Mei 2007


Mengapa akhir-akhir ini semakin kerap para karyaan berdemo? Salah satu penyulutnya adalah masalah kompensasi. Perusahaan dianggap sering tidak adil dalam menerapkan manajemen kompensasi. Selain itu percepatan besaran kompensasi jauh lebih lambat dibanding dengan percepatan peningkatan biaya hidup yang gila-gilaan.

Kompensasi meliputi bentuk pembayaran tunai langsung, pembayaran tidak langsung dalam bentuk manfaat karyawan, dan insentif untuk memotivasi karyawan agar bekerja keras dan juga seharusnya cerdas untuk mencapai produktivitas yang semakin tinggi. Kompensasi merupakan  sebuah komponen penting dalam hubungannya  dengan karyawan. Dia sangat dipengaruhi faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan. Kompensasi sangat dipengaruhi oleh tekanan-tekanan faktor-faktor pasar kerja, posisi rebut tawar kolektif, peraturan pemerintah, filosofi manajemen puncak tentang pembayaran dan manfaat termasuk tantangan dari kompensasi internasional. (lebih…)

  

Penilaian tentang kinerja individu karyawan semakin penting ketika perusahaan akan melakukan reposisi karyawan. Artinya bagaimana perusahaan harus mengetahui factor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja. Hasil analisis akan bermanfaat untuk membuat program pengembangan SDM sacara optimum. Pada gilirannya kinerja individu akan mencerminkan derajat kompetisi suatu perusahaan. Apakah sebenarnya arti kinerja itu? Berikut saya kutip ulasan yang ada dalam buku “Performance Appraisal”, karangan Veithzal Rivai Ahmad Fawzi MB, 2005, Rajagrafindo Persada.

Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Jika dilihat dari asal katanya, kata kinerja adalah terjemahan dari kata performance, yang menurut The Scribner-Bantam English Distionary, terbitan Amerika Serikat dan Canada (1979), berasal dari akar kata “to perform” dengan beberapa “entries” yaitu: (1) melakukan, menjalankan, melaksanakan (to do or carry out, execute); (2) memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar ( to discharge of fulfill; as vow); (3) melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (to execute or complete an understaking); dan (4) melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin (to do what is expected of a person machine). Beberapa pengertian berikut ini akan memperkaya wawasan kita tentang kinerja. (lebih…)

Coretan ini mengingatkan saya akan kejadian nyata ketika saya sedang merenovasi rumah tiga puluh tahun lalu. Sore hari itu, truk berisi pasir datang ke halaman rumah. Para kuli segera menurunkan pasir untuk keperluan  bangunan. Selang beberapa menit saya panggil asisten rumahtangga (ART) saya, namanya Odah. ‘Odaah tolong aiir’, kata saya kepada dia. ‘Buat siapa pak’? tanyanya. ‘Itu tuh buat para kuli pasir’. Dengan sigap Odah menyiapkan dan terus membawa air ke samping rumah buat para kuli. (lebih…)

 

 

 Apakah kita termasuk orang yang kalau berkomunikasi dengan orang lain suka ngelantur atau ngawur ?.Ciri-ciri orang yang seperti itu gampang dilihat. Yakni mereka yang diumpamakan selalu senang membuka mulutnya lalu diisi kedua belah kakinya sampai-sampai kalau ngomong tidak beraturan, atau tidak bermakna. Selain itu dicirikan pula oleh perilaku yang gemar ngomong tanpa tema pembicaraan yang jelas, bicara tidak  kenal waktu, dan  pada orang yang tidak tepat. Orang seperti itu dikelompokan sebagai mereka yang tidak memiliki ketrampilan komunikasi antarpersonal (KKAP).

 

Mereka yang piawai dalam KKAP biasanya dicirikan oleh kemampuannya dalam mengarahkan, memotivasi, dan bekerjasama secara efektif dengan orang lain. Selain  itu mampu memahami pemikiran orang lain dengan jelas. Semuanya berbasis pada kesadaran diri. Jadi orang seperti itu, sebelum mampu memahami orang lain, seharusnya mampu memahami dirinya, perasaannya, keyakinannya, nilai pribadinya, sikap, persepsi tentang lingkungan, dan motivasi untuk memperoleh sesuatu yang patut dikerjakannya. Hal demikian membantunya untuk menerima kenyataan bahwa tiap orang adalah berbeda dalam hal ketrampilan dan kemampuan, keyakinan, nilai, dan keinginannya. (lebih…)


Kalau ada diantara kita membutuhkan teman, saya adalah salah satunya. Teman bagi saya adalah sebagai kebutuhan. Ketika  ingin mencurahkan hati, saya butuh teman. Ketika butuh informasi juga demikian. Ketika dalam kebahagiaan saya butuh teman untuk berbagi rasa. Dalam kesulitan yang saya alami terkadang saya sampaikan kepada teman. Ketika akan tukar pikiran pun khususnya dalam menggali pendapat tak luput saya perlu  teman. Bahkan dengan komunikasi lewat teman, saya sangat menikmati gurau gelak tawa. Sebaliknya ketika teman bersedih hati, saya harus bersimpati, berempati dan mendoakannya.         

Sosok seorang teman bisa jadi semakin menarik ketika dimensi pertemanan didefinisikan. Teman bisa diartikan seseorang yang mau mendengar dengan penuh simpati dan empati terhadap lawan komunikasinya. Kemudian di setiap diskusi topik pembicaraan dia mencoba mengomentari. Intinya, teman mampu membangun suasana komunikasi yang hangat dan  harmonis. Ada timbal balik. Dalam situasi dimana kalau punya ide si teman mendukung, saya gembira sambil berucap alhamdulillah-terimakasih. Begitu pula dalam situasi kalau punya ide ”ditentang” oleh teman, saya pun tak patut untuk merasa kesal. Mengapa? Karena masih ada seseorang yang masih kritis dan mau mengingatkan saya. Daripada diam seribu bisu dan bahkan apatis atas ide saya. Jadi saya  pun berterimakasih dan  harus menilai diri mengapa ide saya itu tidak diterima. Lalu  mencoba memperbaiki dan menyampaikannya kembali ke teman bersangkutan. Disitu terjadi saling nasehat menasehati di jalan kebenaran dan  kesabaran. (lebih…)

Mengenal situasi organisasi seperti dalam bisnis,  berarti mendorong manajer untuk mengetahui apa masalah yang diduga timbul dalam ruang dan  waktu tertentu. Apabila situasi yang faktual ternyata menyimpang dari situasi yang diinginkan, misalnya oleh konsumen atau pelanggan, berarti tentunya ada permasalahan. Dengan kata lain telah terjadi ketidakpuasan di kalangan khalayak akibat penyimpangan-penyimpangan baik dalam aspek pencapaian kebutuhan organisasi maupun dalam pemanfaatan potensi yang seharusnya dipakai. Begitu pula kalau suatu waktu  produktivitas kerja karyawan  dalam proses produksi mengalami penurunan atau dibawah standar perusahaan. Itu  berarti perusahaan sedang mengalami permasalahan kinerja karyawan.

Tidak jarang ditemukan beberapa kesulitan atau usaha-usaha yang sia-sia dalam menghadapi situasi masalah mutu SDM. Hal ini karena digunakannya suatu pendekatan perasaan saja. Mungkin saja manajer pernah mengalaminya dengan ciri-ciri  sebagai berikut (Mangkuprawira, dalam Margono, 1986) :

a.       Terlalu cepat menarik kesimpulan tentang penyebab timbulnya kesulitan. Dalam keadaan demikian tindakan manajer yang kemudian diambil biasanya didasarkan pada kesalahan hasil analisis faktor penyebab masalah. Atau hanya didasarkan pada unsur perasaan manajer saja. Analisis situasi tidak dilakukan secara tajam.

b.      Terlalu berani berspekulasi. Suatu proses pertukaran pendapat yang tak menentu (tanpa didukung teori dan data empiris) akan sukar menentukan sejumlah faktor-faktor penyebab faktual timbulnya suatu masalah. Dengan demikian terjadi pemborosan waktu dan biaya. Padahal jika lewat suatu penetapan masalah dan pengujian terhadap faktor penyebab secara hati-hati maka manajer seharusnya lebih yakin mana tindakannya yang dinilai benar dan efisien.

c.       Kegagalan menguji faktor-faktor penyebab secara efisien tanpa alat uji yang tepat, menyebabkan penggunaan dana akan merupakan pemborosan. Begitu pula pemanfaatan waktu yang banyak akan percuma saja. (lebih…)

Di pagi cerah ini  seperti biasa saya senang berjalan keliling halaman di belakang rumah. Saya memperhatikan pohon salam, jambu, mangga, sawo, sirsak, rambutan binjai, nangka, dan rumput hijau segar, bunga bakung, bunga melati, kembang sepatu, dan anggrek.  Di situ tergambarkan ketinggian dan kerindangan pohon yang beragam. Namun semua secara kolektif telah memberikan kenyamanan  semarak hijau segar dengan bunga-bunga indah. Desir angin pagi ditambah sekali-sekali bunyi cicit burung, dan capung serta kupu-kupu yang berterbangan membuat perasaan saya semakin hanyut dalam kedamaian.

Setelah puas menikmati udara segar pagi di luar, kemudian saya masuk ke dalam rumah melihat acara televisi nasional atau membaca koran. Disamping ada berita-berita menyejukkan, di situ ada juga berita yang kontras dibanding ketika saya melihat tanaman di halaman. Yaitu  tentang sifat manusia dalam unjuk rasa dan konflik yang dipenuhi oleh angkara murka.  Berita pagi itu memperlihatkan orang-orang angkuh dan pemarah.  Keonaran itu membuat hati ini sedih, jauh dari kedamaian. Manusia diperlakukan begitu rendahnya berhadapan dengan benteng ketinggian hati.

(lebih…)

Laman Berikutnya »