Umum cenderung sudah memahami bahwa Hak Milik yang paling berharga di kalangan perguruan tinggi adalah kebebasan, otonomi, dan budaya akademik. Derajat budaya akademik di IPB diduga bukan saja berhubungan dengan birokrasi pendidikan tinggi tetapi juga akibat keadaan internal berupa interaksi sosiologis yang cenderung belum semua individu siap berbeda pendapat, bersaing dan berambisi untuk meraih kemajuan IPB itu sendiri. Kalau menyimpang mungkin khawatir disebut sebagai sikap arogan dan ambisius. Kalau dibiarkan maka IPB akan kehilangan karakter jati dirinya sebagai lembaga ilmiah/akademik yakni hilangnya intelektual yang bersikap kritis.

        Tradisi akademik berupa kebebasan untuk menyatakan pendapat apa adanya namun bertanggung jawab juga masih harus dikembangkan. Tidak perlu ada dinding tebal yang menghalangi setiap dosen menyatakan pemikiran-pemikirannya sekalipun mungkin bernada “pedas” asalkan didukung dengan kaidah ilmiah yakni obyektif dan kebenaran.

         Produk-produk kebijakan IPB termasuk Visi IPB juga perlu ditelaah mendalam baik dilihat dari substansial maupun teknis operasional apakah sudah ada kandungan unsur budaya akademik atau belum. Jangan sampai unsur-unsur non akademik dan sangat teknis sifatnya mendominasi dalam membuat indikator keberhasilan IPB. Misalnya penting dijadikan ukuran keberhasilan IPB adalah budaya meneliti dan menulis karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan masyarakat akademik nusantara bahkan mancanegara.

         IPB hendaknya mampu menciptakan suasana yang semakin nyaman dalam mengembangkan budaya akademik. Maknanya jangan sampai IPB larut terlalu kerap mengurus masalah-masalah teknis pembelajaran semata namun lupa mengembangkan potensi sumberdaya dosen dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya.

        Kalau kondisi “malas” untuk mengembangkan budaya akademiknya seperti mengembangkan suatu teori, meneliti, menulis buku ilmiah, dan jurnal ilmiah yang dikaitkan dengan latar belakang masalah kita sendiri maka sama saja kita menjadi “turunan dekat warga barat” dalam berbudaya akademik. Tinggal impor dan gunakan saja tanpa tinjauan kritis berbasis karakter unik bangsa kita. Kreatifitas kita bisa semakin melemah saja karena cukup dengan menggunakan pola pikir dan bertindak bagaikan perilaku konsumen.Jangan sampai generasi pelanjut didikan IPB banyak dijejali dengan teori-teori dari luar tanpa diperkuat dengan karakter, kekayaan dan masalah empiris bangsa.

         Harus diakui adanya kenyataan bahwa semangat dan kemampuan mahasiswa dalam hal membaca dan menulis cenderung masih lemah. Kondisi ini bukan karena faktor interinsik mahasiswa yang bersangkutan saja namun juga oleh pola pembelajaran yang ada. Mahasiswa jarang diajak aktif untuk berpikir kritis berbasis teori dan empiris. Selain itu diskusi-diskusi kelompok hampir jarang dilakukan karena terbatasnya dosen, waktu dan ruangan. Fenomena ini jangan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana namun harus dicari formula solusinya.