Keluarga


 

          Dalam forum formal, debat merupakan bentuk diskusi dalam komunikasi antarpersonal atau antarkelompok untuk membahas tema tertentu yang dipimpin seorang moderator. Disitu terjadi perbantahan tentang sesuatu dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat-pendapat dari mereka yang berdebat (pendebat). Boleh setuju dan tidak setuju dengan alasan-alasan yang bisa diterima. Di dunia bisnis debat pun bisa saja terjadi. Proses, intensitas, dan hasil debat sangat berkait dengan tema pengambilan keputusan, tingkatan organisasinya, dan manajemen kepemimpinan. Mulai dari tema produksi, misalnya jenis produk yang akan diproduksi dan dijual, berapa banyak, metode atau teknik produksi, jumlah dan mutu sumberdaya manusia yang dibutuhkan, seperti apa tim kerja, dan pemasarannya sampai pada masalah-masalah umum yang berkait dengan bisnis. Pelaksanaan debat didasarkan pada rencana strategis dan rencana bisnis yang pernah ada serta pespektif masa depan.

          Bergantung pada derajad tema atau topik masalahnya, debat bisa dilakukan di tingkat manajemen (puncak dan menengah) dan juga di tingkat unit kerja operasional. Di tingkat manajemen puncak, debat dilakukan dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis. Selain itu debat dilakukan dalam keadaan darurat yang membutuhkan keputusan manajemen segera. Sementara di tingkat manajemen menengah debat berkisar pada pengambilan keputusan kebijakan dan program operasional. Intensitasnya relative cukup tinggi karena menyangkut beragam aspek masalah yang cukup rumit. Lalu intensitas debat di tingkat unit kerja lebih ringan karena lebih berfokus pada rencana tindakan-tindakan operasional.

         Dalam prakteknya, tidak seperti debat politik, maka debat di dunia bisnis kental dengan ikatan prosedur operasi standar. Keputusan suatu debat sangat bergantung pada hirarki jabatan seseorang mulai dari tingkat manajemen puncak, direktur, manajer, sampai koordinator tim kerja. Namun bukan berarti dalam pengambilan keputusan itu tidak ada perbedaan pendapat sama sekali. Perusahaan yang semakin menerapkan manajemen kepemimpinan partisipatif dan kemitraan cenderung menunjukkan intensitas debat yang semakin demokratis ketimbang yang menerapkan manajemen sentralistik atau otoriter. Suasana atau intensitas perdebatan dalam perusahaan yang sejenis organisasi pembelajaran pun dibangun. Perdebatan dimaksudkan sebagai proses pembelajaran yang tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas tetapi bisa dalam bentuk seminar dan lolakarya. Setiap individu bebas menyatakan pendapatnya. Dengan cara ini mereka dilatih untuk berpikir kritis, analitis dan logis yang idealnya didukung data dan fakta atau informasi.

         Debat dalam dunia bisnis tidak selalu berlangsung dalam suasana rapat-rapat formal. Tidak jarang debat-debat ringan dilakukan di ruang kantin atau ketika ada kegiatan sosial keluarga perusahaan. Disitu tak ada yang memimpin debat karena berlangsung serba spontan. Walau dalam suasana rileks, debat lewat suasana informal ini sangat menguntungkan sebagai wahana loby. Tiap karyawan dan manajemen dapat menyerap setiap ide yang berkembang dalam debat itu tanpa ikatan kaku. Juga tak ada suatu kesimpulan mengikat. Yang ada hanya kebebasan setiap individu untuk menafsirkannya. Kemudian itu dijadikan bahan baru untuk memerkuat gagasan-gagasan yang sudah ada untuk disampaikan dalam debat formal.

        Pembudayaan tentang debat di masyarakat Indonesia seharusnya sudah mulai diterapkan di tingkat sistem sosial terkecil yakni di dalam keluarga. Setiap anggota keluarga diajak untuk membahas sesuatu dimulai dari tema yang paling sederhana sampai yang rumit. Karena keterbatasan wawasan dan pengetahuan maka anggota yang diajak berdebat pun akan berbeda sesuai dengan kadar tema yang diajukan. Tentunya debat yang tidak keluar dari norma-norma keluarga. Selain di keluarga, debat di sekolah dan perguruan tinggi pun seharusnya dapat dibudayakan. Misalnya pendekatan pembelajaran berpusat pada murid atau mahasiswa (student centered learning) dalam perkuliahan, praktikum, dan seminar tentang bisnis dapat dijadikan sebagai salah satu model pembudayaan debat. Lambat laun akumulasi dari pengkondisian tentang pentingnya debat di berbagai elemen masyarakat akan merupakan kesepakatan kolektif suatu masyarakat. Tetapi tentunya bukan mendidik masyarakat untuk berbudaya debat kusir dimana masing-masing pendebat selalu memertahankan pendapatnya masing-masing. Tidak peduli pendapatnya apakah memiliki alasan kuat atau lemah; logis atau ngawur. Tanpa ada yang mau mengalah demi keegoan sentris dan harga diri semata serta kepuasan sesaat.

 

         Pergantian jabatan di suatu instansi adalah fenomena wajar seperti halnya jabatan menteri. Bisa karena sudah waktunya diganti, bisa karena sudah memasuki masa pensiun, dan bisa jadi karena dipecat. Karena itu sebagai seorang pejabat teras pada level apapun harus sudah siap kalau tidak berstatus seperti itu lagi. Siap-siap menghadapi lingkungan baru, siap-siap kalau-kalau para anak buah melupakannya, dan harus siap pula segala fasilitas akan berkurang.

          Jabatan seseorang itu titipan Allah. Sifatnya pengabdiannya abadi karena memiliki nilai amanah. Tetapi kurun waktu pemegang jabatan itu bersifat sementara. Tidak kekal. Bisa jadi baru sebulan pun pejabat yang bersangkutan tiba-tiba dicopot. Apa yang bisa terjadi? Apapun bisa termasuk berkurangnya respek para mantan subordinasi. Kalau itu terjadi maka anak buah dari pejabat teras itu menghormati bukan pada pejabatnya (orangnya) tetapi pada jabatannya. Lalu ketika jabatan itu tidak melekat lagi pada orangnya maka sudah tidak ada lagi semacam ’hirarkis’ kehormatan pada orangnya. Sepertinya tidak ada kewajiban lagi bagi bawahan untuk menghormati mantan pimpinannya itu. Sudah habis. Gone with the wind.

         Pertanyaannya benarkah begitu hipokritnya sifat seseorang? Menghormati orang karena jabatannya? Sehingga kalau perlu menjilat atasannya? Bahkan ketika sudah tidak menjadi atasannya ada saja yang berani mengumpatnya? Apakah karena ada yang salah tentang karakter si mantan pejabat ketika masih aktif? Apakah pejabat itu sebagai sosok yang jauh dari sifat arif dan bijak, kurang dekat dan kurang memperhatikan kebutuhan dan kepentingan para subordinasinya, jauh dari kesederhanaan dalam bertutur kata dan rakus dalam hal materi dan kekuasaan?

         Berdasar pengamatan saya, salah satu dampak kepemimpinan yang baik dicirikan oleh kerinduan mantan bawahan untuk bertemu dengan mantan atasannya. Kerinduan untuk bertemu tidak selalu diekspresikan secara fisik. Kerinduan dibarengi rasa hormat itu berupa impresi tentang sifat-sifat baik mantan pejabat bersangkutan yang pernah diterima oleh bawahannya. Selalu dingatnya. Bahkan sering menjadi buah bibir pembicaraan dengan orang lain. Kerinduan tanpa ujung.

         Kerinduan itu timbul pada sifat-sifat atasannya yang demokratis namun tegas dan tidak kompromi dalam hal disiplin dan mutu kerja, kinerjanya tinggi, konseptor, komunikatif, mendidik layaknya seorang orangtua yang bijak, mudah memaafkan bawahannya, tidak segan-segan meminta maaf pada bawahan jika tutur dan tindakannya dirasa keliru, sangat memperhatikan kebutuhan dan kepentingan bawahannya (materi dan nonmateri termasuk karir), dan kepedulian yang besar terhadap keluarga bawahannya. Intinya mantan pejabat itu tidak sombong, penuh rasa kekeluargaan dan tawadhu, dan tidak zalim karena kekuasaannya. Bahkan setelah tidak menjadi pejabat lagi, komunikasi persaudaraan dengan mantan bawahannya tetap berlangsung. Pasti dia akan dikenang selamanya. Namun adakah pemimpin yang seperti ini? Tentunya tidak semua pejabat seperti itu.

         Beberapa hari yang lalu terjadi perombakan kabinet Indonesia Bersatu jilid 2. Yang jeas ada menteri dan wakil menteri yang diganti. Saya percaya bagi mantan pejabat dan keluarganya yang arif tidak akan pernah mendambakan para mantan anak buahnya untuk tetap bertingkah laku sama seperti ketika dia masih sebagai pejabat. Dia percaya setiap orang memiliki ciri dan bobot karakter yang berbeda. Kalau menuntut hal yang sama dan tidak terpenuhi justru akan menyusahkan hatinya saja. Akan menderita bathin. Jadi dia ikhlaskan hidup apa adanya. Sementara, bagi mantan anak buah yang arif akan bersikap wajar-wajar saja. Sama seperti ketika masih menjadi anak buahnya. Artinya ketika menjadi anak buah dia selalu berupaya tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dengan atasannya. Apalagi menjilat dan memusuhi. Setiap yang terlalu itu adalah jelek, katanya. Bahasa ilmiahnya bertingkah lakulah secara proporsional. Insya Allah tak menjadi beban.

 

         Rasa bahagia merupakan ekspresi rasa puas atas tercapainya suatu harapan atau cita-cita. Baik itu yang menyangkut diri kita langsung atau tidak langsung karena keberhasilan orang lain. Ibnu Abbas ra menyampaikan pesan ada tujuh indikator tentang kebahagian yakni hati yang selalu bersyukur; pasangan hidup yang soleh/soleha; anak yang soleh/soleha; lingkungan kondusfih untuk membangun iman; memperoleh dan membelaanjakan harta yang halal; semangat untuk memahami agama; dan umur yang baroqah. Dengan indikator seperti itu maka makna suatu kebahagiaan bisa dikelompokkan sebagai berikut.

1. Kebahagiaan hakiki sebagai rahasia Allah. Kebahagiaan di dunia ini sifatnya sangat sementara. Kepuasan seseorang cenderung dirasakan selalu kurang. Karena itulah yang dicarinya lebih berorientasi pada unsur-unsur kebahagiaan dari harta, kekuasaan, dan alam pikiran sesaat dan sangat situasional. Unsur-unsur itu sendiri tidak akan dibawa sebagai sumber kebahagiaan kelak ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sementara kebahagiaan di akhirat kelak bersifat abadi. Disitulah ukuran-ukuran perilaku yang berdasarkan keimanan, ketaqwaan, dan amal soleh seseorang akan terukir dalam bentuk kebahagiaan abadi di akhirat. Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah", yakni telah mengenal Allah SWT.

2. Kebahagiaan sebagai hukum alam. Setiap orang siapapun dia memiliki kebahagiaan tertentu. Kebahagiaan seperti halnya kegelisahan, keresahan, dan kesusahan pada dasarnya bagian dari nasib yang kita terima dari hasil jerih payah untuk melakukan sesuatu. Ia sudah merupakan hukum alam. Semakin baik kita berupaya di jalan Allah untuk mencapai sesuatu maka semakin terbuka tercapainya keberhasilan suatu tujuan yakni kebahagiaan.

3. Kebahagiaan sebagai wujud syukur. Konon orang yang berbahagia adalah mereka yang pandai bersyukur atas segala nimah yang diterima dari Allah. Setiap perbuatan selalu didasarkan pada harapan memeroleh ridha dari Allah. Berapa pun derajad kepuasan dari sesuatu selalu disyukuri. Sementara segala musibah dihadapinya dengan kesabaran dan selalu berharap memeroleh kebahagiaan. Tidak dengan perilaku ingkar dan mungkar. Jadi berbahagialah dalam situasi apapun.

4. Kebahagiaan diraih dari ilmu. Allah memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomena alam semesta, termasuk memikirkan tentang dirinya sendiri. Semua itu antara lain dijalankan dengan memerbanyak penguasaan ilmu termasuk tentunya ilmu atau pengetahuan agama. Dengan ilmu mengantarkan seseorang kepada peradaban dan kebahagiaan. Dia akan selalu ikhlas dan ridha menjalankan perintah-perintahNYA dengan penuh kebahagiaan.

5. Berbagi kebahagiaan. Mereka yang memeroleh kebahagiaan akan menjadi mulia ketika membagi kebahagiaan itu buat orang lain. Saya yakin orang seperti itu bakal menjadikan dirinya semakin bahagia. Senyum atau ramah saja kepada orang lain, itu adalah bentuk berbagi kebahagiaan. Kebahagiaan yang datangnya dari Allah sebagai suatu titipan dikembalikan dalam bentuk syukur dan buat orang lain. Disinilah dibutuhkannya sifat empati dan simpati setiap insan.

        Setiap orang pernah berbahagia. Jalan untuk mencapainya macam-macam. Semakin lurus berperilaku semakin terbuka peluang untuk memeroleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun yang sudah pasti seseorang bakal semakin berbahagia ketika mau berbagi kebahagiaan itu kepada lingkungannya. Di sisi lain mengapa ada orang yang sulit sekali merasa bahagia. Jawabannya adalah karena orang itu kurang pandai bersyukur dalam menerima nasib apapun. Selain itu kurang berupaya keras dan ikhlas, dan jauh dari mengharap ridha-NYA dalam menjalankan setiap sisi kehidupan ini.

 

       Kehidupan di alam yang diciptakan Allah ini dan terus berlangsung pada dasarnya karena adanya prinsip keseimbangan. Contoh yang paling nyata yaitu adanya peristiwa siang dan malam kemudian adanya kehidupan dunia dan akhirat; dan keseimbangan dalam kekhusuan shalat. Sholat yang dimulai dari takbirotul ikrom sampai salam berisi gerakan-gerakan yang berkelanjutan dari berdiri, ruku’, sujud, duduk serta gerakan tangan, disyaratkan untuk menjaga khusyu’ pada semua gerakan penuh keseimbangan. Ketika keseimbangan itu goyah atau bahkan hilang, maka kehidupan pun mulai bergeser dan sedang menuju sebuah kehancuran. Bagaimana dengan keseimbangan kehidupan dalam suatu keluarga?

        Seperti diketahui, keluarga adalah sistem sosial terkecil di masyarakat. Antaranggota berinteraksi membangun suatu keluarga harmonis melalui perilaku saling menghormati satu dengan lainnya. Untuk mencegah terjadinya ketidak-harmonisan, khususnya dalam keluarga, maka tiap individu dianjurkan untuk mengelola enerji positif yang dimilikinya menuju keseimbangan hidup yang diridhai Allah.

        Apabila individu sudah mampu menjaga keseimbangan enerji positif dalam dirinya, dia akan menjadi pribadi yang kokoh tak tergoncangkan oleh badai kehidupan apa pun. Dan dia juga akan menjadi pribadi handal yang tak gampang untuk terpengaruh oleh celaan dan pujian semu. Hidupnya menjadi kuat dan bermakna oleh enerji positif yang memberinya segala kebahagiaan hidup. Yakni antara keseimbangan beragam enerji yakni enerji keimanan, dan berbagi cinta kasih sayang, kebajikan, dan kebahagiaan. Itulah makna keseimbangan sejati.

 

        Kebahagiaan abadi merupakan idaman tiap orang beriman. Ia merupakan fungsi dari faktor cinta sejati. Pertanyaannya, untuk apa dan kepada siapa cinta sejati itu dicurahkan? Apakah hanya cinta pada seorang kekasih, cinta pada harta, ataukah cinta pada tahta? Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Ali Imran; 14).

       Namun Allah mengingatkan cinta pada kesenangan hidup dunia semata akan banyak bahayanya……dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (al-Aadiyaat; 8). Aidh bin Abdullah al-Qarni melukiskan kisah cinta Majnun kepada Laila begitu sangat terkenal. Cinta Majnun kepada Laila telah membunuh dirinya sendiri. Sedangkan Qanan, dibunuh oleh cintanya kepada kekayaan. Sementara itu Firaun terbunuh oleh cintanya kepada jabatan dan kekuasaan. Di sisi lain, Hamzah, Jafar, dan Hanzalah rela mati demi cintanya kepada Allah dan Rasulnya.

        Kalau begitu, cinta sejati itu selayaknya kepada siapa? Ya kepada sesama dengan semata-mata karena berharap ridho Allah. Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (al-Maidah; 54). Rasulullah bersabda: Barang siapa tidak menyayangi sesama manusia maka Allah tidak akan menyayanginya (HR. Bukhori dan Muslim).

        Gambaran cinta sejati seperti itu dilukiskan Syamsul Rijal Hamid (Buku Pintar Hadits; 2006) dalam sabda Rasulullah: bahwa ada seorang lelaki pergi mengunjungi saudaranya yang bermukim di suatu negeri yang jauh dari tempat tinggalnya. Maka Allah SWT menyuruh malaikat untuk menemaninya selama dalam perjalanan.

Malaikat bertanya kepada lelaki itu, “ Akan kemanakah engkau?”.

“Mengunjungi saudaraku di suatu daerah.”

“Apakah engkau berkunjung karena berhutang budi kepadanya?” tanya malaikat itu lagi.

“Tidak,” tegas lelaki tersebut. “Sebab aku mencintainya semata-mata karena Allah ta’ala.”

Malaikat itu berterus terang, “Sungguh, Allah SWT mengutusku untuk menemanimu disebabkan cintamu kepada saudaramu semata-mata karena-Nya.” (HR. Muslim).

 

         Setelah lebih dari sembilan tahun, sejak delapan belas bulan yang lalu saya memiliki seorang cucu lagi dari anak perempuan saya yang bontot. Bayi lelaki itu sangat lucu. sudah bisa berjalan kian kemari yang membuat was-was kalau dia jatuh. Kini pun sudah bisa berkomunikasi ala bayi dengan siapapun. Walau dia belum bisa bicara sempurna, saya sangat senang berkomunikasi dengannya. Sebelum dan sesudah pulang kantor, saya selalu menyapa dan menggendongnya. Selalu kalau sempat saya upayakan berkomunikasi dengan mereka. Kehadiran tujuh cucu yang cakep-cakep dan cantik itu banyak hikmahnya dalam memelajari komunikasi..

         Komunikasi sudah merupakan kebutuhan manusia sejak manusia lahir di dunia. Bayi jika punya keinginan untuk minum dan makan biasanya ditandai oleh simbol menangis. Begitu pula ketika dia ngompol. Ketika ibunya atau siapapun menggodanya dia akan tersenyum bahkan tertawa lepas. Semuanya itu terjadi karena ada komunikasi. Apalagi kalau ada maunya, dia akan begitu kolokan. Disitu ada hubungan bathin timbal balik. Semakin besar si bayi hingga dewasa maka semakin kompleks isi pesan yang ingin disampaikan dan begitu pula cara komunikasi yang digunakannya.

        Bagaimana dalam suatu organisasi? Peran komunikasi dalam suatu organisasi sangat penting. Tidak ada seorangpun dalam keseharian tugasnya tanpa berkomunikasi. Baik itu bertema masalah pekerjaan maupun masalah di luar pekerjaan, seperti masalah keluarga, politik, sosial dan ekonomi nasional. Semua ini pasti dilakukan lewat komunikasi. Juga baik itu dilakukan melalui jalur vertikal (atasan-bawahan) maupun jalur horisontal (kolega setingkat).

        Ketika manajer menginginkan sesuatu dari orang lain pasti manajer berkomunikasi dengan orang tersebut apakah dengan cara berbicara langsung, berkirim surat, menelepon, megirim E-mail atau menyampaikan pesan lewat orang lain. Manakala manajer ingin agar gagasannya diterima atasan atau oleh siapapun yang berkepentingan maka pasti pula dia harus berkomunikasi. Namun pernahkah gagasan atau pesan manajer sulit dimengerti bahkan diabaikan oleh orang lain? Dalam praktiknya hal itu dapat terjadi karena seringkali komunikasi yang dilakukan oleh manajer tidak diperkaya oleh perbendaharan kata yang cukup, terlalu banyak bicara, berbicara tanpa berpikir matang, dan atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh yang kurang mengesankan pihak lain.

        Dengan demikian seperti halnya berkomunikasi dengan bayi, proses berkomunikasi itu berhasil dengan baik sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku manajer sebagai pengirim gagasan atau pesan, penerima pesan, media yang dipakai, isi pesan dan cara pesan yang disampaikan serta suasana komunikasi itu sendiri. Keberhasilan itu akan dicerminkan oleh tidak adanya kesenjangan pemahaman antara pengirim dan penerima pesan: manajer senang, karyawan pun senang.

 

        Saya merasa betapa bermaknanya hidup ketika kita mampu mencintai dengan tulus dan ikhlas. Mencintai siapa? Ya ketika kita mencintai Allah, keluarga, kerabat, sahabat, dan bangsa ini. Mencintai dan dicintai adalah salah satu anugrah dari Yang Maha Kuasa. Memberi cinta dan menerima cinta bukanlah suatu yang begitu saja ada, tanpa usaha dan upaya, tanpa dukungan pikiran dan hati. Mereka ada dengan perjuangan.

         Pernahkah terpikirkan kita hidup tanpa mencintai dan dicintai oleh pasangan hidup kita?. Sudah pasti hidup akan TAWAR, tanpa semangat dan gelora dalam bekerja. Cinta adalah pendorong semangat, cinta adalah bunga yang mewarnai kehidupan, dan cinta juga adalah emulsifier bagi dua insan, bagi manusia dengan Tuhannya.

         Sebagai dosen, misalnya, dengan kesejahteraan pas-pasan, kita juga dapat membayangkan andaikan kita tidak mencintai pekerjaan yang ditekuni selama ini. Kinerja kita pasti sebatas menyelesaikan pekerjaan tanpa makna. Akan berbeda jika kita pergi setiap hari ke kantor, bukan terpaksa karena ada jadwal mengajar, tetapi karena mencintai apa yang kita kerjakan, pasti langkah yang diayunkan setiap hari akan lebih berarti bagi diri. Dan kita akan semakin dicintai oleh lingkungan sekitar. Anehnya seberat apapun pekerjaan, kita tidak merasa lelah. Karena semuanya kita lakukan dengan ikhlas dan cinta.

         Kita juga dapat membayangkan andaikan beribadah dengan merasa terpaksa, pasti amalan kita, shalat kita, puasa kita hanya kegiatan yang biasa-biasa saja. Rutin tanpa makna mendalam. Tetapi ketika tangan kita ulurkan pada orang yang sedang memerlukan karena kita mencintai Allah, maka semua terasa ringan dan hati penuh kelegaan. Itulah kalau kita pandai bersyukur kepada-NYA.

         Cinta bagaikan tanaman, dapat disebarkan, ditanam, dipelihara dan dimatikan. Andai kita ingin membeli semangat, korbankan waktu dan energi serta hati untuk berupaya mencintai setiap hari. Insya Allah kita akan dicintai oleh Tuhan, oleh pasangan hidup kita, oleh anak, kerabat kita, dan tentunya oleh masyarakat. Amiin.

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »