Kemanusiaan


        Mimpi terjadi ketika kita tidur, bisa tidur malam bisa tidur siang-sore. Mimpi biasa disebut sebagai bunganya tidur. Maknanya bisa macam-macam. Bisa sebagai ada kejadian positif, negatif, dan juga bisa dimaknai sebagai biasa-biasa saja alias tak peduli. Makna mimpi yang lain adalah sebuah cita-cita. Setiap orang ketika memiliki ekspektasi tertentu sebenarnya dia sedang bermimpi. Bercita-cita untuk berhasil studinya, pretasi kerjanya, karirnya, dsb.

        Mimpi sekaligus  imaginasi merupakan sumber energi yang menggerakkkan sebuah kekuatan organisasi (Gary Hammel dan C.K Prahalad). Disitu ada pandangan jauh ke depan. Misalnya bagaimana blogor sebagai wadah  entitas para blogger yang berdomisili di Bogor bermimpi bisa semakin kesohor. Motorola bermimpi untuk membuat dunia tanpa kabel. Maka lahirlah  telepon seluler yang dapat kita kantongi kemana-mana. Bill Gates bermimpi sebuah komputer di atas meja kerja di setiap rumah, menjalankan perangkat Microsoft. Lalu dia menciptakan sistem operasi MS-DOS, ia membuat Windows yang menyebabkan Bill Gates menjadi entrepreneur terkaya di dunia. Pertanyaannya adalah bagaimana meraih mimpi secara riil?

         Kalau mimpi dalam artian sebenarnya tentunya terjadi saat kita tidur. Sementara kalau mimpi dalam makna meraih cita-cita timbul tentunya bukan sambil tidur. Dia tidak datang tiba-tiba. Pastinya ada upaya keras dan cerdas untuk mencapainya. Upaya itulah sebagai manifestasi bahwa cita-cita tidak datang begitu saja. Keberhasilannya bisa mengalami kejadian yang beragam. Mulai dari pencapaian yang tanpa hambatan berarti. Hingga ada yang harus melalui tahapan kegagalan berkali-kali. Umumnya pengusaha atau penemu sukses tidak langsung meraih cita-citanya seketika. Ambil contoh Thomas Alva Edison penemu bohlam listerik bilang “I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.” Begitu pula pemilik/pengusaha mobil Honda; Soichiro Honda said: “Success is 99 percent failure”

         Mimpi atau cita-cita yang kita dambakan tentunya bukan asal-asalan. Cita-cita atau ada yang menyebutnya sebagai salah satu sisi tujuan hidup hendaknya memiliki kriteria tertentu yang rasional. Yang pertama adalah pencapaian tujuan  cita-cita  harus “spesifik” atau tidak umum atau tidak generik. Mudah diinterpretasikan secara operasional. Kemudian juga harus “terukur”. Kalau tidak maka berarti cita-cita yang akan dicapai tidak jelas apa kriteria dan indikatornya. sehingga tidak jelas seberapa besar cita-cita telah tercapai.  Selain itu rencana meraih cita-cita seharusnya “bisa dilaksanakan dan dicapai”. Kalau tidak maka itu hanyalah pekerjaan sia-sia saja. Kemudian cita-cita hendaknya “realistik” bukan sekedar idealisme semata. Kalau tidak maka dia tidak beda dengan angan-angan. Dan yang terakhir, pencapaian cita-cita seharusnya memiliki “skala waktu” tertentu. Dengan demikian dapat disusun langkah-langkah operasionalnya dengan sistematis.

         Dalam prosesnya maka pencapaian mimpi atau cita-cita hendaknya melalui tahapan tertentu. Dimulai dari perencanaan pencapaiannya. Seperti berapa dana yang dibutuhkan, apa metodenya, siapa yang terlibat apakah hanya individu atau kelompok, kapan dilaksanakan dan berapa lama, dan dimana dilaksanakannya. Selain itu juga harus sudah dirumuskan bagaimana proses pengendaliannya, monotoring dan evaluasi, serta proses umpan baliknya. Diharapkan dengan pendekatan seperti ini cita-cita lebih bisa diraih dengan efektif. Dengan kata lain cita-cita tidak hanya bagaikan mimpi ketika kita tidur. Tetapi bangkit dari tidur dan terus berupaya meraihnya.

 

….saling memaafkan dan menyambung-memererat tali silaturrahmi merupakan ajaran luhur dalam Islam….itulah salah satu tujuan halal bi halal…kalau dilaksanakan di suatu perguruan tinggi misalnya…apakah pas dalam prakteknya kental dengan hirarkis jabatan?…terutama di semua instansi pemerintah…sampai-sampai tempat duduknya pun berbeda dengan lainnya…bukankah lebih tepat dilaksanakan dalam suasana egalitarian atau kesetaraan?….memang tidak mudah melakukan reformasi acara halal bi halal dengan segara…karena ia terbangun dari proses konstruksi sosio-kultural sejak doeloenya…untuk itu dibutuhkan suatu proses dan waktu serta kehendak kuat dari manajemen puncak…

 

        Sudah menjadi berita biasa agaknya ketika pascalebaran atau sehabis liburan bersama para pegawai atau karyawan belum sepenuhnya segera masuk bekerja. Tidak sedikit karyawan yang molor masuk bekerja dua hingga tiga hari khususnya di kalangan PNS pusat dan daerah. Ada saja berbagai alasannya. Apakah karena yang bersangkutan sakit, tidak memeroleh tiket kereta atau pesawat, kemacetan di jalan, dan alasan lain yang tidak jelas seperti malas.

        Seharusnya tak ada alasan bagi karyawan untuk terlambat masuk bekerja. Kecuali untuk beberapa hal yang tak bisa dihindari seperti sakit. Mengapa? Karena tentunya organisasi sudah menetapkan berapa lama karyawan memeroleh cuti dan kapan harus masuk bekerja. Dengan demikian maka permasalahannya terletak pada derajat komitmen setiap karyawan. Selain itu juga tindakan tegas dari pimpinan unit kerja langsung berpengaruh terhadap perilaku karyawan. Kalau pimpinan begitu permisiv dan akomodatif atau katakanlah longgar terhadap setiap keterlambatan masuk kerja maka karyawan akan tetap tenang-tenang saja; seperti tidak merasa bersalah.

        Kondisi keterlambatan masuk bekerja seharusnya tidak bisa dibiarkan terjadi. Masalahnya hal ini berkait dengan kinerja unit dan organisasi secara keseluruhan. Organisasi akan merugi karena target kinerja akan mengalami deviasi. Karyawan pun akan rugi karena kesejahteraan mereka akan menurun akibat dari kinerjanya yang menurun. Karena itu pendekatannya harus dilakukan secara terencana dan komprehensif serta normatif. Pengelola atau pimpinan organisasi harus menerapkan tindakan disiplin kerja secara tegas. Fungsi kontrol, hukuman dan penghargaan pada karyawan menjadi penting. Untuk itu program pengembangan sumberdaya manusia (SDM) harus dirancang sedemikian rupa agar komitmen dan keterikatan karyawan menjadi unsur budaya kerja.

         Komitmen dan keterikatan para karyawan terhadap organisasi memiliki posisi yang sangat strategis ketika organisasi akan mengembangkan keunggulan bersaing. Keunggulan ini sangat ditentukan tidak saja oleh faktor-faktor hard skills namun juga soft skills. Hard skills berupa tingkat pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan. Sementara soft skills antara lain berupa sikap komitmen dan keterikatan pada organisasi termasuk disiplin dan kecerdasan dalam menjaga hubungan sosial. Dalam jangka panjang maka kita boleh berharap dengan pendekatan pengembangan SDM ini maka tingkat keterlambatan karyawan untuk masuk bekerja sehabis liburan lebaran atau liburan bersama secara bertahap akan semakin berkurang.

 

      Lebaran bagi umat islam adalah hari istimewa bahkan sakral. Termasuk mereka yang ada di dunia pekerjaan. Hari lebaran memiliki nilai spiritual kolektif yang tinggi. Dalam konteks pekerjaan para karyawan pun pasti menyambutnya dengan suka cita khususnya ketika menjelang hari-hari lebaran. Salah satu yang dinantikan adalah tunjangan hari raya atau THR. Tunjangan itu selalu didambakan ditambah dengan tabungan keluarga  tidak saja akan digunakan untuk keperluan membeli pakaian baru dan asesorinya, makanan dan minuman keluarganya. Namun juga dipakai untuk membeli sesuatu sebagai oleh-oleh bagi ortu dan handai taulannya di kampung halaman mereka.

         Karena itu karyawan akan semaksimum mungkin menunjukan kinerjanya paling tidak sesuai dengan standar perusahaan.  Karena dengan berkinerja tinggi sudah pasti kinerja perusahaan pun akan meningkat. Dengan harapan karena sudah berkinerja dengan baik maka THR akan tetap diterima oleh para karyawan. Dengan kata lain tak ada alasan perusahaan tidak memberi THR kepada para karyawannya.

       Yang mungkin harus menjadi perhatian para karyawan adalah bagaimana mengelola suasana lebaran itu sendiri. Dengan kata lain bagaimana melaksanakan program lebaran yang tidak harus dengan mengeluarkan biaya berlebihan. Pemahamannya adalah bagaimana karyawan harus mampu mengelola anggarannya seoptimum mungkin. Mereka harus sudah menyisakan anggarannya sedemikian rupa sehingga ketika mereka dan keluarganya pulang masih bisa tetap menjalani kehidupannya dengan baik. Dengan demikian mereka bisa bekerja kembali dengan normal. Dan kembali menyiapkan diri misalnya dengan menabung jauh hari untuk menyambut lebaran kembali di tahun berikutnya.

SELAMAT MENYAMBUT HARI KEMENANGAN. SEMOGA KITA TERMASUK DI DALAMNYA AAMIIN.

 

       Bulan ramadhan mengandung tiga hidayah buat mereka yang berpuasa dengan khusyu. Yakni memeroleh rahmat bathiniah, ampunan dosa, dan terbebas dari api neraka. Itulah yang menjadikan idaman kalangan muslim. Tinggal lagi bagaimana mengimplentasikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya agar dapat memenuhi persyaratan memeroleh hidayah tersebut.

        Salah satu fenomena sosial yang marak dalam bulan ramadhan adalah berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa seperti anak yatim dari keluarga miskin. Bisa berbentuk berbuka bersama, penyerahan bingkisan lebaran, dan juga uang santunan pendidikan. Tak kurang para artis dan pejabat dan partai politik seolah berlomba untuk menyelenggarakannya. Media TV menjadi salah satu jalur untuk menginformasikan kegiatan seperti itu. Tentunya perlu kita sambut kegiatan yang mulia itu.

       Kegiatan itu akan lebih bermakna lagi sekiranya berlanjut di hari atau bulan-bulan berikutnya. Karena yang dimaknai dari ibadah adalah tidak mengenal waktu dan tempat. Populernya kapan dan dimana saja. Namun demikian ibadah seperti berbagi itu haruslah dalam konteks investasi pendidikan dan pembangkitan usaha mencari nafkah. Artinya dengan berbagi uang jangan sampai membangun sifat bergantung pada orang lain. Uang yang dibagikan yang insya Allah berkelanjutan seharusnya bisa menjadi modal usaha atau biaya untuk pendidikan. Jangan memberi ikan tetapi berilah kail dan cara memancingnya. Pada gilirannya mereka diharapkan mampu mandiri dalam menghidupi diri dan keluarga.

 

        Gosip disini dimaksudkan sebagai pergunjingan tentang seseorang. Konotasinya bernuansa negatif. Misalnya membicarakan tentang aib seseorang seperti tentang keburukan hubungan sosial, kinerja buruk, kedisiplinan kerja, komitmen kerja dsb. Gosip bukan saja terjadi pada tataran horisontal namun juga vertikal. Mislnya gosip tentang perilaku pimpinan unit seperti otoriter, kurang memerhatikan kesejahteraan karyawan, banyak perintah dsb.

        Latar belakang terjadinya gosip begitu beragam. Bisa karena sakit hati, dendam, iri hati, kekesalan pada orang lain dsb. Tampaknya gosip ini seperti manusiawi. Namun karena namanya membicarakan orang lain dari sisi negatifnya maka gosip kalau dibiarkan akan mengganggu suasana kerja. Para karyawan merasa kurang nyaman. Begitu juga pimpinan unit kerja. Ketika gosip terjadi maka perhatian tiap karyawan tidak fokus pada pekerjaan. Selalu saja diliputi rasa khawatir digosipkan seseorang.

         Dalam keadaan demikian pimpinan unit katakanlah manajer harus segera bertindak. Dia harus mengidentifikasi siapa saja sebagai biang keladi gosip. Menyangkut hal apa sehingga terjadinya gosip. Dan mengapa itu bisa terjadi. Serta apa akibatnya pada suasana kerja. Kalau sudah teridentifikasi maka manajer hendaknya memanggil para karyawannya yang terlibat gosip. Disitu manajer melakukan wawancara dan sekaligus menilai siapa yang memulai gosip. Kemudian secara pendekatan personal dilakukan wawancara khusus dengan karyawan bersangkutan. Dalam kondisi seperti ini manajer hendaknya bertindak arif. Artinya yang dituju adalah penyelesaian masalah bukan memfokuskan pada pribadi seseorang. Kecuali kalau sang penggosip berperilaku semakin gawat misalnya sebagai menghasut dan melakukan tindakan kriminal.

         Pihak manajer perlu melakukan tidakan administratif terhadap karyawan yang perilakunya sudah mengarah pada keretakan hubungan antarkaryawan khususnya antara karyawan penggosip dengan yang digosipi. Ada beberapa yang perlu dilakukan yaitu mulai dari peringatan keras hingga pemecatan. Kalau perilakunya tetap saja tidak berubah maka apa boleh buat, manajer mengusulkan pada atasannya agar karyawan penggosip itu dipecat. Lebih baik memecat ketimbang mendiamkan bakteri penyakit gosip yang akan menjangkiti proses dan hasil pekerjaan. Dengan demikian suasana kerja bisa kembali nyaman dan kinerja karyawan kembali pulih bahkan membaik. Pada gilirannya kinerja organisasi pun juga meningkat.

 

          Saya yakin momen yang dinilai paling ditunggu-tunggu oleh umat yang berpuasa adalah ketika waktu berbuka puasa tiba dan datangnya Idul Fitri (satu syawal). Bukan saja karena nikmat selepas lapar dan dahaga tetapi juga karena nikmat telah menjalankan perintah agama dengan khusyu. Tiada lain yang diucapkan selain bersyukur ke hadirat Allah. Lalu mengapa begitu ditunggu-tunggu? Hal ini agaknya terkait dengan ajaran islam yang memerintahkan untuk menyegerakan berbuka karena berbagai alasan berikut (dikutip dari Al-Ghuroba’):

          Menyegerakan berbuka menghasilkan kebaikan. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Manusia akan terus dalam kebaikan selama menyegerakan buka.” (HR Bukhari dan Muslim). Menyegerakan buka adalah sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda(yang artinya), “Umatku akan terus dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Ibnu Hibban). Menyegerakan buka berarti menyelisihi Yahudi dan Nashara. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Agama ini akan terus jaya selama menyegerakan buka, karena orang Yahudi dan Nashara mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban). Berbuka sebelum shalat maghrib. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat maghrib (HR Ahmad, Abu Dawud), karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para Nabi. Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan buka, mengakhirkan sahur, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR Thabrani).

          Dari uraian di atas maka saya berpendapat ada makna utama lainnya dari menyegerakan  berbuka puasa yakni membangun perilaku bahkan budaya tepat waktu. Dengan budaya tepat waktu maka akan diperoleh manfaat yang berlipat ketimbang menunda-nunda. Budaya tepat waktu berarti disitu ada kedisiplinan dan komitmen tinggi. Seharusnya makna ini juga dapat kita ambil dari ibadah sholat, mengeluarkan zakat-infak-sedekah, dan pergi haji.

           Namun demikian mengapa masih ada umat yang melalaikan waktu untuk melakukan tiga kegiatan utama tersebut? Mengapa malas sholat sekalipun azan sudah tiba? Bahkan menunggu rapat dan menonton sinetron selesai dahulu baru kemudian pergi sholat? Mengapa ada orang kaya enggan ber-ZIS padahal masih begitu banyak kaum dhuafa yang perlu dibantu? Dan mengapa tidak menyegerakan berhaji walau sesungguhnya dia mampu? Dari sisi kehidupan muamallah lainnya, mengapa masih ada sebagian kita tidak menjalankan tugas tepat waktu?  Misal yang lain mengapa masih saja ada dosen yang terbiasa terlambat mulai mengajar dan juga membimbing mahasiswa? Mengapa masih saja ada pasien yang terlambat ditangani petugas kesehatan? Dst dst…..masih banyak lagi. Padahal menunda waktu melakukan sesuatu sama saja dengan menciptakan masalah-masalah baru. Ya Allah bukakanlah hati kami agar kami selalu taat menjalankan perintah-MU; Amiin. Diadaptasi dari Rona Wajah.16 September 2007

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »