Bulan ramadhan mengandung tiga hidayah buat mereka yang berpuasa dengan khusyu. Yakni memeroleh rahmat bathiniah, ampunan dosa, dan terbebas dari api neraka. Itulah yang menjadikan idaman kalangan muslim. Tinggal lagi bagaimana mengimplentasikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya agar dapat memenuhi persyaratan memeroleh hidayah tersebut.

        Salah satu fenomena sosial yang marak dalam bulan ramadhan adalah berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa seperti anak yatim dari keluarga miskin. Bisa berbentuk berbuka bersama, penyerahan bingkisan lebaran, dan juga uang santunan pendidikan. Tak kurang para artis dan pejabat dan partai politik seolah berlomba untuk menyelenggarakannya. Media TV menjadi salah satu jalur untuk menginformasikan kegiatan seperti itu. Tentunya perlu kita sambut kegiatan yang mulia itu.

       Kegiatan itu akan lebih bermakna lagi sekiranya berlanjut di hari atau bulan-bulan berikutnya. Karena yang dimaknai dari ibadah adalah tidak mengenal waktu dan tempat. Populernya kapan dan dimana saja. Namun demikian ibadah seperti berbagi itu haruslah dalam konteks investasi pendidikan dan pembangkitan usaha mencari nafkah. Artinya dengan berbagi uang jangan sampai membangun sifat bergantung pada orang lain. Uang yang dibagikan yang insya Allah berkelanjutan seharusnya bisa menjadi modal usaha atau biaya untuk pendidikan. Jangan memberi ikan tetapi berilah kail dan cara memancingnya. Pada gilirannya mereka diharapkan mampu mandiri dalam menghidupi diri dan keluarga.