Pernahkah kita melakukan suatu pekerjaan yang tidak sampai selesai? Pernahkah pula kita melakukan pekerjaan di luar bidang kita dan akhirnya gagal? Pernahkah kita menyebut diri sebagai seorang penulis, misalnya dalam blog pribadi, namun sangat-sangat jarang menulis? Pernahkah kita mengajarkan sesuatu pada orang lain namun kita sendiri tidak mampu mengerjakannya? Saya kira sebagian dari kita pernah mengalaminya. Yang membedakannya adalah sebatas derajatnya saja.

      Semua pertanyaan di atas berkait dengan perilaku konsisten seseorang. Orang yang memiliki sikap konsisten dalam melaksanakan suatu pekerjaan dicirikan akan selalu taatasas dan gigih sesuai dengan niat yang bersangkutan dan tujuan pekerjaannya. Secerdas apapun seseorang namun kalau kerap tidak konsisten dalam menjalankan profesinya dia akan gagal. Dengan kata lain dia punya rasa pesimis, melakukannya dengan setengah hati, tidak terus menerus, dan kurang mampu berkomunikasi dengan sesama. Karena itu konsistensi sangat penting dalam kehidupan apapun khususnya dalam dunia kerja.

     Dalam dunia kerja peran seorang pemimpin sangatlah vital untuk meningkatkan kinerja karyawan dan organisasinya. Mengapa demikian? Karena seseorang ditunjuk atau dipilih sebagai seorang pemimpin didasarkan pada unsur kelebihannya dibanding subordinasinya. Salah satu kelebihan adalah sikap konsisten. Pemimpin harus menunjukkan kecerdasannya baik dalam hal kemampuan teknis manajerial dan dalam seni memimpin dan memelihara suasana humaniora yang nyaman. Dia harus mampu menyampaikan gagasan dan juga mampu melaksanakan, mengkoordinasi, dan mengawasinya secara bersinambung. Selain itu ketika suatu kebijakan diputuskan maka dia harus gigih dan taatasas melaksanakannya. Kelebihan lainnya adalah dia mampu membangun semangat kerja dengan cerdas para karyawannya.

    Kalau seorang pemimpin dalam unit kerja memiliki sikap konsisten maka tanpa diperintah pun akan ditiru atau diikuti oleh para subordinasi atau karyawannya. Para karyawan akan terkondisikan untuk menghargai suatu pekerjaan sekalipun lingkup dan bobot pekerjaannya relatif kecil. Melakukannya dengan fokus dan serius dan termotivasi untuk tidak takut gagal. Hal demikian sangat bergantung pada tingkat pengetahuan dan pengalamannya. Pengetahuan mereka tumbuh secara terus menerus sejalan dengan tuntutan teknologi dan pekerjaannya sebagai hasil dari pelatihan dan pengembangan yang dilakukan organisasi. Sementara semakin banyak pengalaman kerja seorang karyawan semakin konsisten dalam bekerja.

     Keberhasilan penerapan manajemen konsistensi sangat bergantung pada peran manajemen puncak dalam menjalankan visi, misi, tujuan dan program-program organisasi. Dukungan manajemen puncak dalam mengkondisikan perilaku konsisten di kalangan pimpinan unit dan karyawan sangatlah bermakna. Bentuknya bisa dalam menerapkan budaya organisasi, budaya kerja, penegakkan kedisiplinan berupa penghargaan dan hukuman, keterbukaan dalam karir, manajemen kompensasi yang menarik, pelatihan dan pengembangan, dan manajemen kinerja,