Mancing yang kita kenal adalah cara memeroleh ikan dengan alat kail plus umpannya. Bisa mancing di laut dan bisa di darat. Bahkan sekarang ini sudah dikenal ada yang disebut mancing mania. Semacam klub orang-orang yang sangat hoby memancing. Dan memancing bagi mereka bisa dikategorikan sebagai olahraga, rileksasi bathin, dan ada yang menggolongkannya sebagai profesi. Satu hal yang menarik dari mancing adalah metaforanya (kiasan). Ada yang disebut mancing di air keruh, mancing kemarahan, mancing pendapat, dan mancing simpati.

          Mancing di air keruh hampir mirip dengan sifat oportunis. Dalam wikiquote, arti mancing ini digambarkan sebagai mengambil kesempatan pada sebuah peristiwa yang sedang kalut atau menyedihkan. Dengan kata lain menggunakan kesempatan yang tidak pada tempatnya. Bahkan lebih parah ada yang mengartikan sebagai upaya mengambil keuntungan disaat orang lain menderita. Dalam dunia pekerjaan hal demikian bisa terjadi. Misalnya ketika ada perselisihan pendapat antara mitra kerja dengan sang manajer maka seseorang mengambil kesempatan dengan cara berpihak pada sang manajer. Maksudnya adalah agar memeroleh keuntungan untuk bisa menjadi orang kepercayaan manajer.

         Kiasan lainnya yang bernuansa negatif adalah mancing kemarahan. Bentuk mancing ini bisa terjadi ketika dalam suatu diskusi ada seseorang yang selalu memerolok seseorang. Pada mulanya mungkin bagi yang diolok-olok akan menanggapinya dengan sabar. Namun lama kelamaan kalau olok-olok itu tetap dilakukan maka akan membangkitkan amarahnya. Begitu juga kalau seseorang sebenarnya memiliki kesalahan pada orang lain namun tidak merasa demikian. Malahan berbalik menuduh orang itu. Maka tak ayal lagi kondisi seperti itu bisa menimbulkan marah pada siapapun.

         Marah yang berkiasan positif adalah mancing pendapat dan mancing simpati orang lain. Mereka yang melakukan kedua mancing itu pada dasarnya adalah orang yang bisa digolongkan bijak. Misalnya ketika seorang manajer bijak memiliki gagasan tertentu maka dia tidak segan untuk mengundang orang lain,misalnya bawahannya, untuk mengkritisi gagasannya. Disitu dikembangkan beragam pendapat. Bukan saja pendapat yang pro namun juga yang kontra. Dari situ maka sang manajer lalu akan membuat kesimpulan. Dengan cara seperti itu sebenarnya sang manajer sekaligus telah mancing simpati orang lain. Artinya mereka yang dimintai pendapat merasa dihargai apapun alasannya. Dalam konteks ini idealnya tidak terjadi antipati antara sang manajer dengan subordinasinya. Yang ada justru timbulnya empati dan dorongan untuk saling berbagi.