September 2012


         Mancing yang kita kenal adalah cara memeroleh ikan dengan alat kail plus umpannya. Bisa mancing di laut dan bisa di darat. Bahkan sekarang ini sudah dikenal ada yang disebut mancing mania. Semacam klub orang-orang yang sangat hoby memancing. Dan memancing bagi mereka bisa dikategorikan sebagai olahraga, rileksasi bathin, dan ada yang menggolongkannya sebagai profesi. Satu hal yang menarik dari mancing adalah metaforanya (kiasan). Ada yang disebut mancing di air keruh, mancing kemarahan, mancing pendapat, dan mancing simpati.

          Mancing di air keruh hampir mirip dengan sifat oportunis. Dalam wikiquote, arti mancing ini digambarkan sebagai mengambil kesempatan pada sebuah peristiwa yang sedang kalut atau menyedihkan. Dengan kata lain menggunakan kesempatan yang tidak pada tempatnya. Bahkan lebih parah ada yang mengartikan sebagai upaya mengambil keuntungan disaat orang lain menderita. Dalam dunia pekerjaan hal demikian bisa terjadi. Misalnya ketika ada perselisihan pendapat antara mitra kerja dengan sang manajer maka seseorang mengambil kesempatan dengan cara berpihak pada sang manajer. Maksudnya adalah agar memeroleh keuntungan untuk bisa menjadi orang kepercayaan manajer.

         Kiasan lainnya yang bernuansa negatif adalah mancing kemarahan. Bentuk mancing ini bisa terjadi ketika dalam suatu diskusi ada seseorang yang selalu memerolok seseorang. Pada mulanya mungkin bagi yang diolok-olok akan menanggapinya dengan sabar. Namun lama kelamaan kalau olok-olok itu tetap dilakukan maka akan membangkitkan amarahnya. Begitu juga kalau seseorang sebenarnya memiliki kesalahan pada orang lain namun tidak merasa demikian. Malahan berbalik menuduh orang itu. Maka tak ayal lagi kondisi seperti itu bisa menimbulkan marah pada siapapun.

         Marah yang berkiasan positif adalah mancing pendapat dan mancing simpati orang lain. Mereka yang melakukan kedua mancing itu pada dasarnya adalah orang yang bisa digolongkan bijak. Misalnya ketika seorang manajer bijak memiliki gagasan tertentu maka dia tidak segan untuk mengundang orang lain,misalnya bawahannya, untuk mengkritisi gagasannya. Disitu dikembangkan beragam pendapat. Bukan saja pendapat yang pro namun juga yang kontra. Dari situ maka sang manajer lalu akan membuat kesimpulan. Dengan cara seperti itu sebenarnya sang manajer sekaligus telah mancing simpati orang lain. Artinya mereka yang dimintai pendapat merasa dihargai apapun alasannya. Dalam konteks ini idealnya tidak terjadi antipati antara sang manajer dengan subordinasinya. Yang ada justru timbulnya empati dan dorongan untuk saling berbagi.

Iklan

 

       Seperti dalam tim sepak bola yang berlaga dalam suatu kompetisi, kemenangan awal bukanlah segalanya. Mereka masih harus terus berlatih dan menampilkan ketrampilan dan koordinasinya dalam memenangi pertandingan-pertandingan berikutnya. Kalau proses itu terus terjadi dengan konsisten kemudian masuk final dan menang maka itulah yang disebut kemenangan sejati. Begitu juga banyak contoh tim olahraga lainnya seperti bulu tangkis dan tenis meja dan tenis lapangan. Termasuk juga contoh hasil pilkada gubernur atau bupati. Itu adalah cuma kemenangan awal saja. Lalu apa kaitan sebuah kemenangan dengan pentingnya manajemen?.

        Kemenangan awal dalam bidang manajemen pekerjaan dicirikan ketika pertama kali seseorang diterima bekerja. Bisa diperkirakan betapa bahagianya dia. Mungkin pada tahap ini dia sudah merasa pada tahap adanya pengakuan sosial dan bahkan aktualisasi diri. Mengapa demikian? Ya karena dari ratusan pelamar dialah salah satunya yang diterima. Ini prestasi tersendiri melalui perjuangan cukup berat setelah melamar dimana-mana dengan gigih bangkit dari kegagalan. Biasanya kepuasan tahap ini bisa berjalan hampir selama setahun. Setelah itu dia harus berpikir lebih strategis lagi bagaimana caranya dia mampu berkinerja maksimum.

          Kinerja disini diartikan sebagai proses dan hasil. Seorang karyawan yang baru cenderung ingin bekerja keras dan cerdas. Tujuannya adalah agar dia mampu mencapai standar kinerja perusahaan atau organisasi tempat dia bekerja. Kalau bisa tentunya lebih dari standar organisasi. Dan seterusnya sehingga dia bisa mencapai karir (kinerja output) yang diharapkan dirinya dan organisasinya. Anggap saja pada setiap pencapaian karir merupakan kemenangan pribadinya. Hal ini wajar karena persediaan posisi jabatan sebagai bentuk karir sangat terbatas. Sementara jumlah karyawan yang banyak tentunya pula memiliki keinginan untuk meraih karir. Jadi setiap karyawan harus memiliki daya saing yang tinggi untuk “memenangkannya” dalam suatu kompetisi.

        Daya saing tinggi seseorang merupakan modal dasar untuk memenangkan “kejuaraan” karir. Bentuknya macam-macam. Mulai dari tingkat kecerdasan, ketrampilan, sikap atau pandangan terhadap pentingnya inovasi, kemampun menjain hubungan horisontal dan vertikal, komitmen, kemimpinan andal, wawasan luas hingga kegigihan. Tentunya pada setiap capaian jenjang karir,  potensi daya saing yang dibutuhkan juga akan berbeda-beda. Karena itu dia akan mengelola potensi dirinya seoptimum mungkin. Tanpa itu kemenangan tidak akan mungkin diraih.

        Untuk itu dia selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pekerjaan dan hasilnya. Karyawan yang berhasil “menang” idealnya karena memang memiliki perencanaan dan pengembangan karir. Hal ini penting agar proses pemenangan bisa dicapai dengan cara-cara mengevaluasi kemampuan dan minatnya sendiri, mempertimbangkan kesempatan karir pilihan, menyusun tujuan karir, dan merencanakan aktivitas-aktivitas pengembangan praktis. Setelah itu maka disusunlah tahapan-tahapan untuk “memenangkan” pencapaian karir secara bersinambung.

        Mimpi terjadi ketika kita tidur, bisa tidur malam bisa tidur siang-sore. Mimpi biasa disebut sebagai bunganya tidur. Maknanya bisa macam-macam. Bisa sebagai ada kejadian positif, negatif, dan juga bisa dimaknai sebagai biasa-biasa saja alias tak peduli. Makna mimpi yang lain adalah sebuah cita-cita. Setiap orang ketika memiliki ekspektasi tertentu sebenarnya dia sedang bermimpi. Bercita-cita untuk berhasil studinya, pretasi kerjanya, karirnya, dsb.

        Mimpi sekaligus  imaginasi merupakan sumber energi yang menggerakkkan sebuah kekuatan organisasi (Gary Hammel dan C.K Prahalad). Disitu ada pandangan jauh ke depan. Misalnya bagaimana blogor sebagai wadah  entitas para blogger yang berdomisili di Bogor bermimpi bisa semakin kesohor. Motorola bermimpi untuk membuat dunia tanpa kabel. Maka lahirlah  telepon seluler yang dapat kita kantongi kemana-mana. Bill Gates bermimpi sebuah komputer di atas meja kerja di setiap rumah, menjalankan perangkat Microsoft. Lalu dia menciptakan sistem operasi MS-DOS, ia membuat Windows yang menyebabkan Bill Gates menjadi entrepreneur terkaya di dunia. Pertanyaannya adalah bagaimana meraih mimpi secara riil?

         Kalau mimpi dalam artian sebenarnya tentunya terjadi saat kita tidur. Sementara kalau mimpi dalam makna meraih cita-cita timbul tentunya bukan sambil tidur. Dia tidak datang tiba-tiba. Pastinya ada upaya keras dan cerdas untuk mencapainya. Upaya itulah sebagai manifestasi bahwa cita-cita tidak datang begitu saja. Keberhasilannya bisa mengalami kejadian yang beragam. Mulai dari pencapaian yang tanpa hambatan berarti. Hingga ada yang harus melalui tahapan kegagalan berkali-kali. Umumnya pengusaha atau penemu sukses tidak langsung meraih cita-citanya seketika. Ambil contoh Thomas Alva Edison penemu bohlam listerik bilang “I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.” Begitu pula pemilik/pengusaha mobil Honda; Soichiro Honda said: “Success is 99 percent failure”

         Mimpi atau cita-cita yang kita dambakan tentunya bukan asal-asalan. Cita-cita atau ada yang menyebutnya sebagai salah satu sisi tujuan hidup hendaknya memiliki kriteria tertentu yang rasional. Yang pertama adalah pencapaian tujuan  cita-cita  harus “spesifik” atau tidak umum atau tidak generik. Mudah diinterpretasikan secara operasional. Kemudian juga harus “terukur”. Kalau tidak maka berarti cita-cita yang akan dicapai tidak jelas apa kriteria dan indikatornya. sehingga tidak jelas seberapa besar cita-cita telah tercapai.  Selain itu rencana meraih cita-cita seharusnya “bisa dilaksanakan dan dicapai”. Kalau tidak maka itu hanyalah pekerjaan sia-sia saja. Kemudian cita-cita hendaknya “realistik” bukan sekedar idealisme semata. Kalau tidak maka dia tidak beda dengan angan-angan. Dan yang terakhir, pencapaian cita-cita seharusnya memiliki “skala waktu” tertentu. Dengan demikian dapat disusun langkah-langkah operasionalnya dengan sistematis.

         Dalam prosesnya maka pencapaian mimpi atau cita-cita hendaknya melalui tahapan tertentu. Dimulai dari perencanaan pencapaiannya. Seperti berapa dana yang dibutuhkan, apa metodenya, siapa yang terlibat apakah hanya individu atau kelompok, kapan dilaksanakan dan berapa lama, dan dimana dilaksanakannya. Selain itu juga harus sudah dirumuskan bagaimana proses pengendaliannya, monotoring dan evaluasi, serta proses umpan baliknya. Diharapkan dengan pendekatan seperti ini cita-cita lebih bisa diraih dengan efektif. Dengan kata lain cita-cita tidak hanya bagaikan mimpi ketika kita tidur. Tetapi bangkit dari tidur dan terus berupaya meraihnya.

 

        Dalam perkembangannya, peran blog sebagai media sosial alternatif khususnya di Indonesia pernah ternodai dengan adanya isu blog hitam. Kalau jurnal hitam bicara tentang persoalan penting tidaknya akses terbuka sementara blog hitam bicara tentang penyalahgunaan akses. Pasalnya blog pernah (atau masihkah?) disalah-gunakan untuk menyebar luaskan  informasi yang menjurus fitnah, aib seseorang, pornografi,.dan bahkan bisa menjadi selebaran gelap untuk kepentingan politik tertentu. Ada semacam malpraktek dalam pemanfaatan komputer yang begitu bebasnya.

         Seperti diketahui  salah satu domain dari blog adalah penulisan artikel. Umumnya bernada tulisan pendek yang bersifat ilmiah populer. Walau sebagai media sosial, namun kalau ada yang ingin mengutip isi blog oleh blogger tertentu maka dia  harus memeroleh izin dan memberi royalti kepada blogger sumbernya. Jadi ada unsur komersialnya. Namun  ada pula yang gratis. Blog seperti ini lebih ditujukan untuk syiar kepada siapapun yang membutuhkannya.

          Salah satunya adalah blog  Rona Wajah.wordpress.com yang saya asuh sejak lebih dari lima tahun lalu. Domain dan isi blog ini terbanyak  berfokus pada Sumberdaya Manusia, Manajemen SDM, dan Organisasi. Hingga kini artikel yang sudah saya buat di blog itu mencapai 947 tulisan; dengan 11,510 komentar; dan alhamdulillah sudah dikunjungi sebanyak 1,232,0873 kali. Alhamdulillah pula dari kumpulan artikel ini lahirlah dua buku: Bisnis,Manajemen dan SDM (2009) dan Strategi Efektif Mengelola Karyawan (2011). Keduanya diterbitkan di PT IPB Press.  Buku yang kedua memeroleh peringkat best seller.

         Ada sekitar 20 blog lain yang mengunduh sebagian dan atau seluruh artikel yang ada di blog saya. Mereka saya biarkan melakukannya asal mencamtumkan sumbernya. Mengapa itu dilakukan? Ya semata-mata punya niat kuat ingin berbagi ilmu pengetahuan kepada orang lain. Dari situ saya memeroleh kepuasan bathin tidak terhingga. Memang sangat personal sifatnya. Karena itu moto yang saya cantumkan dalam blog itu adalah “Syiarkanlah kebajikan walau cuma satu kata, semata-mata karena mengharap ridha Allah” . Ya Allah semoga saya terhindar dari sifat ryia..

 

         Setiap orang pastinya ingin hidup nyaman. Nyaman dalam hal kebutuhan fisik dan non-fisik. Misalnya nyaman dalam hal terpeliharanya relasi dengan siapapun terutama di dalam keluarga. Termasuk nyaman akan keluarga harmonis, karir, harta, tahta, dan rasa aman. Karena sifatnya maka orang cenderung untuk tidak mau memiliki rasa tidak nyaman. Pasalnya ketidaknyamanan akan cenderung menimbulkan rasa kecewa dan putus asa. Bahkan sampai ada yang mengalami stres berat, depresi dan gangguan jiwa. Puncaknya kalau imannya kurang kuat ada yang melakukan bunuh diri.

       Apakah ketidaknyamanan itu suatu kejadian yang patut dimusuhi? Patut disesali? Seharusnya tidak demikian. Kita harus bijak melihatnya secara proporsional. Dalam hal ini kita harus siap untuk menganalisis mengapa ketidaknyamanan itu bisa terjadi. Apakah penyebabnya karena faktor kita sendiri atau karena pihak lain. Kalau sudah diketahui faktor penyebabnya dari diri sendiri maka pertanyaan berikutnya adalah mengapa ketidaknyamanan bisa timbul. Kita harus menelaahnya secara rinci. Misalnya apakah karena kelemahan suatu perencanaan kegiatan tertentu, lemahnya pelaksanaan perencanaan, kelalaian dalam mengendalikan diri, kurang pengalaman dan tidak trampil dalam mengatasi masalah, dsb. Sementara kalau penyebabnya karena faktor eksternal maka relatif tidak semudah untuk diatasi dibanding kalau penyebabnya dari dalam diri sendiri. Misalnya saja faktor-faktor ilkim lingkungan, kebijakan pemerintah atau organisasi, perilaku masyarakat, kondisi sosial politik, dsb.

    Ketidaknyamanan di lingkungan kerja juga bisa disebabkan karena faktor intrinsik dan ekstrinsik karyawan. Faktor-faktor intrinsik bisa berupa semangat kerja, motivasi, dan kondisi kesehatan. Sedang faktor-faktor ekstrinsik bisa berupa kondisi fasilitas kerja, besaran kompensasi, kepemimpinan unit kerja, konflik horisontal dan vertikal, dan tidak jelasnya perkembangan karir. Ketidaknyamanan ini bisa memengaruhi kinerja karyawan, meningkatnya jumlah karyawan yang keluar, dan tentunya kinerja organisasi cenderung menurun.

         Sikap karyawan terhadap rasa tidak nyaman bisa berupa menerima apa adanya, mengeluh, mengajukan protes , dan bahkan keluar dari organisasi. Kalau persoalan ketidaknyamanan datangnya dari faktor diri sendiri maka sebaiknya tidak didiamkan. Karyawan hendaknya melakukan telaah diri secara mendalam. Kemudian dari situ mereka bangkit untuk memerbaiki diri. Sebab kalau tidak maka ada dua pihak yang akan mengalami kerugian yaitu karyawan dan organisasi.

        Untuk itu maka karyawan tidak ada salahnya untuk berdiskusi dengan pihak pimpinan unit untuk mengatasi ketidaknyaman. Kalau penyebabnya dari dalam diri sendiri tentunya dapat dilakukan sendiri oleh sang karyawan atau dengan bantuan pimpinan unit kerja. Sementara kalau peyebabnya faktor kebijakan organisasi maka para karyawan bisa membahasnya dengan pimpinan unit. Disitu diadakan diskusi intensif faktor-faktor penyebab ketidaknyamanan, apa akibat-akibat logis dari kejadian ketidaknyamanan terhadap karyawan dan organisasi, dan apa serta bagaimana mengatasinya. Kedua pihak hendaknya dapat melihat persoalan secara obyektif dan dengan jiwa besar. Karena sebagai sebuah proses maka pasti membutuhkan waktu. Untuk itu perlu diprioritaskan mana yang harus segera diatasi dan mana yang bisa ditunda sementara. Dengan demikian mengatasi ketidaknyamanan tanpa menilmbukan ketidaknyamanan baru.

Dalam bahasa Inggeris kita mengenal istilah master of ceremony atau MC. MC diterjemanhkan bebas ke dalam bahasa Indonesia  sebagai Pembawa Acara (PA). Namun sebelumnya ada yang menyebutnya sebagai protokol acara. Tugas utama PA adalah menginformasikan agenda apa saja   yang akan diadakan selama acara tertentu berlangsung kepada pengunjung acara. Bisa dalam acara rapat, hiburan dan acara keluarga. Apakah PA  hanya bertugas menginformasikannya saja? Tidak juga. Dalam prakteknya  PA bertugas sekaligus berperan penting dalam membuat suasana acara menjadi informatif, hangat dan segar. Suasana bathin para pengunjung terasa  sedemikian rupa yang dicirikan oleh suasana pertemuan yang tidak kaku dan rileks serta atraktif. Dengan kata lain PA semestinya bisa menampilkan variasi suasana yang mengajak para pengunjung untuk menikmati atau aktif dalam acara sebaik-baiknya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan PA agar acara bisa berlangsung sukses adalah:

Tahap Persiapan

1. Memelajari apa latar belakang, tujuan dan manfaat  pertemuan, dan siapa saja pengunjungnya. Untuk itu sangat dianjurkan untuk berdiskusi dengan pengelola penyelenggara.

2. Memersiapkan pakaian yang akan dikenakan yang disesuaikan dengan jenis dan pengunjung acara. Tentu saja juga memelihara kesehatan yang prima.

3. Melihat suasana ruangan acara agar bisa memeroleh suasana bathin yang nyaman. Juga memeriksa kelayakan alat-alat bantu komunikasi. Dianjurkan untuk berdiskusi dengan teknisi ruangan dan alat-alat komunikasi.

4. Menulis butir-butir agenda acara dan beberapa catatan kecil yang dianggap perlu di atas kertas.

Tahap Pelaksanaan

1. Membuka acara dengan mengucapkan salam, selamat pagi/siang/malam, terimakasih kepada semua hadirin, dan juga penyelenggara (institusi atau individu).

2. Menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan dilanjutkan dengan mengutarakan isi agenda acara.

3. Kemudian memersilakan kepadamereka yang punya tugas apakah yang akan memberi sambutan, hiburan, ataukah doa  secara berurutan yang bergantung pada rangkaian agenda.

4. Setelah tiap  urutan agenda selesai dilaksanakan, PA bisa saja memberi ulasan singkat atau tak berlebihan khususnya kalau ada acara hiburan musik misalnya.  Maksudnya agar suasana pertemuan tidak kaku. Namun perlu dihindari mengulang apa isi sambutan atau ulasan yang sudah disampaikan seseorang. Ini akan membosankan pengunjung apalagi ulasannya tidak pas dengan apa yang telah disampaikan pembicara.

5. Setelah serangkaian acara sambutan atau ceramah atau diskusi selesai dilaksanakan maka PA kemudian siap-siap untuk menutup acara. Saat seperti ini PA menyampaikan terimakasih kepada mereka yang menyampaikan sambutan, grup hiburan, dan juga pada panitia penyelenggara serta permohonan maaf dan  harapan dari pertemuan ini.

Beberapa Catatan

1. Berhias dan memakai pakaian yang pantas dan sederhana dikaitkan dengan suasana acara, waktu dan siapa pengunjungnya. Hindari berpenampilan asesori berlebihan dan begitupula hindari tampilan seronok.

2. Menggunakan bahasa yang baik dan benar serta mudah dicerna. Bergantung pada jenis pertemuannya PA boleh menyisipi kata-kata tambahan yang berkait dengan tema sambutan dan bahkan anekdot bergantung konteksnya.

3. Menggunakan bahasa tubuh yang tidak berlebihan seperti dalam hal senyum, gerakan badan, pandangan mata, dan penggunaan tangan.

4. Menjaga keseimbangan emosi diri dan menyembunyikan perasaan gugup, marah, dan kesal agar para pengunjung merasa nyaman.

SELAMAT MENCOBA

        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) kata sambutan adalah tuturan yang diucapkan dalam suatu acara perayaan, pesta, dan lain-lain. Disitu ada tuturan kata dan kalimat dengan susunan yang sistematis untuk disampaikan di depan orang banyak. Misalnya disampaikan dalam acara halal bi halal, pesta ulang tahun, pesta pernikahan, rapat kerja dsb. .

       Secara garis besar, cerminan kata sambutan yang baik adalah munculnya kesan positif bagi yang mendengarnya. Dengan kata lain sang pemberi sambutan seharusnya memahami apa tujuan suatu acara, siapa pengunjungnya, siapa tuan rumahnya dan penyelenggaranya dan bagaimana sikap respek pada lingkungan yang hadir. Substansi ucapan terimakasih secara subtansi bukan karena sang penyelenggara dan tuan rumah gila respek namun hanya dalam konteks kelaziman dan hubungan sesama.

       Karena itu kalau kita kurang siap dalam memberi sambutan maka isi dan ungkapannya dicirikan dengan begitu seenaknya saja. Tidak karuan dan jauh dari sistematis. Hal-hal yang dianggap sederhana terabaikan karena asyik misalnya melucu berlebihan. Akibatnya terkesan asal-asalan. Padahal kalau kita simak beberapa sambutan misalnya dalam acara kekeluargaan suatu organisasi pun akan lazim diawali dengan ungkapan rasa syukur ke hadirat Tuhan. Kemudian disampaikan maksud dan tujuan pertemuan secara ringkas. Lalu tidak lupa sebagai rasa respek kita  menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara dan juga tentunya tuan rumah. Kemudian barulah sambutan substansinya. Respek ini adalah sangat lazim dimana pun acara diselenggarakan. Bukan saja di Indonesia yang kental dengan adat timurnya yang santun dan saling menghormati sesama. Namun juga di negara-negara lain termasuk di dunia Barat.

        Jadi skema susunan kata sambutan yang baik:dicirikan oleh pertama salam pembukaan berisi antara lain: (a) ucapan salam ke semua hadirin; (b) ungkapan puji syukur ke hadirat Tuhan;(c) ungkapan terima kasih kepada pembawa acara, panitia dan tuan rumah (bisa institusi bisa pribadi). Kedua, pengantar pokok masalah, maksud dan tujuan dari pertemuan; Ketiga penyampaian isi sambutan dengan bahasa yang baik dan benar, sistematis dan terstruktur, uraian gagasan pokok ; dalam hal ini boleh disampaikan dengan tambahan humor atau anekdot asalkan tidak berlebihan. Dan keempat adalah penutup yang berisi simpulan, penegasan substansi sambutan, dan harapan; ketika itu bisa saja disampaikan ucapan terimakasih kembali seperti yang telah disampaikan  di awal sambutan; dan permohonan maaf apabila ada sikap dan kata-kata yang kurang berkenan. Ini penting dalam konteks sikap rendah hati.

SELAMAT MENCOBA