Sebagai dosen


 

       Alhamdulillah, sebagai dosen tentunya sangat gembira dan bersyukur ketika tadi sore seorang bimbingan saya, mahasiswa program doktor ekonomi pertanian (EPN) IPB, telah lulus dalam ujian sidang terbuka. Insya Allah tahun ini bakal terjadi panen “raya” lulusan program doktor yang saya bimbing. Paling tidak seorang lagi dari program EPN, dua orang dari program Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, dua orang dari program Komunikasi Pembangunan, seorang dari program Gizi Masyarakat dan Keluarga, dan lima orang dari program Manajemen Bisnis.

        Sampai saat ini tidak kurang dari 450 orang alumni IPB (strata 1-3) yang pernah saya bimbing. Kalau mahasiswa yang pernah saya ajar, khususnya dalam ilmu Pengantar Ekonomi, Pengantar Manajemen, Pembangunan Pertanian, Manajemen SDM, Teori Organisasi, dan Kebijakan Pertanian, diperkirakan jumlahnya ribuan. Kini mereka tersebar sebagai dosen, birokrat, anggota legislatif, peneliti, dan wirausaha. Kalau saya hitung paling tidak terdapat ratusan lulusan IPB yang sudah berhasil sebagai akademisi dan pengamat sosial ekonomi tingkat nasional bahkan internasional seperti itu. Diperoleh kabar tidak kurang sebanyak 40 orang yang kini sedang menduduki jabatan eselon satu di pemerintahan. Disamping ada yang sebagai menteri dan presiden. Dalam dunia akademik bahkan beberapa diantaranya sudah lebih awal menjadi guru besar dibanding saya. Tentunya salah satu unsur keberhasilan mereka adalah hasil proses pembelajaran yang dilakukan oleh suprasistem yaitu semua dosen yang berdedikasi tinggi disamping karena kemampuan dan upaya mereka sendiri.

        Sebagai dosen, saya bangga sekali dengan keberhasilan mereka. Tiada kata lain yang meluncur kecuali ungkapan rasa syukur….. yang mensyukuri ni’mat-ni’mat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus (An-Nahl; 121). Kebanggaan itu semakin bertambah ketika mereka membawa tambahan ilmu pengetahuan untuk dikembangkan, paling tidak di kampus IPB. Para mahasiswa baru tentunya semakin terbantu dan semakin kaya ilmu. Harapannya adalah mutu lulusan IPB semakin unggul.

        Bagi saya, sebagai orang yang pernah menjadi guru mereka, sekarang tidak mau kalah untuk menimba ilmu. Lalu saya “berguru” pada mereka. Dalam kesempatan tertentu saya biasa meminta informasi buku ilmu ekonomi, organisasi dan manajemen apa saja yang mereka miliki. Dan tidak segan-segan saya minta diajari bagaimana menjelaskan dan menggunakan suatu teori dan model analisis mutahir yang belum saya ketahui. Saya butuh itu sekalipun dari seorang mantan mahasiswa saya. Nah itulah senangnya bekerja di perguruan tinggi. Tidak mengenal bentuk hirarki struktural dan fungsional. Yang ada cuma suasana kolegial. Tidak perlu ada sungkan. Hasilnya, saya termotivasi  untuk terus belajar, berkarya, dan bersyiar kebajikan. Hingga kini walau sudah pensiun saya masih aktif melaksanakan tugas untuk mengajar dan membimbing mahasiswa. Dan juga menulis buku serta aktif membuat artikel dalam blog pribadi ini.

 

        Saya memerkirakan setiap inidvidu khususnya yang berusia di atas  balita pernah melakukan push up. Jenis olahraga ini sangat diminati oleh tua-muda dan lelaki-perempuan. Push up (PU) adalah suatu jenis senam kekuatan yang berfungsi untuk menguatkan otot bisep maupun trisep (Wikipedia). Posisi awal tidur tengkurap dengan tangan di sisi kanan kiri badan. Kemudian badan didorong ke atas dengan kekuatan tangan. Posisi kaki dan badan tetap lurus atau tegap. Setelah itu, badan diturunkan dengan tetap menjaga kondisi badan dan kaki tetap lurus. Badan turun tanpa menyentuh lantai atau tanah. Naik lagi dan dilakukan secara berulang.

        Apakah PU hanya dilakukan untuk alasan olahraga agar kondisi fisik tubuh menjadi semakin bugar dan sehat? Tidak juga. Di dunia militer, PU dapat menjadi salah satu bentuk hukuman bagi anggotanya yang tidak disiplin. Selain PU bisa saja dalam bentuk lari keliling barak. Bentuk ini bukan barang asing bagi yang terkena hukuman. Tujuannya adalah agar timbul efek jera sehingga kedisiplinan para anggota bisa terujud. Bagaimana dengan di dunia non-militer? Bisa juga diterapkan,misalnya di kalangan kampus yang menekankan kedisplinan tinggi para mahasiswanya. Misalnya di PTIK, Institut Ilmu Pemerintahan, Sekolah Tinggi Maritim, dsb. Lalu bagaimana kalau diterapkan di perguruan tinggi umum?

         Saya kurang mengetahui apakah ada perguruan tinggi umum yang menerapkan hukuman dalam bentuk PU. Tetapi yang jelas saya terinspirasi dengan adanya kasus kriminal yang terjadi di suatu sekolah di Inggeris. Lintas Berita (5-12-08);TEMPO Interaktif, London mewartakan seorang guru di Inggris dihukum penjara setelah terbukti menyuruh murid-muridnya melakukan "push-up" sebagai hukuman lantaran datang terlambat ke sekolah. Untuk itu saya mencoba menjaring beberapa pendapat lewat status saya di facebook kemarin. Kasusnya adalah kalau ada dosen yang menghukum mahasiswanya dengan cara menyuruh PU karena terlambat datang ke ruang kuliah. Ada 13 orang yang menanggapinya. Ada tanggapan berupa pertanyaan, ada yang berpendapat sesuatu, dan ada yang menolak. Alasan penolakannya beragam. Ada yang bernada serius dan ada yang sambil bercanda ria.

         Semua dari mereka sangat tidak setuju diterapkannya sanksi hukuman tersebut di perguruan tinggi umum. Ada yang beralasan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi umum lebih menekankan pada pencapaian kinerja akademik para lulusannya. Selain itu dikembangkan soft skills untuk membangun sikap dan kepribadian lulusan yang mumpuni. Bukan kedisiplinan fisik yang dibangun tetapi kedisiplinan akademik. Misalnya dalam bentuk resiko dari tidak tercapainya minimum kehadiran dalam kuliah dan praktikum. Sanksi diberikan bisa dalam bentuk tidak boleh ikut ujian, pemberian tugas akademik tambahan, dan bahkan sampai keluar kalau ternyata terbukti melakukan plagiat dan menyontek. Dengan cara-cara ini ternyata lebih membuahkan hasil yang efektif untuk menghindari tindakan “kriminalitas” akademik ketimbang dengan PU. Kalau dengan bentuk PU, yang bakal terjadi bukannya efek jera namun ada persaan malu dan sakit hati diperlakukan di depan para teman-teman sekuliah.

          Selain hal yang serius ada juga yang bertanya dengan nada bercanda. Misalnya ada pernyataan yang membuat saya tersenyum yakni dosen yang menghukum dengan cara PU dikatakan cocok sebagai DanYon batalion tentara atau instruktur pendidikan militer. Dan ada juga yang menyamakan dosen seperti itu sebagai dosen olahraga. Selain itu dipertanyakan apakah hukuman PU juga berlaku bagi para mahasiswi yang terlambat datang kuliah. Jangankan tentang keterlambatan mahasiswi tetapi pertanyaan yang hampir mirip juga muncul yakni apa yang harus dilakukan kalau dosennya sendiri sering datang terlambat mengajar? Bukankah hal itu bakal malu-maluin dunia kampus? Ah ada-ada saja.

 

        Pengetahuan tentang komputer dan internet sudah begitu pentingnya dalam berkomunikasi global. Banyak sudah masyarakat yang memanfaatkannya untuk mencari informasi apapun dalam menambah pengetahuannya. Bahkan lewat internet terjadi interaksi sosial. Karena itu internet otomatis diposisikan sebagai jejaring sosial. Malah gara-gara menggunakan jejaring ini Prita sempat diperkarakan lewat jalur hukum sampai makan waktu 1,5 tahun. Pasalnya karena dia mengadukan kekecewaannya kepada sesama teman yang menyangkut pelayanan rumah sakit tertentu. Alhamdulillah dengan desakan para pendudungnya, yang antara lain lewat internet, yang terus gencar mendorong proses penegakan hukum yang adil maka dia bebas dari jerat hukum.

       Walau komputer sudah lama hadir di Indonesia, saya sendiri baru memanfaatkannya sejak April 2001. Tapi cuma baru untuk mengetik dan berkomunikasi serta mencari informasi lewat internet. Dan hampir tiga tahun belakangan ini, sejak April 2007, saya sudah manfaatkan untuk membuat dan mengisi blog saya hingga sekarang. Termasuk sejak lima bulan yang lalu ber-facebook ria. Namun saya masih belum intensif menggunakannya untuk pengolahan dan analisis data. Di sisi lain jangan kaget, beberapa teman saya, profesor, malah masih tergolong gaptek (gagap teknologi) komputer. Masih sangat konvensional. Jika ingin menulis sesuatu apapun mereka pakai mesin tik atau kalau lagi malas ya pakai tulisan tangan saja.

        Saya sendiri baru tahu tentang penggunaan komputer dan internet pada usia 58 tahun, sementara cucu-cucu saya (lima dari tujuh orang) sudah mulai tahu sejak usia rata-rata lima tahun. Umur cucu saya yang sudah aktif berkomputer tertua adalah 13 tahun dan termuda lima tahun. Mulai dari menggunakannya untuk ”games” sampai mengetik, membuat animasi, berkomunikasi dan browsing, mereka sudah trampil. Hampir setiap hari mereka menggunakannya. Kalah saya… Memang pemilikan dan akses pemanfaatan komputer era sekarang ini begitu mudahnya. Beda dengan zaman ketika saya masih kecil…..miskin.

 

Alhamdulillah buku ketujuh yang saya tulis berjudul “Bisnis, Manajemen, dan Sumberdaya Manusia” telah terbit minggu lalu. Buku cetakan kedua (pertama tahun 2008) ini diterbitkan oleh PT IPB Press yang berisi bab-bab: bisnis dan inovasi manajemen, manajemen perubahan, motivasi dan perilaku, komunikasi bisnis, kepemimpinan, mengelola karyawan, manajemen mutu sumberdaya manusia, manajemen kinerja, manajemen konflik, dan organisasi belajar. Dicetak dalam ukuran kertas 15×23 dengan kualitas bookpaper (impor). Dengan jumlah 273 halaman, buku ini dijual seharga 39 ribu rupiah atau setara dengan harga tiga mangkuk mi baso kuah di resto kelas menengah. Bagi yang berminat, buku yang ditulis dengan gaya ilmiah populer ini, tersedia di beberapa toko buku nasional seperti Gramedia dan Gunung Agung. Nah lewat blog ini jadilah saya berpromosi dan bersyiar keilmuan. Selamat membaca.

 

        Beberapa hari lalu saya mendapat surat dari Dekan Sekolah Pascasarjana (SPS) IPB bahwa saya sudah tidak bisa menerima permintaan bimbingan dari mahasiswa pascasarjana lagi khususnya sebagai ketua pembimbing. Pasalnya, angka indeks total jumlah bimbingan sudah melampaui batas standar. Menurut ketentuan yang berlaku di SPS IPB, jumlah bimbingan untuk mahasiswa S2/S3 adalah maksimum 10 orang sebagai ketua dan 15 orang sebagai anggota. Apabila diperlukan komposisi tersebut dapat diubah dengan ketentuan satu orang sebagai ketua setara dengan dua orang anggota sehingga total indeks yaitu 35.

       Sementara jumlah angka indeks saya mencapai 42 atau jumlah mahasiswa dimana saya selaku ketua pembimbing 18 orang; 13 orang mahasiswa S3 dan lima orang mahasiswa S2. Sebagai anggota pembimbing mahasiswa S3 mencapai enam orang. Dengan demikian total mahasiswa pascasarjana bimbingan  berjumlah 24 orang yang tersebar di enam program studi yakni Ilmu Ekonomi Pertanian, Ilmu Manajemen, Ilmu Pengelolaan Lingkungan, Ilmu Gizi Masyarakat, Ilmu Komunikasi Pembangunan, dan Manajemen Bisnis. Itu belum termasuk sebagai ketua pembimbing mahasiswa program magister manajemen bisnis yang jumlahnya sekarang delapan orang. Dan sebagai ketua pembimbing mahasiswa strata satu sebanyak 12 orang. Jadi total mahasiswa bimbingan  pada semua strata sekarang ini berjumlah 44 orang.

        Karena sudah memasuki masa pensiun, maka kini saya hanya diberi tugas sebagai anggota pembimbing. Sebagai contoh, enam mahasiswa program doktor manajemen bisnis yang berkonsentrasi ilmu MSDM (MSDMLanjut, Manajemen Perubahan, Hubungan Industrial) yang semula meminta saya sebagai ketua pembimbing ditolak oleh dekan SPS IPB. Saya hanya mendapat jatah seorang dan itupun hanya sebagai anggota pembimbing. Jadi bisa dibayangkan untuk 13 mahasiswa program doktor yang sedang kuliah konsentrasi MSDM yang sejak awal meminta saya sebagai pembimbingnya kemungkinan besar akan ditolak Dekan SPS. Bisa jadi tak satu pun dari mereka yang saya bimbing. Pasalnya itu tadi karena beban bimbingan saya sudah jauh melampaui indeks standar. Pertanyaannya apakah kondisi seperti ini juga terjadi pada dosen yang lain?

         Penyebaran bimbingan mahasiswa oleh dosen belum tentu merata. Hal ini sangat berkait dengan rasio jumlah mahasiswa pascasarjana dengan jumlah dosen yang berhak membimbing pada program studi/mayor tertentu. Semakin banyak jumlah mahasiswa relatif terhadap jumlah dosen maka semakin besar peluang dosen memiliki bimbingan mahasiswa. Karena sebarannya tidak merata maka bisa jadi ada dosen yang tidak memiliki mahasiswa bimbingan dan yang hanya membimbing 1-2 orang mahasiswa sampai ada yang membimbing mahasiswa di atas indeks standar. Dengan kata lain para mahasiswa bertumpuk di segelintir dosen saja.

         Hal demikian bisa juga karena faktor kompetensi, kapabilitas, dan kepribadian dosen dan minat mahasiswa di bidang tersebut. Semakin tinggi kompetensi seorang dosen dalam bidang keahlian tertentu plus semakin menariknya kepribadian sang dosen dan mahasiswa yang berminat cukup banyak maka semakin besar kemungkinan sang dosen tersebut diminta mahasiswa sebagai pembimbing. Di sisi lain  semakin banyak jumlah mahasiswa pascasarjana pada program mayor tertentu sementara jumlah dosen tidak berubah maka akan terjadi “kelebihan” permintaan bimbingan ketimbang suplai dosennya. Hal-hal inilah yang memungkinkan beberapa dosen memiliki angka indeks bimbingan di atas standar.

         Peraturan yang dikeluarkan SPS IPB jelas bermaksud agar ketimpangan sebaran jumlah mahasiswa bimbingan perdosen relatif merata. Kemudian beban dosen pembimbing secara rasional harus dibatasi. Namun tidak cukup hanya dengan itu saja. Sebaiknya setiap program studi/mayor dalam merekrut jumlah mahasiswa baru harus mempertimbangkan jumlah dosen yang tersedia. Jangan berlebihan ketimbang ketersediaan dosen yang akibat susulannya adalah ketidakpuasan mahasiswa atas proses pembimbingan. Selain itu juga sistem atau pola bimbingan yang sementara ini otonom diberikan kepada masing-masing dosen hendaknya dapat dipantau dan dievaluasi. Antara lain dalam hal lamanya penyelesaian dan mutu bimbingan. Bisa saja terjadi dosen yang membimbing mahasiswa lebih banyak menghasilkan lulusan yang relatif tepat waktu dan bermutu ketimbang dosen yang jumlah bimbingannya  lebih sedikit.

         Karena itu interaksi antara pembimbing dan mahasiswa seharusnya dilakukan secara intensif. Dari sisi permintaan, para mahasiswa bimbingan dikondisikan agar mereka bisa selesai pada waktunya. Para mahasiswa harus tekun dan memiliki road map dalam mengikuti proses pembelajaran di program studinya. Sementara dari sisi suplai atau dosen maka diperlukan curahan waktu, tenaga dan pikiran yang optimum. Dinilai perlu dosen harus proaktif dengan cara melakukan kontrol rutin kemajuan mahasiswanya. Memang bakal tampak melelahkan kalau seorang dosen membimbing mahasiswa yang cukup banyak. Namun ketika itu dipandang sebagai amanah dan kepercayaan yang diberikan SPS dan mahasiswa kepada pembimbing  maka semua itu bakal menjadi indah ketika ditempatkan sebagai ibadah.

          Sudah menjadi pendapat umum di kalangan skolar, mempelajari dan mengajarkan filsafat ilmu khususnya ilmu-ilmu sosial bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Sering muncul anggapan filsafat ilmu itu sesuatu yang sangat abstrak.Tidak mudah dicerna oleh akal pikiran. Karena itu tidak jarang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan; (1) apa sebenarnya tujuan dan manfaat dari mempelajari filsafat ilmu?, (2) sejauh mana ada kaitannya dengan penelaahan suatu fenomena sosial tertentu?, (3) apa kaitannya dengan metodologi penelitian?, dan (4) secara teknis bagaimana sebaiknya pembelajaran filsafat ilmu-ilmu dapat dilakukan dengan menarik, dan  dapat  menstimulus  mahasiswa  untuk lebih kreatif dan inovatif sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah?

          Dalam pembelajaran filsafat ilmu dalam ilmu-ilmu sosial maka beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

(1)     Perlu penelaahan peran filsafat ilmu dalam memberikan spirit perkembangan dan kemajuan ilmu-ilmu sosial sekaligus kandungan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya baik pada tataran ontologi, epistemologi maupun         aksiologi. Disamping itu perlu dikaji kaitan ilmu-ilmu beragam dimensi dan fenomena sosial dalam suatu realitas yang komprehensif.

(2)     Meningkatkan pemahaman para mahasiswa tentang hakikat manusia sebagai individu dan anggota sistem sosial dan tentunya sebagai mahluk Allah pencipta alam semesta.Mengembangkan kesadaran para mahasiswa atau siapa saja yang menuntut ilmu (termasuk dosen) bahwa ilmu yang dimilikinya masih jauh dari cukup. Bagaimana menyadarkan mereka bahwa ilmu itu tidak ada batasnya sementara kemampuan manusia terbatas. Dan ini sangat penting untuk menumbuhkan sifat rendah hati dimana melihat sesuatu itu jangan hanya dari kaca mata ilmunya  saja. Masih banyak kaca mata lain dalam menelaah sesuatu.

(3)     Dengan memfokuskan diri pada pertanyaan- pertanyaan dasar tersebut, filsafat ilmu  tidak lagi bersifat deskriptif sebagaimana diusahakan ilmu-ilmu empiris, melainkan bersifat normatif kritis. Perhatian utama setiap filsafat ilmu  adalah menjelaskan norma-norma dasar dari bangunan ilmu . Ia tidak hanya menjelaskan ilmu  apa adanya melainkan secara kritis merefleksikan ilmu  itu, sehingga pertanyaan “bagaimana seharusnya ilmu  itu” dapat dijawab dengan baik. Jika etika ilmu  mengarahkan perhatiannya pada masalah kriteria kebaikan ilmu  bagi hidup manusia maka epistemologi ilmu  akan mengarahkan dirinya pada masalah kriteria kebenaran dan kebebasan ilmu.

(4)     Pokok-pokok pembelajaran filsafat ilmu yang terkait dengan ilmu sosial perlu menelaah sejarah perkembangan ilmu secara keseluruhan dan  khususnya tentang ilmu-ilmu sosial; Selain itu perlu Menjelaskan hakekat dan sumber pengetahuan dan kriteria kebenaran dalam menelaah gejala-gejala sosial; Juga perlu membahas beragam aspek masalah yang menyangkut obyek, metode, dan tujuan ilmu-ilmu sosial dan perbedaannya dengan ilmu-ilmu alam;

(5)     Agar para penuntut ilmu khususnya mahasiswa mampu lebih mengerti dalam memahami filsafat ilmu-ilmu sosial maka hendaknya dalam teknik pembelajaran diterapkan pendekatan-pendekatan: (a) Setiap pembahasan beragam dimensi filsafat ilmu sebaiknya dilakukan dengan cara  menarik dan tidak monoton yakni dengan pemberian contoh-contoh nyata/aktual dari gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat; (b) Aktif melibatkan mahasiswa untuk berpikir dan menganalisis fenomena sosial dengan menggunakan filsafat sebagai salah satu rujukannya. Misalnya dalam pemberian tugas makalah, diskusi, konsultasi, dan soal ujian. (c)Mengajak para mahasiswa untuk secara kritis  menelaah karangan atau tulisan yang mengandung filsafat dan kegunaannya dalam menyusun perumusan masalah dan kerangka penelitian ilmu-ilmu sosial. (d)Isi makalah filsafat ilmu   sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing dan sebaiknya mencerminkan dimensi ontologi, epistemologi dan aksiologi.       

Siang tadi saya memberi ceramah dihadapan sekitar 50 orang dosen muda IPB. Topik yang dibahas adalah  bagaimana caranya dosen mampu mengelola diri khususnya dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi seoptimum mungkin. Seperti biasa, saya selalu awali dengan memberikan contoh nyata. Tujuannya adalah untuk mengatakan bahwa dosen adalah  manusia biasa seperti juga manusia lainnya. Mereka tak lepas dari masalah.Masalah-masalah yang bisa jadi muncul antara lain adalah:

·               Kecemasan : merasa cemas apakah pekerjaan yang sudah dirancang di unit kerjanya atau oleh pribadinya dapat dijalankan dengan berhasil atau tidak. Misalnya karena pengalaman kegagalan terdahulu. Kurangnya dana dan fasilitas. Lemahnya dukungan kolega kerja,dsb.

·               Stres :  merasa memiliki beban akumulatif yang berat yang tidak saja langsung menyangkut pekerjaan tetapi juga beban bathin kalau rencana kerja pribadi atau di unitnya mengalami kegagalan.

·               Kepercayaan diri : dalam waktu-waktu tertentu dosen tidak luput dari kepercayaan diri yang kurang untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Hal ini bisa jadi karena tantangan-tantang pekerjaan baru yang belum siap dihadapinya. Sering juga terjadi perasaan apakah hasil pekerjaannya bakal memuaskan atau tidak.

·               Penundaan pekerjaan : menunda pekerjaan yang sebenarnya menjadi prioritas.hal ini dilakukan  karena yang bersangkutan merasa belum siap untuk dikerjakan. Atau masih ada pekerjaan lain yang dinilainya lebih penting.

Kalau masalah-masalah di atas tidak diatasi segera maka akan menimbulkan akumulasi masalah baru yang bakal menumpuk. Pasti pemecahan masalah pun bakal butuh biaya, tenaga, pikiran, dan waktu yang relatif tidak sedikit. Karena itu dalam ceramah tersebut saya menguraikan beberapa butir pendekatan:(1).      Mengevaluasi diri untuk melihat kekuatan dan kelemahan diri secaramendalam.Intinya untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kelemahan diriyang didiamkan akan mengganggu suasana kerja.(2). Membuat prioritas tujuan spesifik dalam melakukan pekerjaan secara terprogram  dengan mempertimbangkan potensi diri dan lingkungan kerja.(3).  Membuat jadwal jangka waktu spesifik kapan suatu pekerjaan akan  dilakukan.(4). Tidak menghindari tetapi hadapilah setiap pekerjaan baru (menantang)  dengan optimis. Perbaiki tingkat mutu kerja Tingkatkan percaya diri dan  motivasi anda. (5). Kalau bekerja secara tim, ajaklah para kolega untuk bekerja  berbasis kemitraan. (6).   Sering berkomunikasi informal terutama dengan kolega dosen. Semacam saling bercurah hati.(7).      Melakukan pemantauan dan evaluasi secara terjadwal.(8).      Merumuskan kembali perencanaan baru dalam mengelola diri.(9).       Menerapkan pola Thinking out of  the box.

        Inti dari uraian di atas adalah mengelola diri mangandung makna bagaimana dengan kecerdasan (intelektual, emosional, spiritual,dan sosial), kualitas hidup, dan vitalitas-kesehatan tubuhnya, seorang dosen: (1) dapat menganalisis dan menemukan potensi dirinya yang terbaik, (2) dapat senantiasa bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik, dan (3) dan dapat menciptakan dan mengembangkan jejaring kehidupan sosialnya secara optimum. 

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »