Abraham Maslow menyebutkan bahwa kebutuhan tiap manusia tumbuh secara progresiv yaitu ketika kebutuhan tingkat terendah terpuaskan maka individu bersangkutan mencari kebutuhan berikutnya yang lebih tinggi lagi sampai yang tertinggi. Pokoknya setiap orang dipandang tidak pernah puas hanya dengan satu atau beberapa kebutuhan saja. Hirarki kebutuhan individu mulai dari terendah yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, sosial, harga diri, sampai yang tertinggi yaitu aktualisasi diri. Artinya, menurut Maslow, setiap individu baru akan melakukan pekerjaan terbaiknya jika semua kebutuhannya terpenuhi. Sebaliknya seseorang tidak akan berespon positif untuk mengerjakan yang terbaik ketika dirinya merasa terancam atau tidak dihargai walaupun kebutuhan fisiknya sudah terpenuhi.
Tetapi pertanyaan mendasar adalah apakah kebutuhan tentang harga diri harus menunggu kebutuhan fisik dan rasa aman lebih dahulu? Padahal setiap individu dari strata apapun harga diri ditempatkan sebagai unsur yang utama. Itulah hakekat dari pengertian manusiawi. Jangan hanya gara-gara kebutuhan fisik yang belum terpenuhi maksimum lalu harga diri terkorbankan. Kalau begitu apakah tidak sepantasnya pada setiap hirarki kebutuhan individu, dasar utamanya terletak pada harga diri itu sendiri?
Maslow sendiri dalam tahun-tahun terakhirnya merevisi teorinya tersebut (Stephen R.Covey dalam bukunya First Things First). Katanya, Maslow mengakui bahwa aktualisasi diri bukanlah kebutuhan tertinggi namun masih ada lagi yang lebih tinggi yaitu self transcendence yaitu hidup itu mempunyai suatu tujuan yang lebih tinggi dari dirinya. Mungkin yang dimaksud Maslow adalah kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama. Sekarang lebih dikenal sebagai kebutuhan spiritual. Sudahkah kita seperti itu?













Kalau menurut saya sih kebutuhan spiritual itu adalah kebutuhan mendasar prof. Apakah untuk memenuhi kebutuhan spiritual itu perlu menunggu terpenuhi kebutuhan lain? Padahal menurut para alim dan ulama (yang berlandaskan Qur’an dan hadist) kita harus bisa menyeimbangkan kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat. Kejarlah duniamua seolah engkau akan hidup selamanya, dan kejarlah akhiratmu seolah engkau akan mati esok.
Jadi teori revisinya Maslow perlu direvisi lagi.
Oleh: mathematicse on Agustus 3, 2007
at 5:15 pm
ya tampaknya demikian mr math;bahkan kebutuhan spiritual seharusnya begitu mendasar dan melekat pada setiap aspek kehidupan apapun…karena berharap ridha Allah…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 3, 2007
at 6:11 pm
saya ingin bertanya menurut teori maslow tentang kebutuhan manusia, kita harus memenuhi dahulu kebutuhan yang berada di tingkatan bawah,tetapi apakah kita bisa langsung melompat satu atau dua level ke tingkatan selanjutnya tanpa memenuhi kebutuhan yang berada di tingkatan bawahnya??
Oleh: asha on September 17, 2007
at 2:58 am
ya asha,
hirarki kebutuhan menurut maslow seperti itu…..namun dalam kenyataannya setiap individu cenderung untuk tidak kaku pada hirarki kebutuhan…misalnya kebutuhan kasih sayang tidak harus menunggu dahulu kebutuhan fisik tercapai….begitu pula tentang kebutuhan harga diri…..
salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on September 17, 2007
at 8:46 pm
Saya juga pernah membaca bahwa tulisan-teori Maslow direvisi pada akhir hayatnya. Dan, ada benarnya pendapat anda…jangan2, bahkan mendekati kebenaran, kalau hierarki maslow dijadikan pembenaran bagi orang2 yang malas untuk mencapai perbaikan diri karena berdalih “masih tahap mencari pemenuhan kepuasan fisiologis”…jadi kebaikan dan kebajikan terabaikan, bahkan mungkin dibalik saja kalau aktualisasi menjadi dasar/awal….kehidupan spiritual yang anda sinyalir tersebut, saya kira boleh jadi demikian, terutama jamanb sekarang yang sudah “sumpek/muak” dengan materialisme…atau, jangan2, demikian merupak kombinasi dari aktualisasi dan materi???
Oleh: c1p on November 1, 2007
at 8:47 am
terimakasih mas c1p atas ulasannya yang bermanfaat…..salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on November 1, 2007
at 1:59 pm
[...] http://ronawajah.wordpress.com/2007/08/03/teori-maslow-koreksi/ [...]
Oleh: Teori Maslow dalam lingkup HR « indra hadi on Juli 24, 2008
at 12:36 pm
terimakasih bung indra atas masukannya….saya sudah nengok blog anda….bagus…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 24, 2008
at 1:15 pm
Itu merupakan salah satu pendekatan menurut pendapat Maslow, jadi ketika di lapangan ada hal yang kurang sejalan adalah sesuatu yang wajar. Dan kitapun bisa membuat teori sendiri
Oleh: Dede Farhan Aulawi on Agustus 27, 2008
at 7:42 am
ya bung dede….teori ditemukan tidak dalam tempo singkat….bisa lebih dari seabad…..jadi memang modifikasi teori berjalan begitu evolusionernya……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 27, 2008
at 2:34 pm
thanks…ulasannya bagus dan masuk akal.
Terlepas dari kontroversi urutan pemuasan kebutuhan, Tentunya kebenaran yang mutlak adalah hanya Milik Nya sang penguasa alam.
Oleh: ita ermawati on September 6, 2008
at 6:41 am
terimakasih ita……betul semua yang ada di bumi ini dan yang dimiliki hakekatnya karena otoritas allah…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on September 6, 2008
at 7:55 am
mungkin.. seseorang yang lapar (belum terpenuhi kebutuhan fisiologusnya), akan mengabaikan harga dirinya (terbukti banyak pengemis yang rela meminta sedekah, tanpa peduli harga diri mereka)
Oleh: grace on Oktober 25, 2008
at 5:01 am
mbak grace…..hal sama yang patut dipertanyakan adalah para koruptor yang umumnya dari kalangan atas atau yang sudah kaya……disitu ada sifat kerakusan……uang tak pernah membuat dirinya puas…….kalau pengemis, mereka meminta pada orang yang punya….namun kalau koruptor, mereka merampok haknya orang…….termasuk haknya orang miskin……kalau begitu dimana harga diri orang kaya dan berpendidikan yang menjadi koruptor itu??….salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on Oktober 25, 2008
at 6:21 am
menurut saya, dalam aplikasinya,teori maslow tidak harus berurutan seperti itu, selain faktor spiritual, faktor pengalaman/trauma psikologis di masa lalu juga sangat berpengaruh, menjalani kemiskinan yang teramat sangat dapat membuat seseorang tidak mau beranjak dari kebutuhan fisik, meskipun kondisi finansialnya saat ini sangat memungkinan untuk melakukan kebutuhan tertinggi, yaitu aktualisasi diri, begitu juga sebaliknya orang yang baru bisa memenuhi kebutuhan fisiknya dengan sangat sederhana, sudah melakukan aktualisasi diri yang hebat, bandingkan antara dokter kebidanan kaya raya yang masih mau melakukan aborsi dengan pejuang militan yang sanggup hidup sangat sederhana di hutan
Oleh: Farida on November 4, 2008
at 12:58 am
ya mbak farida…..betul sekali, teori hirarki kebutuhan menurut Maslow dengan menganggap semua individu cenderung perilakunya sama…..padahal tiap individu memiliki keunikan masing-masing……belum lagi ada pengaruh budaya masyarakat dan dinamika peradaban yang dapat memengaruhi perilaku individu……
Oleh: sjafri mangkuprawira on November 4, 2008
at 12:43 pm
sebagaian besar orang memang memenuhi kebutuhannya berdasarkan teori maslow, tetapi ada juga orang yang tidak secara sistematis memenuhi kebutuhan berdasarkan teori tesebut. kalau saya lebih memandang teori tersebut berdasarkan kegunaan praktis. dalam kasus tertentu teori maslow dapat menjelaskan perilaku pada manusia akan tetapi tergadang juga tidak. ada banyak teori psikologi yang menjelaskan bagaimana perilaku menusia yang tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, psikoanalisi misalnya yang lebih menekankan ketidaksadaran atau behaviour yang lebih menekankan konsekwensi yang mengikitu perilaku, belum lahi pendapat agamawan yang cenderung lebih banyak bertentangan dengan teori psikologi.
Oleh: S. Purwanto on Februari 18, 2009
at 5:42 am
ya mas purwanto……menurut asal usulnya….menurut maslow hirarki kebutuhan itu lebih pada tataran proritas mencapai kehidupan…..namun dalam prakteknya setiap orang secara bersamaan tidak saja membutuhkan aspek fisik tetapi juga aspek harga diri……seharusnya teori psikologi ketika akan diterapkan dalam dunia nyata tidak bertentangan dengan ajaran agama……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Februari 20, 2009
at 2:08 am
Salam, Prof. saya kira teori yang dibuat maslow harus difahami sebagai bagian dari sejarah atau setting sosial ketika teori itu dibuat, bisa jadi hasil “bacaan” maslow pada kondisi masyarakat ketika itu dan sebelumnya menyebabkan ia membuat kesimpulan bahwa hirarki demikian yang tepat, namun semua itu tidak mutlak ketika realitas sosial masyarakat berbeda. karena setiap pribadi manusia itu unik dan tidak sama sehingga bisa saja dan bisa dipastikan prioritas seseorang tidak sama ada yang satu aspek sudah terpenuhi maka ia cenderung mencari aspek yang lain atau bahkan sesuatu yang ada dan diluar dari teori tersebut. artinya hirarki tersebut tidak bersifat mutlak namun bergantung pada aspek mana yang dibutuhkan oleh setiap individu.
Oleh: qien on Maret 4, 2009
at 3:35 pm
betul qien….teori khususnya dalam ilmu-ilmu sosial cenderung tak abadi….sejalan dengan transformasi sosial maka teori pun mengalami perubahan….ini juga terjadi pada teori hirarki (proritas) kebutuhan maslow…..ketika beberapa waktu sebelum meninggal dia berkeyakinan bahwa aktualisasi diri bukan merupakan puncak dari kebutuhan individu….ada satu lagi yakni self transcedence atau kebutuhan spiritual…ia merupakan keterpaduan antara pengalaman kemanusiaan dan kesadaran keberadaan diri seseorang dengan lingkungannya……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Maret 5, 2009
at 9:04 pm
menurut maslow seperti itu namun,pertanyaan mendasar adalah apakah kebutuhan tentang harga diri harus menunggu kebutuhan fisik dan rasa aman lebih dahulu? Padahal setiap individu dari strata apapun harga diri ditempatkan sebagai unsur yang utama. Itulah hakekat dari pengertian manusiawi. Jangan hanya gara-gara kebutuhan fisik yang belum terpenuhi maksimum lalu harga diri terkorbankan. Kalau begitu apakah tidak sepantasnya pada setiap hirarki kebutuhan individu, dasar utamanya terletak pada harga diri itu sendiri?
Oleh: Daniel wantik on September 25, 2009
at 7:45 pm
ya sependapat bung daniel….
Oleh: sjafri mangkuprawira on September 26, 2009
at 5:52 pm
sebenarnya itu adalah tahapan normal yang yang biasanya dipenuhi menurut mana yang paling mudah…seperti saat seseorang buat makan saja susah tentu dia tidak akan memikirkan memiliki mobil. namun pada kasus2 tertentu memang seseorang tidak melewati tahapnya…klo teman2 liat seperti ki joko bodo, mbah surip dan kawan2 yang biasa hidup pas2an tetapi mereka dapat langsung menuju ke tahap aktualisasi diri tanpa melalui yang lain….setelah mereka beraktualisasi dan terkenal, satu demi satu tahap terpenuhi.
seperti yang saya ketik di awal klo urutan itu adalah yang biasa di penuhi terlebih dahulu oleh sebagian orang, tetapi kadang ada sebagian orang yang tidak melalui tahapan itu atau malah berhenti di salah satu tahap…..klo ga percaya tanya KORUPTOR yang berhenti di tahap kebutuhan fisik….
Oleh: gilang on November 1, 2009
at 3:03 pm
bung gilang…karena itulah maslow dengan teori hirarki kebutuhannya…cenderung pendekatannya pada sisi materi…bahkan ada yang mengatakan materialisme…
Oleh: sjafri mangkuprawira on November 6, 2009
at 11:08 pm