Setiap orang pastinya ingin hidup nyaman. Nyaman dalam hal kebutuhan fisik dan non-fisik. Misalnya nyaman dalam hal terpeliharanya relasi dengan siapapun terutama di dalam keluarga. Termasuk nyaman akan keluarga harmonis, karir, harta, tahta, dan rasa aman. Karena sifatnya maka orang cenderung untuk tidak mau memiliki rasa tidak nyaman. Pasalnya ketidaknyamanan akan cenderung menimbulkan rasa kecewa dan putus asa. Bahkan sampai ada yang mengalami stres berat, depresi dan gangguan jiwa. Puncaknya kalau imannya kurang kuat ada yang melakukan bunuh diri.

       Apakah ketidaknyamanan itu suatu kejadian yang patut dimusuhi? Patut disesali? Seharusnya tidak demikian. Kita harus bijak melihatnya secara proporsional. Dalam hal ini kita harus siap untuk menganalisis mengapa ketidaknyamanan itu bisa terjadi. Apakah penyebabnya karena faktor kita sendiri atau karena pihak lain. Kalau sudah diketahui faktor penyebabnya dari diri sendiri maka pertanyaan berikutnya adalah mengapa ketidaknyamanan bisa timbul. Kita harus menelaahnya secara rinci. Misalnya apakah karena kelemahan suatu perencanaan kegiatan tertentu, lemahnya pelaksanaan perencanaan, kelalaian dalam mengendalikan diri, kurang pengalaman dan tidak trampil dalam mengatasi masalah, dsb. Sementara kalau penyebabnya karena faktor eksternal maka relatif tidak semudah untuk diatasi dibanding kalau penyebabnya dari dalam diri sendiri. Misalnya saja faktor-faktor ilkim lingkungan, kebijakan pemerintah atau organisasi, perilaku masyarakat, kondisi sosial politik, dsb.

    Ketidaknyamanan di lingkungan kerja juga bisa disebabkan karena faktor intrinsik dan ekstrinsik karyawan. Faktor-faktor intrinsik bisa berupa semangat kerja, motivasi, dan kondisi kesehatan. Sedang faktor-faktor ekstrinsik bisa berupa kondisi fasilitas kerja, besaran kompensasi, kepemimpinan unit kerja, konflik horisontal dan vertikal, dan tidak jelasnya perkembangan karir. Ketidaknyamanan ini bisa memengaruhi kinerja karyawan, meningkatnya jumlah karyawan yang keluar, dan tentunya kinerja organisasi cenderung menurun.

         Sikap karyawan terhadap rasa tidak nyaman bisa berupa menerima apa adanya, mengeluh, mengajukan protes , dan bahkan keluar dari organisasi. Kalau persoalan ketidaknyamanan datangnya dari faktor diri sendiri maka sebaiknya tidak didiamkan. Karyawan hendaknya melakukan telaah diri secara mendalam. Kemudian dari situ mereka bangkit untuk memerbaiki diri. Sebab kalau tidak maka ada dua pihak yang akan mengalami kerugian yaitu karyawan dan organisasi.

        Untuk itu maka karyawan tidak ada salahnya untuk berdiskusi dengan pihak pimpinan unit untuk mengatasi ketidaknyaman. Kalau penyebabnya dari dalam diri sendiri tentunya dapat dilakukan sendiri oleh sang karyawan atau dengan bantuan pimpinan unit kerja. Sementara kalau peyebabnya faktor kebijakan organisasi maka para karyawan bisa membahasnya dengan pimpinan unit. Disitu diadakan diskusi intensif faktor-faktor penyebab ketidaknyamanan, apa akibat-akibat logis dari kejadian ketidaknyamanan terhadap karyawan dan organisasi, dan apa serta bagaimana mengatasinya. Kedua pihak hendaknya dapat melihat persoalan secara obyektif dan dengan jiwa besar. Karena sebagai sebuah proses maka pasti membutuhkan waktu. Untuk itu perlu diprioritaskan mana yang harus segera diatasi dan mana yang bisa ditunda sementara. Dengan demikian mengatasi ketidaknyamanan tanpa menilmbukan ketidaknyamanan baru.

About these ads