Kemiskinan


PROPOSISI: semakin bahagia seseorang, semakin banyak berderma ataukah semakin banyak seseorang berderma, semakin bahagia dirinya. Diduga keduanya bisa saja terjadi. Semakin bahagia seseorang semakin gampang memberi buat orang yang membutuhkannya. Tetapi ilmuwan menyatakan bahwa pada akhirnya efek kumulatif dari tingkah laku yang dermawan membuat seseorang lebih bahagia. Kesimpulan dari polling yang dilakukan terhadap 19.000 orang dewasa di 24 negara pada tahun 2011 menunjukkan tidak ada hubungan positif yang mutlak antara kekayaan dengan kebahagiaan.

Laporan yang disampaikan oleh The Economist bahwa dari angka indeks kebahagiaan posisi rakyat Indonesia jauh lebih bahagia ketimbang rakyat Singapura. Kebahagiaan seseorang tidak diukur dari jumlah hartanya tetapi darimana asalnya dan bagaimana memanfaatkan hartanya. Mereka yang mengumpulkan harta dari jalur halal dan selalu berderma buat orang lain akan jauh lebih berbahagia dibanding mereka yang mengumpulkan harta dari korupsi dan kikir dalam berbagi.

Iklan

 

       Bulan ramadhan mengandung tiga hidayah buat mereka yang berpuasa dengan khusyu. Yakni memeroleh rahmat bathiniah, ampunan dosa, dan terbebas dari api neraka. Itulah yang menjadikan idaman kalangan muslim. Tinggal lagi bagaimana mengimplentasikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya agar dapat memenuhi persyaratan memeroleh hidayah tersebut.

        Salah satu fenomena sosial yang marak dalam bulan ramadhan adalah berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa seperti anak yatim dari keluarga miskin. Bisa berbentuk berbuka bersama, penyerahan bingkisan lebaran, dan juga uang santunan pendidikan. Tak kurang para artis dan pejabat dan partai politik seolah berlomba untuk menyelenggarakannya. Media TV menjadi salah satu jalur untuk menginformasikan kegiatan seperti itu. Tentunya perlu kita sambut kegiatan yang mulia itu.

       Kegiatan itu akan lebih bermakna lagi sekiranya berlanjut di hari atau bulan-bulan berikutnya. Karena yang dimaknai dari ibadah adalah tidak mengenal waktu dan tempat. Populernya kapan dan dimana saja. Namun demikian ibadah seperti berbagi itu haruslah dalam konteks investasi pendidikan dan pembangkitan usaha mencari nafkah. Artinya dengan berbagi uang jangan sampai membangun sifat bergantung pada orang lain. Uang yang dibagikan yang insya Allah berkelanjutan seharusnya bisa menjadi modal usaha atau biaya untuk pendidikan. Jangan memberi ikan tetapi berilah kail dan cara memancingnya. Pada gilirannya mereka diharapkan mampu mandiri dalam menghidupi diri dan keluarga.

 

         Adakah beda antara kemiskinan absolut dan kemiskinan nurani? Beda dua bentuk kemiskinan itu sangat signifikan. Kemiskinan absolut disebabkan minimnya, bahkan nol, akses sumberdaya fisik dan non-fisik yang dimiliki seseorang untuk berusaha. Yang dimiliki tinggal tenaganya saja. Akibatnya kebutuhan hidup walau minimum tidak terpenuhi secara cukup. Sementara kemiskinan nurani tidak selalu sejalan dengan kemiskinan absolut. Artinya bisa jadi secara fisik seseorang kaya harta atau berstatus sosial relatif tinggi tetapi ternyata miskin nurani. Lebih tegasnya kemiskinan nurani ditunjukkan dengan kurangnya kepekaan dalam bentuk kepeduliaan dari seseorang atau sekelompok orang akan keadaan lingkungan masyarakat yang tertinggal.

          Sebaliknya mereka yang tergolong miskin harta bisa jadi kaya akan nurani. Saya sering meneteskan air mata ketika melihat acara serial khusus di salah satu saluran televisi dimana ada seseorang yang termasuk golongan tidak kaya, hidup pas-pasan, ternyata secara ikhlas mau menolong mereka yang membutuhkan bantuannya. Ada yang membantu dalam bentuk uang seadanya, pakaian, makanan, tenaga dan bahkan ada yang mendonorkan darahnya untuk membantu seseorang yang akan dioperasi. Ternyata di dalam nuraninya tersimpan mutiara hati kepedulian untuk merasakan penderitaan orang lain. Itulah suatu miniatur sosial si miskin harta tapi kaya nurani. Namun yang jelas ada juga seseorang yang kaya harta dan sekaligus kaya nurani. Subhanallah.

         Ketika beberapa hari lalu tersiar berita ada anggota DPR yang jadi tersangka lagi karena kasus suap untuk suatu proyek tertentu, saya hanya mengurut dada. Betapa begitu galaunya hati ketika kemiskinan masih merajalela namun di sudut sana ada individu yang miskin nurani. Mudahnya keputusan untuk berbuat moral hazard seakan tak ada lagi kisi-kisi norma etika berkehidupan sosial. Solidaritas sosial dikorbankan demi kepentingan individu.

         Bandingkan dengan fenomena ini yakni kalau DPR sedang membahas adanya berbagai fasilitas mewah DPR. Pasti mereka tersenyum simpul dan mengiakan. Mengapa mereka begitu teganya menutup mata-telinga dan hati ditengah-tengah penderitaan rakyat? Dimanakah kekayaan nurani mereka yang mengaku dirinya wakil rakyat? Kemana bersembunyinya hati nurani mereka yang tergolong lantang sering mengeritik kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini?

 

        Jumlah penduduk miskin di Indonesia kini diperkirakan mencapai 35 juta jiwa. Jumlah itu tidaklah sedikit. Dan berkait dengan akses kesejahteraan sosial ekonomi misalnya akses belajar maka fenomena kemiskinan menjadi sangat penting. Tentunya pada tataran mikro tak semua penduduk miskin akan miskin pula semangat belajarnya. Mereka akan berupaya dengan segala keterbatasannya ingin dan dapat meraih prestasi belajar. Pertanyaan dari isyu yang berkembang adalah adakah hubungan antara kemiskinan dan prestasi belajar?

        Tampaknya hampir tidak mungkin dihubung-hubungkan. Kalau toh ada hubungan, hipotesisnya yang secara akal sehat bakal diterima yakni semakin tinggi tingkat kemiskinan keluarga berhubungan dengan semakin rendah semangat dan prestasi belajar keluarga. Jadi tidak ada keberdayaan bagi keluarga tertinggal untuk meraih tingkat pendidikan yang tinggi bagi anggota keluarganya. Orangtua sudah putus asa untuk menyekolahkan anak-anaknya ke tingkat yang lebih tinggi.Apakah kesimpulan itu selalu benar?. Secara agregat mungkin benar. Namun untuk beberapa kasus tertentu mangapa hipotesis itu ditolak? Untuk itu kita coba telaah dari unsur motivasi para kepala keluarga miskin dalam mengangkat harkat anak-anaknya di bidang pendidikan.

          Semangat belajar dan peluang untuk meraih tingkat pembelajaran yang semakin tinggi bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Sudah hampir diduga bahwa semakin miskin suatu keluarga semakin kecil peluang untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya. Intinya karena keterbatasan sumberdaya finansial. Namun apakah dengan demikian semangatnya untuk meningkatkan harkat pendidikan anak-anaknya pupus sudah? Bagaimana kalau kita melihatnya dari sisi motivasi orangtuanya? Dengan asumsi teori motivasi berlaku pada setiap individu maka seseorang yang berasal dari keluarga miskin, walau sekecil apapun, memiliki kebutuhan dalam bentuk harga diri dan aktualisasi diri. Kalau asumsi itu diterima maka semakin miskin orangtua semakin terdorong untuk menambah pendapatannya untuk pengeluaran konsumsi plus untuk investasi pendidikan anak-anaknya.

          Beberapa kasus membuktikan karena motif semangat untuk mencerdaskan anaka-anaknya begitu besar maka tidak jarang ada bapak dan ibunya melakukan pekerjaan apapun asalkan legal atau halal. Ada seorang ibu di Ambon yang pekerjaannya sebagai pemulung barang-barang plastik bekas telah mampu menyekolahkan dua orang anaknya kuliah di Universitas Patimura. Di Jawa Tengah ada seorang ibu yang berjualan jamu gendong telah mampu menyekolahkan dua orang anaknya sampai lulus. Yang satu lulus sampai tingkat strata satu sementara kakaknya strata dua. Di Jawa Barat ada seorang bapak yang pekerjaannya sebagai tukang distribusi air minum ke tiap rumah juga mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat program diploma. Dan masih cukup banyak kasus seperti itu termasuk yang ibunya sebagai asisten rumahtangga.

 

        Dalam beberapa hari ini insya allah, ummat islam akan merayakan lebaran. Tidak saja institusi di tingkat mikro rumahtangga, di tingkat makro pun pada bakal sibuk menghadapi datangnya masa lebaran setiap tahun. Di tingkat makro, antara lain bagaimana pemerintah harus sudah mengantisipasi arus mudik lebaran. Bagaimana dengan infrastrukturnya? Bagaimana dengan armada angkutan? Bagaimana dengan petugas ketertiban dan keamanan? Bagaimana menjaga keseimbangan suplai dan permintaan barang-barang kebutuhan lebaran khususnya pangan?

          Di tingkat mikro, bagaimana sang kepala keluarga harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Yang pertama adalah menentukan apakah tahun ini akan pulang mudik atau tidak? Kalau ya mau kemana; apakah ke orang tua ataukah ke mertua; atau tidak kemana-mana alias tinggal di rumah saja? Kemudian bagaimana pulang mudiknya; apakah lewat darat, udara, ataukah laut? Apa saja yang akan dibawa sebagai oleh-oleh; apakah dalam bentuk barang ataukah uang, ataukah kedua-duanya? Bagaimana dengan keperluan untuk kebutuhan pangan dan pakaian keluarga untuk meramaikan suasana lebaran? Berapa zakat, infak dan sedekah akan dibagikan dan kepada siapa?.

          Nah untuk itu, bagaimana tentang besaran finansialnya?. Karena biasanya pengeluaran lebaran akan jauh lebih besar dibanding pengeluaran sehari-hari. Darimana sumbernya; apakah menambah jam kerja, menggadaikan barang-barang seperti motor, perhiasan, kulkas, ataukah meminjam uang dari orang lain, ataukah tidak menambah anggaran.? Dan jangan lupa ada kegiatan yang lain yakni mengatur pembagian pekerjaan rumah tangga ketika sang asisten rumahtangga pulang mudik. So itulah gambaran singkat bagaimana suatu keluarga melakukan perencanaan dan pelaksanaan program lebarannya. Apakah itu berlaku juga bagi sang keluarga dhuafa atau kaum papa?

         Siapapun, termasuk kaum dhuafa juga memiliki perencanaan lebaran. Namun tentu saja kita sudah bisa memperkirakan perencanaan lebaran yang dilakukan kaum dhuafa tidak seperti perencanaan ideal keluarga di atas. Walau dengan finansial seadanya, kepala keluarga mereka juga membuat perencanaan yang sama. Yang membedakannya adalah dalam hal lingkup kegiatan, jumlah dan nilai pengeluarannya. Walau dalam keadaan finansial yang pas-pasan, mereka juga sudah pasti paling tidak memikirkan tentang jenis makanan dan pakaian seadanya buat sang anak dan isterinya.

          Lebaran merupakan milik ummat islam. Lebaran dipandang sebagai fenomena relijius untuk mensyukuri nikmah Allah setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa ramadhan. Lebaran ditempatkan dalam suasana bathin yang sangat istimewa. Sekecil apapun lingkup kegiatannya, setiap keluarga akan merencanakan kedatangan hari yang ditungu-tunggu itu. Mereka bakal bersuka cita menghadapinya. Bagi mereka yang tergolong muzzaki tidak segan-segan dengan ikhlas mengeluarkan sebagian dari harta atau uangnya untuk membantu keluarga dhuafa atau mustahik. Mereka bakal memperoleh kebahagian lahir bathin yang sangat luar biasa. Mengapa? Karena mereka telah ikut membahagiakan orang lain. Mereka telah menerapkan rasa keadilan dan kebersamaan. Subhanallah. Selamat Idul Fitri 1432 H. Maaf memaafkan; Doa mendoakan. Amiin.

 

          Setiap kita pasti sepakat, kemiskinan dan pengangguran jangan ditempatkan sebagai turunan dan sisa dari target pertumbuhan ekonomi. Kalau seperti itu maka hal ini cerminan  pendekatan tambal sulam. Dan semua diserahkan pada pasar.  Dengan kata lain arusutama (mainstream) para perencana pembangunan harus propopulis ketimbang berorientasi mutlak pada propasar.

           Padahal sejak republik ini berdiri, penanggulangan pengangguran dan kemiskinan bukanlah masalah yang ditempatkan sebagai sisa dari suatu program atau disepelekan. Jangan mengatasi pengangguran dan kemiskinan itu dipandang sebagai upaya kalau ada masalah baru diatasi. Dan inilah sebagai faktor utama mengapa pengangguran dan kemiskinan sulit dicegah. Hal ini terjadi karena bermula dari mashab pemikiran para perencana pembangunan yang terlalu berorientasi pada propasar semata. Ketika pertumbuhan ekonomi terlalu mengandalkan pada industri-industri atau perusahaan besar saja maka lambat laun usaha ekonomi rakyat akan tergilas. Sebaliknya ketika terjadi krisis global maka runtuhnya produktifitas raksasa-raksasa tersebut akan berakibat pada penderitaan rakyat. Ketika itu barulah pemerintah menengok pentingnya pertumbuhan ekonomi usaha kecil dan menengah.

            Sebenarnya pemerintah yang sekarang sudah punya kebijakan triple track strategy yakni progrowth, propoor, dan proemployment. Namun pertanyaannya apakah dalam operasionalnya sudah mencerminkan sesuai dengan kebijakan tersebut. Belum tentu sudah menyeluruh. Masih belum secara terbuka diutarakan bagaimana kebijakan triple rack strategy itu diterjemahkan dalam kebijakan makro yang komprehensif antarsektor. Misalnya apa dan bagaimana pembangunan pertanian kaitannya dengan pembangunan sektor industri, perdagangan, ketenagakerjaan, pembangunan daerah, infrasruktur, dsb. Begitu pula bagaimana pembangunan di sektor nonpertanian kaitannya dengan pembangunan sektor-sektor lainnya. Kemudian instansi mana saja sebagai unsur pendukung utama untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan kebijakan pembangunan itu?. Kalau belum ada yang komprehensif dan holistik maka pendekatan pengentasan kemiskinan dan pengangguran tidak mudah diatasi.

          Yang jelas masyarakat bakal semakin lelah saja kalau masalah pengangguran dan kemiskinan lambat laun tidak terpecahkan. Secara ekonomi, daya beli mereka akan melemah dalam memenuhi kebutuhan hidup layak minimumnya. Sementara secara psikologis mereka akan menderita mental yang tidak mudah terobati. Karena itu pemerintah perlu mengoptimumkan sumberdaya yang ada sekaligus mencari sumber-sumber ekonomi lainnya yang potensial. Program-program stimulus ekonomi plus pengembangan infrastruktur ekonomi sebaiknya diarahkan pada sektor padat karya. Termasuk bagaimana sektor usaha kecil dan menengah (sektor-sektor padat karya) seperti pertanian dan industri haruslah menjadi prioritas utama pembangunan jangka panjang.

 

       Tiap tahun Kebangkitan Nasional (KN) dirayakan dan ketika itu pula kita belum menemukan upaya strategis dan hasil dalam mengangkat bangsa kita dari keterpurukan. Fenomena kasat mata antara lain terlihat dari tingkat pengangguran kerja dan kemiskinan. Jumlah mereka yang menganggur pada tahun 2009 mencapai sekitar 14 juta orang, sementara jumlah mereka yang tergolong miskin mencapai sekitar 30 juta orang. Keadaan demikian sangat terkait dengan masalah sumberdaya manusia (SDM). Apakah SDM sebagai penyebab dan apakah sebagai akibat.

        Kondisi SDM jelas ada pengaruhnya dengan daya saing bangsa. Menurut “The 2006 Global Economic Forum on Global Competitiveness Index (GCI)”, kondisi Indonesia berada pada tingkat yang lebih rendah ketimbang beberapa negara Asean lainnya seperti Singapaura (peringkat 7), Malaysia (21), dan Thailand (28).; namun berada lebih tinggi dibading Vietnam (68) dan Filipina (71). Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh daya saing SDM. Dalam laporan ”World Competitiveness Yearbook”, kondisi daya saing SDM Indonesia di tingkat regional berada pada posisi yang lebih rendah yakni peringkat 50 dibanding India (43), Malaysia (26), Korea Selatan (24) dan Singapura (5).

       Kondisi SDM yang rendah sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Secara agregat kondisi ini mempengaruhi produktivitas nasional. Hal demikian juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang sementara ini hanya mencapai 6,1% yang berada dibawah target sebesar 6,5%. Pada gilirannya daya saing bangsa juga akan rendah. Dengan kata lain akumulasi berbagai faktor, kebijakan, dan kelembagaan yang performanya rendah akan mempengaruhi produktivitas nasional.Karena itu pemerintah harus memperhatikan lebih serius lagi dalam hal pengembangan SDM khususnya dalam bidang pendidikan.

       Proses pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi seharusnya merupakan proses bersinambung. Artinya mulai dari metode pembelajaran yang berkonsentrasi pada pembinaan ahlak-moral dan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dengan pendekatan model pembelajaran terpusat pada khalayak belajar seharusnya merupakan mata rantai yang tidak terputus. Sudah sangat dirasakan melihat gejala-gejala terjadinya degradasi sosial di berbagai bidang maka pendidikan karakter sudah saatnya menjadi fokus sentral pendidikan nasional.

        Untuk itu kebersinambungan penyediaan pengajar yang bermutu, fasilitas pembelajaran yang cukup, dan kesejahteraan guru dan dosen yang memadai menjadi hal sangat strategis. Kita hanya bakal berhenti dalam impian saja kalau unsur-unsur proses pembelajaran tidak seperti itu. Karena itulah amanat undang-undang tentang dana pendidikan sebesar 20% dari APBN secara bertahap seharusnya mulai ditingkatkan. Sementara itu kesempatan dan pembinaan pada lembaga pendidikan swasta untuk meningkatkan mutu pembelajaran perlu terus diintensifkan.

Laman Berikutnya »