Oktober 2008


 

            Secara teoritis terdapat hubungan siklus tujuan dan strategi bisnis perusahaan dengan strategi Manajemen Mutu SDM (MMSDM). Strategi perusahaan diturunkan dalam bentuk strategi MMSDM. Program-program yang menyangkut MMSDM diarahkan pada sasaran peningkatan mutu SDM karyawan. Sebagai input, mutu SDM akan mempengaruhi kinerja karyawan dalam bentuk produktivitas kerjanya. Semakin meningkat mutu SDM karyawan semakin meningkat pula produktivitas kerjanya. Akumulasi dari produktivitas kerja karyawan yang meningkat akan mencerminkan kinerja perusahaan, misalnya dalam bentuk omset penjualan dan keuntungan yang juga meningkat. Kinerja perusahaan yang meningkat akan semakin membuka peluang pada manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan melalui peningkatan kompensasi (imbalan) berupa kenaikan upah, jaminan sosial dan peningkatan karir. Hal ini berarti bahwa perusahaan telah memenuhi tujuan atau kepentingan karyawan disamping kepentingan perusahaan. Siklus ini terus bergulir sesuai dengan ubahan strategi manajemen organisasi.

 

Proses pengubahan strategi manajemen suatu organisasi bersifat dinamis.  Misalnya ketika perusahaan dihadapkan pada krisis keuangan global belakangan ini. Hal ini seharusnya dicirikan oleh adanya respon suatu organisasi ketika menghadapi ubahan-ubahan eksternal, misalnya tantangan era global dengan segala turbulensinya. Dalam kasus strategi sumberdaya manusia, organisasi akan menerapkan strategi MMSDM yang harus beradaptasi dengan beragam variabel keorganisasian internal dan kebutuhan serta ekspektasi para anggotanya. Karena itu proses perubahan yang terjadi akan menyangkut dimensi kultural, struktural, dan personal.

 

Dari sisi kultural, suatu perusahaan akan mengubah strategi sumberdaya manusia yang selama ini bersifat rutin dan status-quo menjadi budaya pengembangan atau produktif. Intinya adalah bagaimana perusahaan mengembangkan budaya unggul di kalangan karyawan yang mampu bersaing di pasar. Perilaku produktif dikembangkan sebagai suatu sistem nilai, baik untuk individu maupun perusahaan.

 

Kemudian di sisi struktural dikembangkan suatu strategi manajemen kepemimpinan yang semula berorientasi hubungan atasan dan bawahan menjadi manajemen kemitraan antara atasan dan bawahan dan sebaliknya. Juga dapat terjadi pengubahan struktur organisasi yang semula gemuk menjadi ramping sesuai dengan prinsip-prinsip efektivitas dan efisiensi. Termasuk di dalamnya diharapkan fungsi MMSDM yang semula hanya dikelola oleh departemen atau divisi SDM secara bertahap untuk beberapa fungsi tertentu, misalnya pengembangan mutu karyawan dilakukan oleh departemen atau divisi lain secara terintegrasi.

Dalam hal dimensi personal, suatu perusahaan harus berorientasi pada pengembangan kebutuhan dan kepentingan karyawan disamping kebutuhan dan kepentingan perusahaan. Karyawan harus dipandang sebagai unsur investasi yang efektif dan jangan sampai terjadi beragam perlakuan yang bersifat dehumanisasi. Untuk itu peningkatan mutu karyawan menjadi hal yang pokok dan perlu dilakukan melalui kegiatan analisis masalah karyawan, komunikasi,  pelatihan, pengembangan motivasi dan kedisiplinan, penerapan manajemen kepemimpinan yang partisipatif, pengembangan keselamatan dan kesehatan kerja, manajemen perubahan, dan menjadikan perusahaan sebagai suatu organisasi pembelajaran.

 

Sumpah Pemuda : satu tanah air…….tanah air Indonesia, satu  bangsa………bangsa Indonesia, dan satu bahasa…….bahasa Indonesia. Ikrar itu dideklarasikan 80 tahun yang lalu dalam Kongres Pemoeda di Jakarta. Lahir sebagai refleksi dari kebangkitan nasional. Ia juga sebagai cikal bakal  dan sumber inspirasi lahirnya kemerdekaan. Intinya adalah bagaimana dengan sumpah pemuda dapat diwujudkan spirit kebangsaan, kesatuan dan persatuan bangsa pada setiap warganegara Indonesia.

 

Dalam tataran kehidupan bangsa jangka panjang ia merupakan sebuah kontrak politik. Pertanyaannya apakah semangat itu masih begitu menggelora hingga kini? Apakah  spirit sumpah pemuda yakni kemerdekaan dan kebebasan sudah terwujud sepenuhnya? Kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan tidak perlu diperdebatkan. Namun utamanya kebebasan dari ketidakadilan perlakuan hukum, keserakahan (korupsi), konflik sosial, kebodohan, kesehatan, dan kemiskinan ternyata belum sepenuhnya  terwujud termasuk kebebasan dari kerusuhan sosial. Lalu apa peran pengeblog (blogger) yang bisa dimainkan untuk kemajuan dan kemartabatan bangsa kita tercinta ini?

 

Yang jelas blog merupakan media untuk merefleksikan sesuatu dari pengeblognya. Jenis refleksi begitu beragamnya. Mulai dari jenis blog yang isinya santai ria, curhat, pengalaman hidup, sampai yang berisi setengah serius (populer) sampai yang serius. Dilihat dari domainnya ada yang berstatus non-bisnis sampai yang berdimensi bisnis atau lewat blog rupiah, dolar, atau euro datang. Dilihat dari spesifikasi materinya isi blog mulai dari becitra isi capcay atau segala macam refleksi, puisi, sains murni, sains fiksi, sains populer, manajemen, bisnis, politik, hukum, dan konsultasi seks dsb.

 

Komunitas pengeblog bukanlah segalanya dimana semua persoalan bangsa dapat dianalisis bahkan diatasi oleh pengeblog. Dan ini sangat berkait dengan latar belakang pengeblog. Perlu diketahui latar belakang pendidikan dan profesi pengeblog sangatlah bervariasi; mulai dari mereka yang masih duduk di sekolah dasar sampai SMA, mahasiswa, sarjana, birokrat, menteri, pebisnis, politikus, sampai pensiunan gurubesar. Karena itu disilakan siapapun pengeblog, mereka memiliki kebebasan untuk merefleksikan pendapatnya berbasis nuraninya walaupun dalam bentuk protes atau kritik sekalipun terhadap kondisi bangsa. Asalkan  isinya dapat dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan. Di sisi lain  beberapa hal yang dapat dilakukan adalah lebih banyak memberikan pemikiran-pemikiran makro dan mikro. Apapun domain yang dimilikinya para pengeblog bisa memberikan masukan yang cerdas buat bangsa ini. Bahkan buat dunia internasional. Karena itu para pengeblog, bukan saja dari kalangan pemuda, diharapkan mampu mengolah enerji dan kapasitas pribadinya dalam bentuk ide-ide cemerlang. Insya allah semua itu bisa ditangkap oleh pemerintah sebagai masukan luhur.Tidak tertutup kemungkinan isi blog dihimpun untuk dibukukan. Saya sendiri menghimpun  lebih dari 200-an artikel dan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Horison:Bisnis, Manajemen, dan SDM”; 2008; IPB Press.

 

Selain kontribusi dalam bentuk analisis kritis dan penulisan gagasan maju buat bangsa lewat dunia maya maka pengeblog pun dapat berkontribusi langsung buat lingkungan sosial sekitarnya. Saya ambil contoh apa yang dilakukan komunitas pengeblog di wilayah Bogor yang tergabung dalam BLOGOR. Secara sendiri-sendiri sementara ini mereka cukup banyak berbuat dalam dunia maya dengan tulisan-tulisannya. Sementara walau masih berusia relatif sangat muda (tiga bulan), blogor sudah berbuat banyak. Misalnya berbuka dan bersedekah buat anak-anak dari keluarga dhuafa; mendistribusikan buku-buku pelajaran dan pengetahuan agama dan umum ke beberapa perpustakaan panti asuhan dan majelis taklim; dan kemudian talk show dan lomba postingan di blog yang bertema Sumpah Pemuda. Disamping itu komunitas blogor memiliki mailing list (blogor@googlegroups.com) dan website (http://blogor.org) sebagai media untuk berinteraksi antaranggota blogor dan juga dengan segmen blogger lainnya.

 

Jadi yang terpenting bagaimana menerjemahkan spirit sumpah pemuda tidak hanya sebatas seremonial saja. Sumpah Pemuda harus dieskpresikan dalam wujud nyata dalam suasana kebersamaan. Disamping dalam bentuk kontribusi yang telah diuraikan di atas maka para pengeblog pun bisa mendorong suatu ”gerakan produktifitas nasional”. Mumpung dalam spirit Sumpah Pemuda, Hari Blogger Nasional, dan Pertemuan Akbar Nasional Blogger 2008 maka gerakan itu semakin monumental. Hal ini berkait dengan isyu-isyu nasional yang menyangkut aspek pengangguran dan kemiskinan. Sudah saatnya pembangunan yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan dan pengangguran yang didukung dengan penegakkan dimensi kehidupan lainnya perlu dilaksanakan secara fokus dan menjadi prioritas utama pembangunan. Mengapa? Karena derajad dua dimensi kehidupan itu tidak dipungkiri menggambarkan wajah dan nuraini kemartabatan bangsa. So kapan lagi kita berbuat?

 

Suatu waktu, ketika beberapa mahasiswa strata satu berkonsultasi untuk pembuatan proposal penelitian skripsi dan draf skripsi terdengar ada suatu istilah yang asing bagi saya. Hampir setiap saya berikan masukan selalu direspon sebagian mahasiswa dengan ucapan “sip….sip pak” sambil ngangguk-ngangguk. Hal yang sama juga berlangsung ketika saya kemarin sore  menerima kedatangan dua orang mahasiswa di rumah saya. Maksudnya untuk mengambil buku-buku pengetahuan agama dan umum untuk koleksi bacaan perpustakaan majelis taklim di salah satu lokasi di Bogor. Ketika saya memberikan pendapat dan saran-saran, salah seorang dari mereka kerap bilang “sip…..sip pak”.

 

Ketika saya masih bingung lalu saya bertanya pada cucu saya, perempuan-11 tahun, apa arti dari kata sip…sip. Lalu dia jawab itu artinya oke..oke mbah, katanya. Ooooh begitu ya artinya. Saya coba sinonimkan kata sip….sip dengan kata baik….baik. Atau bisa juga disebut aman….aman. Rupanya itu semua ungkapan dalam bahasa gaul. Yang saya tahu dan pernah menerima sms dari mahasiswa adalah seperti gpp, ok, cu, dan belakangan ini sip…sip. Bukan main. Saya tentunya tidak bisa berbuat banyak untuk meminta para remaja itu menggantikannya secara drastis dengan kata yang biasa dan standar yakni baik…baik pak. Paling-paling saya cuma menganjurkan agar kalau dalam menggunakan bahasa gaul harus proporsional dengan siapa sasaran komunikannya. 

 

Ada gejala apa sebenarnya ketika banyak kalangan remaja/pemuda  menggunakan istilah-istilah bahasa gaul? Apakah ada kecenderungan bahasa kita mengalami kemunduran atau kemajuan? Saya tidak punya kapasitas untuk membahas tentang bahasa seperti itu. Saya tidak punya kompetensi. Setahu saya, perkembangan bahasa itu tidak statis. Ia banyak dipengaruhi oleh perkembangan beragam sisi kehidupan termasuk teknologi, kultur, media komunikasi dsb. Namun yang ingin disampaikan bahwa pergaulan antara mahasiswa dan dosen tampaknya sudah semakin tidak dibatasi oleh bahasa standar yang kaku. Termasuk istilah-istilah yang digunakan. Saya sendiri berupaya tidak merasa canggung untuk berada di alam pergaulan bahasa remaja. Asalkan tentunya berbahasa sopan. Bukan seperti kata-kata gue atau elu. Bagi saya boleh-boleh saja mereka menggunakan bahasa lisan populer atau gaul. Namun itu sama sekali tidak bisa digunakan untuk bahasa tulisan ilmiah. Demi pengembangan mutu akademik, tidak ada kompromi dengan bahasa yang tidak baik dan tidak benar.

 

Tidak jarang pihak manajemen puncak kecewa dengan  perilaku dan kinerja para manajernya. Ada kesan pihak manajer suka menyimpang atau bahkan mengabaikan tugas-tugasnya yang sudah digariskan oleh perusahaan. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut, pada gilirannya kinerja perusahaan akan semakin turun dan akhirnya ambruk. Salah satu kesalahan besar manajer adalah kekurang-taatasasan atau tidak konsisten pada tugas dan pekerjaannya. Memang para manajer diberikan kebebasan untuk membuat gagasan pembaharuan, misalnya dalam hal manajemen proses produksi dan pemasaran. Namun demikian tidak jarang gagasan tersebut tanpa diketahui oleh bosnya. Tanpa legitimasi atasan lalu jalan sendiri-sendiri. Kalau seperti itu terjadi, jelas saja koordinasi tugas bisa berantakan. Sementara para karyawan sebagai subordinasi dari para manajer akan merasa kebingungan.

 

Posisi manajer sebenarnya merupakan ujung tombak dari semua koordinasi kegiatan perusahaan sesuai dengan bidang tugas dan pekerjaan dari masing-masing unitnya. Mereka ditempatkan sebagai representasi pihak manajemen yang lebih tinggi dalam mengkoordinasi tugas-tugas para karyawan. Para manajerlah yang berhadapan langsung dengan pihak karyawan. Jadi kalau manajer tidak taatasas maka bisa jadi karyawan pun akan terseret dalam situasi ketidak-taatasasan.

 

Dalam prakteknya seringkali  ketaatasasan para manajer tidak mudah terjadi. karena mereka tidak memahami secara jelas tentang beberapa hal seperti: hal apa saja persisnya yang menyebabkan manajer tidak menyukai pekerjaannya; mengapa mereka merasa kuat tentang sesuatu, dan merasa lemah dalam hal yang lain; apakah rekan manajer yang lain suka berbagi perasaan dan pengalaman; apa yang telah dilakukan untuk merubah tujuan dan kebijakan perusahaan; apakah manajer bisa melaksanakan tugasnya sesuai dengan tujuan dan kebijakan perusahaan.

 

Dalam kaitan dengan itu, beberapa hal yang perlu dilakukan manajer dalam menegakkan ketatasasan adalah: (1) mendukung setiap kebijakan dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan; (2) mendukung setiap kebijakan dalam melaksanakan kebijakan dan program perusahaan; (3) mensinkronisasi  kebutuhan  perusahaan dengan kebutuhan karyawan secara timbal balik; (4) memberi umpan balik kepada atasan tentang seberapa jauh para karyawan memandang dan merespon tujuan dan sasaran perusahaan; (5) memberi umpan balik kepada atasan apakah para karyawan telah melaksanakan tugas dan peran sesuai dengan misi dan kebijakan perusahaan; dan (6) memelihara lingkungan kerja dalam suasana taatasas di kalangan karyawan. Semua informasi itu penting dimanfaatkan oleh manajemen puncak untuk menegakkan kataatasasan di kalangan manajer.

 

Keberhasilan manajemen puncak dicirikan oleh kemampuannya menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dimana para manajer dan karyawannya merasa senang dan terbuka untuk berbagi pandangan dan kepedulian. Inti keberhasilannya adalah pada frekuensi dan mutu dialog atau komunikasi langsung atau tatap muka. Lewat dialog maka tiap masalah akan lebih mudah diatasi ketimbang saling berdiam diri. Dari dialog itulah pihak manajemen atas akan bisa melakukan review dan penilaian misi, tujuan, dan kebijakan perusahaan. Sementara secara bertahap pihak manajer dan karyawannya akan mampu membangun perilaku taatasas dalam bekerja. Disinilah para manajer harus aktif mengakomodasi proses komunikasi secara bersinambung. Untuk itu ketrampilan manajer dalam  berkomunikasi menjadi sangat penting. Baik komunikasi vertikal maupun horisontal.

Baru tiga minggu ini kita meninggalkan bulan ramadhan dan hari Idul Fitri 1429 H. Biasanya kita meninggalkan kesan yang mendalam tentang makna kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Selain itu dalam waktu-waktu seperti itu akan dijumpai pemandangan jumlah pengemis yang semakin banyak dengan segala tingkahnya. Tentu saja kalau didalami terdapat karakteristik masing-masing tipe pengemis. Lho kok perilaku pengemis ada tipenya? Bukankah semua pengemis sama karakteristiknya yakni mereka yang sangat tertinggal di segala sisi kehidupan? Ya benar. Namun pengemis tidak saja dikaitkan dengan aspek ekonomi semata. Selama ini pandangan sebagian masyarakat tentang pengemis tertuju pada stigma negatif yakni pengemis sama saja dengan pemalas; pengemis mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan; pengemis sebagai gambaran wajah rendahnya martabat suatu bangsa; Itu dilihat dari kaca mata kebutuhan material, immaterial, dan lingkungan. Tepatkah seperti itu? Padahal secara masuk akal tidak ada seorang pun mau menjadi pengemis. Hanya karena pemerintah yang salah uruslah menyebabkan sebagian masyarakat terpaksa meminta-minta dari belas kasihan orang lain yang mampu. Dan banyaknya pengemis merefleksikan tidak mampunya pemerintah memberdayakan mereka sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.

Faktor kemiskinan (struktural, kultural, natural, dan mental) sangat memengaruhi terjadinya perilaku seseorang yang ujungnya adalah munculnya fenomena peminta-minta atau pengemis. Semakin banyak jumlah orang miskin semakin potensial mereka menjadi pengemis. Dalam bahasa pembangunan terjadinya kebergantungan ekonomi pada orang lain yang semakin tinggi. Secara lebih rinci, dalam prakteknya ada lima jenis pengemis yang disebabkan karena keterbatasan aset dan sumber ekonomi, rendahnya mutu mental seperti rasa malu dan spirit mandiri yang kurang.

Pertama, mengemis karena yang bersangkutan tidak berdaya sama sekali dalam segi materi, karena cacat fisik, tidak berpendidikan, tidak punya rumah tetap atau gelandangan, dan orang lanjut usia miskin yang sudah tidak punya saudara sama sekali. Mengemis menjadi bentuk keterpaksaan. Tak ada pilihan lain.

Kedua, mengemis seperti sudah menjadi kegiatan ekonomi menggiurkan. Mulanya mengemis karena unsur kelangkaan aset ekonomi. Namun setelah beberapa tahun walau sudah memiliki aset produksi atau simpanan bahkan rumah dan tanah dari hasil mengemis tetapi mereka tetap saja mengemis. Jadi alasan mengemis karena tidak memiliki aset atau ketidakberdayaan ekonomi, untuk tipe pengemis ini tidak berlaku lagi. Sang pengemis sudah merasa keenakan. Tanpa rasa malu dan tanpa beban moril di depan masyarakat.

Ketiga, mengemis musiman, misalnya menjelang dan saat bulan ramadhan, hari idul fitri, dan tahun baru. Biasanya mereka kembali ke tempat asal setelah mengumpulkan uang sejumlah tertentu. Namun tidak tertutup kemungkinan terjadinya perubahan status dari pengemis temporer menjadi pengemis permanen.

Keempat, mengemis karena miskin mental. Mereka ini tidak tergolong miskin sepenuhnya. Kondisi fisik termasuk pakaiannya relatif prima. Namun ketika mengemis, posturnya berubah 180 derajat; apakah dilihat dari kondisi luka artifisial atau baju yang kumel. Maksudnya agar membangun rasa belas kasihan orang lain. Pengemis seperti ini tergolong individu yang sangat malas bekerja. Dan potensial untuk menganggap mengemis sebagai bentuk kegiatan profesinya.

Kelima, mengemis yang terkoordinasi dalam suatu sindikat. Sudah semacam organisasi tanpa bentuk. Dengan dikoordinasi seseorang yang dianggap bos penolong, setiap pengemis (“anggota”) setia menyetor sebagian dari hasil mengemisnya kepada sindikat. Bisa dilakukan harian bisa bulanan. Maka mengemis dianggap sudah menjadi “profesi”. Ada semacam pewilayahan operasi dengan anggota-anggota tersendiri.

Mengemis karena latar belakang faktor ketidakberdayaan aspek ekonomi, sering ditempatkan sebagai wujud pembenaran karena agama pun (islam) membolehkannya. Hal ini agaknya berkait dengan riwayat Rasulullah. Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis buta, orang Yahudi, yang sangat sering mencaci maki Rasul Muhammad, orang yang belum pernah ditemuinya. Suatu hari sampailah cerita tentang caci maki pengemis buta itu ke telinga Rasul. Esok paginya, lelaki mulia itu pergi dari rumah ke sang pengemis sambil membawa semangkuk bubur gandum. Sejak saat itu hingga sakit dan wafatnya Rasul Muhammad tiap hari selalu pergi dari rumah dengan semangkuk bubur gandum.

Dengan keteladanan mulia Rasulullah itu menunjukkan Islam tidak melarang orang mengemis. Dan sekaligus yang mampu seharusnya siap menolong. Walau tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah namun fenomena mengemis adalah suatu kenyataan. Jadi sedikit pun janganlah diabaikan. Kita sepatutnya tidak menjauhi mereka. Bahkan memberi sedekah kepada pengemis merupakan suatu kebajikan. Memang , orang yg bekerja lebih baik daripada mengemis. Mengemis hanya dibolehkan jika orang tersebut sangat tidak mampu lagi untuk bekerja. Dengan demikian kalau ingin bersedekah, berikanlah kepada pengemis yg benar-benar membutuhkan.

Yang jauh lebih penting sebenarnya adalah bagaimana mengurangi perilaku mengemis dengan cara memberi kail dan pengetahuannya ketimbang memberi ikannya. Setelah itu diharapkan mereka bisa menciptakan lapangan kerja buat dirinya dan kalau memungkinkan suatu ketika untuk orang lain juga. Artinya dengan cara itu lambat laun sifat kebergantungan pada orang lain dapat dikurangi. Karena itu sejauh potensi sumberdaya manusia para pengemis masih dapat dioptimumkan maka peran Bazis, lembaga-lembaga pendidikan, sosial kemasyarakatan, lembaga keuangan mikro, dan perusahaan lewat program tanggung jawab sosial korporat serta perorangan dalam membantu kaum dhuafa sangatlah diharapkan.

Saya merasa  betapa bermaknanya hidup ketika kita mampu mencintai dengan tulus dan ikhlas. Mencintai siapa? Ya ketika kita  mencintai Allah, keluarga, kerabat, sahabat, dan bangsa ini. Mencintai dan dicintai adalah salah satu anugrah dari Yang Maha Kuasa. Memberi cinta dan menerima cinta bukanlah suatu yang begitu saja ada, tanpa usaha dan upaya, tanpa dukungan pikiran dan hati. Mereka ada dengan perjuangan.

 

Pernahkah terpikirkan kita hidup tanpa mencintai dan dicintai oleh pasangan hidup kita?. Sudah pasti hidup akan HAMBAR, tanpa semangat dan gelora dalam bekerja. Cinta adalah pendorong semangat, cinta adalah bunga yang mewarnai kehidupan, dan cinta juga adalah emulsifier bagi dua insan, bagi manusia dengan Tuhannya.

 

Sebagai dosen, misalnya, dengan kesejahteraan pas-pasan, kita  juga dapat membayangkan andaikan kita tidak mencintai pekerjaan yang  ditekuni selama ini. Kinerja kita pasti sebatas menyelesaikan pekerjaan tanpa makna. Akan berbeda jika kita pergi setiap hari ke kantor, bukan terpaksa karena ada jadwal mengajar, tetapi karena mencintai apa yang kita kerjakan, pasti langkah yang diayunkan setiap hari akan lebih berarti bagi diri. Dan kita akan semakin dicintai oleh lingkungan sekitar. Anehnya seberat apapun pekerjaan, kita tidak merasa lelah. Karena semuanya kita lakukan dengan ikhlas dan cinta.

 

            Kita juga dapat membayangkan andaikan beribadah dengan merasa terpaksa, pasti amalan kita, shalat kita, puasa kita hanya kegiatan yang biasa-biasa saja. Rutin tanpa makna mendalam.  Tetapi ketika tangan kita ulurkan pada orang yang sedang memerlukan karena kita mencintai Allah,  maka semua terasa ringan dan hati penuh kelegaan. Itulah  kalau kita pandai bersyukur kepada-NYA.

 

            Cinta bagaikan tanaman, dapat disebarkan, ditanam, dipelihara dan dimatikan. Andai kita ingin membeli semangat, korbankan waktu dan energi serta hati untuk berupaya mencintai setiap hari. Insya Allah kita akan dicintai oleh Tuhan, oleh pasangan hidup kita, oleh anak, kerabat kita, dan tentunya oleh masyarakat. Amiin.

 

God allows life to be rocky. His challenge is not to let the rocks grind us into dust, but to polish us to become a brilliant gem, shine on and love your life!

            Beberapa perguruan tinggi negeri Indonesia (UI, ITB, UGM, IPB, UNAIR, UNDIP) masuk dalam daftar 500 perguruan tinggi kelas dunia. Tahun ini tiga diantaranya yang berkelas 200an dan 300an yakni UI, ITB dan UGM. Mengapa cuma segelintir perguruan tinggi saja? Apakah ini terkait dengan mutu SDM para dosennya yang kurang berprestasi? Mari  disimak apakah setiap perguruan tinggi di Indonesia sudah memiliki model perencanaan pengembangan sumberdaya dosen yang handal? Apakah terdapat unsur pertimbangan ke depan berapa jumlah dosen dengan kualifikasi tertentu dibutuhkan? Termasuk  berapa jumlah guru besar ideal yang dibutuhkan untuk menjadikan suatu perguruan tinggi  berbasis riset skala internasional? Apakah kebutuhan itu dikaitkan dengan visi dan misi perguruan tingginya? Apakah juga dikaitkan dengan tuntutan pembangunan khususnya pengembangan ipteks nasional dan global? Apakah ada jabaran  road map pengembangan dosen sesuai kebutuhan keilmuan, kurikulum, dan kebutuhan penelitian iptek dalam jangka menengah dan panjang? Apa dan bagaimana upaya pengembangan yang dilakukan?  

 

Tentang itu, saya pernah bertanya pada teman sejawat dari beberapa perguruan tinggi khususnya dari perguruan tinggi terkemuka nasional. Secara serempak jawabannya sama. Tidak ada itu yang namanya perencanaan strategis pengembangan dosen. Lho jadi bentuk pengembangannya seperti apa? Ada tetapi  hanya dalam bentuk pernyataan umum saja. ”Seperti perlu peningkatan pengembangan sumberdaya manusia baik dalam hal jumlah maupun mutu kualifikasi dosen”. Tetapi tidak dijabarkan lebih lanjut secara operasional. Mengapa? Karena memang perguruan tinggi tidak punya dana. Juga Depdiknas tidak punya dana cukup khususnya untuk studi lanjutan di luar negeri. Paling-paling hanya menyediakan  informasi mana saja perguruan tinggi luar negeri yang menyediakan beasiswa. Itupun penuh ketidakpastian dan sifatnya lebih kompetitif.

 

Yang saya ketahui ada sekurang-kurangnya tiga bentuk pengembangan mutu dosen yang polanya tidak jelas. Pertama, ketua jurusan khususnya kepala laboratorium/bagian dan seseorang guru besar memiliki akses jejaring kerjasama internasional dengan berbagai donor dan perguruan tinggi luar negeri. Kemudian dengan aktif mempersilakan siapa saja para yuniornya untuk melamar. Sementara sang ketua jurusan atau kepala bagian itu merekomendasikannya. Siapa dosen yunior yang semakin aktif semakin besar peluang pula untuk melanjutkan studi lanjutan. Intinya adalah ketua jurusan/kepala lab memberi stimuli aktif kepada siapapun dosen yunior asalkan potensial dan penuh minat untuk studi lanjutan.

 

Kedua, kepala laboratorium/bagian memberi kesempatan kepada yuniornya untuk studi lanjutan. Namun celakanya bersifat urut kacang. Semakin senior semakin diberi peluang ikut studi lanjutan. Sementara yang lebih yunior tetapi berpotensi tinggi dan berinisiatif sendiri mencari dana tetap harus bersabar mengantre. Berhasilkah model ini?. Tidak, bahkan berantakan. Terjadi diskriminasi perlakuan. Tidak fair. Lalu  apa yang terjadi? Dosen yang sudah selesai studi master bahkan diminta pulang oleh sang kepala lab itu. Alasannya mengabdi dahulu baru studi lanjutan lagi. Tetapi di sisi lain ada beberapa yang senior ternyata  sampai pensiun tidak studi lanjutan. Sementara ada beberapa yang yunior ”berontak” mencari sendiri dan tanpa berpegang pada himbauan sang kepala lab yang sangat konservatif. Lalu  terus studi lanjutan. Dan berhasil.

 

Ketiga, model ’bebas tak terarah’. Kepala lab mempersilakan setiap dosen untuk studi lanjutan dengan cara apa saja. Tidak studi pun sepertinya tidak apa-apa. Sang kepala lab walau punya jejaring kelembagaan internasional hampir-hampir pasif tidak mendorong yuniornya untuk melamar apalagi memberi rekomendasi. Walau di situ terdapat beberapa guru besar namun langka perhatian kepada yuniornya. Akhirnya kembali yang aktif adalah para dosen yunior itu sendiri. Mereka  berinisiatif sendiri, bisa diam-diam dan terbuka, mencari sponsor pendanaan studi lanjutan. Mereka tidak perduli apakah ketua jurusan atau kepala lab/bagian punya jejaring kelembagaan atau tidak. Atau apakah disetujui atau tidak. Dengan melamar dan mengikuti test tertentu lalu berhasil. Baru kemudian lapor ke ketua jurusan atau ke kepala lab/bagian.

 

Gambaran di atas semakin  relevan lagi ketika muncul beberapa pertanyaan berikut. Dalam  era global ini apakah perguruan tinggi nasional sudah siap berkompetisi dengan perguruan tinggi sekawasan asia tenggara apalagi di asia dan dunia? Dengan diratifikasinya perdagangan bebas termasuk dalam bidang jasa pendidikan apakah perguruan tinggi kita sudah siap dengan sejumlah dosen yang bermutu tinggi dan fasilitas pendidikan dan penelitian yang canggih? Sudah siapkah dikembangkan model pengembangan jaminan mutu pendidikan? Sudah siapkah perguruan tinggi memiliki perencanaan pengembangan sumberdaya dosen secara terprogram berkelanjutan? Sudah siapkah perguruan tinggi untuk meraih ISO 9000?

 

Data (2006) menunjukkan jumlah dosen berkualifikasi doktor di perguruan tinggi Indonesia hanya sekitar 15% saja. Dan kondisi ini begitu timpangnya antara perguruan tinggi Jawa dan Luar Jawa, dan antara perguruan tinggi negeri dan swasta. Sementara di beberapa negara Asean seperti, Singapura, Malaysia dan Filipina jumlahnya mencapai lebih dari 60%. Di Indonesia seperti di ITB dan IPB jumlah dosen bergelar doktor mencapai sekitar 50% dari total dosen. Kalau semuanya serba belum siap khususnya dalam pengembangan sumberdaya dosen, bagaimana PT Indonesia mampu tampil tangguh?

 

Ya tetapi harus realistislah. Selama ini kesejahteraan dosen dilihat dari gaji mereka masih jauh dari harapan. Karena itu jangan aneh kalau di antara mereka ada yang menjadi dosen “berstatus” biasa di luar; ngobyek. Kalau begitu bagaimana mereka bisa berkonsentrasi penuh melaksanakan tugas utamanya sebagai pendidik, pengajar dan peneliti secara bermutu? Mudah-mudahan dengan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN 2008-2009, beberapa komponen posnya dapat berupa program pengembangan SDM dosen, kesejahteraan, aktifitas penelitian multiyears dan pembuatan buku-buku ilmiah.

 

Laman Berikutnya »