Kemanusiaan


PROPOSISI: semakin bahagia seseorang, semakin banyak berderma ataukah semakin banyak seseorang berderma, semakin bahagia dirinya. Diduga keduanya bisa saja terjadi. Semakin bahagia seseorang semakin gampang memberi buat orang yang membutuhkannya. Tetapi ilmuwan menyatakan bahwa pada akhirnya efek kumulatif dari tingkah laku yang dermawan membuat seseorang lebih bahagia. Kesimpulan dari polling yang dilakukan terhadap 19.000 orang dewasa di 24 negara pada tahun 2011 menunjukkan tidak ada hubungan positif yang mutlak antara kekayaan dengan kebahagiaan.

Laporan yang disampaikan oleh The Economist bahwa dari angka indeks kebahagiaan posisi rakyat Indonesia jauh lebih bahagia ketimbang rakyat Singapura. Kebahagiaan seseorang tidak diukur dari jumlah hartanya tetapi darimana asalnya dan bagaimana memanfaatkan hartanya. Mereka yang mengumpulkan harta dari jalur halal dan selalu berderma buat orang lain akan jauh lebih berbahagia dibanding mereka yang mengumpulkan harta dari korupsi dan kikir dalam berbagi.

Iklan

 

…..ada beberapa kemungkinan perasaan khalayak…yakni memuji hebat dan satria dan tahu diri atau tak bertanggung jawab….ketika seorang pejabat teras/menteri undur diri….sikap bawahan mungkin merasa kehilangan, sedih dan haru,….atau biasa-biasa saja,…atau bahkan luapan plong dan riang gembira.…

 

     Pernahkah suatu ketika kita tidak  mampu bergaul dengan baik? Mudah emosional? Sering tampil sebagai orang yang sangat egoistis? Komunikasi mampet? Sampai timbul konflik? Lalu mengapa konflik tidak sebatas cuma orang perorang? Bahkan terjadi konflik sosial? Dan konflik agaknya sudah menjadi milik dunia ? Coba kita lihat, dengan derajatnya masing-masing, mulai di taman kanak-kanak sampai di tingkat perguruan tinggi  ada konflik. Di tempat kerja, ruang pengadilan, keluarga, antarbangsa, bahkan di lembaga persahabatan dan keagamaan pun bisa saja muncul konflik.

       Tampaknya fenomena konflik bersifat universal. Konflik sepertinya analog dengan sesuatu yang negatif,  timbulnya stres, dan kekerasan fisik dan non fisik. Pokoknya konflik adalah suatu pengalaman yang tidak menyenangkan, pahit, kejam, parah, dan kotor. Jadi, apakah konflik selalu dipandang sebagai sesuatu yang negatif saja? Ternyata tidak demikian. Khususnya dalam suatu organisasi, konflik dapat dipandang sebagai sesuatu yang negatif dan positif (diadaptasi dari  Robbins, Sthepen, 2003, Perilaku Organisasi).

          Bagi  yang berpandangan tradisional: (a) semua konflik adalah buruk; (b) ada kekerasan, pengrusakan, ketidakrasionalan; (c) merugikan dan harus dihindari; (d) bersifat disfungsional dimana konflik dicirikan oleh  komunikasi buruk, kurangnya keterbukaan, kekurang-percayaan, dan daya tanggap pimpinan kurang. Sementara yang berpandangan positif (hubungan manusia); (a) konflik dinilai sebagai peristiwa wajar dan alami; (b) menerima adanya konflik; dan (c) konflik tidak dapat disingkirkan dan sebaliknya dapat membawa manfaat kinerja. Pandangan yang lebih ’maju’ adalah berciri interaksionis: (a) Pimpinan sengaja mendorong terjadinya konflik. Terutama pada kelompok yang tampaknya kooperatif, tenang dan damai. Tetapi ternyata statis, apatis, daya tanggap kurang terhadap perubahan dan inovasi; (b) karena itu konflik diciptakan untuk memotivasi anggota berinovasi, inisiatif, dan kreatif.; dan (c) mempertahankan tingkat minimum konflik agar kelompok dapat bertahan hidup, swakritik dan kreatif.       

         Baden Eunsen, dalam bukunya Conflict Management  (2007), juga melihat  hikmah dari konflik atau dari sisi positifnya, antara lain (adaptasi):

· Konflik dapat menghilangkan rasa tertekan dan frustruasi. Ketika konflik yang tidak diharapkan dianggap terselesaikan, mereka yang konflik kadang  kala mengalami rasa lega, dapat menurunkan suasana panas hati, dan terasa lebih ringan.

· Bertambahnya informasi dan hal-hal baru yang tidak diketahui sebelum konflik terjadi. Mereka yang konflik menjadi semakin sadar tentang kekeliruannya dan berupaya saling  menghargai pandangan masing-masing. Lalu empati semakin meningkat dan konflik semakin relatif lebih mudah diselesaikan.

· Perspektif baru dapat diperoleh dari kekeliruan sudut pandang masing-masing yang konflik. Pada awal  konflik mereka belum sadar akan kelemahan dan ketidaktaatasasannya. Konflik telah memperkuat mereka untuk berbuat dan berpikir hal-hal baru.

· Pengambilan keputusan dan pemecahan masalah dapat dilakukan dengan lebih baik. Informasi dan perspektif baru diciptakan sebagai hasil dari konflik. Hal demikian menjadikan kita mampu melihat dan mengerjakan sesuatu lebih jernih dan tepat.

· Keakraban dapat meningkat. Para anggota kelompok, tim kerja, pasangan, dan organisasi akan semakin lebih dekat setelah tekanan konflik berhasil diatasi dibanding sebelumnya. Ikatan diantara mereka semakin kuat.

· Setiap perbedaan dihargai. Perbedaan-perbedaan di antara yang konflik bukanlah menjadikan konflik sebagai suatu fenomena yang tidak dapat diatasi. Mengatasi perbedaan  melalui proses sinergitas itu sendiri sebenarnya merupakan kekuatan.

Pernah dimuat di blog Ronawajah, 6 Juni 2007

 

       Hampir bisa dipastikan sebagian dari kita yang sedang bekerja atau yang sudah pensiun pernah menduduki jabatan suatu organisasi. Dari jabatan yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya relatif sederhana hingga ke yang sangat kompleks. Apakah sebagai koordinator pelaksanaan tugas-tugas pengarsipan, keuangan, produksi, satuan keamanan, kepanitiaan hingga tingkat manajemen puncak sebagai presiden direktur dan menteri  bahkan presiden.

       Semua jabatan itu merupakan pengakuan pada seseorang atas  performa dan kepribadiaannya. Tentu saja setiap jabatan itu dipandang sebagai bentuk tanggung jawab yang harus ditegakkan oleh yang bersangkutan. Dengan kata lain ada unsur amanah di dalamnya. Di sisi lain apakah ada unsur kebahagiaan yang diperoleh sang pejabat itu?

      Setiap pemegang jabatan mungkin akan memandang jabatan itu bisa berbeda-beda. Ada yang menganggap amanah, ada yang menilainya sebagai meningkatnya status sosial, ada yang merasakan segalanya karena sudah dipercaya, dan mungkin pula ada yang memandang biasa-biasa saja. Selain itu ada yang menganggap jabatan itu sebagai anugerah namun ada juga yang memandangnya sebagai musibah. Akibat dari itu mungkin pula akan terjadi perubahan perilaku misalnya timbul sikap sombong, percaya diri semakin tinggi, semakin bersikap amanah, wajar-wajar saja dan bahkan justru semakin rendah hati. Dan itu semua sangat bergantung pada karakter setiap orang.

       Bagi mereka yang menganggap jabatan atau tugas itu sebagai amanah maka sudut pandangnya adalah pada konteks pengabdiaan. Setiap jabatan dipandang sebagai ladang akhirat. Setiap jabatan harus ditegakkan untuk kemaslahatan luas. Disitu ada makna hasrat kuat untuk berbagi. Bukan untuk dibanggakan dalam ujud keangkuhan dengan keegoannya yang dominan sehingga mengabaikan tanggung jawab. Bahkan ada yang menyalahgunakannya dalam bentuk perbuatan moral hazard seperti korupsi. Bukannya kebahagiaan yang diperoleh malah penderitaan keluarga.

      Karena itu makna yang paling dalam dari mereka yang  menegakkan amanah adalah peluang besar untuk mengembangkan amal soleh. Disitulah letak kebahagiaan sejati dari jabatan yang dipercayakan kepadanya yang diawali rasa syukur.  Untuk itu kebahagiaan yang ingin dicapai adalah buah dari proses dan capaiannya buat kemaslahatan umum karena terdorong ingin memeroleh ridha Allah semata.

 

      Faktor penyebab yang sangat utama mewabahnya korupsi adalah perilaku manusianya. Sementara dua faktor ekonomi dan hukum hanyalah sebagai unsur pendorong. Perilaku individu sangat terkait dengan proses dan output pendidikan.

       Sistem pendidikan informal dalam keluarga dan masyarakat, dan pendidikan formal dalam ruang kelas selama ini sangat kurang menciptakan individu manusia yang memiliki kecerdasan emosional, spiritual, dan sosial yang tinggi seperti jiwa beriman dan takut pada adzab Tuhan yang pedih, bersih, jujur, berinisiatif, kerja keras dan cerdas, kebersamaan, dan tanggungjawab

         Selama ini institusi pendidikan begitu mendambakan dan asyik berwacana dalam membentuk lulusan yang cerdas intelektual. Padahal tidak sedikit korupsi dilakukan oleh mereka yang berpendidikan tinggi. Dengan kata lain hubungan negatif antara faktor faktor pendidikan dengan perilaku korupsi tidaklah selalu mutlak terjadi. Berati ada faktor keteladanan dari para pemimpin atau pejabat yang sangat kurang.

        Selain itu peran pemimpin masyarakat cenderung tidak signifikan dalam memberikan keteladanan berperilaku yang baik. Bahkan sering sebaliknya, yakni membangun konsumerisme. Untuk itu perlu  dilakukan sosialisasi, internalisasi, dan tindakan memerangi korupsi dengan nyata. Utamanya agar muncul sifat anti korupsi dan perilaku hemat dan sederhana sebagai suatu gerakan.

 

       Pasrah? Apakah sama dengan menyerah? Putus asa? Dalam kamus, pasrah berarti menyerah(kan) sepenuhnya, misalnya marilah kita pasrah pada takdir dengan hati yang tabah; ia pasrah pada apa yg akan diputuskan oleh pengadilan. Contoh lainnya, berpasrah atau berserah diri adalah berpasrah/berserah diri pada Tuhan sambil berdoa agar terhindar dari malapetaka. Bagaimana pasrah di dunia kerja?

        Berpasrah diri dalam dunia kerja akan berbeda maknanya bergantung pada kasus yang dihadapi seseorang dan atau perusahaan. Seorang karyawan akan pasrah diri menerima hukuman dari manajemen ketika dia ketahuan melanggar disiplin kerja. Jadi karyawan bersangkutan menerima dengan lapang dada tanpa merasa kecewa atau jiwa yang tertekan. Dan tentunya setelah kejadian itu sang karyawan diharapkan akan mengelola dirinya dengan lebih baik. Namun akan berbeda makna ketika dia dituduh melanggar disiplin. Karena sifatnya masih tuduhan maka tidak sewajarnya sang karyawan tersebut lalu pasrah diri. Dia bisa mengelak tuduhan asalkan didukung bukti-bukti kuat akan ketidakbenaran tuduhan yang ditimpakan padanya.

        Perusahaan ketika mengalami musibah kebakaran salah satu pabriknya maka wajar manajemen pasrah atas kejadian itu. Apa mau dikata lagi. Itu mungkin kesalahan para karyawan dalam menerapkan prosedur pengamanan dan keselamatan fasilitas. Tentunya pihak manajemen akan berpikir keras untuk menghindari agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.  Begitu pula pihak  manajemen akan pasrah ketika kondisi perekonomian global berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Alasannya karena tidak mungkin perusahaannya mampu mengatasi sendiri perekonomian global. Namun di sisi lain tentunya manajer tidak berpasrah diri melainkan mencari jalan bagaimana perusahaan menyesuaikan diri dengan kondisi perekonomian tersebut. Misalnya bergantung pada sudut persoalannya, manajer bisa melakukan efisiensi di berbagai segi. Mulai dari aspek sumberdaya manusia karyawan hingga proses produksi dan distribusi.

        Dari contoh-contoh tentang pasrah di atas maka pertanyaannya apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh karyawan dan manajemen. Yang jelas pasrah disini tidak diartikan statis. Pasrah pasti punya hikmah di dalamnya. Pasrah bukan berarti berdiam diri. Karena itu ketika mengelola pasrah maka yang pertama harus diperhatikan adalah kemampuan menarik nilai yang terkandung dari setiap kejadian. Hal ini sangat penting untuk melihat sejauh mana kita ikhlas atau ridha dan sabar menghadapinya. Kemudian yang berikutnya adalah sikap pasrah harus diikuti suatu analisis atau diagnosis mengapa suatu kejadian itu muncul. Apa akibat-akibatnya pada seseorang, kelompok dan perusahaan.? Hal apa yang bisa dikendalikan sendiri dan mana yang harus dibantu pihak lain. Dari situlah pasrah akan membuahkan jalan keluar agar di kemudian hari akibat dari setiap kejadian bisa ditekan sekecil mungkin.

         Dengan demikian manajemen pasrah bukanlah diartikan hanya bagaimana kita ikhlas dan sabar menghadapai setiap musibah yang ada. Apalagi bersifat sangat statis dimana setiap program dan kegiatan dilakukan tanpa perencanaan dan antisipasi kalau mengalami penyimpangan. Manajemen pasrah disini lebih ditekankan pada bagaimana setiap karyawan dan manajemen tidak pesimis dan berdiam diri saja apalagi putus asa ketika menghadapi suatu masalah. Mereka harus responsif dan peka terhadap setiap kejadian baik di internal maupun eksternal perusahaan. Ada usaha aktif bagaimana perusahaan bisa maju tanpa harus menyerah pada kepasrahan diri.

 

       Baru saja rakyat DKI memilih gubernur DKI yang baru untuk periode 2012-2017. Pastinya mereka memilih karena ada dasar pertimbangannya dalam bentuk kriteria maupun indikatornya. Memilih bisa karena faktor-faktor kepemimpinan, kinerja calon gubernur incumbent, calon gubernur yang baru, dan mungkin faktor sentimen kedaerahan dsb. Namun juga bisa jadi ada yang asal memilih alias ikut-ikutan temannya. Dan bahkan ada yang masuk golongan putih atau netral tidak memilih siapapun. Itulah hak asasi sang pemilih.

        Begitu juga memilih barang atau jasa konsumsi. Keinginan konsumen untuk membeli sejumlah barang dan jasa tertentu sangat ditentukan oleh selera, besarnya pendapatan, persepsi, preferensi, dan tingkat pengetahuan konsumen. Sebagai contoh semakin tinggi pendapatan relatif konsumen, ceteris paribus, semakin banyak jumlah barang dan jasa yang dibeli. Begitu juga faktor-faktor lain berpengaruh positif terhadap perilaku konsumen. Secara umum ketika sumberdaya yang dimiliki konsumen terbatas ketimbang kebutuhan konsumsi akan barang dan jasa yang relatif tidak terbatas maka konsumen harus memilih. Yakni apa dan bagaimana kombinasi barang dan jasa yang akan dikonsumsi dengan sumberdaya terbatas maka konsumen memeroleh kepuasan maksimum. Orang kaya akan mengkonsumsi beras kelas satu sementara mereka yang pendapatannya sangat terbatas akan memilih beras yang kualitasnya terendah. Namun pada prinsipnya mereka sama-sama ingin memeroleh kepuasan maksimum dengan sumberdaya tertentu.

       Pada pemilihan bidang produksi dan distribusi pendekatannya sedikit unik. Mereka yang berminat untuk membuka usaha maka akan dilakukan studi pasar. Studi ini menyangkut telaahan perilaku konsumen, ketersediaan segmen pasar, kemampuan pemasaran, daya beli konsumen, infrastruktur, pangsa pasar untuk beberapa komoditi dsb. Ketika hasil studi sudah diketahui maka proses berikutnya adalah membuat perencanaan bisnis. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain apa jenis usaha yang akan dikembangkan, berapa banyak jumlah dan mutunya, apa dan bagaimana metode produksi dan distribusi hasilnya, berapa besar kapital yang dibutuhkan, sumber pinjaman modalnya dari mana, pasarnya dimana, bagaimana menyiapkan struktur organisasi dan personalianya.

         Bagaimana memilih pekerjaan? Prinsipnya sama yakni ada pertimbangan kriteria dan indikator tertentu. Beberapa faktor yang berhubungan dengan memilih pekerjaan antara lain adalah minat, kecocokan dengan kompetensi, besaran kompensasi, suasana kerja, prospek karir, prospek usaha, dsb. Sementara dari potensi diri pertimbangannya adalah tingkat pendidikan, pengalaman kerja, sikap atau pandangan terhadap pekerjaan, tingkat kesehatan, gender dan motivasi. Karena faktor pertimbangannya cukup banyak maka setiap pencari kerja akan membuat urutan faktor utama hingga faktor yang kurang utama. Mungkin saja antarpencari kerja pertimbangannya berbeda-beda.

        Dari empat contoh di atas maka proses memilih sesuatu sama saja maknanya dengan proses pengambilan keputusan. Bergantung pada lingkup masalahnya maka proses mengambil keputusannya pun akan beragam. Ada yang sederhana hingga ada yang kompleks. Namun pada dasarnya mengambil keputusan untuk memilih sesuatu pasti ada pertimbangannya atau metodenya. Apakah dengan metode ilmiah, logika, pragmatis dan praktis bahkan dengan model intuisi atau kombinasi beberapa atau semua pendekatan. Kemudian sisi lain yang menjadi pertimbangan adalah dimensi kepuasan dan atau keuntungan, ketersediaan sumberdaya yang dimiliki dan dikuasai,  taraf prioritas, besarnya resiko suatu pilihan, prospek jangka panjang, dan kepraktisan suatu metode.

Laman Berikutnya »