Tidur, menurut wikipedia, adalah keadaan istirahat alami pada berbagai binatang menyusui, burung, ikan,  dan binatang tidak bertulang belakang seperti lalat buah Drosophila. Pada manusia dan banyak spesies lainnya, tidur adalah penting untuk kesehatan. Tanda tanda kehidupan seperti kesadaran, puls, dan frekuensi pernapasan mengalami perubahan. Dalam tidur normal biasanya fungsi saraf motorik juga saraf sensorik untuk kegiatan yang memerlukan koordinasi dengan sistem saraf pusat akan diblokade, sehingga pada saat tidur cenderung untuk tidak bergerak dan daya tanggappun berkurang. Fase peralihan dari sadar ke tidur disebut sebagai pradormitium dan fase peralihan dari tidur kembali ke sadar disebut sebagai postdormitium.

        Tidur adalah fenomena alami. Tidur menjadi kebutuhan hidup manusia. Tiap individu, idealnya memiliki daur tidur yang teratur. Ada orang yang begitu mudah tidur. Bisa-bisa lagi enaknya ngobrol, tak tahunya dia sudah lelap tidur. Namun ada juga yang sulit untuk tidur. Bisa karena faktor fisik, bisa juga karena nonfisik seperti masalah yang menyangkut bathin. Pernah ada teori yang menyebutkan lamanya tidur paling tidak delapan jam perhari. Kurang dan lebih dari itu tidak sehat. Namun teori itu dibantah. Yang penting kualitasnya dan tidak melihat skala waktu. Yang dimaksud kualitas adalah derajad nyenyak tidur dan kesegaran fisik dan batin ketika yang bersangkutan bangun tidur. Semakin kurang nyenyak tidur ditambah dengan kegelisahan tidur yang semakin tinggi semakin berkuranglah manfaat tidur. Yang bersangkutan mudah lelah dan sulit bekerja secara optimum.

       Pengertian tidur yang ingin disampaikan berikut ini sangat berbeda maknanya. Tidur dalam hal ini berarti ketidakpedulian. Dengan kata lain fenomena tidur terhadap kesadaran dalam beramal dan beribadah. Kalau itu terjadi maka dia termasuk orang yang begitu asyik tidur atau begitu ingkar terhadap panggilan agama dalam ikut menangani masalah-masalah lingkungan sosial. Dengan demikian dia tidak memiliki kapabilitas modal sosial yang kuat. Lingkungan sosial dipandang bukan sebagai urusannya. Urusannya adalah menghidupi dirinya dan keluarganya. Dunianya adalah menumpuk harta dan mengejar tahta. Tampaknya karakter diri tentang pentingnya kebersamaan sudah hilang. Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang akhirat adalah lalai (ar Ruum; 7).

        Suatu ketika, detik-detik menjelang subuhan, dari suatu mesjid di ujung rumah terdengar suara azan…yang artinya… ”sholat lebih baik daripada tidur; sholat lebih baik daripada tidur”… Segera ketika bangun barulah dia sadar bahwa tidur yang dikerjakan selama ini hanyalah untuk menjalani kenikmatan dunia, keegoannya sendiri. Rakus dan kikir. Dia banyak ingkar dan mungkar pada perintah Allah untuk selalu peduli pada lingkungan. Dia merasa menyesal mengapa selama ini dia begitu tertidur lelap karena begitu menikmati kekayaannya buat diri sendiri. Dan kini dia berjanji untuk tidak mengabaikan perilaku amal ibadah. Ikut mewujudkan rahmatan lil alamin.

Iklan