Suatu organisasi perusahaan yang modern pasti memiliki visi dan misi. Visi kerap disamakan maknanya sebagai mimpi atau cita-cita. Namun suatu mimpi yang harus diujudkan dalam kenyataan. Kalau tidak maka mimpi tinggalah mimpi. Itu bukanlah suatu visi atau sekedar angan-angan. Kemudian untuk menerjemahkan visi ke dalam bentuk realita maka perlu dirumuskan apa misinya. Misi adalah turunan atau pernyataan dari visi yang lebih rinci yakni kenyataan apa saja yang perlu diraih. Cita-cita perusahaan itu dinyatakan dalam bentuk tujuan umum yang sudah lebih terarah. Setelah itu dirumuskan bagaimana cara dan langkah-langkah perusahaan mencapai tujuan yang disebut sebagai suatu strategi.

          Untuk lebih jelasnya diberikan contoh satu perusahaan di bidang penerbitan buku ilmiah. Perusahaan itu memiliki visi “menjadi penerbit buku ilmiah yang unggul dan terpercaya utamanya di bidang X, Y, dan Z”. Impian utamanya adalah menjadi penerbit unggul dan terpercaya. Untuk itu maka mimpi yang lebih rinci ditunjukkan dalam bentuk pernyataan. Misalnya untuk menjadi penerbit unggul dan terpercaya maka mimpi terinci yang perlu diujudkan adalah: (1) berkembangnya mutu proses penerbitan dan hasil; (2) terujudnya pelayanan prima; dan (3) perluasan segmen pasar tidak saja di pasar domestik tetapi juga internasional. Ketiga mimpi itu disebut misi.

           Pertanyaannya apakah dengan demikian dalam pengembangan sumberdaya manusia juga diperlukan lagi suatu visi yang lebih spesifik lagi? Di suatu perusahaan di samping ada visi dan misi juga terdapat tujuan dan strategi untuk mencapai tujuan perusahaan. Semua itu baru akan terujud jika ada program yang layak untuk dilaksanakan. Kembali ke contoh perusahaan penerbitan di atas maka salah satu tujuannya adalah “meningkatnya jumlah buku-buku yang bermutu sesuai dengan kebutuhan IPTEK dan pasar”. Agar dapat diterjemahkan ke dalam bentuk nyata maka tujuan itu dirinci lagi secara kuantitatif dalam bentuk sasaran. Lalu untuk mencapai tujuan dan sasaran itu maka salah satunya dibutuhkan strategi dan program peningkatan mutu produk, pelayanan prima, dan efisiensi bisnis secara berkelanjutan. Semua itu dikemas dalam bentuk perencanaan seperti buku-buku apa yang akan diterbitkan, metodenya seperti apa, berapa banyak anggaran yang diperlukan, segmen pasarnya siapa, dan siapa dan apa saja sumberdaya manusia yang akan digunakan dalam mencapai tujuan itu.

          Dari contoh di atas maka tampak pengembangan sumberdaya manusia tidak perlu memiliki visi khusus. Pengembangan SDM lebih merupakan pernyataan program. Yang lebih diperlukan adalah menerjemahkan visi perusahaan dalam suatu rumusan apa saja tujuan, sasaran spesifik dan kegiatan terinci dalam pengembangan SDM karyawan. Hal ini diturunkan dari tujuan, strategi dan program umum perusahaan. Yang jelas pengembangan SDM sangat berkait dengan peningkatan mutu SDM dan kinerja karyawan. Jawaban dalam bentuk program antara lain melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan.

          Alasan lain mengapa pengembangan SDM tidak memerlukan visi dapat dilihat dari beragam sisi. Yakni tentang pernyataan yang mengandung idealisme, berorientasi pada jangka panjang, dan keterlibatan pelaku organisasi. Dari sisi idealisme, visi dipandang sebagai keinginan luhur yang dicerminkan oleh sistem nilai yang dimilikinya. Nilai-nilai itu perlu dibagi diantara para pelaku organisasi oleh pemimpin perusahaan. Misalnya sistem nilai yang perlu dikembangkan perusahaan penerbitan buku di atas yakni pelayanan prima, integritas, kerjasama, inovatif, dan reputasi. Kemudian visi itu harus ditempatkan sebagai jembatan penghubung masa sekarang dan masa depan. Jadi artinya perusahaan harus selalu siap dengan perubahan-perubahan. Perusahaan yang menolak perubahan sebenarnya perusahaan yang tidak memiliki visi jelas. Di sisi lain tidak mungkin idealisme dan jembatan penghubung itu dapat mencapai visi yang dicanangkan tanpa dukungan SDM. Dengan kata lain visi pun harus mampu menstimulasi para pelaku organisasi untuk memiliki cita-cita dan motivasi secara kolektif dalam bekerja sama.

         Dengan demikian pengembangan sumberdaya manusia selain hanya sebagai bentuk program juga sebagai langkah nyata untuk mencapai visi perusahaan. Jadi di setiap program pengembangan SDM ada kandungan inheren tentang visi perusahaan yang ingin dicapai. Juga memiliki kandungan nilai-nilai perusahaan yang disebut sebagai “visi berbagi” secara merata di kalangan karyawan dan manajemen. Karena itulah program itu pun mengandung makna bahwa untuk mencapai visi tertentu perlu ada standar-standar keunggulan yang bisa diukur. Yakni standar pencapaian mutu proses, mutu produk, pangsa pasar, kepuasan, dan loyalitas konsumen. Semua itu merupakan fungsi dari keberhasilan program pengembangan SDM karyawan.