Mei 2012


 

        Apakah manajemen perubahan akan otomatis diterima oleh para elemen organisasi, katakanlah pada suatu perusahaan. Bisa ya bisa tidak. Ketika persaingan dunia bisnis tidak bisa dihindari maka manajemen perubahan menjadi sangat penting diterapkan. Namun demikian dalam kenyataannya proses perubahan yang terjadi tidak selalu mendapat respon positif. Resistensi dari dalam berpeluang terjadi. Terutama dalam hal-hal kebijakan yang menyangkut sisi efisiensi penggunaan tenaga kerja atau rasionalisasi. Termasuk yang ada kiatannya dengan manajemen karir dan kompensasi.

        Manajer perlu memahami mengapa organisasi harus siap menghadapi perubahan: apakah yang bersifat inovatif maupun strategis. Perubahan inovatif adalah perbaikan secara kontinyu di dalam kerangka sumberdaya yang ada. Sementara perubahan strategis adalah perubahan melakukan sesuatu yang baru. Berdasarkan derajat kedalaman perubahan dan metodenya maka jenis perubahan yang bakal manajemen hadapi meliputi perubahan rutin, darurat, mutu, radikal, dan kondisi makro.

        Perubahan inovatif adalah suatu proses yang dicirikan dengan adanya perbaikan apa yang sudah dilakukan. Perbaikan-perbaikan ini menyangkut dalam praktek pekerjaan dan proses, perubahan dalam rancangan, perakitan, distribusi produk atau perubahan dalam manejemen material. Sementara itu perubahan strategik meliputi : perubahan preferensi pelanggan, ukuran pasar, cara mendistribusi komoditi, cara mempromosi komoditi, perubahan unsur pendukung dan biaya tenaga kerja-operasional. Dalam pelaksanaannya, ada dua prosedur perubahan: (a) Prosedur perubahan inovatif yang memungkinkan organisasi memperbaiki efektifitas dengan mutu SDM yang terus dikembangkan; (b) Prosedur perubahan strategik yang memungkinkan organisasi mengubah apa yang perusahaan lakukan dan cara melakukannya.

Sementara itu agar resistensi dapat ditekan demi tercapainya keberhasilan suatu program perubahan maka setiap orang harus siap dan mampu merubah perilakunya. Hal ini sangat bergantung pada apa yang mempengaruhi perilaku dan apa pula yang mendorong seseorang untuk berubah. Beragam faktor yang mempengaruhi perubahan meliputi perilaku: pengetahuan, kepercayaan, ketrampilan, lingkungan dan tujuan perusahaan. Untuk itu sosialisasi intensif dan penerapan pendekatan partisipasi sangat dibutuhkan.

        Semua elemen organisasi dianggap penting dilibatkan sejak awal dalam merumuskan syarat-syarat agar perubahan berhasil. Misalnya penjelasan tentang adanya kerangka perubahan, batasan perubahan yang diinginkan, target hasil, keterkaitan dengan tujuan perusahaan, komit pada kepemimpinan, memahami implikasi perubahan, memilih metode yang benar, melibatkan pemangku kepentingan, menggunakan strategi, dan memantau dan mengendalikan proses. Untuk itu manajer di setiap unit memegang peranan penting sebagai ujung tombak keberhasilan manajemen perubahan.

Iklan

 

bangsa ini adalah bangsa yang paradoksial…

ketika disebut sebagai negara agraris; ketika itu pula juga sebagai pengimpor bahan pangan terbesar…

ketika disebut sebagai bangsa ramah; ketika itu pula bentrokan sosial kerap terjadi; termasuk juga di dalam gedung parlemen….

ketika lagu nyiur melambai nan indah permai didengar; ketika itu pula degradasi lingkungan terjadi besar-besaran….

ketika keadilan sosial seru untuk ditegakkan; ketika itu pula ketimpangan pendidikan dan pendapatan terjadi…

ketika bangsa ini sebagai negara hukum; ketika itu pula ketidakadilan perlakuan hukum berkembang ria…

ketika bangsa ini dikenal sebagai kaya sumberdaya alam; ketika itu pula pihak asing yang menikmatinya…

ketika ramai-ramai korupsi perlu diberantas; ketika itu pula korupsi semakin menggurita…dan dikenal luas sebagai negara terkorup di dunia…..

dst…dst…dst

 

       Pada bulan Juni ini, para kandidat Gubernur/Kepala Daerah DKI Jakarta akan memulai kampanye. Seperti menghadapi musim hujan dengan peluang terjadinya wabah demam berdarah maka menghadapi musim pemilihan kepala daerah (kepda), para calon harus sudah siap-siap menghadapi fenomena trauma dan kejiwaan. Untuk itu beberapa pendekatan yang mungkin bisa memperkuat kesiapan untuk “kalah” adalah dengan cara memperkecil sikap TIGA B (berlebihan, berburuk sangka, dan bersedih):

(1). Berlebihan.

Sikap berlebihan terhadap sesuatu tidaklah menguntungkan. Berlebihan memandang kedudukan sebagai tujuan, status sosial terhormat, dan instrumen mata pencaharian bakal mengundang kekecewaan berat kalau tidak tercapai. Jabatan apapun seharusnya dipandang sebagai amanah. Bentuk berlebihan yang lain adalah dalam hal pembiayaan. Sampai-sampai dengan menumpuk utang dan menjual aset keluarga. Bahkan dengan menggunakan cek kosong. Selain itu sikap optimis berlebihan juga sangat mengundang resiko. Padahal setiap keputusan merupakan fungsi dari banyak faktor seperti sumberdaya, mutu dan relevansi konsep yang ditawarkan, dan kepopuleran serta kedekatan kandidat dengan rakyat. Orang cuma bisa berdoa dan berusaha. Berarti siapapun seharusnya sudah siap mental dan ikhlas dengan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan kata lain bersikaplah proporsional. Insya Allah kalaupun kecewa namun berskala waktu sementara dan siap untuk kembali normal.

(2). Berburuk Sangka.

Sikap berburuk sangka sama saja dengan membuka aib sendiri. Aib yang ditunjukkan dengan sifat sombong, egoistis, dan tamak. Orang yang ”kalah” seperti itu sangat gugup atau tidak tenang. Hobynya menyalahkan pemerintah, sistem, dan orang lain. Padahal dirinya dan organisasinyalah yang lemah konsep dan kapabilitas rendah, serta tidak populer. Sikap berburuk sangka yang paling parah adalah kepada Allah. Dengan entengnya dia berucap semua kegagalan itu karena Allah tidak memihaknya. Padahal itu bisa jadi merupakan keputusan terbaik bagi dirinya. Semestinya bukan berburuk sangka melainkan berbaik sangka kepada Rabb. Sejatinya caleg adalah mereka yang selalu siap untuk mengelola diri, tahu diri, dan mengakui kelemahan diri. Insya Allah relatif bakal tenang.

(3). Bersedih.

Siapapun pernah bersedih. Fenomena yang wajar. Begitu juga itu terjadi pada yang ”kalah” dari pemilu caleg dan pilkada. Di satu sisi, semakin bersedih semakin terganggu mentalnya. Dan ini membawa resiko kejiwaan yang semakin parah. Di sisi lain bersedih akan bisa dikurangi ketika yang bersangkutan menyadari diri akan kelemahannya. Dan pasrah serta ikhlas akan keputusan Allah. Hindarilah kesedihan berlarut, karena nun disana masih ada rencana kehidupan, panggung kehidupan, dan hari-hari kehidupan bahagia yang lain.

          Bisa jadi sampai sekarang ada tiga golongan kandidat. Yang pertama dan terbanyak adalah kandidat yang harap-harap cemas (H2C), kedua yang harap-harap senang (H2S), dan ketiga yang jumlahnya sangat kecil adalah golongan harap-harap biasa (H2B). H2C termasuk yang kurang percaya diri, pesimis, dan punya perasaan galau kalau tidak menang serta dekat dengan gangguan mental. Golongan H2S, mereka yang cukup berpengalaman menjadi politisi, percaya diri, dan optimis. Nah, H2B merasa tenang-tenang saja yakni tidak terlalu optimis dan tidak terlalu pesimis dan siap menerima keputusan apapun; relatif tanpa beban. Apapun golongannya, idealnya memiliki sikap ksatria yakni obyektif dan siap dengan keputusan apapun. Kalah atau menang, siap-siaplah ikhlas dan bersyukur. Agama mengajarkan, bersyukur kepada Allah seharusnya sebagai cerminan perilaku abadi. Konon orang yang bahagia dalam hidupnya adalah orang yang selalu bersyukur. Amiiin.

 

         Apakah Ekonomi Kreatif (EK) itu. Buku “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” yang ditulis oleh John Howkins pada tahun 2001 mengungkapkan sebagai EK sebagai “The creation of value as a result of idea”. Kemudian definisi umum ekonomi kreatif menurut UNCTAD “Creative Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content”. Sementara di Indonesia, Kementerian Perdagangan pada tahun 2009 mendefinisikan Oekonomi kreatif : “Era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari sumber daya manusianya sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya”.

         Kriteria dan Indikator EK dapat berupa; berbasis Nilai PDB yang meliputi; Nilai Tambah Bruto Industri Kreatif; Persentase Terhadap PDB dan Pertumbuhan Tahunan Nilai Tambah Bruto. Kriteria lainnya adalah berbasis Ketenagakerjaan yang meliputi Jumlah Tenaga Kerja; Persentase Jumlah Tenaga kerja; Pertumbuhan Jumlah Tenaga Kerja; dan Produktivitas Tenaga Kerja. Sementara itu peran EK juga dapat berbasis Aktivitas Perusahaan yang meliputi indikator-indikator Jumlah Perusahaan dan Nilai Ekspor.

       Mengapa ekonomi kreatif? Sejak Kabinet Bersatu jilid ke-dua, hasil ocok ulang, perhatian pemerintah terhadap ekonomi kreatif semakin meningkat. Untuk itu ada seorang menteri yang menanganinya secara khusus. Mengpa? Karena EK berkaitan dengan beberapa segi  yakni : (1) Kontribusi Ekonomi: PDB, penciptaan lapangan kerja, mengatasi kemiskinan.(2) Iklim bisnis: penciptaan lapangan usaha, dampak ke sektor lain, perluasan segmen pasar, prospek ekspor. (3) Sumberdaya terbarukan: berbasis pengetahuan dan daya cipta, penciptaan green economy, dan penciptaan green community, kelestarian lingkungan. (4) Inovasi dan kreativitas: pengembangan ide, penciptaan dan pengembangan nilai. (5) Dampak sosial: kualitas hidup, pengakuan teknologi lokal, brand lokal

Topik- toik EK antara lain

Ø RISET & RANCANGAN PRODUKSI DAN EKONOMI KREATIF

Ø SUMBERDAYA MANUSIA DAN EKONOMI KREATIF

Ø IPTEK DAN EKONOMI KREATIF

Ø PEMASARAN DAN EKONOMI KREATIF

Ø PERAN EKONOMI KREATIF TERHADAP PDB

Ø PERAN EKONOMI KREATIF DALAM MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA DAN USAHA

Ø KELEMBAGAAN SOSIAL EKONOMI DAN EKONOMI KREATIF

Ø PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

Ø PENGELOLAAN SUMBERDAYA LOKAL DAN EKONOMI KREATIF

Ø MODAL SOSIAL DAN EKONOMI KREATIF

Ø DIMENSI LINGKUNGAN DAN EKONOMI KREATIF

Ø PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF

Ø BUDAYA LOKAL DAN EKONOMI KREATIF

Ø AGRIBISNIS DAN EKON OMI KREATIF