Ipteks


       Tahun baru selalu hampir disambut gembira oleh siapapun. Tahun yang selalu dianggap akan membawa keberkahan. Tahun yang didambakan memberi sinar terang kemajuan di segala bidang. Namun oleh mereka yang pesimis, tahun baru bukanlah segala-galanya. Mereka menggap biasa-biasa saja. Bahkan tidak terlalu banyak berharap segalanya akan berbubah menjadi lebih baik ketika mereka memang masih tidak berdaya. Hal itu karena keterbatasan sumberdaya yang dimilikinya. Sementara pemerintah belum tentu mampu mengangkat derajat kehidupan rakyat banyak.

       Bagaimana dengan kalangan organisasi bisnis? Para pebisnis seharusnya menilai tahun baru akan selalu memeroleh tantangan-tantangan baru. Baik itu tantangan internal seperti struktur dan mekanisme organisasi serta mutu sumberdaya manusia maupun eksternal utamanya faktor perkembangan iptek dan persaingan bisnis. Implikasinya adalah munculnya proses perubahan misalnya dalam hal keorganisasian. Dari model manajemen tradisi menjadi model modern. Dari bentuk organisasi yang rutin menjadi organisasi pembelajaran. Mengapa dibutuhkan rekonstruksi model manajemen organisasi yang berorientasi pembelajaran? Yakni semua elemen pelaku organisasi selalu terdorong untuk belajar berkelanjutan.

       Ada beberapa faktor yang mendorong pentingnya diterapkan kaidah-kaidah organisasi pembelajaran. Pertama adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Iptek yang begitu berkembang pesat sudah menjadi realita kehidupan keseharian. Sekaligus sebagai tuntutan masyarakat luas. Dengan iptek yang maju maka diharapkan proses produksi dan distribusi akan lebih cepat, bermutu dan lebih murah. Bagi organisasi tentunya agar perilaku belajar dan kinerja karyawan dan organisasi semakin meningkat.

       Hal yang kedua adalah perkembangan teknologi komunikasi informasi. Era digital akan meninggalkan sistem komunikasi dan informasi manual yang sudah kuno. Organisasi akan mampu segera memenuhi permintaan konsumen atau pelanggan. Dan ini akan berakibat pada sistem produksi yang serba berteknologi tinggi. Kemudian setiap karyawan akan mampu bekerja secara cepat dan mandiri. Karena itu dibutuhkan sumberdaya manusia yang selalu berkembang. Ini sebagai refeleksi berkembangan masyarakat pengetahuan yang begitu dinamisnya. Hal yang ketiga adalah meningkatnya tuntutan pelanggan yang cepat berubah.Tuntutan ini semakin berkembang sejalan dengan meningkatnya tingkat pendidikan, pendapatan, dan sudut pandang tentang mutu, harga murah dan sistem pelayanan produk di kalangan masyarakat. Sekaligus pula inilah unsur-unsur yang harus dipenuhi kalangan bisnis kalau mereka ingin unggul dalam bersaing.

        Beberapa karakteristik organisasi pembelajaran adalah semua elemen pelaku organisasi selalu menerapkan pembelajaran berkelanjutan. Tidak pernah mengenal kata henti apalagi menyerah dan cukup menerima apa adanya saja. Manajemen puncak harus mampu membangun suasana belajar dan memberi teladan bagaimana pentingnya belajar. Selain itu para pelaku harus memiliki kepekaan dan daya respon tinggi terhadap setiap perubahan baik di kalangan internal maupun faktor eksternal.

        Dari situ terjadi proses pembelajaran berpikir sistem dan pembelajaran berkelompok untuk menganalisis sesuatu dan mensolusi masalah. Dengan kata lain organisasi membutuhkan kompetensi dan kepemimpinan atau penguasaan personal untuk mentransformasi pengetahuan kepada seluruh anggota organisasi. Dengan dukungan lingkungan organisasi belajar yang kondusif diharapkan dapat diciptakan orang-orang yang berpengetahuan dengan kompetensi yang dapat diandalkan. Disinilah pentingnya kedudukan faktor berbagi visi di antara elemen pelaku organisasi. Dengan demikian akan terbangun kesamaan visi dan misi dalam mencapai tujuan orgnaisasi.

Iklan

 

        Budaya akademik yang berkarakter baru bisa berkembang kalau IPB mampu memfasilitasi dalam bentuk program dan kegiatan akademik yang bersinambung. Setiap insan dosen terbuka peluangnya untuk mengembangkan potensi dirinya tanpa ketat dikungkung aturan birokrasi dan bahkan oleh ketidakadilan dan kekurangan-perhatian dari “seniornya”. Budaya akademik harus memiliki karakter bahwa mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan itu adalah manifestasi dari ibadah seseorang. Disitu kental ciri budaya akademik yang berkarakter ibadah bahwa “ilmu amaliah, amal ilmiah”.

        Di sisi lain maka dibutuhkan keteladanan sebagai karakter sejati para senior utamanya para guru besar dalam berbudaya akademik. Kegiatan mengajar, membimbing dan meneliti serta menulis jurnal dan buku ajar seharusnya menjadi perhatian yang tinggi ketimbang mencari jabatan-jabatan teknis. Para guru besar seharusnya mampu menjadi panutan dalam bidang kehidupan spiritual, memiliki wawasan keilmuan yang luas, berbudi pekerti luhur, dan profesional di bidangnya. Dengan demikian penerapan budaya akdemik seperti ini secara otomatis dan alami akan diikuti oleh para “yunior” dan mahasiswanya. Jangan sampai ada kesan seorang dosen baru rajin menulis karya ilmiah hanyalah ketika sibuk untuk meraih KUM jabatan akademik saja.

         Bentuk budaya akademik yang sangat substansi adalah datang dari setiap insan akademik utamanya dosen. Budaya menelaah bahan ajar, diskusi keilmuan, tinjauan teori-teori yang ada, penelitian, menulis buku dan jurnal ilmiah seharusnya menjadi aktifitas keseharian. Ada baiknya dikembangkan perilaku atau ekspresi ilmiah,seperti penelitian, yang diawali dari perenungan, perencanaan, penelitian, rekonstruksi/kontemplasi, penulisan, dan publikasi serta diseminasi karya ilmiah dalam bentuk seminar, penulisan dan publikasi ilmiah.

         Dalam konteks kehidupan modern maka IPB hendaknya mengembangkan jejaring lintas budaya akademik antarbangsa. Interaksi antarbudaya menjadi semakin penting dalam kerangka akulturisasi budaya tanpa menghilangkan budaya akademik berkarakter yang ada. Intinya adalah bagaimana dengan komunikasi budaya tersebut IPB memeroleh manfaat untuk mengambil sisi nilai baiknya suatu budaya akademik dari luar.

       Umum cenderung sudah memahami bahwa Hak Milik yang paling berharga di kalangan perguruan tinggi adalah kebebasan, otonomi, dan budaya akademik. Derajat budaya akademik di IPB diduga bukan saja berhubungan dengan birokrasi pendidikan tinggi tetapi juga akibat keadaan internal berupa interaksi sosiologis yang cenderung belum semua individu siap berbeda pendapat, bersaing dan berambisi untuk meraih kemajuan IPB itu sendiri. Kalau menyimpang mungkin khawatir disebut sebagai sikap arogan dan ambisius. Kalau dibiarkan maka IPB akan kehilangan karakter jati dirinya sebagai lembaga ilmiah/akademik yakni hilangnya intelektual yang bersikap kritis.

        Tradisi akademik berupa kebebasan untuk menyatakan pendapat apa adanya namun bertanggung jawab juga masih harus dikembangkan. Tidak perlu ada dinding tebal yang menghalangi setiap dosen menyatakan pemikiran-pemikirannya sekalipun mungkin bernada “pedas” asalkan didukung dengan kaidah ilmiah yakni obyektif dan kebenaran.

         Produk-produk kebijakan IPB termasuk Visi IPB juga perlu ditelaah mendalam baik dilihat dari substansial maupun teknis operasional apakah sudah ada kandungan unsur budaya akademik atau belum. Jangan sampai unsur-unsur non akademik dan sangat teknis sifatnya mendominasi dalam membuat indikator keberhasilan IPB. Misalnya penting dijadikan ukuran keberhasilan IPB adalah budaya meneliti dan menulis karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan masyarakat akademik nusantara bahkan mancanegara.

         IPB hendaknya mampu menciptakan suasana yang semakin nyaman dalam mengembangkan budaya akademik. Maknanya jangan sampai IPB larut terlalu kerap mengurus masalah-masalah teknis pembelajaran semata namun lupa mengembangkan potensi sumberdaya dosen dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya.

        Kalau kondisi “malas” untuk mengembangkan budaya akademiknya seperti mengembangkan suatu teori, meneliti, menulis buku ilmiah, dan jurnal ilmiah yang dikaitkan dengan latar belakang masalah kita sendiri maka sama saja kita menjadi “turunan dekat warga barat” dalam berbudaya akademik. Tinggal impor dan gunakan saja tanpa tinjauan kritis berbasis karakter unik bangsa kita. Kreatifitas kita bisa semakin melemah saja karena cukup dengan menggunakan pola pikir dan bertindak bagaikan perilaku konsumen.Jangan sampai generasi pelanjut didikan IPB banyak dijejali dengan teori-teori dari luar tanpa diperkuat dengan karakter, kekayaan dan masalah empiris bangsa.

         Harus diakui adanya kenyataan bahwa semangat dan kemampuan mahasiswa dalam hal membaca dan menulis cenderung masih lemah. Kondisi ini bukan karena faktor interinsik mahasiswa yang bersangkutan saja namun juga oleh pola pembelajaran yang ada. Mahasiswa jarang diajak aktif untuk berpikir kritis berbasis teori dan empiris. Selain itu diskusi-diskusi kelompok hampir jarang dilakukan karena terbatasnya dosen, waktu dan ruangan. Fenomena ini jangan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana namun harus dicari formula solusinya.

 

         Apakah Ekonomi Kreatif (EK) itu. Buku “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” yang ditulis oleh John Howkins pada tahun 2001 mengungkapkan sebagai EK sebagai “The creation of value as a result of idea”. Kemudian definisi umum ekonomi kreatif menurut UNCTAD “Creative Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content”. Sementara di Indonesia, Kementerian Perdagangan pada tahun 2009 mendefinisikan Oekonomi kreatif : “Era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari sumber daya manusianya sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya”.

         Kriteria dan Indikator EK dapat berupa; berbasis Nilai PDB yang meliputi; Nilai Tambah Bruto Industri Kreatif; Persentase Terhadap PDB dan Pertumbuhan Tahunan Nilai Tambah Bruto. Kriteria lainnya adalah berbasis Ketenagakerjaan yang meliputi Jumlah Tenaga Kerja; Persentase Jumlah Tenaga kerja; Pertumbuhan Jumlah Tenaga Kerja; dan Produktivitas Tenaga Kerja. Sementara itu peran EK juga dapat berbasis Aktivitas Perusahaan yang meliputi indikator-indikator Jumlah Perusahaan dan Nilai Ekspor.

       Mengapa ekonomi kreatif? Sejak Kabinet Bersatu jilid ke-dua, hasil ocok ulang, perhatian pemerintah terhadap ekonomi kreatif semakin meningkat. Untuk itu ada seorang menteri yang menanganinya secara khusus. Mengpa? Karena EK berkaitan dengan beberapa segi  yakni : (1) Kontribusi Ekonomi: PDB, penciptaan lapangan kerja, mengatasi kemiskinan.(2) Iklim bisnis: penciptaan lapangan usaha, dampak ke sektor lain, perluasan segmen pasar, prospek ekspor. (3) Sumberdaya terbarukan: berbasis pengetahuan dan daya cipta, penciptaan green economy, dan penciptaan green community, kelestarian lingkungan. (4) Inovasi dan kreativitas: pengembangan ide, penciptaan dan pengembangan nilai. (5) Dampak sosial: kualitas hidup, pengakuan teknologi lokal, brand lokal

Topik- toik EK antara lain

Ø RISET & RANCANGAN PRODUKSI DAN EKONOMI KREATIF

Ø SUMBERDAYA MANUSIA DAN EKONOMI KREATIF

Ø IPTEK DAN EKONOMI KREATIF

Ø PEMASARAN DAN EKONOMI KREATIF

Ø PERAN EKONOMI KREATIF TERHADAP PDB

Ø PERAN EKONOMI KREATIF DALAM MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA DAN USAHA

Ø KELEMBAGAAN SOSIAL EKONOMI DAN EKONOMI KREATIF

Ø PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

Ø PENGELOLAAN SUMBERDAYA LOKAL DAN EKONOMI KREATIF

Ø MODAL SOSIAL DAN EKONOMI KREATIF

Ø DIMENSI LINGKUNGAN DAN EKONOMI KREATIF

Ø PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF

Ø BUDAYA LOKAL DAN EKONOMI KREATIF

Ø AGRIBISNIS DAN EKON OMI KREATIF

 

       Pembangunan berkelanjutan diilhami oleh adanya kerusakan lingkungan hidup.Isu lingkungan hidup merebak sejak tahun 1960-an. Pada tahun 1972, PBB menyelenggarakan konferensi tentang lingkungan hidup (United Nation Conference on the Human Environment) di Stokholm. Isunya ialah kerusakan lingkungan hidup (bahan kuliah Falsafah Sains; IPB Sjafri Mangkuprawira).

       Selanjutnya dikemukakan isu pembangunan berkelanjutan semakin kuat dengan diterbitkannya laporan WCED (World Commission on Environment and  Development) sehingga berkembang menjadi isu lingkungan hidup dan pembangunan yang tecermin dalam nama Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan di Rio de Janeiro. Akhirnya, 30 tahun setelah Konferensi Stokholm, diadakanlah KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg.

      Lingkungan hidup bukan  isu utamanya, melainkan merupakan bagian pembangunan berkelanjutan, yang seperti disyaratkan oleh WCED: Pertama, harus meningkatkan potensi produksi dengan cara yang ramah lingkungan hidup; Kedua, menjamin terciptanya kesempatan yang merata dan adil bagi semua orang. Dalam perkembangannya maka kini dikenal istilah green economy atau ekonomi hijau khususnya dalam dunia bisnis.

        Ekonomi Hijau (EH) merupakan proses menyeimbangkan antara peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi dan kualitas lingkungan. Dengan kata lain jangan sampai mengalami trade off dengan kerusakan dan kelangkaan ekologi. Karena itu ada ciri-cirinya dimana EH merupakan paradigma baru ekonomi. Dengan EH bagaimana meningkatkan pendapatan dan mengurangi pengangguran dan kemiskinan sejalan atau bersamaan dengan program pengurangan resiko lingkungan dan kelangkaan sunberdaya alam. Sekaligus pula bahwa EH memiliki aspek strategis dalam pembangunan berkelanjutan.

      Dalam konteks EH maka setiap kegiatan bisnis harus memiliki kriteria pentingnya menempatkan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap keputusan bisnisnya; proses produksi dan produk-produknya harus memiliki ciri-ciri ramah lingkungan; dan menjadikan ”hijau” menjadi salah satu kriteria kemampuan daya sang bisnis. Tentunya daya saing ini tidak hanya sebatas pada ketersediaan modal teknologi dan modal alam saja namun juga modal sumberdaya manusia.

       Modal alam yang semakin langka tidak ditempatkan lagi sebagai ukuran utama keandalan suatu bisnis. Kelangkaan ini harus diimbangi dengan keunggulan modal manusia. Banyak negara yang miskin modal alam namun karena mutu modal manusianya hebat-hebat maka bisa sejahtera. Karena itu berkait dengan berkembangnya manajemen pengetahuan maka sumberdaya manusia dalam bisnis harus ditingkatkan. Mulai dari pemahaman visi tentang EH hingga meningkatnya pengetahuan, sikap dan ketrampilan sumberdaya manusia. Kompetensi sumberdaya manusia yang berwawasan ekonomi hijau harus menjadi pilihan strategis suatu perusahaan. Disinilah pentingnya setiap organisasi bisnis mengembangkan dirinya menjadi organisasi pembelajaran. Yakni suatu perusahaan yang dicirikan oleh strategi pengembangan sumberdaya manusia dengan dukungan manajemen ilmu pengetahuan.. Disitu ditanamkan perilaku yang tak pernah berhenti belajar dan melakukan perubahan-perubahan yang inovatif berwawasan lingkungan.

 

        Pasar global timbul bukan tanpa alasan. Itu merupakan respon kuat semakin tingginya persaingan antarbangsa. Dalam hal apa? Yang paling nyata adalah munculnya revolusi teknologi informasi. Akibatnya sekat-sekat pewilayahan nasional dan internasional telah menjadi hilang. Dengan demikian maka transaksi perekonomian pun jadi mengglobal. Mereka yang kuat dalam temuan-temuan inovasi, ekspansi pasar, dan mutu sumbersaya manusia akan semakin mampu bersaing. Disitu seperti biasa maka akan muncul dua pelaku global yakni pemenang dan pecundang.

         Apa persamaan dan perbedaan antara pemenang dan pecundang dalam pasar global ini? Persamaannya adalah keduanya tidak mampu memerkirakan perubahan yang bakal terjadi. Semua serba tidak pasti karena itu tidak mudah diantisipasi dan tidak bisa dikendalikan. Sementara perbedaannya adalah dalam sisi derajat kemampuan merespon langkah perubahan. Steve Kerr dalam Dave Ulrich Human Resource Champions, 1997) mengungkapkan pemenang tidak akan terkejut dengan perubahan yang tidak terantisipasi; mereka akan mengembangkan kemampuan untuk menyesuaikan diri, belajar dan merespon. Sedang pecundang akan menghabiskan waktu untuk mengontrol dan menguasai perubahan daripada merespon dengan cepat.

       Dave Ulrich mengatakan perubahan eksternal akan menimbulkan respon untuk melakukan perubahan pada tiga hal. Pertama adalah perubahan inisiatif yang berfokus pada pengimplementasian program, proyek atau prosedur baru seperti impelentasi struktur organisasi baru, pelayanan pada pelanggan, dan peningkatan kualitas. Kedua adalah perubahan proses dimana perusahaan fokus pada cara pekerjaan dilakukan. Disini dilakukan identifikasi proses utama dan kemudian dicoba dikembangkan suatu proses dengan simplifikasi kerja, nilai tambah, dan usaha rekayasa lainnya. Sementara perubahan ketiga adalah dalam mengadaptasi kultur terutama dari eksternal. Nilai-nilai budaya perusahaan yang baru kemudian ditransformasikan pada karyawan dan konsumen.

        Selain itu proses perubahan yang juga termasuk sangat substansi yakni perubahan visi perusahaan. Disitu ada pernyataan cita-cita apa yang ingin dicapai perusahaan pada masa depan yang tidak sedikit akan berhadapan dengan beragam dimensi turblulensi eksternal. Untuk itu dinilai penting tumbuhnya dinamika perubahan cara pandang masa depan dari setiap pengelola dan karyawan. Suatu perubahan tidak sekedar diposisikan sebagai kewjiban namun sebagai kebutuhan setiap individu. Perusahaan harus menyediakan “nutrisi” yang dibutuhkan sehari-hari. Tentunya untuk mengembangkan gagasan, pemikiran suatu pendekatan baru.

 

       Tidak jarang kemampuan daya saing bisnis hanya dilihat dari sisi penguasaan teknologi keras saja. Semakin dikuasainya teknologi itu semakin tinggi daya inovasi dan produktifitas bisnisnya. Ternyata dalam prakteknya tidaklah cukup. Mengapa? Karena efektifitas teknologi juga sangat ditentukan oleh faktor-faktor non-teknologi. Hal inilah yang kerap terabaikan oleh para pihak manajemen. Untuk itu dibutuhkan bentuk inovasi lunak yang disebut dengan inovasi sosial. Kanter (1983) dalam bukunya The Change Masters, menyatakan:Indeed, it is a virtual truism that if technical innovation runs far ahead of complementary social and organizational innovation, its use in practice can be either dysfunctional or negligible.

       Mengapa inovasi sosial dibutuhkan? Jawabannya, karena selama ini produk inovasi teknologi sering menimbulkan degradasi lingkungan fisik, sosial dan ekonomi. Inovasi teknologi sering mengabaikan pertimbangan-pertimbangan keseimbangan lingkungan. pasalnya karena inovasi teknologi kerap tanpa memasukkan unsur-unsur kehidupan lainnya yaitu, humaniora, manajemen khususnya manajemen sumberdaya manusia, dan etika. Seharusnya inovasi sosial mendorong terjadinya inovasi teknologi bukan sebaliknya.

       Hal ini sejalan dengan pendapat Collins,(2002),  Although technical innovations, such as sticky shoe rubber [sic], contributed to climbing progress, the primary drivers were in fact social innovations. Dia menambahkan:…social inventors, designing an environment that would be the seedbed for many insanely great innovations over decades to come.To lead for innovation, then, does not mean leading the creation of innovations per se or being a towering innovative genius yourself. Rather, it means being innovative in the way you lead, manage, and build your organization.

       Dalam kaitan dengan itu maka perusahaan yang menerapkan inovasi sosial akan lebih mampu memiliki daya saing bahkan sampai tingkat pasar global. Pengakuan internasional dengan standar internasional (ISO) di bidang manajemen lingkungan misalnya, mensyaratkan tiap bisnis harus menerapkan inovasi sosial. Begitu pula dengan kebijakan corporate social responsibility maka setiap perusahaan harus membuat suatu strategi bagaimana menempatkan perusahaan tidak terlepas dari system social lingkungannya dimana perusahaan itu berada. Perusahaan haruslah menjadi bagian dari upaya langsung atau tidak langsung untuk aktif mensejahterakan lingkungan social ekonomi di sekitarnya.

Laman Berikutnya »