Kepemimpinan dan kepribadian bukanlah aspek yang terpisah dalam kehidupan seseorang. Seorang pemimpin yang taatasas adalah mereka yang mampu menciptakan kekuatan dalam kehidupan kepribadiannya sekaligus mampu menciptakan kekuatan dalam kepemimpinannya. Seorang pemimpin akan menyesuaikan irama dan langkahnya dengan semua orang yang bekerjasama dengannya. Karena itu selayaknya kalau sebagai pemimpin ingin mengetahui beragam determinan yang berkaitan dengan kepribadiannya. Misalnya, perilaku seorang pemimpin akan mencirikan budaya yang bersangkutan.

        Budaya itu sendiri akan menentukan seberapa jauh seorang pemimpin bersifat atraktif. Beberapa ungkapan agaknya dapat dipakai sebagai bentuk habit (komponen budaya) seorang pemimpin “you are what you talk”; “you are what you eat”; “kerja keras, cerdas, dan ikhlas”. Dengan demikian seorang pemimpin berbudaya adalah dia yang selalu menanamkan nilai-nilai pada budaya organisasi atau masyarakatnya. Pertanyaan mendasar adalah apakah perilaku pemimpin dapat diterima oleh semua orang yang ada di dalam organisasi dan masyarakat. Jadi sang pemimpin harus memulai dari dirinya sendiri. Dengan kata lain cara untuk mengubah budaya dalam organisasi dan masyarakat adalah dengan mengubah perilaku sang pemimpin itu sendiri.

        Bagaimana dengan sikap atau pendirian seorang pemimpin? Pernahkah kita memiliki seorang pemimpin yang berpendirian “setengah kosong” atau bersifat pesimis dan ragu-ragu? Dalam suasana apapun pasti masyarakat akan selalu bermuram durja. Hal ini sangat berbeda, layaknya seperti siang dan malam, kalau berhadapan dengan orang yang optimistis. Istilahnya, orang yang paling bahagia tidak penting memiliki sesuatu yang terbaik. Yang terutama adalah membuat sesuatu menjadi yang terbaik. Dalam hal ini sikap sebagai seorang pemimpin diposisikan sebagai sebuah thermostat. Jika sikapnya bagus maka sosial politik akan menyenangkan dan masyarakat bakal nyaman. Sebaliknya jika buruk maka suhu lingkungan sosial politik akan sangat memanas atau sangat dingin (tidak bergairah).

        Sangat kerap masyarakat tidak puas dengan kondisi sosial yang ada. Mereka tak jarang mengalami ketidakpuasan dengan kinerja pemerintah pusat dan daerah. Untuk sebagian masyarakat tekanan bathin dan stress mungkin saja mereka alami. Akibatnya tidak jarang masyarakat menjadi apatis bahkan melakukan demonstrasi. Masalah pokoknya bukan karena faktor kemiskinan dan pengangguran serta konflik sosial saja namun juga faktor lingkungan sosial politik yang disebabkan oleh faktor kepemimpinan.

       Yang terjadi adalah sang pemimpin tidak mampu membangun suasana nyaman. Selain itu pemimpin kurang tegas dalam mengambil setiap keputusan. Dan terkesan kurang amanah. Dalam konteks lingkaran pemerintahan, yang ada lebih pada kentalnya hubungan atasan dan bawahan yang sangat kaku. Berlakulah disitu mekanisme birokrasi yang ketat dan kaku.

        Membuat keputusan sesuatu tidaklah sulit sejauh seseorang sebagai pemimpin mengetahui nilai-nilai yang dimilikinya. Jadi setiap keputusan yang baik umumnya berdasarkan sistem nilai. Keputusan yang tidak berdasarkan hal itu maka cuma bertahan dalam jangka pendek saja. Misalnya kalau setiap keputusan, seorang pemimpin memasukkan unsur simpati, empati, apresiasi, dan tegas terhadap orang lain maka para pengikut atau masyarakat di sekitarnya akan merasa nyaman.