Gosip disini dimaksudkan sebagai pergunjingan tentang seseorang. Konotasinya bernuansa negatif. Misalnya membicarakan tentang aib seseorang seperti tentang keburukan hubungan sosial, kinerja buruk, kedisiplinan kerja, komitmen kerja dsb. Gosip bukan saja terjadi pada tataran horisontal namun juga vertikal. Mislnya gosip tentang perilaku pimpinan unit seperti otoriter, kurang memerhatikan kesejahteraan karyawan, banyak perintah dsb.

        Latar belakang terjadinya gosip begitu beragam. Bisa karena sakit hati, dendam, iri hati, kekesalan pada orang lain dsb. Tampaknya gosip ini seperti manusiawi. Namun karena namanya membicarakan orang lain dari sisi negatifnya maka gosip kalau dibiarkan akan mengganggu suasana kerja. Para karyawan merasa kurang nyaman. Begitu juga pimpinan unit kerja. Ketika gosip terjadi maka perhatian tiap karyawan tidak fokus pada pekerjaan. Selalu saja diliputi rasa khawatir digosipkan seseorang.

         Dalam keadaan demikian pimpinan unit katakanlah manajer harus segera bertindak. Dia harus mengidentifikasi siapa saja sebagai biang keladi gosip. Menyangkut hal apa sehingga terjadinya gosip. Dan mengapa itu bisa terjadi. Serta apa akibatnya pada suasana kerja. Kalau sudah teridentifikasi maka manajer hendaknya memanggil para karyawannya yang terlibat gosip. Disitu manajer melakukan wawancara dan sekaligus menilai siapa yang memulai gosip. Kemudian secara pendekatan personal dilakukan wawancara khusus dengan karyawan bersangkutan. Dalam kondisi seperti ini manajer hendaknya bertindak arif. Artinya yang dituju adalah penyelesaian masalah bukan memfokuskan pada pribadi seseorang. Kecuali kalau sang penggosip berperilaku semakin gawat misalnya sebagai menghasut dan melakukan tindakan kriminal.

         Pihak manajer perlu melakukan tidakan administratif terhadap karyawan yang perilakunya sudah mengarah pada keretakan hubungan antarkaryawan khususnya antara karyawan penggosip dengan yang digosipi. Ada beberapa yang perlu dilakukan yaitu mulai dari peringatan keras hingga pemecatan. Kalau perilakunya tetap saja tidak berubah maka apa boleh buat, manajer mengusulkan pada atasannya agar karyawan penggosip itu dipecat. Lebih baik memecat ketimbang mendiamkan bakteri penyakit gosip yang akan menjangkiti proses dan hasil pekerjaan. Dengan demikian suasana kerja bisa kembali nyaman dan kinerja karyawan kembali pulih bahkan membaik. Pada gilirannya kinerja organisasi pun juga meningkat.