Hampir bisa dipastikan sebagian dari kita yang sedang bekerja atau yang sudah pensiun pernah menduduki jabatan suatu organisasi. Dari jabatan yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya relatif sederhana hingga ke yang sangat kompleks. Apakah sebagai koordinator pelaksanaan tugas-tugas pengarsipan, keuangan, produksi, satuan keamanan, kepanitiaan hingga tingkat manajemen puncak sebagai presiden direktur dan menteri  bahkan presiden.

       Semua jabatan itu merupakan pengakuan pada seseorang atas  performa dan kepribadiaannya. Tentu saja setiap jabatan itu dipandang sebagai bentuk tanggung jawab yang harus ditegakkan oleh yang bersangkutan. Dengan kata lain ada unsur amanah di dalamnya. Di sisi lain apakah ada unsur kebahagiaan yang diperoleh sang pejabat itu?

      Setiap pemegang jabatan mungkin akan memandang jabatan itu bisa berbeda-beda. Ada yang menganggap amanah, ada yang menilainya sebagai meningkatnya status sosial, ada yang merasakan segalanya karena sudah dipercaya, dan mungkin pula ada yang memandang biasa-biasa saja. Selain itu ada yang menganggap jabatan itu sebagai anugerah namun ada juga yang memandangnya sebagai musibah. Akibat dari itu mungkin pula akan terjadi perubahan perilaku misalnya timbul sikap sombong, percaya diri semakin tinggi, semakin bersikap amanah, wajar-wajar saja dan bahkan justru semakin rendah hati. Dan itu semua sangat bergantung pada karakter setiap orang.

       Bagi mereka yang menganggap jabatan atau tugas itu sebagai amanah maka sudut pandangnya adalah pada konteks pengabdiaan. Setiap jabatan dipandang sebagai ladang akhirat. Setiap jabatan harus ditegakkan untuk kemaslahatan luas. Disitu ada makna hasrat kuat untuk berbagi. Bukan untuk dibanggakan dalam ujud keangkuhan dengan keegoannya yang dominan sehingga mengabaikan tanggung jawab. Bahkan ada yang menyalahgunakannya dalam bentuk perbuatan moral hazard seperti korupsi. Bukannya kebahagiaan yang diperoleh malah penderitaan keluarga.

      Karena itu makna yang paling dalam dari mereka yang  menegakkan amanah adalah peluang besar untuk mengembangkan amal soleh. Disitulah letak kebahagiaan sejati dari jabatan yang dipercayakan kepadanya yang diawali rasa syukur.  Untuk itu kebahagiaan yang ingin dicapai adalah buah dari proses dan capaiannya buat kemaslahatan umum karena terdorong ingin memeroleh ridha Allah semata.