Agustus 2009


 

        Agak aneh membaca judul ini. Rasanya tanpa berpikir tak mungkin keputusan bisa diambil dengan cermat. Betulkah dugaan seperti itu?. Tidak selalu seperti itu. Tidak percaya? Coba saja secara sederhana ketika tiba-tiba tangan anda disodorkan geretan yang menyala oleh teman anda. Ketika itu pula secara refleks anda menghindari api. Contoh lain ketika tangan anda dicubit segera pula anda menolak tangan sang mencubit. Ketika itu terjadi apakah anda sempat berpikir apa yang terjadi, mengapa itu terjadi, dan bagaimana bisa itu terjadi dsb. Lalu anda tidak usah memikirkan apa yang harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Semua berlangsung serba cepat. Bisa jadi cuma membutuhkan dua detik pertama saja untuk awal sebuah kesimpulan dan keputusan solusi.

        Fenomena keputusan yang tidak membutuhkan analisis dan pembuktian cermat bisa juga terjadi di bidang manajemen sumberdaya manusia. Misalnya ketika seorang manajer sedang berhadapan dengan seorang karyawannya yang kurang jujur. Manajer tidak harus secara mendalam ketika menganalisis penjelasan sang bawahan saat ia menegurnya. Coba saja dilihat dari gaya bahasa tubuh sang bawahan. Dalam waktu sangat singkat bisa dilihat dari gerak gerik mulutnya yang gagap, sorotan matanya tidak konsentrasi, kerap menunduk, dan bahkan telapak tangannya basah. Begitu pula kalau manajer sedang menghadapi turbulensi internal gara-gara protes karyawannya tentang manajemen kompensasi. Karena sudah disadari hal itu sebagai kebutuhan karyawan maka manajer bisa segera mengetahui apa masalahnya dan bagaimana mengatasinya.

        Contoh kasus-kasus di atas diilhami dari buku berjudul Blink karya tulis Malcom Gladwell. Dia mengatakan tentang dua detik pertama yang sangat menentukan ketika kita mengamati sesuatu. Pemahaman dalam waktu yang sekejap itu terbentuk berkat pilihan-pilihan yang muncul dari komputer internal. Disitu ada kemampuan bawah sadar seseorang. Kemampuan itu sering disebut sebagai kemampuan berpikir tanpa berpikir dimana keputusan sekejap yang didapat dari informasi relative sedikit namun akurat. Misalnya para ahli cicip makanan yang mampu membedakan kue bermutu tinggi dan rendah. Begitu pula orang yang mencicipi teh mampu menilai segera tentang kualitasnya. Juga akhli tentang perpatungan dapat segera menentukan keaslian atau kepalsuan patung. Orang-orang seperti yang diungkapkan dalam blink adalah mereka yang telah terlatih menentukan keputusan sesuatu tanpa harus didukung banyak informasi dan waktu yang lama.

Iklan

 

       Apakah sesuatu yang tampaknya tak mungkin dapat menjadi mungkin? Ataukah sesuatu yang mungkin dapat menjadi tak mungkin? Nothing impossible, istilahnya!. Suatu pertanyaan yang perlu dijawab dari beragam perspektif. Dari segi agama, akal, ilmu pengetahuan, hukum alam, dan kepribadian. Coba kita simak beberapa contoh berikut.

       Tanaman eceng gondok yang dikenal sebagai tanaman pengganggu ternyata daunnya dapat diproses dan dijadikan bahan baku untuk membuat alas kursi, tas, taplak meja, dan permadani. Akarnya? Bisa dipakai untuk salahsatu bahan lukisan indah. Begitu pula kulit kodok dan tokek yang kelihatannya jijik dan tak berguna ternyata dapat diproses sebagai bahan baku pembuat dompet dan tas wanita.

       Seseorang yang cacat, tak memiliki tangan, tampaknya tak berdaya. Tapi ternyata dia mampu melukis dengan bagusnya hanya dengan memakai sepasang kaki. Bahkan plus tak punya kaki ada yang berupaya mengoptimumkan fungsi mulutnya. Subhanallah. Masih ingat ahli fisika dari Inggeris, Stephen Hawking, yang cacat fisik hampir total? Keseharian hidupnya harus dibantu kursi roda. Dalam keadaan kesulitan bicara dan bergerak tapi otaknya masih berfungsi normal dan cemerlang. Ide-idenya dituangkan dalam bentuk saluran pikiran di otak yang langsung direkam di mesin dan dapat dibaca oleh kita. Juga komponis Mozart, walau tuli tetapi mampu menciptakan lagu-lagu klasik yang legendaris berskala dunia, lestari sampai kini.

       Contoh lain adalah tentang temuan penerbangan supersonik. Bayangkan kecepatannya melebihi kecepatan suara antara satu sampai empat kalinya. Jarak tempuh di udara di atas batas permukaan laut bisa mencapai 332 meter per detiknya. Sepertinya tak mungkin. Tetapi ternyata terjadi. Inilah seruan Allah: Carilah ilmu pengetahuan dan manfaatkan apa pun yang ada di alam ini untuk kemaslahatan. Rahmatan Lil Alamin. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan (semua yang ada) (al-Alaq; 1). Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar bagimu (an-Nisa; 113).

        Nah yang ini, pernahkah kita melihat dan membayangkan ada tikus dan kucing bisa bersahabat?. Hebatnya seekor tikus sejak kecil dipelihara seekor kucing betina. Dia semakin besar dan sehat karena menyusu pada kucing. Si kucing dengan kasih sayangnya tidak membedakan antara menyusui si tikus dengan menyusui anak kandungnya sendiri. Begitu juga ada anak kucing disusui dan dibesarkan oleh anjing betina. Dari permusuhan menjadi persaudaraan. Mengapa tidak? Semuanya karena sunatullah, rekayasa manusia dengan menggunakan akal cerdasnya dan tentunya dengan pertolongan Allah. Makanya saya suka sedih ketika mendengar seorang ibu atau bapak tega-teganya membunuh anak darah dagingnya sendiri. Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah”, lalu jadilah ia (al-Baqarah; 117)

         Kemudian yang satu ini contoh sangat ekstrem berbeda. Secara fitrah ketika manusia itu lahir, putih bersih. Tapi mengapa secara bertahap lalu ada yang menjadi kotor seperti sampah. Padahal manusia itu tergolong mahluk sempurna karena punya akal dan kepribadian aktif. Karena itulah, misalnya secara akal sehat sebenarnya korupsi, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, pencurian bahkan incest serta kekerasan dalam keluarga adalah sesuatu yang diharamkan. Tapi mengapa banyak yang melakukannya?. Sesuatu yang tidak mungkin (tak masuk akal dan diharamkan) kok dimungkinkan (dihalalkan)? Di sisi lain sesuatu yang tidak mungkin (seolah tak masuk akal) dapat menjadi mungkin (jadi masuk akal). Fenomena agresi Israel terhadap bangsa Palestina, yang sudah berlangsung lebih dari tiga minggu, contohnya, membuktikan kalau jiwa penjajah yang sudah kemasukkan nafsu iblis-setan begitu saja teganya membunuh kaum sipil termasuk anak-anak generasi masa depan. Dan aneh tetapi nyata, pemerintah Amerika yang konon penegak hak-hak asasi manusia, membiarkan keadaan ini.

        Masih banyak contoh lainnya yang menggambarkan betapa Allah menyerukan pada tiap insanNya untuk selalu mencari dan berupaya bahwa apa pun yang ada di alam ini pasti ada manfaatnya. Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik apa yang terdapat di bumi (al-Baqarah; 168). Tiap insan diserukan untuk selalu menggunakan akal sehat dan berada di jalan lurus, tidak cepat putus asa dan pesimis. Ada yang mematuhiNya tetapi di sisi lain mengapa ada manusia yang ingkar? Jadi benar, Allah selalu mengingatkan memang manusia itu bersifat alpa, lalai atau dhaif (lemah). Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (al-Balad; 4). Agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya (Hud; 7). Allah pun maha pengasih penyayang dan mengingatkan kepada umatnya untuk tidak pesimis (melapangkan). Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (Alam Nasyrah; 5). Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira (2007). Rona Wajah:Coretan Seorang Dosen; IPB Press.

 

         Pada dasarnya melaksanakan komitmen sama saja maknanya dengan menjalankan kewajiban, tanggung jawab, dan janji yang membatasi kebebasan seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi karena sudah punya komitmen maka dia harus mendahulukan apa yang sudah dijanjikan buat organisasinya ketimbang untuk hanya kepentingan dirinya. Di sisi lain komitmen berarti adanya ketaatasasan seseorang dalam bertindak sejalan dengan janji-janjinya. Semakin tinggi derajad komitmen karyawan semakin tinggi pula kinerja yang dicapainya. Suatu ketika komitmen diujudkan dalam bentuk kesetiaan pengabdian pada organisasi. Namun dalam prakteknya tidak semua karyawan melaksanakan komitmen seutuhnya. Ada komitmen yang sangat tinggi dan ada yang sangat rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajad komitmen adalah faktor intrinsik dan ekstrinsik karyawan bersangkutan.

        Faktor-faktor intrinsik karyawan dapat meliputi aspek-aspek kondisi sosial ekonomi keluarga karyawan, usia, pendidikan, pengalaman kerja, kestabilan kepribadian, dan gender. Sementara faktor-ekstrinsik yang dapat mendorong terjadinya derajad komitmen tertentu antara lain adalah keteladanan pihak manajemen khususnya manajemen puncak dalam berkomitmen di berbagai aspek organisasi. Selain itu juga dipengaruhi faktor-faktor manajemen rekrutmen dan seleksi karyawan, pelatihan dan pengembangan, manajemen kompensasi, manajemen kinerja, manajemen karir, dan fungsi kontrol atasan dan sesama rekan kerja. Faktor ekstrinsik di luar organisasi antara lain aspek-aspek budaya, kondisi perekonomian makro, kesempatan kerja, dan persaingan kompensasi.

         Menegakkan komitmen berarti mengatualisasikan budaya kerja secara total. Kalau sebagian dari karyawan ternyata berkomitmen rendah maka berarti ada gangguan terhadap budaya. Karena itu sosialisasi dan internalisasi budaya kerja sejak karyawan masuk ke perusahaan seharusnya menjadi program utama. Selain itu pengembangan sumberdaya manusia karyawan utamanya yang menyangkut kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial harus menjadi prioritas disamping ketrampilan teknis.

       Dukungan fungsi-fungsi manajemen sumberdaya manusia lainnya tidak boleh diabaikan. Kalau tidak diprogramkan secara terencana, maka pengingkaran pada komitmen sama saja memperlihatkan adanya kekeroposan suatu organisasi. Penurunan kredibilitas atau kepercayaan terhadap karyawan pada gilirannya akan mengakibatkan hancurnya kredibilitas perusahaan itu sendiri. Dan ini akan memperkecil derajad loyalitas pelanggan dan mitra bisnis kepada perusahaan tersebut.

 

        Ramadhan, bulan suci yang selalu dirindukan dan ditunggu-tunggu ummat Islam. Di dalam shaum Ramadhan telah dijanjikan Allah sebagai bulan penuh rahmah, berkah dan magfirah; penuh ampunan bagi ummat yang beriman dan bertaqwa. Di bulan itu juga ummat Islam sangat dianjurkan untuk meningkatkan kedekatannya pada Allah. Begitu pula dengan amal ibadahnya. Berumallah, membangun persaudaraan sesama. Untuk itu segala hikmah shaum ramadhan disyiarkan tidak henti-hentinya di berbagai sudut media informasi dan tempat ibadah.

        Namun pertanyaannya mengapa di bulan suci ini, masih ada sebagian khalayak yang berbuat tercela. Mencemarkan makna suci dari ramadhan. Menempatkan bentrokan atau kerusuhan sebagai luapan kemarahan. Emosional mengalahkan rasionalitas. Di sebagian kalangan PKL dan penghuni lahan-lahan pemerintah terjadi bentrokan dengan polisi pamong praja. Begitu juga terjadi gesekan konflik antara kelompok pemuda yang menjaga kompleks lokalisasi PSK dengan polisi pamong praja. Kelompok pemuda menuduh polisi pamong itu munafik karena selama ini banyak oknum yang suka mangkal di lokasi itu. Bentrok, bentrok, dan bentrok. Tentunya sebagai kaum muslim sangat prihatin melihat kejadian itu.

        Gambaran bentrokan seperti itu mudah-mudahan tidak merepresentasikan gambaran perilaku umat muslim Indonesia. Kita berharap tiap muslim dan muslimah menggunakan sisa-sisa waktu bulan ramadhan ini untuk semakin bertafakur. Memohon ampun dan petunjuk dengan mendekatkan diri pada Allah. Tiada jalan lain. Diharapkan mereka yang berpuasa namun terlibat dalam bentrokan untuk semakin merenung diri. Bahwa jangan sampai hikmah puasa yang diperoleh hanyalah rasa lapar dan dahaga saja. Ya Allah berikanlah petunjukMU agar kami selalu berpikir dan bertindak di jalan yang lurus. Amiin.

 

         Jenis emosi karyawan tidaklah selalu sama derajadnya. Misalnya amarah yang meledak asalkan beralasan ternyata dapat memotivasi manajer untuk melakukan evaluasi diri mengapa hal itu terjadi di kalangan karyawan. Apalagi kalau kemarahan karyawan terjadi karena faktor kelalaian manajer dalam memenuhi janjinya kepada karyawan. Amarah, kekecewaan, keputusasaan, stres, dan kebencian berkepanjangan merupakan bentuk emosi berlebihan dari seseorang. Mengapa hal itu bisa terjadi? Misalnya karena ketidakpastiaan dan ketidak-taatasasan suatu kebijakan yang dibuat atasan bisa menimbulkan jenis-jenis emosi tersebut. Kalau tidak bisa diatasi, bakal terjadi fenomena demotivasi di kalangan karyawan. Dan lingkungan kerja bakal terganggu. Lalu bagaimana sebaiknya?

         Untuk mengelola emosi diri karyawannya, manajer sebaiknya melakukan langkah-langkah berikut ini:

(1). Melakukan evaluasi mengapa emosi itu terjadi dan apa akibat-akibat yang mengkin muncul. Yang jelas kalau dibiarkan, emosi dapat menghambat atau bahkan membelokkan karyawan jauh dari arah yang tepat dan benar.

(2). Manajer hendaknya memahami mengapa sampai terjadi emosi yang meledak di kalangan karyawan. Manajer hendaknya berespon untuk berempati kepada karyawan. Dengan demikian manajer akan mencoba mengendalikan diri. Hendaknya manajer memerhatikan masukan-masukan dari bawahannya.

(3). Secara bertahap manajer perlu melakukan perbaikan dalam hal cara berpikir, mengendalikan perasaan, cara berinteraksi dengan orang lain dan memiliki kegigihan untuk mengembangkan kinerja terbaiknya. Dengan kata lain hindari segala tindakan yang dapat memici emosi karyawannya.

(4). Manajer tidak segan-segan untuk berkomunikasi multiarah dalam rangka menenangkan diri dan jiwa karyawan. Dengan empati dan simpati yang diterima dari lingkungan kerjanya, manajer diharapkan dapat mengambil suatu keputusan terbaik walau dalam kondisi sesulit apapun. Tentunya tanpa kekhawatiran dan keraguan secara berlebihan.

       Sebagai seorang pemimpin, manajer tidak mungkin mengkoordinasi dan mengarahkan para karyawannya dengan baik ketika karyawan itu sendiri dalam kondisi yang sedang labil emosinya. Emosi itu sendiri bisa jadi karena ekspektasi tentang sesuatu tidak dapat dipenuhi perusahaan. Idealnya sang karyawan perlu diarahkan untuk menjadi normal kembali. Karena itu  manajer harus mampu mengkalkulasi akibat-akibat yang terjadi dari kondisi emosi yang berlebihan kalau ekspektasi karyawan tidak dapat dipenuhi..

 

        Malam ini adalah tarawih pertama umat Islam menyambut shaum ramadhan besok. Ramadhan suatu fenomena seribu bulan dimana diturunkannya al-Quran. Ramadhan, Ramadan atau Romadhon adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan agama Islam). Kekhususan bulan Ramadhan ini bagi pemeluk agama Islam tergambar pada Al Qur’an pada surat al Baqarah; 185 yang artinya:

"bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…"

        Ramadhan, bulan yang selalu dirindukan dan ditunggu-tunggu ummat. Di dalam shaum Ramadhan telah dijanjikan Allah sebagai bulan penuh rahmah, berkah dan magfirah; penuh ampunan bagi ummat yang beriman dan bertaqwa. Di bulan itu juga ummat Islam sangat dianjurkan untuk meningkatkan kedekatannya pada Allah. Begitu pula dengan amal ibadahnya. Amalan ini menjadi sangat penting ketika bangsa Indonesia masih berada pada suasana keprihatinan sosial dan ekonomi. Tingkat kemiskinan dan pengangguran sudah berada pada batas yang sangat menghawatirkan. Bulan Ramadhan merupakan saatnya untuk umat Islam berfikir dan merenung diri sendiri, bersolat, dan membuat kebajikan.

        Dalam bulan puasa, ummat Islam diharapkan dapat meningkatkan kedisiplinan dan menjadi pemurah. Selalu terpanggil untuk membantu sesama ummat yang sedang dirundung kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan: Rahmatan Lil Alamin. Karena itu, bulan Ramadhan pantas disebut sebagai bulan untuk meningkatkan perasaan dan perilaku kebersamaan dan solidaritas kesolehan dalam membantu mereka yang kurang beruntung hidupnya. Selain itu, ummat terpanggil untuk merenungi diri tentang apa saja yang telah diperbuat selama ini: Apa yang kurang dan bagaimana memperbaiki diri hingga menjadi manusia yang kembali fitrah. Putih dan bersih dari dosa. Allah menjanjikan pahala berlipat bagi ummatnya yang selalu meningkatkan iman, taqwa dan beramal ibadah kapan dan dimana pun. Selamat datang Ramadhan sebagai bulan mempertebal iman dan membersihkan batin dengan mengendalikan godaan nafsu duniawi. Sekaligus dalam menanamkan dan mengembangkan kedisiplinan diri melawan penyakit malas dan status quo.

 

       Tidak seperti biasanya, wakil presiden, Yusuf Kala, belum lama ini melakukan kunjungan kerja ke Batam namun tanpa ditemani sejumlah menteri. Lantas saja sebagian media massa bereaksi. Muncul ungkapan-ungkapan bahwa menteri tak bermoral, habis manis sepah dibuang, kacang lupa akan kulitnya, dan menteri penjilat. Ketika atasan sudah jelas-jelas melakukan kegiatan pemerintahan mengapa para menteri tak ikut. Apakah karena atasannya akan mengakhiri jabatan maka perilaku subordinat cenderung seperti itu?. Sebaliknya ketika sang atasan masih punya kekuasaan, para bawahan akan “setia” kepadanya. Tepatkah sinyalemen seperti itu? Bergantung dari sisi mana kita meninjaunya. Pasalnya personal berikut jabatan atasan  dan tugas bawahan tidaklah mudah dipisah-pisahkan.

         Kasus di atas hanyalah salah satu saja dari sekian banyak kejadian yang ada. Tidak sedikit fenomena itu muncul di suatu organisasi apakah di pemerintahan atau di dunia bisnis. Kita tidak bisa memastikan asumsi semua karakter orang itu sama. Setiap dari mereka memiliki keunikan masing-masing. Dari tinjauan perilaku seseorang, dalam hal ini bawahan, maka paling tidak ada tiga kombinasi sikap terhadap atasan. Apakah eksistensinya sebagai bawahan berorientasi pada jabatan atasannya, personalia atasan, dan atau berorientasi pada semuanya dengan seimbang. Berikut disampaikan proposisi tentang orientasi bawahan terhadap atasan.

  1. Lebih berorientasi pada jabatan atasan; tipe subordinasi seperti ini lebih mengedepankan unsur jabatan atasan ketimbang pada tugasnya. Agar diperlakukan sebagai bawahan yang baik maka sang karyawan tidak segan-segan melakukan apapun yang dikehendaki atasan. Kalau perlu menjilat, asal atasan senang (AAS). Asalkan posisi sang bawahan aman dan bahkan karirnya meningkat. Namun semua perilaku bawahan itu sifatnya sementara saja bergantung pada lamanya sang atasan menjabat. Ketika diketahui atasannya akan turun atau lepas jabatan maka derajat kedekatan sang bawahan cenderung juga menjauh. Dengan kata lain hormat sang bawahan tidak pada karakter personal atasannya tetapi lebih pada jabatannya.
  2. Lebih beorientasi pada personalia atasannya; bawahan akan semakin hormat kepada atasannya kalau mereka merasa semakin nyaman bekerja karena kepemimpinan sang atasan yang baik. Misalnya sang atasan menerapkan gaya parsipatif dan demokratis. Sebaliknya kalau gaya kepemimpinan atasan lebih dekat pada kekuasaan dan otoriter bisa menyebabkan timbulnya konflik dengan bawahan. Hal seperti ini akan memengaruhi kinerja karyawan dan perusahaan.
  3. Lebih berorientasi pada keseimbangan personalia atasan dan tugas; bawahan tipe ini akan betugas dalam kondisi apapun dan tidak peduli pada siapa yang menjadi pejabat. Dia bekerja sesuai dengan uraian kerja atau prosedur operasi standar organisasi atau perusahaan. Dia tidak bergantung pada lamanya sang atasan menjabat posisi tertentu. Wajar-wajar saja dan tidak pernah menjilat atau cari muka. Sampai hari-hari terakhir pejabat meninggalkan posisinya pun dia akan taatasas atau konsisten untuk tetap hormat pada sang atasan. Dan dia akan tetap bekerja apa adanya. Sementara itu hubungannya dengan mantan atasannya tetap berlangsung dengan baik.

        Dalam prakteknya derajat orientasi bawahan terhadap atasan bisa dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik karyawan. Faktor intrinsik meliputi antara lain pengalaman kerja, persepsi tentang kepemimpinan dan pemahaman tentang tugasnya. Semakin lama pengalaman kerja, dan semakin luas pula pemahaman akan tugasnya maka semakin tidak peduli dengan gaya kepemimpinan atasannya. Namun bias pada jabatan atasan bisa timbul kalau sifat karyawan yang selalu ingin dihargai atasan dengan perilaku asal atasan senang atau berperilaku sebagai penjilat. Sementara itu faktor ekstrinsik yang sangat signifikan antara lain adalah lingkungan kerja nonfisik. Dalam hal ini yang menyangkut karakter atasannya dan hubungan antarkaryawan. Semakin baik kepribadian pemimpin dan hubungan antarkaryawan yang harmonis maka semakin tinggi rasa hormat pada atasan dan orientasi kerja bawahan pada tugasnya.

Laman Berikutnya »