Baru saja rakyat DKI memilih gubernur DKI yang baru untuk periode 2012-2017. Pastinya mereka memilih karena ada dasar pertimbangannya dalam bentuk kriteria maupun indikatornya. Memilih bisa karena faktor-faktor kepemimpinan, kinerja calon gubernur incumbent, calon gubernur yang baru, dan mungkin faktor sentimen kedaerahan dsb. Namun juga bisa jadi ada yang asal memilih alias ikut-ikutan temannya. Dan bahkan ada yang masuk golongan putih atau netral tidak memilih siapapun. Itulah hak asasi sang pemilih.

        Begitu juga memilih barang atau jasa konsumsi. Keinginan konsumen untuk membeli sejumlah barang dan jasa tertentu sangat ditentukan oleh selera, besarnya pendapatan, persepsi, preferensi, dan tingkat pengetahuan konsumen. Sebagai contoh semakin tinggi pendapatan relatif konsumen, ceteris paribus, semakin banyak jumlah barang dan jasa yang dibeli. Begitu juga faktor-faktor lain berpengaruh positif terhadap perilaku konsumen. Secara umum ketika sumberdaya yang dimiliki konsumen terbatas ketimbang kebutuhan konsumsi akan barang dan jasa yang relatif tidak terbatas maka konsumen harus memilih. Yakni apa dan bagaimana kombinasi barang dan jasa yang akan dikonsumsi dengan sumberdaya terbatas maka konsumen memeroleh kepuasan maksimum. Orang kaya akan mengkonsumsi beras kelas satu sementara mereka yang pendapatannya sangat terbatas akan memilih beras yang kualitasnya terendah. Namun pada prinsipnya mereka sama-sama ingin memeroleh kepuasan maksimum dengan sumberdaya tertentu.

       Pada pemilihan bidang produksi dan distribusi pendekatannya sedikit unik. Mereka yang berminat untuk membuka usaha maka akan dilakukan studi pasar. Studi ini menyangkut telaahan perilaku konsumen, ketersediaan segmen pasar, kemampuan pemasaran, daya beli konsumen, infrastruktur, pangsa pasar untuk beberapa komoditi dsb. Ketika hasil studi sudah diketahui maka proses berikutnya adalah membuat perencanaan bisnis. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain apa jenis usaha yang akan dikembangkan, berapa banyak jumlah dan mutunya, apa dan bagaimana metode produksi dan distribusi hasilnya, berapa besar kapital yang dibutuhkan, sumber pinjaman modalnya dari mana, pasarnya dimana, bagaimana menyiapkan struktur organisasi dan personalianya.

         Bagaimana memilih pekerjaan? Prinsipnya sama yakni ada pertimbangan kriteria dan indikator tertentu. Beberapa faktor yang berhubungan dengan memilih pekerjaan antara lain adalah minat, kecocokan dengan kompetensi, besaran kompensasi, suasana kerja, prospek karir, prospek usaha, dsb. Sementara dari potensi diri pertimbangannya adalah tingkat pendidikan, pengalaman kerja, sikap atau pandangan terhadap pekerjaan, tingkat kesehatan, gender dan motivasi. Karena faktor pertimbangannya cukup banyak maka setiap pencari kerja akan membuat urutan faktor utama hingga faktor yang kurang utama. Mungkin saja antarpencari kerja pertimbangannya berbeda-beda.

        Dari empat contoh di atas maka proses memilih sesuatu sama saja maknanya dengan proses pengambilan keputusan. Bergantung pada lingkup masalahnya maka proses mengambil keputusannya pun akan beragam. Ada yang sederhana hingga ada yang kompleks. Namun pada dasarnya mengambil keputusan untuk memilih sesuatu pasti ada pertimbangannya atau metodenya. Apakah dengan metode ilmiah, logika, pragmatis dan praktis bahkan dengan model intuisi atau kombinasi beberapa atau semua pendekatan. Kemudian sisi lain yang menjadi pertimbangan adalah dimensi kepuasan dan atau keuntungan, ketersediaan sumberdaya yang dimiliki dan dikuasai,  taraf prioritas, besarnya resiko suatu pilihan, prospek jangka panjang, dan kepraktisan suatu metode.