Banyak tipe kemimpinan yang kita kenal. Ada yang berorientasi pada tugas dan membangun hubungan sosial. Ada juga yang disebut kepemimpinan transformasional dan interaksional dst. Masing-masing tipe kepemimpinan tersebut memiliki kekuatan dan kelemahannya. Ada yang cenderung mendorong namun ada yang kurang mendorong masyarakat dalam ikut membangun bangsa ini. Namun ada juga yang sangat berpengaruh sehingga masyarakat tidak ragu dan sangat ikhlas mendukung setiap kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah kepemimpinan memotivasi sebagai refleksi dari kepemimpinan berbudaya.

        Model kepemimpinan ini dicirikan berberapa hal. Utamanya adalah dalam hal mendorong agar para pembantunya dan masyarakat selalu ingin belajar. Dengan belajar para pembantu akan memeroleh pengetahuan dan pengalaman baru khususnya yang berkait dengan pekerjaannya. Selain itu sang pemimpin selalu mengajak para pembantunya untuk memberi masukan-masukan bagi pemerintah. Dengan demikian para menteri atau para pembantu merasa diakui keberadaannya. Kemudian dalam kesehariannya sang pemimpin selalu menginspirasi para pembantu dan bahkan masyarakatnya; bukan sebaliknya yakni mengintimidasi mereka.

        Dengan sifat-sifat kepemimpinan di atas sang pemimpin relatif akan lebih mudah membangun suatu tim kerja yang tangguh. Dalam hal ini hubungan antara sang pemimpin dengan para pembantunya terikat pada tujuan dan kepentingan yang sama. Mereka mampu bekerja dengan baik didasarkan pada saling percaya satu dengan lainnya, saling membutuhkan, saling bekerjasama, dan terkoordinasi di bawah seorang pemimpin yang memiliki kepemimpinan mendorong. Para pembantu tidak bekerja sendiri-sendiri namun terkoordinasi dengan efektif. Dengan kata lain sang pemimpin tidak jarang menerapkan hubungan kerja yang intensif di dalam unit kerja pemerintahannya.

       Kegiatan-kegiatan yang ada selalu berorientasi pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Sang pemimpin dengan koordinasi yang intensif termasuk dengan kepala daerah selalu melakukan antisipasi misalnya bagaimana agar konflik sosial bisa dicegah sedini mungkin. Karena itu dibangunlah suatu sistem peringatan dini dan juga pemetaan daerah-daerah yang termasuk golongan rawan konflik. Dan dalam jangka panjang konflik sosial hanya bisa dikurangi dengan menerapkan program-program pembangunan kesejahteraan sosial ekonomi, pendidikan karakter bangsa dan pendidikan politik.