Secara faktual dengan berpuasa ramadan memang fisik kita akan mengalami perubahan. Misalnya yang terjadi berupa rasa ngantuk karena terbangun ketika sahur dan kemudian tidur lagi sehabis solat subuh. Lalu kondisi fisik yang biasa sangat fit maka akan terjadi penurunan karena asupan enerji juga tidak sebanyak ketika tidak berpuasa. Namun demikian apakah beralasan untuk tidak bekerja secara produktif? Tidak juga. Hal ini sangat bergantung pada jenis dan beban pekerjaan serta kemampuan seseorang mengelola waktu dan tenaga. Termasuk juga menstabilkan semangat kerja. Kalau kita sadari bahwa bulan ramadan sebagai bulan kemuliaan maka spirit beribadah untuk memeroleh pahala semestinya juga tinggi. Dengan kata lain produktifitas kerja tetap terelihara seperti biasanya.

        Dalam pemahaman tentang produktifitas dan produktif disitu terkandung aspek sistem nilai. Manusia produktif  menilai produktivitas dan produktif adalah sikap mental. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin; hari esok harus lebih baik dari hari ini. Dia akan istiqomah dengan sabda Allah  dalam surat Al’Asr yang intinya kira-kira bermakna ”Amat rugilah manusia yang tidak memanfatkan waktunya untuk berbakti/amal soleh”. Dan tentu saja setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam hal mencapai produktifitas tinggi.

         Jadi  kalau seseorang  bekerja/beribadah termasuk ketika puasa, dia akan selalu berorientasi pada produktivitas kerja di atas atau minimal sama dengan standar kerja dari waktu ke waktu. Bekerja produktif sudah sebagai panggilan jiwa dan kental dengan amanah. Dia tidak terganggu oleh rasa lapar karena puasa. Dengan kata lain sikap tersebut sudah terinternalisasi. Tanpa diinstruksikan dia akan bertindak produktif. Itulah yang disebut budaya kerja positif (produktif) .

          Budaya bekerja produktif mengandung komponen-komponen: (1) pemahaman substansi dasar tentang bekerja, (2) sikap terhadap pekerjaan, (3) perilaku ketika bekerja,  (4) etos kerja dan (5) sikap terhadap waktu.  Bekerja seharusnya dipandang sebagai ibadah, kehidupan, panggilan jiwa, aktualisasi diri dan kesucian. Sebagai ibadah, bekerja dinilai sebagai tanda rasa syukur kepada Allah atas kehidupan yang dijalaninya.

         Bekerja dilakukan secara ikhlas semata-mata untuk memperoleh keridhoan Allah. Sebagai kehidupan, hidup diabdikan dan ditujukan untuk beribadah/bekerja sesuai dengan ajaran agama. Sementara sebagai panggilan jiwa, bekerja harus didasarkan pada  pengabdian secara profesional dan efisiensi waktu. Sebagai aktualisasi diri, bekerja terkait dengan peran, impian atau cita-cita dan keinginan kuat si pelakunya. Selain itu bekerja dipandang  sebagai sesuatu aktifitas padat dengan kesucian. Artinya ia harus dijaga dan tidak terkontaminasi oleh  perbuatan