Tentang IPB


Alhamdulillah, setelah melalui tahapan perjalanan cukup panjang, akhirnya sidang Majelis Wali Amanat IPB sekitar pukul 12 siang, 3 Desember 2007, telah memilih dan menetapkan Dr.Herry Suhardiyanto,MSc (Wakil Rektor II, Dosen Fateta IPB) sebagai Rektor IPB periode 2007-2012. Dia lah satu-satunya  rektor sepanjang sejarah IPB yang bukan berasal dari kalangan guru besar. Sidang yang dihadiri Menteri Pendidikan Nasional,Prof. Dr.Bambang Sudibyo, diawali dengan paparan dan diskusi tentang rencana strategis (Renstra) masing-masing calon rektor.

Herry, yang dilahirkan 48 tahun yang lalu di Banyumas, mengetengahkan gagasan utamanya yakni menyelaraskan mosaik transformasi IPB menuju Research-based Enterpreneurialship University Kelas Dunia dengan Kepemimpinan yang Melayani dan Terpercaya. Semoga dengan kepemimpinan yang baru dan dukungan seluruh sivitas akademika, IPB dengan selalu mengharap ridha Allah akan semakin berkembang. Amiiin.

Setelah mengikuti serangkaian debat publik dan uji kelayakan dan kepantasan, calon rektor IPB yang semula berjumlah tujuh orang kini tinggal tiga orang saja. Mereka adalah Prof.Dr.Ir.Dudung Darusman (dosen Fakultas Kehutanan), Prof.Dr.Ir MA Chozin (dosen Fakultas Pertanian), dan Dr.Ir Heri Suhardyanto (dosen Fakultas Teknologi Pertanian). Insya Allah pada hari Senin depan, 3 Desember 2007, Majelis Wali Amanat akan memilih Rektor IPB periode 2007-2012

Khalayak akademik, tenaga penunjang, dan alumni IPB tentunya bertanya-tanya mana diantara tiga orang calon rektor tersebut yang paling layak untuk menjadi orang nomor satu IPB itu. Tidaklah mudah menebak mana yang paling oke. Pasti ketiga calon memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Saya selaku Ketua Senat Akademik relatif cukup sering diposisikan sebagai sumber yang dianggap paling tahu tentang kapabilitas tiga calon tersebut. Mereka banyak bertanya bahkan minta pendapat saya.

Sementara itu berseliweran beragam pendapat lewat SMS tentang pro dan kontra terhadap setiap calon. Tetapi saya tetap tidak bergeming untuk tidak memihak kepada calon tertentu. Sebagai seorang pemimpin suatu organ normatif tertinggi di bidang akademik, saya harus menjaga integritas kelembagaan dan juga pribadi saya.

Memang kebetulan tiga calon itu adalah anggota Senat Akademik. Saya sendiri sama sekali tidak menjawab mana kira-kira pilihan saya. Dalam pandangan saya, kebetulan sebagai senior mereka, selalu mengatakan mereka semua pantas menjadi rektor. Mereka sudah melewati proses filterisasi yang ketat dan melelahkan. Kita tunggu saja otoritas Allah mana yang dianggap paling tepat untuk menduduki jabatan rektor.  

Insya Allah dalam waktu dekat ini akan hadir buku profil Guru Besar IPB. Buku jenis ini  baru pertama kalinya diterbitkan dan diprakarsai oleh Dewan Guru Besar IPB. Suatu kehormatan bagi IPB bahwa para guru besar termasuk yang sudah purna bakti,  selalu siap meluangkan waktu dan pikirannya untuk menuangkan gagasan-gagasannya yang cerdas; tidak saja bagi kemaslahatan almamater IPB tetapi juga buat bangsa. Pemikiran-pemikiran komprehensif tertampilkan dalam beragam bidang mulai dari sisi pembangunan nasional dan pertanian sampai pada pengembangan keilmuan, pendidikan tinggi, dan kelembagaan perguruan tinggi khususnya IPB. Dengan membacanya, kita  tidak saja semakin mengenal  profil sebagian besar guru besar IPB  tetapi juga semakin memahami pemikiran-pemikirannya yang cemerlang.

Ketika IPB sedang bertekad dan berupaya menjadi perguruan tinggi unggul berbasis penelitian dan berkualitas internasional maka  semua kontribusi gagasan yang tidak kecil dari para guru besar IPB  menjadi sangat strategis. Karena itu semua pimpinan organ di tingkat IPB dan atau unit di tingkat fakultas dan lembaga diharapkan dapat memanfaatkan beragam pemikiran  itu sebagai masukan berharga dalam merumuskan rencana strategis, kebijakan dan program tri darma. Misalnya Senat Akademik  seharusnya banyak memanfaatkan semua pemikiran tersebut sebagai rujukan untuk merumuskan strategi dan kebijakan di bidang-bidang akademik, kelembagaan, dan  kajian strategis.

Warga IPB patut menyampaikan  penghargaan kepada para guru besar atas sumbangan pemikirannya.  Semua itu menunjukan nilai keteladanan tinggi dari para guru besar  dalam mendorong seluruh staf pengajar dan juga mahasiswa untuk berlomba berbuat kebajikan. Hal ini akan memberi warna tersendiri dalam pengembangan nilai-nilai luhur di lingkungan almamater. Maknanya adalah siapa pun mereka maka sepatutnya tidak akan pernah surut berkarya, sekalipun sudah memasuki masa purna bakti.”Mencari dan memberi yang terbaik”   

Pagi sampai siang ini,12 November 2007, di kampus IPB Dramaga Bogor,   tujuh “pendekar”-calon rektor telah memaparkan gagasannya dihadapan sivitas akademika IPB. Lama waktu penyajian yang disediakan untuk setiap rektor cuma sepuluh menit. Isi pemikiran ringkasnya berkisar pada dunia tridarma dan kemahasiswaan. Selain itu juga diuraikan berbagai hal yang menyangkut masalah keuangan dan kesejahteraan dosen dan pegawai. Bahkan tema yang agaknya sentral adalah bagaimana IPB harus mampu menjadi perguruan tinggi unggul yang berbasis riset dan mutu internasional. Hampir semua mengungkapkan dimensi-dimensi itu ketika menjawab  pertanyaan-pertanyaan gencar dari lima panelis (wakil dosen, pegawai, mahasiswa, alumni, dan masyarakat).

Yang membedakan dari tampilan para pendekar itu adalah gaya orasinya. Mulai dari gaya orator ulung seperti politikus ketika kampanye pemilihan umum atau pilkada sampai bergaya guru bangsa, kuliah di kelas, dan seminar. Dilihat dari isi jawaban pertanyaan panelis, ada yang tampil dengan percaya diri tinggi, percaya diri yang sedang-sedang saja sampai ada yang keteteran alias kurang percaya diri.Golongan pertama dicirikan oleh isi dan ekspresi uraian presentasi dan jawaban-jawaban terkesan “mantap”.bahkan sangat meyakinkan.Misalnya “kalau saya terpilih maka kesejahteraan dosen dan pegawai akan naik 100% di bulan September 2008”. Langsung saja direspon para pengunjung (sekitar seribu orang) dengan tepuk tangan gemuruh.

Kemudian ada yang menjawab dengan seriusnya,”saya yakin tahun 2012,IPB bakal sudah mampu menjadi perguruan tinggi kelas internasional Sebaliknya dua  golongan terakhir yang lain kalau menjawab hampir selalu mengatakan “barangkali, ya nanti saja kita bicarakan setelah jadi rektor, atau menjawab tetapi jawabannya tidak kontekstual alias ngalor ngidul”. Ya mohon mengertilah, mereka manusia biasa. Seperti layaknya para mahasiswa akan memasuki ruang ujian skripsi, thesis, dan disertasi,mereka pun pasti akan gugup ketika akan diuji tentang program-programnya apalagi berhadapan dengan massa yang begitu banyak.

Inti dari acara penampilan kemarin adalah bentuk partisipasi sivitas untuk memberikan masukan-masukan kepada para “pendekar” kalau nantinya menjadi rektor. Disamping itu khalayak bisa melihat, mendengar,dan “menilai” langsung tampilan mereka. Setelah acara kemarin kemudian Majelis Wali Amanat pada tanggal 21 November 2007 akan memilih dan menetapkan tiga orang yang bakal menjadi calon rektor. Pada awal Desember ketiga calon ini akan mengikuti “fit and proper test” di hadapan sidang pleno MWA dan kemudian dipilih mana calon yang paling layak sebagai orang nomor satu IPB.

Nah, semua “pendekar” sudah menguraikan program-programnya.Memang semua masih janji. Bahkan ada yang terkesan muluk-muluk. Sementara di sisi lain kita masih belum tahu percis bagaimana janji-jani tersebut bisa direalisasikan. Begitu juga kita belum tahu model riil kepemimpinan mereka yang sesungguhnya. Walaupun mereka semua akan membangun suasana kebersamaan dan model partisipasi namun harus diuji nanti dalam prakteknya. Janji itu adalah amanah. Namun siapapun rektornya, sivitas akademika termasuk alumni IPB patut mendukungnya. Amiiin.  

          Kemarin pagi (09.30-11.00), selaku Ketua Senat Akademik (SA) IPB, saya  memimpin sidang pleno SA dengan agenda pemilihan tujuh orang calon rektor IPB periode 2007-2012. Sidang yang dihadiri semua anggota SA (57 orang) telah menghasilkan keputusan terpilihnya tujuh calon rektor dengan sangat lancar. Mereka adalah:

(1).Prof.Dr.Ir. Dudung Darusman,MA; mantan Dekan Fakultas Kehutanan dan Ketua Lembaga Penelitian IPB,

(2).Dr.Ir.Herry Suhardiyanto,MSc; Wakil Rektor II IPB,

(3).Prof.Dr.Ir.M.A Chozin, MSc; Wakil Rektor I IPB,

(4).Prof.Dr.Ir. Supiandi Sabiham,MA; mantan Dekan Faperta IPB,

(5).Prof.Dr.Ir.Rizal Sjarief,DESS; Ketua Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat IPB,

(6).Prof.Dr.Ir Tridoyo Kusumastanto,MSc; Sekertaris MWA dan Kepala Pusat Studi Pesisir dan Kelautan IPB,

(7).Dr.Ir Anas M.Fauzi,MSc; Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

    Tujuh orang calon rektor tersebut akan menjalani uji kelayakan dan kepantasan termasuk uji kemampu-terimaan dari khalayak civitas akademika pada bulan November 2007.  Proses uji tersebut akan digunakan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) IPB untuk menetapkan tiga calon rektor. Kemudian tiga calon tersebut dipilih lagi  untuk ditetapkan sebagai Rektor IPB 2007-2012 di dalam sidang pleno MWA. Insya Allah Rektor IPB yang baru akan dilantik MWA pada bulan Desember 2007. Selamat berjuang bagi para calon rektor.

          Awal September ini kembali Institut Pertanian Bogor (IPB) memperingati hari kelahirannya. Usianya sudah 44 tahun. Kalau sebagai manusia, seusia itu IPB   berada dalam posisi “taruhan” apakah memasuki derajad “matang” atau sebaliknya. Artinya jika setiap kiprahnya dilalui dengan mulus maka IPB akan semakin “hebat”. Sebaliknya karena tak mampu menghadapi banyak tantangan internal dan eksternal maka IPB akan tergusur dari pasar persaingan mutu akademik dan performa terbaiknya. Dari segi sumberdaya manusia, IPB memiliki jumlah dosen yang berkualifikasi doktor terbanyak di Indonesia yakni 638 orang atau 49%, master 565 orang atau 45% (sebagian besar sedang mengikuti program doktor) dan selebihnya tingkat sarjana yang sedang mengikuti program pascasarjana. Penelitian-penelitian yang dilakukan telah cukup banyak dihasilkan baik pada skala laboratorium maupun industri. Dari segi kegiatan pendidikan, IPB memelopori dibukanya program mayor minor, satu-satunya di Indonesia.

          Alhamdulillah IPB semakin matang. Gunjang gunjing dan gesekan-gesekan internal selama ini seperti sikap resistensi sebagian dosen terhadap restrukturisasi departemen dan pusat-pusat sudah mulai dapat diatasi. Begitu pula tentang sistem mayor dan minor. Namun khususnya tentang implementasi awal dari mayor-minor diperkirakan masih butuh waktu untuk dipahami kalangan mahasiswa. Di sisi lain masih cukup banyak yang harus ditangani terutama dalam hal penyelenggaraan manajemen akademik .

          Meminjam model 7-S McKinsey, seharusnya setiap perubahan organisasi mempertimbangkan unsur budaya yang bersifat keras (Hard-S) dan lunak (Soft-S). Yang bersifat keras yaitu Structure dan Strategy dan relatif mudah diubah. Namun yang lebih sulit diubah adalah yang lunak yakni Shared Values, Staff, Style, Systeem, dan Skill. Kalau toh dapat diubah akan makan waktu relatif lama. Dalam dunia akademik, sifat perubahannya evolutif. Karena itu tidaklah mungkin suatu restrukturisasi berhasil dengan baik tanpa menciptakan keserasian antara unsur organisasi yang bersifat keras dan bersifat lunak (terkait dengan budaya organisasi).

Sementara itu di dalam budaya organisasi itu sendiri secara implisit terdapat makna budaya mutu. Jadi secara normatif setiap komponen IPB seharusnya sudah menyadari mutu adalah bagian dari kehidupannya. Tiada hari tanpa berbuat yang terbaik.  Bagaimana kenyataannya? Saya sangat terharu ketika ’basic needs’ dambaan masih menjadi impian namun dedikasi para staf pengajar tetap tinggi. Saya semakin menghargai lagi ketika anggaran akademik sedang dalam berkekurangan, setiap departemen tetap menjaga kendali mutu akademiknya.

Yang saya ingin nyatakan disini ketika dalam keadaan keterbatasan anggaran ternyata dedikasi staf pengajar tetap begitu tingginya. Namun kondisi ketidakpastian sumberdaya khususnya pendanaan tidak mungkin terus dibiarkan. Kalau itu terus terjadi,  lambat tetapi pasti suatu ketika mutu akademik bakal sangat terganggu. Pasti ada yang salah dalam manjemen. Budaya mutu ternyata kurang didukung dengan budaya manajemen efisien. Karena itu diperlukan suatu telaah ulang keseluruhan sistem manajemen yang ada. Selain itu perlu terus dilakukan perbaikan mengenai penerapan sistem mayor minor. Dalam pelaksanaannya ternyata masih banyak kendala termasuk  dalam hal integrasi jadwal dan optimalisasi pemanfaatan fasilitas.

Saya percaya pimpinan IPB sedang mencari jalan terbaik dalam mengatasi masalah pelaksanaan pendidikan mayor-minor dan pendanaan akademik ini serta pengembangan IPB pada umumnya. Suatu jalan yang sebaiknya holistik. Tidak parsial dan hanya bersifat pemecahan masalah sesaat yang dapat menjadi sesat. Tentunya dalam hal ini sumbangan pemikiran secara komprehensif dari setiap staf sangatlah penting.

Bulan September ini pun IPB sedang memasuki masa sibuk-sibuknya melaksanakan proses pemilihan rektor IPB 2007-2012. Rektor yang sekarang akan berakhir tugasnya pada bulan Desember 2007. Banyak yang berharap IPB bakal memiliki seorang rektor yang memiliki integritas akademik yang lebih tinggi, visioner, konseptor, aspiratif, dan kepemimpinan yang arif serta mampu membangun iklim kebersamaan seluruh potensi sumberdaya manusia IPB. Insya Allah…DIRGAHAYU IPB.            

April mop ? Bukan ! Saya tidak mengenal tradisi itu. Tetapi, 1 April (2006) kemarin alhadulillah setelah menunggu sekitar empat tahun, akhirnya program Doktor Manajemen Bisnis IPB resmi diluncurkan di Jakarta bersamaan dengan pengelepasan lulusan Magister Manajemen Agribisnis (MMA) IPB. Tidak tanggung-tanggung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga alumni IPB dan beberapa menteri hadir. SBY memberi kuliah umum, khususnya bagi para mahasiswa Program Doktor Manajemen Bisnis.

Program Doktor Manajemen Bisnis IPB lahir tidak tiba-tiba. Itu sudah dipertimbangkan masak-masak dan terencana, baik dari sisi perspektif internal (ketersediaan sumber daya manusia, fasilitas dan kurikulum mutakhir) maupun perspektif eksternal (persaingan global, pembangunan nasional. permintaan pasar, dan IPTEK) sejak empat tahun lalu. Saya sendiri, lebih kurang lima tahun lalu pernah mengirim surat kepada Direktur Program MMA IPB untuk menelaah kemungkinan dibukanya program Doktor. Kemudian dua setengah tahun yang lalu dalam orasi saya sebagai Guru besar, saya menyampaikan agar program doktor dapat segera diwujudkan. Juga pada waktu yang sampir bersamaan diadakan diskusi hasisl studi kelayakan program doktor manajemen bisnis di tingkat IPB. Hasilnya, IPB menilai program ini layak segera diadakan. Lalu promosi lewat media cetak dan kunjungan ke berbagai instatnsi pun diadakan secara intensif. (lebih…)

« Laman Sebelumnya