Juli 2007


             Ada yang dapat dipelajari dari kemenangan kesebelasan Irak dalam turnamen Piala Asia 2007. Untuk meraih kemenangan pada jenis turnamen apapun, tidak cukup dengan bermodalkan semangat juang. Selain semangat juang, juga kebersamaan atau kekompakan dalam suatu tim menjadi andalan untuk menang. Nah di sisi lainnya sebagai sumber keandalan adalah kemampuan teknis, kecerdasan emosi, dan kecerdasan fisik. Kesebelasan Irak punya segalanya. 

       Bagaimana dengan kesebelasan Indonesia? Ya rata-rata pemain  sudah memiliki kertampilan teknis yang relatif baik. Semangat untuk menang begitu tinggi bahkan ngotot. Namun kebersamaan dan emosi sering kebablasan. Nah yang lainnya yakni  stamina fisik relatif juga masih lemah. Terbukti pada pertandingan setelah rehat, kesebelasan Indonesia tampak sering ngos-ngosan. Bagai kurang gizi yang parah. Saya membayangkan di masa depan, dengan asupan gizi tinggi, rata-rata para pemain sepakbola Indonesia bakal memiliki postur fisik tegap dengan tinggi badan minimal 1,70 meter.  

         

Kejadian yang bertubi-tubi berupa banjir dan tanah longsor di berbagai tempat belakangan ini disebabkan penggundulan hutan di daerah hulu semakin merajalela. Luas lahan hutan lindung yang tinggal 18% di Jawa saja akan selalu mengancam terjadinya longsor dan banjir ketika hujan dengan curah hujan tinggi terjadi. Daya tampung tanah bergembur untuk menyerap air sangat terbatas. Tanah juga bersifat labil dan mudah bergeser. Dengan kemiringan topografi  yang terjal menambah faktor yang membuat daerah itu mudah longsor. Sementara itu pengelolaan lingkungan yang optimum semakin terabaikan. Padahal studi yang menyangkut aspek lingkungan sudah begitu banyaknya. Manual  petunjuk tanda-tanda akan terjadinya bahaya longsor dan banjir juga cukup banyak. Namun mengapa bencana masih juga terjadi? 

          Sebagai faktor  penyebab utama bencana itu sebenarnya  adalah ulah manusia sendiri. Saya yakin mereka sebenarnya mengetahui dan memahami akan bahaya perambahan hutan dan bahaya longsor. Namun saya  memperkirakan belum menjadi suatu sikap yang mantap terhadap perlunya memelihara kelestarian lingkungan. Pusat masalah boleh jadi karena faktor kemiskinan sehingga merambah hutan menjadi alternatif utama sumber pendapatan bagi mereka. Boleh jadi pula karena bandar-bandar besar  ”rakus” sering menampung  hasil hutan tak legal, sambil  berkolusi dengan petugas.  Tanpa sadar fungsi hutan sebagai penyangga daya serap air semakin kritis. Di sisi lain fungsi kendali  tata ruang dan pengelolaan sumberdaya alam (SDA) dari pemerintah, khususnya pemerintah daerah begitu terabaikan. Tindakan hukum kepada perambah dan penguras SDA hampir-hampir tidak ada.

        Alam lalu ”murka” karena manusia melawan dan merusaknya. Terhadap alam, Allah mengingatkan: Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut (ukuran) (al-Qamar; 49). Lambat tetapi pasti, muncullah tragedi kemanusiaan berupa musibah banjir dan tanah longsor. Walau beribu kali program reboisasi dilakukan kalau mental manusia yang rakus tidak terubah dan diubah, tetap saja musibah itu akan menimpa dan berdatangan. Ternyata sebagian manusia  tidak mau belajar dari setiap kejadian alam. Ampunilah kami ya Allah.   

       Menjadi seorang guru besar tidaklah mudah. Sebelumnya dia harus melewati seleksi kinerja akademik (pengajaran, penelitian, karya ilmiah, pemberdayaan pada  masyarakat) dan tentunya kepribadian. Prosesnya cukup ketat. Tidak sembarang orang bisa menjadi guru besar. Karena itulah keputusannya berada ditangan seorang menteri pendidikan. Bahkan sebelumnya keputusan berada pada presiden setelah mendapat rekomendasi menteri pendidikan nasional. (lebih…)

            Ada  perusahaan yang memiliki kinerja bisnis tergolong bagus. Hal itu dicerminkan dari omset penjualan sesuai dengan dan bahkan melebihi target. Tingkat keuntungan bisnis pun  meningkat. Semua kinerja itu dihasilkan berkat kepemimpinan mutu direktur operasi perusahaan itu bernama Sukma. Setiap rancangan produksi dan penjualan dibuat dan diputuskan sendiri oleh dia. Subordinasinya hanya menjalankan petunjuk dari Sukma dan kemudian melaksanakannya. Itulah salah  bentuk koordinasi yang dilakukannya. Dengan kepemimpinan seperti itu tampaknya Sukma  menutup kontak alur gagasan dari subordinasinya. Dia sangat yakin semua keputusannya adalah tepat dan benar. Karena keberhasilannya kalangan direktur lainnya dan bahkan manajemen puncak merasa sangat segan terhadap Sukma.

             Suatu ketika salah seorang direktur bidang lainnya, sebut saja Wati, mengikuti suatu seminar bertema “kepemimpinan mutu”. Salah satu sub-topik yang dibahas adalah kekuatan dan kelebihan kepemimpinan model “one man show”. Kemudian dalam suatu kesempatan rapat direksi, Wati menginformasikan hasil dan kesan-kesan selama mengikuti seminar itu. Dalam rapat itu pimpinan puncak mengajak semua peserta rapat untuk membahas apakah model kepemimpinan “one man show” di perusahaan itu di nilai cocok. Hampir semua peserta kurang menyetujuinya karena model itu lebih banyak kelemahan ketimbang kekuatannya. Dalam jangka panjang akan merugikan perusahaan, tambahnya. Nah, bagaimana pendapat Anda tentang model kepemimpinan “one man show” itu.    

            Dari hasil penelitian seorang mahasiswa pascasarjana di suatu perguruan tinggi diperoleh kesimpulan terdapat hubungan positif antara motivasi kerja karyawan dengan tingkat kedisiplinannya untuk masuk kerja. Makin tinggi motivasi makin tinggi pula derajad kedisiplinan karyawan.

          Begitu pula didapatkan ada hubungan positif antara kedisiplinan kerja dengan derajad kerja keras karyawan. Temuan ini seharusnya menggembirakan manajer namun kenyataannya tidak demikian. Ternyata dari temuan aspek lainnya terdapat hubungan negatif antara kerja keras dengan mutu kerja. Padahal suasana kehidupan kerja di perusahaan ini tergolong kondusif.

          Dengan demikian tampak kerja keras disertai etika kedisiplinan dari karyawan tidak menjamin akan menentukan mutu kerja yang dihasilkannya. Berarti pula masih ada faktor lain yang berhubungan dengan mutu kerja. Nah hal inilah yang belum  tentu diketahui oleh si manajer mengapa hal itu bisa terjadi.

          Saya terinspirasi membuat coretan ini dari guyonan  salah seorang mahasiswa doktor yang mengambil mata kuliah Falsafah Sains Pascasarjana IPB dimana saya mengajar. Kisahnya begini (sudah dimodifikasi).

        Suatu ketika seorang guru kelas tiga Sekolah Menengah Pertama dalam mata ajaran Pengetahuan Umum sedang menjelaskan kekayaan alam Indonesia. Dengan yakinnya dia menjelaskan bahwa saking melimpahnya kekayaan bumi dan alam di Indonesia maka kita akan kaya sampai tujuh turunan. Dan tak perlu khawatir bakal melarat. Layaknya ucapan guru tadi sudah sebagai mitos. 

Tiba-tiba saja ada seorang murid yang dikenal cerdas bertanya: “tetapi mengapa kemiskinan di Indonesia makin banyak dan  sekarang sudah mencapai sekitar 60 juta jiwa, pak?”.”Sementara itu lahan-lahan pertanian, pertambangan, dan pantai  semakin rusak saja”, kata sang murid tadi. Sang guru agak kaget tak menyangka ada pertanyaan kritis seperti itu. Sejenak dia merenung. Tiba-tiba saja sang guru  menemukan akal. Dengan tenangnya dia menjawab ya karena kita sekarang sudah menjadi turunan ke delapan”.

       Belum sempat para murid bertanya lagi, tiba-tiba bel  pertanda waktu istirahat berbunyi. Ketika keluar kelas, sebagian besar  murid masih bertanya-tanya dalam hati makna dari jawaban pak guru itu.

Adakah beda antara kemiskinan absolut dan kemiskinan nurani? Beda dua bentuk kemiskinan itu sangat signifikan. Kemiskinan absolut disebabkan minimnya, bahkan nol, akses sumberdaya fisik dan non-fisik yang dimiliki seseorang untuk berusaha. Yang dimiliki tinggal tenaganya saja. Akibatnya kebutuhan hidup walau minimum tidak terpenuhi secara cukup. Sementara kemiskinan nurani tidak selalu sejalan dengan kemiskinan absolut. Artinya bisa jadi secara fisik seseorang kaya harta atau berstatus sosial relatif tinggi tetapi ternyata miskin nurani. Lebih tegasnya kemiskinan nurani  ditunjukkan dengan kurangnya kepekaan dalam bentuk kepeduliaan dari seseorang atau sekelompok orang akan keadaan lingkungan masyarakat yang tertinggal.

        Sebaliknya mereka yang tergolong miskin harta bisa jadi kaya akan nurani. Saya sering meneteskan air mata ketika melihat  acara serial khusus di salah satu saluran televisi dimana ada  seseorang yang termasuk golongan tidak kaya, hidup pas-pasan, ternyata secara ikhlas mau menolong mereka yang membutuhkan bantuannya. Ada yang membantu dalam bentuk uang seadanya, pakaian, makanan, tenaga dan bahkan ada yang mendonorkan darahnya untuk membantu seseorang yang akan dioperasi. Ternyata di dalam nuraninya tersimpan mutiara hati kepedulian untuk merasakan penderitaan orang lain. Itulah suatu miniatur sosial si miskin harta tapi kaya nurani. Namun yang jelas dalam dunia nyata ada juga seseorang yang kaya harta dan sekaligus kaya nurani. Subhanallah.  

Laman Berikutnya »