Saya yakin momen yang dinilai paling ditunggu-tunggu oleh umat yang berpuasa adalah ketika waktu berbuka puasa tiba dan datangnya Idul Fitri (satu syawal). Bukan saja karena nikmat selepas lapar dan dahaga tetapi juga karena nikmat telah menjalankan perintah agama dengan khusyu. Tiada lain yang diucapkan selain bersyukur ke hadirat Allah. Lalu mengapa begitu ditunggu-tunggu? Hal ini agaknya terkait dengan ajaran islam yang memerintahkan untuk menyegerakan berbuka karena berbagai alasan berikut (dikutip dari Al-Ghuroba’):

          Menyegerakan berbuka menghasilkan kebaikan. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Manusia akan terus dalam kebaikan selama menyegerakan buka.” (HR Bukhari dan Muslim). Menyegerakan buka adalah sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda(yang artinya), “Umatku akan terus dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Ibnu Hibban). Menyegerakan buka berarti menyelisihi Yahudi dan Nashara. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Agama ini akan terus jaya selama menyegerakan buka, karena orang Yahudi dan Nashara mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban). Berbuka sebelum shalat maghrib. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat maghrib (HR Ahmad, Abu Dawud), karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para Nabi. Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan buka, mengakhirkan sahur, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR Thabrani).

          Dari uraian di atas maka saya berpendapat ada makna utama lainnya dari menyegerakan  berbuka puasa yakni membangun perilaku bahkan budaya tepat waktu. Dengan budaya tepat waktu maka akan diperoleh manfaat yang berlipat ketimbang menunda-nunda. Budaya tepat waktu berarti disitu ada kedisiplinan dan komitmen tinggi. Seharusnya makna ini juga dapat kita ambil dari ibadah sholat, mengeluarkan zakat-infak-sedekah, dan pergi haji.

           Namun demikian mengapa masih ada umat yang melalaikan waktu untuk melakukan tiga kegiatan utama tersebut? Mengapa malas sholat sekalipun azan sudah tiba? Bahkan menunggu rapat dan menonton sinetron selesai dahulu baru kemudian pergi sholat? Mengapa ada orang kaya enggan ber-ZIS padahal masih begitu banyak kaum dhuafa yang perlu dibantu? Dan mengapa tidak menyegerakan berhaji walau sesungguhnya dia mampu? Dari sisi kehidupan muamallah lainnya, mengapa masih ada sebagian kita tidak menjalankan tugas tepat waktu?  Misal yang lain mengapa masih saja ada dosen yang terbiasa terlambat mulai mengajar dan juga membimbing mahasiswa? Mengapa masih saja ada pasien yang terlambat ditangani petugas kesehatan? Dst dst…..masih banyak lagi. Padahal menunda waktu melakukan sesuatu sama saja dengan menciptakan masalah-masalah baru. Ya Allah bukakanlah hati kami agar kami selalu taat menjalankan perintah-MU; Amiin. Diadaptasi dari Rona Wajah.16 September 2007