Desember 2008


            Tanggal 29 Desember 2008 M kemarin adalah tahun baru Hijriah 1 Muharam 1430 H. Maknanya sangat terkait dengan peristiwa Hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tanggal 16 Juli 622 M. Secara harfiah  peristiwa itu sepertinya hanya suatu perjalanan fisik. Namun lebih dari itu Hijrah memiliki misi dakwah. Secara makna Islami itu merupakan fakta sejarah dalam memperbaiki kualitas kehidupan ummat Islam. Peristiwa itu juga merupakan tonggak kebangkitan Islam yaitu membangun kekuatan akidah, persatuan ummat dan lahirnya masyarakat madani. Ketika sampai di Madinah, Rasulullah melakukan syiar Islam dengan cepat lewat masjid yang dibangunnya. Dari masjid itu Rasulullah mengembangkan jiwa umat dengan memperkuat akidah, ibadah, akhlak, keadilan, kesetaraan, persaudaraan dan berlomba-lomba melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.

            Di Madinah pulalah Rasulullah mendeklarasikan Piagam Madinah yang berdimensi politik, agama dan hukum. Dalam segi politik terdapat kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif.  Negara dapat mengakomodasi semua kepentingan masyarakat tanpa membeda-bedakan berdasar suku, kelompok politik, maupun agama. Dari segi agama diatur hubungan penganut agama muslim dan non-muslim. Nabi Muhammad telah memberi contoh dengan tidak memaksakan seseorang dalam beragama. Sementara itu dari segi hukum, negara menerapkan prinsip keadilan. Semua masyarakat diperlakukan sama. Tidak ada perbedaan perlakuan berdasar stratifikasi sosial. Bagaimana dengan di Indonesia?

            Gambaran singkat prinsip-prinsip masyarakat madani seperti itu belum tampak sepenuhnya terjadi di Indonesia. Kemiskinan, kekerasan sosial, konflik horisontal dan vertikal, dan perbedaan perlakuan hukum masih sering terjadi. Kita berharap bangsa Indonesia segera berhijrah dari keterpurukan multidimensi ini khususnya dalam menghadapi krisis finansial global, kemiskinan, dan pengangguran. Untuk itu semangat madani seharusnya menjadi titik tolak untuk membangun masyarakat baru yang lebih beradab dan dipenuhi dengan kedamaian dan kemakmuran. Dalam kesempatan memasuki tahun baru  Islam ini dan sekaligus tahun baru 2009 M, ada baiknya tiap umat Islam menelaah ulang kehidupan  untuk berhijrah ke arah  yang lebih baik lagi. Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…[An Nisaa’; 100). Amin.Semoga.

 

        

Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi global sangat memengaruhi strategi organisasi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Ada perubahan dalam era global di berbagai segi kehidupan,  fenomena tersebut dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap ubahan manajemen khususnya strategi bisnis. Bagaimana misalnya, tiap organisasi bisnis harus menyiapkan strategi persaingan global dalam hal mutu SDM. Bagaimana pengembangan mutu SDM perlu didekati dari kepentingan karyawan dan sekaligus kepentingan bisnis dalam suatu sistem manajemen mutu dan manajemen kemitraan.

 

Dengan kata lain harus sensitif terhadap setiap perbahan eksternal. Berikut diberikan contoh sederhana  bagaimana suatu organisasi bisnis memberi respon terhadap perubahan eksternal: Perusahaan merumuskan dan melaksanakan dua strategi yaitu strategi umum yang kemudian dijabarkan salahsatunya ke dalam  strategi spesifik Manajemen Mutu SDM (MMSDM).

 

Tujuan dari penerapan strategi umum adalah tercapainya suatu proses ubahan atau transformasi seperti dalam hal visi, misi dan tujuan perusahaan. Untuk itu, maksud dari strategi diujudkan dalam bentuk pembaharuan keorganisasian, misalnya tentang peran divisi SDM dalam meningkatkan mutu karyawan. Programnya ditekankan pada pengembangan organisasi, manajemen perubahan, budaya mutu dan sistem nilai. Strategi umum kemudian dijabarkan lebih spesifik menjadi strategi MMSDM.

           

STRATEGI UMUM PERUSAHAAN

Tujuan       :  Perubahan transformasional; Perubahan apa yang terjadi

Maksud     :  Pembaharuan keorganisasian

Subyek      :   Pengembangan organisasi

                        Manajemen perubahan

            Budaya mutu 

Sistem nilai.

 

STRATEGI SPESIFIK MMSDM

Tujuan       :    Perubahan transaksional; Perubahan prosedur, sistem dan proses tentang SDM.

Maksud     :    pengembangan SDM karyawan yang unggul

Subyek      :     Seleksi calon karyawan unggul.

                         Pengembangan mutu karyawan.

                         Hubungan vertikal dan horisontal inovatif .

 

Tujuan dari strategi spesifik adalah terciptanya pengubahan prosedur, sistem dan proses  mutu SDM karyawan. Maksud dari strategi ini antara lain adalah pengembangan mutu SDM karyawan yang sesuai dengan kebutuhan internal perusahaan dan persaingan pasar. Untuk mencapai maksud dan tujuan dari strategi MMSDM tersebut maka program yang perlu dilaksanakan antara lain adalah penyeleksian calon karyawan unggul secara ketat, pengembangan mutu karyawan secara terprogram, dan pengembangan hubungan vertikal dan horisontal secara kemitraan dan  inovatif.

 

Penyajian makalah dalam seminar oleh para mahasiswa pascasarjana program mayor Komunikasi Pembangunan Pascasarjana IPB  merupakan bagian dari tugas akademik  yang saya berikan kepada mereka secara rutin. Kali ini saya sajikan artikel dari isi makalah (disarikan); berjudul “Komunikasi antarapersonal dalam Manajamen Sumberdaya Manusia” yang ditulis oleh Theresia Lolita N, Wahyuni Zam, Maria Fitriah, Elly Rosana, dan Hosea R Ambrauw yang telah dibahas tiga minggu lalu.

 

Keberhasilan seorang pemimpin, misalnya manajer, dalam mengelola karyawannya sangat berhubungan dengan bagaimana kemampuannya berkomunikasi. Membangun jalinan komunikasi yang efektif dan berkesinambungan antara pimpinan dan bawahannya, akan menjadikan organisasi tersebut mencapai tujuan yang dicita-citakan. Kemampuan komunikasi antarpersonal dari sang manajer merupakan bagian dari pengembangan sumberdaya manusia para karyawannya. Dengan pendekatan tersebut diharapkan para karyawan pun secara bertahap akan mampu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi antarpersonal. Selain itu akan mampu meningkatkan suasana kerja yang nyaman dan pada gilirannya mampu meningkatkan kinerja para karyawan.

           

            Karakteristik-karakteristik efektivitas komunikasi antarpersonal ini oleh Joseph DeVito (1986) dalam bukunya The Interpersonal Communication Book dilihat dari dua perspektif yaitu :

1.      Prespektif Humanistik, meliputi sifat-sifat :

a.      Keterbukaan (Openness)

Sikap keterbukaan dalam komunikasi antarpersonal ditunjukkan melalui dua aspek yaitu : 1) kita harus terbuka pada orang-orang yang berinteraksi dengan kita; 2) kemauan memberikan tanggapan kepada orang lain dengan jujur dan terus terang tentang segala sesuatu yang dikatakannya, begitu juga sebaliknya.

b.      Perilaku Suportif (Supportivenness)

Komunikasi antarpersonal akan efektif bila dalam diri seseorang ada perilaku suportif. Jack R Gibb menyebut 3 perilaku yang menimbulkan perilaku suportif yakni : 1) Deskriptif, orang yang memiliki sikap ini lebih banyak meminta informasi tentang suatu hal sehingga merasa dihargai; 2) Spontanitas, orang yang terbuka dan terus terang tentang apa yang dipikirkannya; 3) Profesionalisme, orang yang memiliki sikap berpikir terbuka, ada kemauan untuk mendengar pandangan yang berbeda, dan bersedia menerima pendapat orang lai bila pendapatnya keliru atau salah.

c.       Perilaku Positif (Positivenness)

Sikap ini menunjuk 2 aspek yaitu : 1) komunikasi antarpersonal akan berkembang bila ada pandangan positif terhadap diri sendiri; 2) mempunyai perasaan positif terhadap orang lain berbagai situasi komunikasi.

d.     Empati (Empathy)

Kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya sendiri pada peranan atu posisi orang lain.

e.      Kesetaraan (Equality)

Kesetaraan ini mencakup dua hal yaitu: 1) kesetaraan bidang pengalaman di antara para pelaku komunikasi. Artinya, komunikasi antarpersonal umumnya akan lebih efektif bila para pelakunya mempunyai nilai, sikap, perilaku dan pengalaman yang sama; 2) kesetaraan dalam percakapan diantara para pelaku komunikasi. Artinya, komunikasi antarpersonal harus ada kesetaraan dalam hal mengirim dan menerima pesan.

2.      Prespektif Pragmatis

a.      Bersikap Yakin (Confidence)

Komunikasi antarpersonal ini terlihat lebih efektif apabila seseorang tidak merasa malu, gugup atau gelisah menghadapi orang lain.

b.      Kebersamaan (Immediacy)

Sikap kebersamaan ini dikomunikasikan secara verbal maupun non-verbal. Secara verbal orang yang memiliki sifat ini, dalam berkomunikasi selalu mengikut sertakan dirinya sendiri dengan orang alin dengan istilah seperti kita, memanggil nama seseorang, memfokuskan pada ciri khas orang lain, memberikan umpan balik yang relevan dan segera, serta menghargai pendapat orang lain. Secara non-verbal, orang yang memiliki sifat ini akan berkomunikasi dengan mempertahankan kontak mata dan menggunakan gerakan-gerakan.

c.       Manajemen Informasi

Seseorang yang menginginkan komunikasi yang efektif akan mengontrol dan menjaga interaksi agar dapat memuaskan kedua belah pihak sehingga tidak seorang pun merasa diabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan mengatur isi, kelancaran, arah pembicaraan, menggunakan pesan-pesan verbal dan nonverbal secara konsisten.

d.     Perilaku Ekspresif (Expressivenness)

Memperlihatkan keterlibatan seseorang secara sungguh-sungguh dalam berinteraksi dengan orang lain. Orang yang berperilaku ekspresif akan menggunakan berbagai variasi pesan, baik secara verbal maupun nonverbal, untuk menyampaikan keterlibatan dan perhatiannya pada apa yang dibicarakannya.

e.      Orientasi Pada Orang Lain (Other Orientation)

Seseorang harus memiliki sifat yang berorientasi pada orang lain untuk mencapai efektivitas komunikasi. Artinya seseorang mampu untuk beradaptasi dengan orang lain selama berlangsungnya komunikasi antarpersonal. Dalam hal ini, seseorang harus mampu melihat perhatian dan kepentingan orang lain, mampu merasakan situasi dan interaksi dengan sudut pandang orang lain serta menghargai perbedaan orang lain dalam menjelaskan suatu hal.

 

Dalam prakteknya, komunikasi antarpersonal bertujuan untuk :

1.      Mengenal Diri Sendiri dan Orang Lain

Komunikasi antarpersonal memberikan kesempatan pada kita untuk memperbincangkan diri kita sendiri pada orang lain sehingga akan mendapat perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita.

2.      Mengetahui Dunia Luar

Komunikasi antarpersonal memungkinkan kita untunk memahami lingkungan kita secara baik, yakni tentang objek, kejadian-kejadian dan orang lain. Banyak informasi yang kita miliki sekarang ini berasal dari interaksi antarpersonal.

3.      Menciptakan dan Memelihara Hubungan menjadi Bermakna

Komunikasi antarpersonal disini bertujuan menciptakan hubungan sosial dengan orang lain. Hubungan demikian membantu mengurangi kesepian dan ketegangan, serta membuat kita bersikap lebih positif terhadap diri sendiri.

4.      Mengubah Sikap dan Perilaku Orang Lain

Kita banyak mempergunakan waktu unutk mempersuasi atau mengajak orang lain melalui komunikasi antarpersonal.

5.      Bermain dan Mencari Hiburan

Komunikasi yang berisi pembicaraan-pembicaraan yang dapat memberikan hiburan ini perlu dilakukan karena bisa memberi suasana yang terlepas dari keseriusan, ketegangan, kejenuhan dan sebagainya.

6.      Membantu Orang Lain

Kita sering memberikan nasihat dan saran kepada teman-teman yang sedang menghadapi suatu persoalan dan berusaha untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

 

Tujuan-tujuan komunikasi antarpersonal yang diuraikan di atas dapat dilihat dari dua perspektif, yakni: Pertama, tujuan dapat dilihat sebagai faktor-faktor motivasi atau sebagai alasan-alasan mengapa kita terlibat dalam komunikasi antarpersonal. Dapat dikatakan, kita terlibat dalam komunikasi antarpersonal untuk memperoleh kesenangan, membantu orang lain, mengubah sikap dan perilaku seseorang. Kedua, tujuan-tujuan ini dapat dipandang sebagai hasil atau efek umum dari komunikasi antarpersonal. Dapat dikatakan, kita dapat mengenal diri kita sendiri, membuat hubungan lebih bermakna, dan memperoleh pengetahuan tentang dunia luar sebagai suatu hasil dari komunikasi antarpersonal. Dengan demikian, komunikasi antarpersonal biasanya dimotivasi oleh berbagai faktor dan mempunyai berbagai hasil atau efek.

 

Keterampilan Komunikasi Antar Personal (KKAP) dari seorang manajer biasanya dicirikan oleh kemampuannya dalam mengarahkan, memotivasi, dan bekerjasama secara efektif dengan orang lain (Sjafri Mangkuprawira; ronawajah.wordpress.com). Selain  itu mampu memahami pemikiran orang lain dengan jelas. Semuanya berbasis pada kesadaran diri. Jadi manajer seperti itu, sebelum mampu memahami orang lain, seharusnya mampu memahami dirinya, perasaannya, keyakinannya, nilai pribadinya, sikap, persepsi tentang lingkungan, dan motivasi untuk memperoleh sesuatu yang patut dikerjakannya. Hal demikian membantunya untuk menerima kenyataan bahwa tiap orang adalah berbeda dalam hal ketrampilan dan kemampuan, keyakinan, nilai, dan keinginannya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan  sang manajer dalam hal KAP sama saja dengan kemampuan pengembangan SDM dirinya sekaligus pengembangan SDM para karyawannya.

Siang ini saya membaca berita di running text salah satu televisi swasta nasional. Isinya: “enam pegawai lokal Cina dipecat karena tidur dalam pertemuan resmi di HengYang, Hunan, Cina”.  Hal ini mengingatkan saya,  ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono pernah marah ketika mendapati ada peserta yang tertidur saat mendengarkan pidatonya di depan peserta Kursus Lemhanas. Beliau sempat menghentikan pidatonya sejenak.Lalu menunjuk peserta yang tertidur dan bilang: “Sedang membahas masalah rakyat, kok tidur.” “Bagaimana dapat memimpin rakyat kalau tidur?”. Tidak seperti di Cina, ternyata disini tak ada sanksi apapun kepada pejabat yang tidur  itu.

Bicara tentang tidur apalagi tidur yang bermutu adalah sangat dianjurkan untuk kesehatan fisik dan mental. Namun  bagaimana ya, kalau ada pemimpin nasional dan pemimpin daerah “tertidur lelap” akan penderitaan rakyat ? Pulas, ketika rakyat sedang  ngantre minyak tanah, gas, dan pupuk? Rakyat bersusah payah untuk mendapatkan pembagian minyak tanah sebanyak dua liter, satu tabung gas, dan sekarung pupuk dengan ngantre berjam-jam?  Sementara, dia baru akan segera  bangun dari tidurnya hanya untuk menggapai kepentingan kelompoknya.

Hal ini sangat berbeda ketika seseorang masih menjadi calon pemimpin dalam berkampanye pemilu dan pilkada. Sepertinya tak ada sedikit pun kesempatan  tidur untuk menyampaikan janji-janji manisnya. Segala media dipakainya. Namun apa yang terjadi setelah terpilih? Ya  mereka tertidur lelap sambil memimpikan kekuasaan yang diraihnya. Apakah ada sanksi bagi pemimpin yang mengabaikan kebutuhan dan kepentingan rakyatnya? Kalau toh tak ada pemecatan, pemimpin yang cenderung banyak tidur itu paling tidak terkena sanksi sosial. Dan akan menjadi stigma politik yang sulit dilupakan.

Apakah kita pernah menggunakan logika secara sederhana dan atau sangat sederhana? Bahkan tanpa logika? Seperti yang dialami Nasrudin? Inilah kisahnya. Pada suatu hari Nasrudin mendengar ada seorang muda yang bisa bermain musik dengan amat bagus. Ia pun tertarik untuk belajar musik. Keesokan harinya, ia pergi ke kota dan menemui guru musik kenamaan. ”Tuan, saya ingin belajar musik, berapa bayarannya?” Guru itu sejenak melihat wajahnya, sebelum akhirnya menjawab, ”Murid-muridku membayar tiga dirham untuk bulan pertama, dan kemudian untuk tiap bulan berikutnya membayar satu dirham. Nasrudin berpikir sejenak dan kemudian berkata, ”Baiklah,” katanya, ”Saya akan mulai kursus pada bulan kedua saja.”(27 Agustus 2004 Republika Online).

Menurut Wikipedia, logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Sementara itu, logika juga adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.

Masih dalam Wikipedia, ada dua jenis logika yakni logika ilmiah dan logika alamiah. Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi.Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi. Sementara logika alamiah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.

Jelas dari uraian jenis dan kedudukan logika tersebut, logika Nasrudin untuk belajar bermain musik  sulit diterima akal sehat. Namun Nasrudin tidak sendirian. Dalam praktek manajemen keseharian, jenis logika seperti itu  tidak jarang ditemukan. Baik itu dalam dunia perguruan tinggi seperti pembuatan karya tulis ilmiah semacam skripsi dan thesis maupun dalam manajemen kebijakan pembangunan. Kalau di dalam karya tulis terlihat sering tidak runutnya pola pikir yang dikembangkan mahasiswa. Misalnya analisis fenomena tertentu dari derivasi  deduktif dan atau induktif yang tidak jelas alasan ilmiahnya. Kemudian  tinjauan pustaka sekedar merupakan kumpulan teori, definisi, dan konsep yang dipindahkan dari buku atau bahan kuliah saja. Tidak ada analisis sama sekali untuk sampai lahirnya suatu sintesis dan hipotesis. Bahkan ada kesimpulan tanpa didukung  data atau fakta; seperti datang dari awang-awang. Karena itu tidak jelas apakah itu laporan dinas, proyek, ataukah laporan ilmiah.

Contoh lain dari suatu derajat logika yang rendah adalah tentang motivasi. Karyawan dianggap akan otomatis termotivasi untuk semakin bekerja keras kalau yang bersangkutan diberi kompensasi yang semakin meningkat. Namun dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Pasalnya motivasi seseorang tidak hanya ditentukan oleh uang saja. Masih ingat akan  pepatah tua ?: manajer dapat dengan mudah menggiring kuda kedalam air tetapi manajer tidak dapat memaksanya untuk minum. Mengapa demikian? Karena kuda, baru akan minum kalau ia sedang haus. Begitu pula dengan manusia. Mereka baru akan mengerjakan sesuatu kalau ada yang mereka inginkan atau kalau ada motivasi untuk mengerjakannya.

Sementara itu, dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan jangan heran, hasilnya banyak yang menyimpang dari harapan. Kebijakan pengoperasian busway, misalnya tanpa dibarengi dengan pelebaran jalan sama saja bohong yakni menambah keruwetan lalulintas. Jadi dimana kekuatan logikanya bahwa busway akan mengurangi kemacetan? Masih cukup banyak kebijakan lainnya. Seperti tempo hari dalam menentukan upah minimum yang harus mempertimbangkan angka pertumbuhan ekonomi. Lalu kebijakan bersama empat menteri itu menuai protes dari para karyawan. Lalu dikoreksi yakni kebijakan penetapan upah minimum yang  tepat adalah dengan mempertimbangkan tingkat inflasi. Mengapa kebijakan yang kurang logis itu masih berseliweran? Pasalnya karena mereka yang terkait dengan kebijakan hanya mengandalkan pendekatan perasaan dan kekuasaan saja. Dengan kata lain miskin logika ilmiah. Apakah kita mau berlogika seperti halnya Nasrudin  yang akan belajar musik?. Jauh dari berpikir rasional, kritis, lurus, metodis dan analitis?.

Dalam beberapa artikel terdahulu pada blog ini, saya  mengungkapkan adanya indikasi yang menunjukkan perusahaan-perusahaan nasional kalah bersaing dengan perusahaan di luar negeri paling tidak di Asean. Selain itu juga kalah dalam hal produktifitas kerja dan kemudahan berbisnis. Katakanlah semua perusahaan nasional menggunakan teknologi dan rumusan strategi bisnis yang cenderung sama dengan rekan-rekannya di Asean. Lalu apa pasalnya sampai kalah bersaing dan produktifitas kerjanya rendah? Mungkinkah ada hubungannya dengan penerapan model good corporate governance (GCG) atau tata kelola perusahaan (TKP)  dan mutu sumberdaya manusia (SDM) yang berbeda? Diinformasikan oleh Published Survey of Views of Institutional Investors in Singapore (2002), Indonesia tergolong worst performer dalam menerapkan prinsip-prinsip TKP yang baik. Begitu pula Asian Corporate Governance Association mengungkapkan Indonesia selama tahun 2000-2004 berada dalam posisi terendah di antara negara-negara Asia-Pasifik dalam hal menerapkan TKP yang efektif.

 

Menurut Wikipedia, corporate governance atau Tata Kelola Perusahaan (TKP) adalah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang mempengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas.

 

TKP adalah suatu subjek yang memiliki banyak aspek. Salah satu topik utama dalam tata kelola perusahaan adalah menyangkut masalah akuntabilitas dan tanggung jawab mandat, khususnya implementasi pedoman dan mekanisme untuk memastikan perilaku yang baik dan melindungi kepentingan pemegang saham. Fokus utama lain adalah efisiensi ekonomi yang menyatakan bahwa sistem tata kelola perusahaan harus ditujukan untuk mengoptimalisasi hasil ekonomi, dengan penekanan kuat pada kesejahteraan para pemegang saham. Ada pula sisi lain yang merupakan subjek dari tata kelola perusahaan, seperti sudut pandang pemangku kepentingan, yang menuntuk perhatian dan akuntabilitas lebih terhadap pihak-pihak lain selain pemegang saham, misalnya karyawan atau lingkungan. Dengan demikian   kalau semua pelaku dan hubungan antarkomponen TKP berproses dan berhasil dengan  baik maka itu disebut sebagai TKP yang baik atau good corporate governance (GCG).

 

Prinsip-prinsip dalam melaksanakan TKP yang baik meliputi:

(1) keadilan; antara lain adanya perlindungan dan perlakuan sama kepada para pemegang saham minoritas dan juga asing. Kemudian  melarang untuk pembagian pihak sendiri dan kecurangan insider trading, dan sistem remunerasi yang adil ;

(2) transparansi; antara lain pengungkapan informasi yang benar dan tepat tentang kondisi perusahaan secara terbuka ke semua pemangku kepentingan agar mereka tahu pasti apa yang telah dan bisa terjadi. Diperlukan sistem audit yang terbuka, sistem informasi manajemen, mengembangkan teknologi informasi, dan pelaporan tahunan perusahaan bermutu yang memuat berbagai informasi yang diperlukan;

(3) akuntabilitas; antara lain ada pengawasan yang efektif terhadap manajemen perusahaan yang merupakan pertanggungjawaban kepada perusahaan dan pemegang saham. Diperlukan  keseimbangan kekuasaan antara pemegang saham, komisaris, dan direksi. Ada pelaporan keuangan dengan cara dan waktu yang tepat, pertanggung-jawaban dari komisaris dan direksi, penangan konflik, dan audit efektif.;

(4) tanggung jawab yakni yang mencerminkan adanya kepatuhan perusahaan pada peraturan dan undang-undang yang berlaku, penegakkan etika dan lingkungan bisnis, kedisiplinan, kesadaran dan keterlibatan sosial. Dan;

(5) etika  dan budaya kerja; sebagai landasan moral dan nilai-nilai integritas yang mengatur komisaris dan direksi serta pihak karyawan (manajemen dan non-manajemen). Prinsip-prinsip TKP diterjemahkan ke dalam perilaku kerja karyawan perusahaan.

 

Dalam prakteknya, keberhasilan penerapan  TKP tidaklah semudah memahami batasan atau konsepnya. Sebaik-baik prinsip-prinsip TKP dan peraturan bukanlah jaminan tidak akan timbul penyimpangan kalau tanpa adanya integritas termasuk moralitas para pelakunya. Tidak jarang terjadi fenomena kesalahpahaman, kekurang-taatasasan, dan  konflik peran dan fungsi pengambilan keputusan diantara para pengelola perusahaan dan bahkan manipulasi keuangan oleh pihak direksi dan manajer. Kalau sudah seperti itu keberhasilan TKP sangat bergantung pada integritas dari para pengelola perusahaan bersangkutan.

 

Dengan kata lain hal itu sangat berkait dengan mutu SDM karyawan (manajemen dan non-manajemen) dan dewan direksinya. Disinilah etika dan budaya kerja serta prinsip-prinsip kerja profesional memegang peran penting dalam menerapkan TKP yang efektif. Untuk itu disamping upaya mengembangkan sistem pengendalian, pengkoordinasian, dan pengarahan maka para direksi dan karyawan seharusnya antara lain berperilaku jujur, kerjasama sesama rekan kerja yang produktif, selalu mengembangkan diri, bertanggung jawab, tidak merugikan pemegang saham, menjaga rahasia perusahaan, dan menegakkan peraturan dan prinsip-prinsip kerja.

            Sudah hampir sebulan ini  para petani kembali berkeluh kesah. Pasalnya pupuk hilang dari pasar. Kalau toh ada, harganya bisa belipat ganda. Sampai-sampai saking kesalnya  ada beberapa petani “menyandra” truk dan “merazia” gudang berisi pupuk. Padahal itu tindakan melanggar hukum. Bahkan ada yang merencanakan untuk menghentikan sama sekali usahataninya lalu berlalih ke usaha lain.

            Revitalisasi pertanian sudah dideklarasikan oleh presiden sejak tiga tahun lalu. Namun kebijakan operasional belum mencerminkan hal itu. Belum membumi. Lagi-lagi misalnya tentang pupuk (ketersediaan, distribusi, dan harga) sebagai unsur produksi vital pertanian selalu saja dari waktu ke waktu masih menjadi masalah. Ada apa? Mengapa pemerintah tidak belajar dari masa lalu dan mengantisipasinya? Mengapa harus menunggu protes dahulu? Mengapa harus menunggu keluhan petani? Menunggu dan menunggu…?

Dari berbagai keluhan,  kita seharusnya tidak berpretensi petani itu bodoh karena dianggap bukan anak sekolahan. Mereka sudah pintar-pintar dan kritis. Tempaan lewat penyuluhan dan akses infomasi serta instrumen dinamika politik telah membentuk intelektual petani semakin bertambah. Keluhan dan tindakan mereka mencerminkan bahwa mereka serius untuk mensukseskan program pemerintah di sektor pertanian. Karena itu, jangan permainkan mereka dan jangan susahkan mereka. Please  mudahkan mereka dalam memperoleh pupuk atau faktor produksi lainnya.

Pemerintah seharusnya memposisikan dirinya menjadi pelayan publik handal. Kalau tidak, artinya pemerintah belum mampu menjadikan dirinya sebagai ‘organisasi pembelajaran’. Padahal organisasi bertipe ini seharusnya berorientasi pada kemajuan bukan kemunduran. Dan  selalu memberdayakan semua potensi-sumberdaya untuk memaksimumkan kinerjanya.

Laman Berikutnya »