April 2008


 

Hari ini 30 April 2008, Rona Wajah persis berusia 12 bulan. Lahir dari ogah-ogahan sang empunya. Karena memang dia termasuk golongan tertinggal dengan apa itu yang namanya blog.Tidak tahu, tidak ngerti, dan tidak paham apa-apa. Dan anehnya kok kurang memiliki rasa ingin tahu. Boleh dikatakan NOL besar. Walau ada Bung Riri mahasiswa doktor bimbingan saya, sekaligus akhli teknologi informasi, membujuk untuk membuka blog, tetap saja saya enggan. Namun setelah beberapa waktu dan sedikit diberi penyuluhan (analogi kepada petani tertinggal) tentang fungsi blog, lambat laun mulailah saya tertarik.

Suatu waktu, dia sendiri yang datang ke kantor yang mulanya ingin membahas proposal penelitiannya dengan saya. Lalu setelah dilakukan penjelasan singkat, operasi cesar pun disiapkan. Operasi  berlangsung tenang-tenang saja. Bung Riri, sang blogger tulen,  sendirilah yang membidaninya. Saya hanya tertegun saja memperhatikan dia begitu cekatan membuat format, kode, gambar,dan isi perdana dalam blog. Dan dalam waktu relatif singkat, alhamdulillah, nongollah si bayi sehat bernama  Rona Wajah dengan mulusnya. Langsung saja sang bayi berbisik agar fokus tema syiarnya lebih pada masalah-masalah manajemen SDM, mutu dan mental SDM, dan organisasi. Katanya, beragam aspek itulah yang masih merupakan titik lemah bangsa kita dalam menghadapi persaingan global yang keras.

Pada awalnya, isi blog diambil dari artikel yang pernah saya buat dalam buku populer Rona Wajah. Lambat laun  dicoba menulis artikel baru plus artikel yang saya adopsi dari dua buku ilmiah karangan saya, Manajemen SDM Strategik.dan Manajemen Mutu SDM. Terus berkembang karena termotivasi untuk mensyiarkan kebajikan kepada khalayak. Selain itu semakin terdorong oleh adanya respon timbal balik dari bloger lainnya. Hingga kini tercatat sebanyak  294   artikel, sebanyak 2141 komen, dan kunjungan sebanyak  120.721  kali.Hingga kini belum diketahui secara pasti siapa saja segmen pasar dari Rona Wajah ini. Dari isi komen bisa jadi yang terbanyak mampir  adalah dari kalangan mahasiswa dan siswa, diikuti kalangan dosen, pengamat dan praktisi manajemen-organisasi,

Beberapa pengalaman dan kesan saya selama aktif berblog ria  bahwa:

¨     Ternyata lahirnya blog ini membuktikan, ketika seseorang akan menerima inovasi baru tidak selalu diawali dengan  rasa ingin tahu, bahkan sebaliknya yakni bisa jadi keengganan, kecurigaan, dan resistensi. Namun  dengan intervensi dari luar berupa pelatihan, penerangan atau penyuluhan maka mulailah timbul tahapan perubahan sikap seseorang ala model AIDA  yakni awareness, interest, desire, dan action.

¨     Blog dapat dijadikan sebagai instrumen untuk mengetengahkan beragam pemikiran, gagasan, dan bahkan curahan hati secara terbuka dan bebas, tetapi tentunya bertanggung jawab dari sisi  moral, etika, dan kaidah ilmu pengetahuan. Karena itu sejauh mungkin setiap komen dari blogger selalu saya tanggapi.Ini penting sehubungan dengan bentuk etika dan apresiasi komunikasi. Seharusnya hal itu kita budayakan.

¨     Proses pembelajaran terjadi secara signifikan.Disitu terdapat beragam bentuk dan tema dan kedalaman suatu artikel atau pendapat tertentu. Termasuk beragam komen mulai dari yang sangat santai, olok-olok, sampai yang serius. Nah, karena artikel saya kebanyakan isinya “serius” dan banyak bahan untuk digunakan dalam kuliah, komennya pun bernuansa serius. Ada hal yang menarik yakni semakin serius isi artikel semakin sedikit komen. Bahkan ada yang tidak dikomentari. Sebaliknya semakin santai dan populer isi artikel semakin banyak komen.

¨     Blog sebagai tempat berbagi  informasi termasuk ilmu pengetahuan. Maka bertambahlah pengetahuan saya. Begitu pula silaturahmi  jalur maya pun berkembang. Sayangnya karena lewat media maya, saya tidak dapat mengenal lebih dalam lagi tentang pribadi masing-masing blogger. Ada baiknya suatu waktu paling tidak di suatu wilayah ada silaturahmi blogger ; sambil makan combro, pisang, dan talas goreng.

¨     Alhamdulillah, bersumber dari sebagian besar kumpulan isi blog Rona Wajah, saya telah membuat buku berjudul “Horison Bisnis, Manajemen, dan SDM”.Insya allah buku itu akan diluncurkan pada tgl 8 Mei 2008 di kampus IPB, dalam rangka acara “saya memasuki masa pensiun”.Ini adalah buku saya yang ke-tujuh yang telah diterbitkan. Dan insya allah momen ini bukan berarti saya akan pensiun dari mengisi blog dan menulis buku. Amiiin.

 

        Diam itu emas. Benarkah? Bergantung dari mana melihatnya. Jenisnya pun beragam. Ada diam yang memang malas ngomong, diam sebagai ciri kebodohan seseorang, diam karena rasa malu, diam sedang marah, diam khianat, diam menahan diri, diam menyimpan rahasia, dan diam aktif (merenung untuk berbuat positif). Diam akan bernilai tinggi ketika itu digunakan sebagai upaya introspeksi diri dan penuh bijak ketika menghadapi suatu konflik. Memilih diam ketimbang berujar dalam upaya meredam bara api pertikaian adalah keputusan bijak. Sekalipun demikian diam bukan berarti tanpa inisiatif atau tanpa punya kreatifitas atau tanpa komunikasi sama sekali dengan lingkungan. Bahkan dari sikap diam banyak dilahirkan produk-produk inovatif.

        Di sisi lain  apalagi yang bersifat permanen ternyata diam bisa menjadi masalah. Ciri-ciri pendiam adalah lemahnya kemampuan berkomunikasi, kurang berinisiatif, dan eksklusiv. Akibatnya interaksi sosial pun tidak efektif. Kalau itu terjadi pada karyawan maka dapat diduga kinerja yang bersangkutan rendah. Mengapa? Karena kurangnya kemampuan dalam bekerjasama dengan sejawat kerja. Sejawat lainnya sangat sulit menterjemahkan kemauan sang pendiam itu. Tegur sapa sampai-sampai cenderung kosong. Kalau toh terjadi cuma ala kadarnya dan sekedar berujar halo. Pada gilirannya kalau kondisi seperti itu didiamkan akan mengganggu kinerja bisnis keseluruhan. Bisa-bisa sang manajer akan mengalami stres menghadapi kelompok karyawan yang pendiam ini.

       Kata kunci yang perlu dijadikan unsur dalam pendekatan masalah karyawan pendiam adalah komunikasi. Jalurnya banyak. Misalnya  dalam bentuk bimbingan dan konseling untuk mengetahui masalah dan mendiskusikan pendekatan masalah yang dihadapi sang pendiam. Bentuk  jumpa informal manajer dengan karyawan pendiam juga penting dalam rangka memererat hubungan individual. Harapannya adalah sang pendiam akan semakin bersikap terbuka dan aktif berkomunikasi. Selain itu manajer perlu melibatkan mereka secara aktif dalam pelatihan membangun kepribadian yang aktif. Begitu pula sang pendiam, apalagi sebenarnya mereka tergolong karyawan cerdas, perlu diberikan tugas-tugas yang mendorong dia untuk berkomunikasi intensif dengan sejawat lainnya.

 

 

Hari  kelahiran Kartini 129 tahun yang lalu (21 April 1879) baru saja dirayakan terutama di berbagai organisasi perempuan dan sekolah-sekolah. Tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari nasional. Hal ini dilakukan mengingat jasa-jasa Beliau yang besar. Almarhumah Kartini pada tahun 1964  dianugerahi penghargaan atas kepeloporannya sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Dia merupakan pejuang dan pelopor gerakan kesetaraan martabat kaum perempuan dengan kaum laki-laki, khususnya di bidang pendidikan. Gagasan-gagasan dan cita-citanya bagi kaum perempuan ditulis dalam surat menyurat dengan para sahabatnya, baik yang ada di Batavia maupun di Belanda. Ada dua kumpulan surat-suratnya yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang (terjemahan Armijn Pane) dan Panggil Aku Kartini Saja (terjemahan Pramudya Ananta Tur).

Seperti biasa pada tiap hari Kartini, siswa-siswa perempuan berkebaya ria atau pakaian daerah lainnya. Saya tidak tahu apa motifnya. Apakah karena Kartini sebagai orang Jawa atau karena kebaya mencirikan identitas femininitas. Selain kebaya, ada juga siswa wanita yang memakai baju seragam jururawat, Polwan, Kowad dsb. Pokoknya ramai dengan aneka warna jenis dan model pakaian. Mungkin keragaman pakaian itu mencerminkan  kelembutan kaum perempuan dan  sekaligus cerminan kemampuan mereka berkiprah dan berprofesi di beragam bidang pekerjaan.       

Asesori berupa baju perempuan telah sangat melekat pada tiap acara peringatan hari kelahiran Kartini. Hampir-hampir tak pernah terabaikan. Pertanyaannya apakah cita-cita dan semangat perjuangan Kartini juga sudah melekat secara merata di kalangan anak bangsa? Kalau melihat dari segi pendidikan dan profesi pekerjaan agaknya tidak perlu diragukan.  Tidak perlu ada persaingan di antara dua entitas laki-laki (Kartono) dan perempuan (Kartini). Ranah domestik kaum perempuan telah mengalami transformasi.  Tadinya mereka lebih berkiprah di ranah domestik saja. Sekarang banyak yang berkiprah di ranah publik (ekonomi, sosial dan politik). Tentunya  tanpa harus menimbulkan disharmonisasi keluarga. Hanya masalahnya, apakah sudah merata di berbagai daerah sampai di pelosok perdesaan? Ketika kemiskinan masih menjadi fenomena nasional apakah kesetaraan pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan terjadi? Bagaimana dengan kekerasan terhadap kaum perempuan? Bagaimana pula dengan eksploitasi seks pada kaum perempuan? Bagaimana dengan perdagangan perempuan? Dan…dan….dan lainnya?

Pusat Studi Kajian Wanita dan Gerakan Kaum Perempuan telah banyak berdiri di pusat bahkan di berbagai daerah. Kajian dan asupan-asupan tentang peningkatan kaum perempuan dalam pembangunan sudah begitu banyak dan sering diseminarkan. Tinggal melaksanakannya saja. Namun harus diakui masih ada  terjadi distorsi karena masih terjadinya salahtafsir dalam pemahaman kesetaraan gender (relasi sosial antara perempuan dan laki-laki) dilihat dari berbagai perspektif. Terutama dari sisi agama dan budaya. Ya masih perlu diperjuangkan secara lebih sistematis dan bersambung. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (an-Nisaa; 124).

Bentuk kesataraan yang kasat mata adalah dalam hal pakaian. Kalau sebelum awal 60’an masih kita saksikan hampir semua perempuan pada semua strata sosial berpakaian rok. Maka  lama kelamaan dengan semakin hebatnya media komunikasi maka ‘demonstration effect’ tak terbendung. Pilihan-pilihan mode begitu terbuka. Nah tak ayal lagi terjadi sudut pandang yang semakin mengglobal tentang makna dan cara berpakaian. Serba praktis dan modes. Pilihannya adalah mengubah pakaian rok menjadi pakaian celana panjang dengan segala gayanya. Ya  tanpa harus kehilangan sosok femininnya. Padahal dahulunya celana panjang dominan dipakai kaum laki-laki. Saya pribadi terkadang suka merindukan kapan kaum perempuan  kembali ke khitah yakni berpakaian rok. Tentunya yang ‘sopan’. Saya percaya ia akan semakin feminin saja. Tapi siapa yang mau memulainya…..ya? Diadopsi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira, 2007, Rona Wajah, IPB Press.

 

Ah cuma gertak sambal!!! Tidak serius! Demikian ada seseorang yang merasa tak khawatir kalau digertak oleh orang tertentu. Bahkan tidak jarang dibalas dengan gertakan pula. Paling tidak diajukan pertanyaan mengapa menggertak. Tetapi ada juga kalau  orang lain  menggertak lalu yang digertak langsung gemetaran. Dengan kata lain hatinya ciut-ketakutan!  Inti ciri dari menggertak yakni adanya kemarahan dan kekecewaan disertai intimidasi,  mengancam, dan bahkan sampai menyiksa orang lain.  Ada gertakan putih dan gertakan hitam. Medianya bisa lisan bisa tulisan. Gertakan putih, tidak harus dengan suara keras atau tinggi; populer misalnya yang dilakukan oleh kalangan bos kepada karyawan dengan segala bentuk ancaman. Sementara ada gertakan hitam yang disertai dengan memalak orang lain. Termasuk merampok sambil mengancam akan membunuh. Dalam hal ini gertakan  bisa dilakukan oleh siapa saja. Dari masyarakat yang konon “terpelajar” sampai kelompok kriminal. Bisa lelaki atau perempuan, tua atau muda,  anak kecil dan orang dewasa bahkan orang yang sudah tua. Kalau demikian  apakah gertak menggertak bisa juga terjadi di organisasi perusahaan?

 

Seperti telah diungkapkan,  gertakan bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk pelaku bisnis di organisasi perusahaan. Lingkupnya, berupa gertakan yang terjadi pada hubungan vertikal antara bos dan subordinasi. Atau  terjadi pada hubungan horisontal yaitu sesama tingkatan posisi pekerjaan. Gertakan biasa dilakukan oleh orang yang merasa super pada orang yang merasa dirinya subordinasi. Orang yang tersudut. Beberapa contoh antara lain ketika subordinasi berulang kali, misalnya melakukan ketidak-disiplinan kerja, maka gertakan bos disertai ancaman penundaan karir sampai pemecatan bisa muncul. Sebaliknya kalau kelompok karyawan merasa terdholimi oleh perusahaan maka mereka bisa menggertak bos dengan menggerakan rekan-rekan karyawan lainnya untuk mogok kerja. Sementara gertakan antarkaryawan biasanya terjadi karena perselisihan paham pribadi di antara mereka. Pertanyaannya apa akibat dari gertakan di perusahaan?

 

Gertakan di perusahaan bisa berakibat sekurang-kurangnya pada dua hal. Gertakan timbul karena adanya ketegangan di kalangan bos atau manajer yang terkait dengan beberapa penyakit tertentu seperti sakit kepala dan tekanan darah tinggi. Ini mempercepat timbulnya gertakan kepada subordinasi. Konsekuensinya bisa jadi meningkatnya ketidak hadiran dan keterlambatan hadir kerja di kalangan karyawan. Dan yang kedua kalau para pelanggan akan menggertak perusahaan  dengan cara mengancam akan tidak loyal pada perusahaan lagi. Bahkan mengancam perusahaan dengan cara  akan mengadukan ke pihak berwajib karena merasa ditipu tentang mutu barang yang dibelinya.Akibatnya perusahaan akan merugi. Nah perusahaan misalnya, dapat menghilangkan gertakan dari pelanggan dengan cara mempertahankan dan bahkan meningkatkan mutu produk dengan harga terjangkau.  Bagaimana mencegah terjadinya gertakan di kalangan manajer?

 

Beberapa taktik pencegahan timbulnya gertakan yang dapat diterapkan manajer  antara lain adalah pertama: jangan biarkan tiap ledakan perasaan masuk ke kancah “pertempuran” dengan orang lain. Untuk itu bertanyalah pada diri sendiri apa untung ruginya menggertak. Apakah gertakan cuma  satu-satunya cara termudah menyelesaikan persoalan? Boleh saja marah menghadapai karyawan yang kurang disiplin atau performanya rendah. Tetapi harus dijelaskan mengapa timbul marah. Tanpa harus disertai ancaman dalam bentuk gertakan. Artinya dilakukan dengan cara persuasi saja kalau sedang kesal dengan karyawan. Dengan kata lain menggunakan nurani dan hati yang jernih. Kemudian cara lain adalah fokus pada pemecahan masalah tanpa harus disertai ketegangan bathin. Itu artinya memecahkan masalah tanpa diikuti dengan masalah baru. Jagalah keseimbangan emosi. Ajaklah mereka yang terlibat dalam masalah untuk mengatasinya. Mengajak berarti menghargai potensi dan perasaan orang lain. Dan yang ketiga bisa  dengan cara menawarkan lebih dari satu pendekatan masalah. Kemudian dianalisis mana skenario pemecahan masalah yang paling layak. Dengan cara ini ketegangan dapat diperkecil karena terjadinya proses diskusi yang interaktif-konstruktif. Suasana saling mengerti dikembangkan oleh manajer. Dengan demikian ketegangan yang dapat menimbulkan gertakan-gertakan dari sang manajer dapat diminimumkan. Aman dan tenteram.

           

 

 Penggunaan bahasa tubuh dalam berkomunikasi, biasa disebut sebagai komunikasi non-ujaran (non-verbal communication). Manajer perlu mengetahui cara menggunakan bahasa tubuh sebagai cara penekanan ekspresi pesan yang akan disampaikan.

Ketika berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ujaran (verbal communication) orang acap menggunakan bantuan gerak-gerik anggota tubuh [seperti mata, tangan, kepala, dll). Kemampuan memanfaatkan anggota tubuh merupakan aset komunikasi dan bukan sekedar tampilan fisik. Jika digunakan secara tepat dan benar akan menimbulkan rasa tenteram (bagi diri sendiri atau pendengar), memperjelas bahasa ujaran dan sekaligus akan menghasilkan dampak positif yang mungkin tidak diduga. Sebagai contoh, cara berdiri, bergerak, menatap, dan tersenyum yang dimanipulasikan sedemikian rupa akan memberi nuansa komunikatif terhadap penampilan kata-kata.

Beberapa teknik sederhana yang dapat digunakan adalah:

  1. Lakukan   tatapan  mata  setiap  saat,  pada  individu  atau kelompok tertentu untuk memperoleh keyakinan bahwa mereka memperhatikan  konten  yang   sedang dibicarakan untuk menumbuhkan rasa percaya diri sebagai  pembicara.  Jika keberanian  untuk  melakukan hal ini belum ada, layangkan selalu  tatapan  mata kebagian pendengar di barisan belakang. Kekhawatiran itu akan terkikis  sedikit demi  sedikit selama  berbicara sehingga akhirnya  timbul  keberanian  menatap pada satu arah pendengar tertentu. Jangan lupa memberi keseimbangan  tatapan, berganti  arah. [Jangan  sekali-kali menatap  ke  bahan tertulis konten  pembicaraan/menunduk selama berbicara].
  2. Gunakan bahasa tangan untuk mengilustrasikan poin-poin ujaran yang disampaikan. Jika tidak terbiasa menggunakan gerakan tangan sebagai aksentuasi, silangkan  saja  dibagian punggung (jika bicara sambil berdiri) atau  di  balik  podium (jika  berdiri di mimbar). Jangan sekali-kali menggunakan gerakan  tangan  yang menunjukkan  kegelisahan  atau sebaliknya membuat gerakan yang membuat pendengar menjadi tidak tenteram (misal, memutar-mutar pulpen dengan  tangan atau mengetuk-ngetukkannya di meja selama berbicara).
  3. Bergerak santai jika bicara sambil berdiri. Tapi jangan mundar mandir dari  satu sisi  ke sisi  yang lain terlalu cepat (seperti orang sedang adu  lari)  atau  terlalu diatur (sehingga terkesan seperti pragawati).
  4. Rileks dan santai, jangan tegang. Dalam berkomunikasi dihindari ada rasa beban. Kalau tidak akan terjadi ketegangan dan ketidakteraturan berbicara. Dengan demikian interaksi komunikasi yang positif tidak terjadi.
  5. Senyum  dan  senyum.  Ini akan menimbulkan keyakinan pada  diri  sendiri  dan rasa akrab bagi pendengar. Selalu tersenyum sambil menceritakan suatu  anekdot  atau humor yang terkait dengan bahan pembicaraan akan  membuat  pendengar  benar-benar  menikmati  humor dan anekdot tersebut [paling tidak untuk sopansantun, mereka akan turut tertawa juga]. Dan ini penting buat pembicara.  Sebab, jika humor tidak bersambut akan mengakibatkan hilang kontrol dan  percaya diri pembicara juga akan hilang.

Akhirnya,  apa pun konten pembicaraan yang akan disampaikan maka keberhasilannya akan bergantung  pada kemampuan menggabungkan unsur isi pembicaraan, pengungkapannya dalam bahasa ujaran, dan aksentuasinya dalam bentuk non-ujaran. Semua ini harus bersifat sinergis.

 

 

 

 

 

 

Keterampilan berujar di dalam berkomunikasi lisan adalah kemampuan mengekspresikan bahan pembicaraan dalam bahasa kata-kata (lisan). Dalam hal ini  siapapun termasuk manajer yang tergolong pemula seharusnya  mengetahui cara mengungkapkan pesan yang akan disampaikannya kepada publik atau karyawan. Tidak ada aturan yang standar, mengikat, dan kaku dalam penggunaannya, baik menyangkut panjang dan rincian uraian yang akan disampaikan. Semuanya akan bergantung pada unsur tingkat pengalaman, panjang pembicaraan, konten pembicaraan (bersifat teknis, penuh angka-angka, atau narasi), serta waktu bicara yang tersedia.  Namun, tidaklah bijaksana untuk membacakan bahan pembicaraan secara lengkap (kecuali pidato pejabat tinggi) karena itu akan mengubah kejadian berkomunikasi menjadi kegiatan “membaca bersama”.  Selain itu, sebagai pembicara, manajer pun akan terpaku pada apa yang sudah ditulis dan bahasa penyampaian pun menjadi kaku. Dalam hal ini, penggunaan potongan kartu-kartu pointers pembicaraan atau kertas transparansi sebagai pengingat yang juga akan membantu penumbuhan rasa percaya diri.

Berbagai cara yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan efektivitas penampilan komunikasi ujaran yang dilakukan oleh pembicara, manajer misalnya, adalah sebagai berikut (Hubeis, AV, 2005):

(1)   Percaya diri: Ingatlah, bahwa tiap orang pada umumnya, berharap untuk mendengar pembicaraan terburuk yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Tapi, pada saat yang bersamaan, mereka pun berharap mendengar pembicaraan yang terbaik. Karena itu, jika manajer dapat berbicara lebih baik daripada perkiraan mereka maka dukungan dan penghargaan akan diperolehnya.

(2)   Layangkan pandangan mata  (ke kiri, ke kanan, atau ke tengah)  untuk menemukan pendengar yang paling menaruh perhatian dan bersimpati terhadap pembicaraan yang akan disampaikan.  Jangan mulai sebelum menemukan orang seperti ini. Alasannya sederhana, yaitu sebagai pembicara, manajer bukan hanya memerlukan orang yang menggunakan telinganya untuk mendengar tetapi juga yang memasang matanya. (Catatan: jangan sekali-kali memusatkan perhatian pada orang yang tidak menaruh perhatian karena akan membuat grogi. Kecuali, jika mempunyai otoritas atau kekuasaan untuk menegur. Atau manajer memiliki mental yang lebih kuat sehingga mampu menatap orang yang tidak memperhatikan pembicaraan dengan lirikan mata seakan-akan menegur). Menemukan orang yang menggunakan telinganya dan sekaligus mata-hatinya untuk mendengarkan pembicaraan yang disampaikan tidaklah mudah, tetapi  berdasar pengalaman ternyata di dalam setiap forum komunikasi akan selalu ditemukan orang-orang seperti ini. Jadi carilah untuk memperoleh teman bicara spiritual.

(3)   Menarik napas dalam-dalam, dua sampai tiga kali untuk mengurangi ketegangan. Mengatur napas dilakukan secara normal dan jangan terkesan seperti orang yang sedang dikejar. Kalau perlu hentikan sebentar pembicaraan, selain untuk mengambil napas juga berfungsi untuk menarik perhatian.  Tujuannya adalah untuk menumbuhkan keyakinan diri dan menghilangkan “demam panggung” (sulit mengeluarkan kata-kata).

(4)   Melakukan tatapan mata kepada individu atau kelompok tertentu pada saat berbicara untuk memperoleh keyakinan bahwa mereka memperhatikan konten yang sedang dibicarakan untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Jika keberanian untuk melakukan hal ini belum ada, layangkan tatapan mata kebagian pendengar di barisan belakang. Kekhawatiran itu akan terkikis sedikit demi sedikit selama berbicara sehingga akhirnya timbul keberanian menatap pada satu arah pendengar tertentu. Jangan lupa memberi keseimbangan tatapan, berganti arah. Jangan sekali-kali menatap ke bahan pembicaraan/menunduk selama berbicara.

(5)   Pengaturan suara bicara yaitu:

*        Mengatur volume suara agar lebih keras dari biasanya. Caranya adalah dengan mengatur agar suara dapat didengar oleh jajaran orang yang duduk (berdiri) paling jauh dari tempat bicara. Cara ini tidak hanya berlaku jika waktu berbicara tidak ada media elektronik tapi juga pada saat menggunakan media elektronik (mik). Bukankah sering terjadi dalam forum-forum komunikasi dimana seorang pembicara yang sudah menggunakan mik pun masih tetap tidak terdengar suaranya, karena terlalu sayup-sayup.

*        Menggunakan perkataan yang biasa dipakai sehari-hari. Bahasa canggih, umumnya hanya digunakan dalam bahasa tulisan bukan bahasa lisan. Intinya, orang akan lebih tertarik mendengar pembicaraan yang akrab di telinganya daripada yang tidak dimengertinya.

*        Mengucapkan kata-kata dengan jelas dan perlahan-lahan. Berikan aksentuasi (tekanan kata) untuk hak-hal yang dianggap penting. Bicara dengan wajar, paling tidak seperti biasanya berbicara dalam keseharian. Jangan terkesan seperti penyiar atau sedang berdeklamasi.

*        Atur irama dan tekanan suara, dan jangan monoton. Gunakan tekanan dan irama tertentu untuk menampilkan poin-poin tertentu, seperti marah dengan nada tinggi, sedih dengan suara memelas, dst. Tapi, hindarkan kesan sebagai pemain drama.

*        Menghindari sindrom EEM, AH, ANU, APA, .. dst. Jika  terpojok dan kehabisan bicara, atau lupa cukup berhenti sebentar. Cara ini seakan-akan menunjukkan pembicara sedang berpikir dan lebih memberi dampak positip dibanding mengatakan … apa ya, … eh .. apa ya.  Cara ini hanya menunjukkan ketidaksiapan pembicara atau kurang menguasai konten yang akan dibicarakan.

(6)    Membaca paragraf tertentu yang dianggap penting dari teks tulisan. Jangan merasa malu melakukan ini, karena orang berpikir pembicara hanya ingin menekankan poin pembicaraan tertentu agar lebih lengkap dan jelas.

(7)    Siapkan air minum (terutama untuk mereka yang seringkali kehabisan napas jika berbicara).  Selain membasahkan kerongkongan yang kering, cara ini juga dapat membantu pembicara untuk berhenti sejenak. Minum air ini dapat juga berfungsi sebagai trik dengan cara meminumnya setelah menyampaikan sesuatu hal yang bersifat dramatik, tak terduga atau menegangkan.

(8)    Menimbulkan suasana komunikatif pada saat berbicara dengan memanfaatkan tip-tip berikut:

*        Merebut perhatian pendengar pada awal pembicaraan. Karena itu, kalimat pertama digunakan untuk mengawali pembicaraan menjadi sangat penting. Contoh: Jika berbicara tentang inflasi maka menggunakan kalimat pertama seperti “Inflasi mengganggu pertumbuhan ekonomi. Jadi ……… dst.

*        Membuat struktur pembicaraan dengan efektif, mencakup pendahuluan, kerangka pembicaraan, dan penutup:  Kerangka bicara disusun secara sistematis, logis, dan efektif dan dibuat dalam pointers pembicaraan. Jika belum terbiasa berbicara dengan hanya menggunakan pointers, gunakan kertas-kertas kecil (segi empat) sebagai tempat menulis poin-poin yang dianggap penting untuk disampaikan secara lengkap. Potongan kertas ini akan mengurangi kesibukan membuka halaman kertas yang lebih besar, yang biasanya akan mengganggu konsentrasi pendengar dan juga pembicara sendiri. Jika tersedia sarana OHP (Overhead Projector) dapat menggunakan plastik transparansi untuk menuliskan pointers pembicaraan. Jangan semuanya, nanti terkesan seperti pindahan naskah bicara. Hal yang sama juga berlaku dalam penayangan power points melalui LCD.

*        Menggunakan rumus  ENAM POIN, 45 MENIT.  Artinya, rentang perhatian kebanyakan orang [pendengar] terbatas sekitar 45 menit dan hanya mampu menyerap 6 sampai 7 poin selama waktu itu. Jadi jangan mencoba meliput terlalu banyak poin dalam satu kali berbicara

*        Menggunakan HUMOR, ANEKDOT atau ILUSTRASI karena akan lebih mudah diingat. Lebih baik menggunakan humor, anekdot atau ilustrasi berdasarkan pengalaman sendiri atau jika terpaksa gunakan pengalaman orang lain atau buat ilustrasi hipotetis. Alasannya, jika anekdot atau ilustrasi ini diingat oleh pendengar maka mereka pun akan ingat pesan yang disampaikan. Contoh: Untuk menggambarkan bahwa kaum perempuan (yang juga bekerja di luar rumah selain di dalam rumah) maka menggunakan ungkapan ….. Perempuan bekerja dari MATAHARI terbit sampai MATABAPAK (kata bapak mengganti kata hari) … ternyata membuat banyak orang lebih mudah mengingat pesan yang disampaikan. Atau dapat juga …. perempuan di Indonesia bekerja seperti WONDER WOMEN (yang dapat jumpalitan dan gagah perkasa, semua serba bisa). Tapi ilustrasi ini terbatas pada orang yang pernah menonton film seri Wonder Women di TV. {Catatan: Untuk menghindari kesan sebagai pelawak, gunakan humor, anekdot, atau ilustrasi yang cocok dengan bahan pembicaraan}.

*Libatkan pendengar dengan mengajukan pertanyaan. Gunakan benda nyata yang dapat dianalisis oleh pendengar atau memberi kesempatan mereka untuk bertanya.

(9)         Sama halnya dengan kalimat pembuka, maka kalimat penutup juga sangat menentukan terserapnya pebicaraan dalam memori pendengar. Karena itu, selain dipersiapkan dengan cukup mantap, maka penting sekali menggunakan kata-kata efektif, dinamis, dan mengundang minat ingin tahu (penasaran) dari pendengar.

(10)     Gunakan bahasa tangan untuk mengilustrasikan poin-poin verbal yang disampaikan (akan dibahas lebih rinci pada poin keterampilan komunikasi non-ujaran).

   Trik-trik pada poin 1 sampai 10 tampaknya mudah untuk diucapkan dan dituliskan,  tapi tidak mudah untuk dilakukan. Perlu latihan!

 

Fenomena global di berbagai dimensi kehidupan tidak dapat dihindari. Pasti ada efeknya terhadap organisasi perusahaan. Manajemen perubahan menjadi sangat penting diterapkan. Namun demikian dalam kenyataannya proses perubahan yang terjadi tidak selalu mendapat respon positif. Ada saja mereka yang menyukai dan yang tidak menyukai perubahan. Beberapa alasan  mengapa mereka bersikap kontra perubahan dapat berupa rasa takut terhadap: berkurang/hilangnya kekuasaan, kehilangan ketrampilan, kegagalan kerja, ketidakmampuan menghadapi masalah baru, dan kehilangan pekerjaan.

            Manajer perlu memahami mengapa organisasi  harus siap terhadap perubahan: apakah yang bersifat inovatif maupun strategis. Perubahan inovatif adalah perbaikan  secara kontinyu di dalam kerangka sumberdaya yang ada. Sementara perubahan strategis adalah perubahan melakukan sesuatu yang baru. Tiap perubahan tersebut tentunya akan menggunakan pendekatan berbeda. Manajer selayaknya  proaktif menjelaskan kepada karyawan tentang strategi perubahan yang akan dijalankan organisasi.

            Kebanyakan para manajer dapat merencanakan dan mempraktekan perubahan fisik dengan berhasil. Namun dalam perubahan perilaku, para manajer banyak mengalami kesulitan. Untuk itu manajer perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Untuk melaksanakan perubahan dengan sukses maka manajer harus mampu menciptakan kondisi yang baik untuk memotivasi dan melibatkan karyawan. Hal ini merupakan cerminan seberapa jauh mutu kepemimpinan manajer terbukti nyata. Di samping itu manajer dapat memaksimumkan kesempatan untuk berhasil dalam proses perubahan  melalui evaluasi dengan cermat terhadap perencanaan yang manajer buat.

 

            Apa saja jenis perubahan yang dihadapi organisasi? Berdasarkan derajat kedalaman perubahan dan metodenya maka jenis perubahan yang bakal manajemen hadapi meliputi perubahan rutin, darurat, mutu, radikal, dan kondisi makro:

(1)   Perubahan rutin: hampir selalu dihadapi manajer setiap hari, misalnya produktivitas kerja, ketidakhadiran karyawan, perputaran karyawan, keluhan-keluhan karyawan. Sifat perubahan hampir terjadi dari waktu ke waktu yang menuntut tindakan cepat.

(2)   Perubahan darurat: perubahan yang boleh jadi sangat mendadak dan tidak terduga sebelumnya. Misalnya, pemutusan hubungan kerja mendesak, perubahan pesanan jumlah dan mutu produk tertentu, terjadi kebakaran pabrik, dan pengambilalihan perusahaan oleh pihak berwajib.

(3)   Perubahan dalam hal mutu: perubahan yang terjadi tentang mutu produk yang diminta pasar. Dalam situasi itu perlu ada perubahan penggunaan teknologi (keras dan lunak), strategi mutu kerja, bahan baku, dan budaya mutu termasuk perlu dilakukannya survei pasar yang kontinyu.

(4)   Perubahan radikal: perubahan sistem manajemen atau struktur perusahaan karena adanya perundang-undangan baru tentang syarat-syarat berdirinya perusahaan. Misal terjadinya divestasi, merger, dan penutupan salah satu anak perusahaan. Bagaimana pula misalnya proses pengembangan mutu SDM yang terbaik untuk menjawab perubahan itu.

(5)   Perubahan kondisi makro: perubahan kondisi perekonomian seperti inflasi, pengangguran, dan nilai tukar rupiah,  politik dan keamanan, kodisi lingkungan dsb. Perubahan eksternal tersebut tidak mungkin mampu dikendalikan perusahaan namun yang terpenting perlu dicermati dan diantisipasi kaitannya dengan mutu SDM, kinerja karyawan dan kinerja organisasi.

 

Laman Berikutnya »