatas hanya mengetengahkan kaidah-kaidah berbisnis yang baik (standar moral) dalam pengertian transaksi jual beli produk saja. Etika juga menyangkut kaidah yang terkait dengan hubungan manajemen dan karyawan. Apa karakteristik yang lebih rinci dari masalah deviasi etika bisnis seperti itu di dalam perusahaan? Yang paling nyata terlihat adalah terjadinya konflik atasan dan bawahan. Hal ini timbul antara lain akibat ketidakadilan dalam penilaian kinerja, manajemen karir,  manajemen kompensasi, dan sistem pengawasan dan pengembangan SDM yang diskriminatif. Semakin diskriminatif perlakuan manajemen terhadap karyawannya semakin jauh perusahaan menerapkan etika bisnis yang sebenarnya. Pada gilirannya akan menggangu proses dan kinerja bisnis perusahaan. Namun dalam prakteknya pembatasan sesuatu keputusan manajemen itu etis atau tidak selalu menjadi konflik baru. Hal ini karena lemahnya pemahaman tentang apa itu yang disebut etika bisnis, masalah etika, dan lingkup serta pendekatan pemecahannya.

Wujud dari masalah etika bisnis dapat dicirikan oleh adanya faktor-faktor: (1) berkaitan dengan hati nurani, standar moral, atau nilai terdalam dari manusia, (2) karena masalahnya  rumit, maka cenderung akan timbul perbedaan persepsi tentang sesuatu yang buruk atau tidak buruk; membahagiakan atau menjengkelkan, (3) menghadapi pilihan yang serba salah, contoh kandungan formalin dalam produk makanan; pilihannya kalau mau dapat untung maka biarkan saja tetapi harus siap dengan citra buruk atau  menarik produk dari pasar namun bakal merugi, dan (4) kemajemukan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan; misalnya apakah perusahaan perlu menggunakan teknologi padat modal namun dilakukan PHK atau padat karya tetapi proses produknya akan kurang efisien.

Bentuk akibat penyimpangan etika bisnis internal perusahaan antara lain terjadinya ketegangan diametris hubungan atasan dengan bawahan.  Seperti diungkapkan di atas hal ini terjadi karena ketimpangan antara lain dalam  proses penilaian kinerja, standar penilaian, dan perbedaan persepsi atasan-bawahan tentang hasil penilaian kinerja. Selain itu ukuran atau standar tentang karir sering tidak jelas. Dalam hal ini pihak manajemen memberlakukan tindakan yang tidak adil. Mereka menetapkan nilai sikap, gaya hubungan kepada atasan, dan loyalitas kepada atasan yang tinggi lebih besar ketimbang nilai kinerja faktual karyawannya. Kasus lainnya adalah diterapkannya model nepotisme dalam penseleksian karyawan baru. Pertimbangan-pertimbangan rasional diabaikan. Termasuk dalam proses rekrutmen internal. Jelas saja mereka yang potensial tersisihkan. Pada gilirannya akan terjadi kekecewaan karyawan yang unggul dan kemudian keluar dari perusahaan.

Dari contoh-contoh di atas maka tampak pihak perusahaan lebih mengutamakan kepentingan meraih keuntungan ketimbangan menciptakan kepentingan karyawan secara adil.Untuk memperkecil terjadi penyimpangan penerapan etika bisnis maka perusahaan perlu  (a) mengenali respon orang terhadap suatu masalah ketika dihadapkan pada sesuatu yang  dilematis dan ketidak-konsistenan, dan (b) melihat etika bisnis dari resiko yang dihadapi seseorang apakah dengan keputusan personal ataukah keputusan sebagian besar orang lain ataukah pertimbangan keputusan berbasis  kepentingan perusahaan yang lebih besar secara keseluruhan.   

Gary Hamel (2007; The Future of Management; Harvard Business School Press,USA) beberapa tahun lalu telah mengadakan studi tentang sejarah inovasi manajemen. Studi dilakukan terhadap lebih dari 100 terobosan manajemen selama dua abad terakhir. Tidak dapat dielakan hal pokok dalam pelaksanaan manajemen sering mengarah pada pergeseran signifikan dalam posisi persaingan, dan sering menghasilkan keunggulan abadi pada perusahaan-perusahaan pionir. Diambil contoh, keberhasilan perusahaan-perusahaan seperti General Electric, DuPont,Toyota, and Visa sebagai pemimpin bisnis gobal. Keunggulannya terletak pada produk-produk hebat, penerapan karakter kedisiplinan, dan pemimpin yang berpandangan jauh ke depan. Itulah yang disebut sebagai inovasi manajemen. Beberapa dimensi penting yang diterapkan dalam  model inovasi manajemen sehingga perusahaan kelas dunia mampu meraih keunggulan global  adalah dalam hal pendekatan pengelolaan berbasis sains, pengalokasian kapital, kebijakan yang arif kepada setiap karyawan, dan membangun konsorsium global.

General Electric (GE) merupakan contoh perusahaan yang menerapkan pengelolaan bisnis berbasis sains. Pada awal 1900’an GE telah menyempurnakan temuan-temuan invensi dari Thomas Edison yang terkenal itu dengan mengembangkan laboratorium riset industri. Keberhasilan GE karena diterapkannya disiplin manajemen berbasis proses penemuan ilmiah yang rumit. Ditegaskan  bahwa laboratorium ini telah mampu menghasilkan temuan-temuan kecil setiap 10 hari dan terobosan-terobosan besar setiap enam bulan. Ini bukanlah bualan percuma. Lebih dari setengah abad pada abad ke-20,GE menghasilkan paten terbanyak ketimbang perusahaan-perusahaan lainnya.

Sementara itu perusahaan DuPont pada tahun 1903, telah berperan dalam memolopori pengembangan teknik capital-budgeting dalam mengkalkulasi keuntungan dari investasi. Beberapa tahun kemudian, perusahaan juga mengembangkan cara standarisasi dalam membandingkan kinerja dari berbagai departemen dalam suatu perusahaan. Perusahaan juga menemukan model bagaimana mengalokasikan kapital secara rasional dalam penyusunan suatu proyek menarik yang potensial menguntungkan. Kemampuan dalam menghasilkan  beragam model keputusan dalam pengalokasian modal telah membuat DuPont menjadi salah satu raksasa bisnis Amerika.

 Dalam bidang otomotif, Toyota sebagai rajanya  mobil memiliki kemampuan mengembangkan para karyawannya. Karena itu perusahaan tersebut memiliki derajad efisiensi dan mutu produk yang tinggi. Lebih dari 40 tahun lamanya, telah dilakukan perbaikan  kapasitas Toyota yang bersinambung. Pendekatannya adalah memberikan kepercayaan kepada para karyawannya bahwa mereka mampu untuk memecahkan masalah yang kompleks. Karena itulah kadang-kadang orang menyebut Sistem Produksi Toyota sebagai “Sistem Manusia Berpikir”. Pada tahun 2005, perusahaan menerima lebih dari 540.000 gagasan perbaikan dari karyawan Jepang. Inilah yang disebut sebagai kebijakan Toyota yang arif dalam menghargai gagasan-gagasan para karyawan.

Sebagai contoh lain tentang inovasi manajemen adalah membangun konsorsium. Visa adalah perusahaan dunia pertama yang berhasil menerapkan inovasi kelembagaan. Ketika pada awal 1970’an bank-bank Visa membentuk sebuah konsorsium mereka meletakkan dasar untuk menjadi perusahaan satu-satunya di Amerika, yang memiliki  cabang dimana-mana. Tantangan manajemennya adalah membangun sebuah organisasi yang memungkinkan bank-bank untuk berkompetisi dalam hal menarik pelanggan termasuk dalam hal  infrastruktur, standar, dan pengembangan merek terkenal. Sekarang, Visa diibaratkan sebagai jaring laba-laba yang mampu mengembangkan jejaring bisnisnya dengan lebih dari 21.000 lembaga keuangan dan 1,3 milyar pemegang kartu. Setiap tahunnya, Visa mampu meraup dua triliun dolar  dari jaringan yang dibangunnya-atau kira-kira sebanyak 60% dari transaksi kartu kredit sedunia.

Kasus-kasus di atas hingga kini menunjukkan secara jelas unsur keputusan yang cepat dan cerdas dalam inovasi manajemen sering berperan membantu perusahaan mengembangkan keunggulan yang bertahan lama. Tampaknya  tak ada faktor yang mencerminkan instrumen yang sama dalam menjamin keberhasilan persaingan jangka panjang. Artinya setiap perusahaan memiliki inovasi manajemen dengan teknik dan keunggulannya masing-masing.  

        Mengapa setelah beberapa dekade para perancang mobil Amerika  gagal untuk menduplikasi sistem manufaktur mobil Toyota yang hiper-efisien? Pertanyaan inilah yang dikemukakan Gary Hemel bersama Bill Breen, penulis buku laris berjudul The Future of Management (2007, Harvard Business School Press,USA). Seharusnya setelah dua dekade perusahaan-perusahaan mobil Amerika melakukan benchmarking, mereka juga bisa sejajar dengan Toyota. Tetapi mengapa tidak terjadi?

      Jawabannya adalah bahwa karakter pabrik Toyota memiliki beberapa keunggulan: (1) hampir tak ada satu pun perusahaan mobil yang  tingkat kerusakan produksinya begitu sedikit dengan alokasi waktu kerja yang relatif hemat seperti Toyota; (2) keunggulan Toyota juga terletak pada budaya kerjanya yang disebut wa dan nemawshi  yaitu spirit kerjasama dan konsultasi manajemen dengan karyawan; ini sebagai salah satu keunikan bangsa Jepang; di Amerika hal ini sulit terjadi; (3) ketika Toyota mendirikan pabriknya di USA, kultur tersebut tersebut tetap eksis; (4) proses produksi mendasarkan diri pada otomatisasi, keeratan hubungan dengan sistem pemasok, penerapan sistem just-in-time; sementara walau hal itu diterapkan pada perusahaan-perusahaan Amerika tetapi ternyata masih kalah unggul dengan Toyota; dan (5) keunggulan Toyota tak mungkin tercapai tanpa didasarkan pada kapabilitas karyawan dan tanggung jawab para pemimpinnya yang tinggi.         

         Salah satu yang membedakan sistem manufaktur dengan perusahaan mobil Amerika yaitu Toyota memposisikan karyawan lini pertama sebagai pemeran segalanya ketimbang mesin produksi itu sendiri. Artinya mereka dikembangkan lewat pelatihan-pelatihan berkelanjutan dan diberikan instrumen kerja yang sangat baru dan lengkap. Mereka dibentuk untuk menjadi perencana-pengambil keputusan, inovator, dan agen perubahan. Dan upaya-upayanya tak pernah berhenti. Bagaimana perusahaan Amerika? Pemain utama inovasi tidak terletak pada karyawan tingkat lini. Mereka mengandalkan pada para akhli untuk mengembangkan perbaikan-perbaikan mutu dan efisiensi. Karena itu untuk mengejar ketinggalannya, perusahaan Amerika bekerja keras mengembangkan kemampuan intelektual para karyawannya. Jelas saja mereka harus mengeluarkan ongkos yang mahal untuk menerapkan sistem inovasi manajemen yang kental dengan paham feodal intelektual. Terlalu menghargai kalangan intelektual.

        Jadi intinya, suatu inovasi manajemen cenderung menghasilkan keunggulan kompetitif ketika satu atau lebih dari tiga syarat dipenuhi. Yang pertama adalah inovasi didasarkan pada prinsip manajemen baru dengan meninggalkan sisi-sisi yang orthodox; kedua bahwa inovasi merupakan suatu proses yang sistemik dari suatu proses dan metode yang digunakan; dan ketiga, inovasi merupakan bagian dari suatu program invensi jangka panjang yang tak pernah berhenti. Kemudian peran karyawan (sumberdaya manusia) sebagai inovator sekaligus agen pembaharu menjadi sangat penting dalam menciptakan keunggulan. Dalam hal ini  peranan budaya kerja sangat strategis.  

          Peristilahan tentang jantung dalam khasanah bahasa Indonesia cukup kaya. Di antaranya kita kenal istilah jantung kota, jantung kehidupan, makan hati berulam jantung, dan jantung hati. Dalam bukunya berjudul The Mythology of the Heart (Barnard, 2002), Dr.Frank Nager menyajikan uraian yang mengesankan, betapa pentingnya organ jantung dalam semua budaya. Walaupun besarnya cuma sekepalan tangan anda dan beratnya sekitar 250-360 gram, jantung dipandang sebagai pusat kehidupan, sumber kecendekiaan, keinginan, keberanian, perasaan, dan emosi kita. Saking begitu pentingnya posisi jantung maka dalam bahasa cinta sering diungkapkan sebagai curahan hati.Misalnya “kaulah jantung hatiku…aku tak bisa hidup tanpa kau”. Sangat  janggal kedengarannya ya, kalau tiba-tiba si Robert bercurhat pada neng Culun dengan ungkapan, “kaulah ginjal hatiku” atau “kaulah usus besar hatiku”. 

         Jantung adalah satu-satunya organ dalam tubuh kita yang langsung bereaksi terhadap gairah, stres, atau kejadian yang emosional. Jika kita ketakutan, marah, atau  jatuh cinta, jantung kitalah yang pertama kali bereaksi terhadap semua jenis perasaan itu. Jantung akan berdetak lebih kencang dan memberikan sejumlah sinyal. Kemudian kita merabanya. Di sisi lain, jantung berfungsi sebagai motor penggerak dan sekaligus pompa yang mensirkulasikan darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Dengan demikian, fungsi jantung dalam tubuh demikian sangat pentingnya. Tanpa jantung sehat atau rusak tak berfungsi, kita bukanlah apa-apa. Nah itulah yang terjadi pada  jantung saya yang harus dioperasi pintas koroner.

Hari ini jantung saya, pascaoperasi, genap berusia lima tahun. Operasi untuk membuat “jembatan” pada empat saluran yang  tersumbat 100% itu makan waktu hampir lima jam. Berlangsung baik berkat perlindungan Allah, tangan-tangan terampil para dokter dan tenaga medis lainnya. Tentunya dengan dukungan fasilitas moderen kedokteran. Mengapa jantung saya dioperasi?

Dalam perjalanan hidup, saya pernah alpa dalam menerapkan gaya perilaku sehat. Pasalnya,  bertahun-tahun, saya begitu sering terjun bebas untuk mengkonsumsi makanan khususnya yang berlemak secara berlebihan. Sate dan gulai kambing, jeroan, dan mi kocok telah menjadi menu favorit yang sulit ditinggalkan. Lalu intensitas bekerja terlalu kencang tanpa dibarengi olahraga yang cukup. Akibatnya jantung saya pernah protes dan bahkan ngambek karena  saya telah mengabaikannya. Hal itu dicirikan  oleh rasa sesak napas disertai rasa nyeri di sekitar dada. Badan jelas terasa lemah banget. Gara-gara itu, tidak kurang dari empat kali (1999-2001) saya pernah meringkuk di rumah sakit. Nginap rata-rata sekitar lima-tujuh hari. Dengan bantuan tabung  oksigen, obat dan istirahat cukup, alhamdulillah saya kembali pulih sementara.

Namun ketika rasa lidah ini semakin tak terkendali maka ketidak-disiplinan untuk mengkonsumsi makanan sehat semakin menjadi-jadi. Nah, hasilnya? Kandungan kolesterol total, trigliseride, dan asam urat di atas ambang normal. Flak berat terdapat di empat saluran berkadar 100%. Maka  jatuhlah vonis dokter kepada saya  berupa eksekusi segera operasi jantung pintas koroner. Saya tak berdaya untuk naik “banding” atau “kasasi” minta dibebaskan dari operasi. Mohon ampun pun tidak bisa. Tak ada lagi peluang “peninjauan kembali” diagnosis. Setelah merenung mendalam sambil memohon petunjuk Allah dan dukungan keluarga, akhirnya saya siap menghadapinya.

          Sudah lebih  dari tiga tahun ini saya kembali untuk lebih ‘sopan’ dalam hal makanan. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (al-Maa’idah; 88). Makanan berkadar lemak tinggi,  sudah jarang disentuh. Kecuali di awal bulan Syawal (suasana lebaran) tetapi dengan sangat terkontrol. Sebaliknya buah-buahan segar selalu menjadi santapan sehari-hari. Air minum dari rebusan daun salam dan tanaman putri malu, menjadi langganan tetap minuman saya tiap hari. Olahraga jalan kaki sejauh 1,5 kilometer dilakukan secara teratur, dua kali dalam seminggu. Itu dilakukan di halaman rumah saya yang relatif cukup  luas.

         Obat triatec dan norvask serta aspilet, harus saya telan masing-masing sebutir tiap hari; seumur hidup.Manfaatnya untuk menjaga tensi dan kelancaran aliran darah dalam batas normal. Dukungan suplemen makanan; multi vitamin-mineral nutrilite, dan salmon omega-9, telah membantu fisik saya terasa fit. Di dalam dompet saya selalu tersimpan obat cedocard yang baru digunakan (di bawah lidah) kalau saya tiba-tiba merasa sesak napas. Ini pertolongan pertama untuk melancarkan aliran darah. Insya Allah semua itu saya lakukan demi memelihara organ tubuh titipan-Nya. Alhamdulillah, kemudian setelah tiga bulan operasi, demi syiar, saya  menyelesaikan tulisan yang berisi ulasan tentang jantung dan kronologis jalannya operasi. Dan diterbitkan dalam bentuk buku populer berjudul “Jantungku Harapanku”.   

Laman Berikutnya »