Karyawan bekerja paling tidak dilatabelakangi dua hal. Pertama untuk mememnuhi kebutuhan hidupnya terutama kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, dan perumahan. Kedua adalah untuk aktualisasi diri dalam bentuk keinginan untuk meraih kinerja setinggi-tingginya dalam bekerja. Dengan kedua motif tersebut idealnya setiap karyawan akan terbangun motivasinya untuk bekerja sebaik mungkin. Dengan kata lain ada unsur semangat untuk bekerja keras dan cerdas.

         Derajat semangat untuk bekerja sangat dipengaruhi beragam faktor. Pertama adalah faktor instrinsik karyawan itu sendiri seperti tingkat pendidikan, pengetahuan, pengalaman kerja, etos kerja dan kondisi kesehatan. Yang kedua berupa kompensasi finansial dan non-finansial, peluang karir, gaya kepemimpinan manajer, hubungan sosial, dan fasilitas kerja. Kedua faktor tersebut kalau digolongkan menurut Frederich Herzberg adalah faktor-faktor motivator dan pemeliharaan. Factor motivatir lebih menitik beratkan unsur atau potensi yang dimiliki karyawan. Sementara factor pemeilharaan atau hygine factor merupakan unsur luar karyawan.

        Selain faktor-faktor di atas, semangat karyawan dalam bekerja juga berkait dengan kebutuhan untuk prestasi, kerjsama (afiliasi) dan kekuasaan. Teori yang dihasilkan David McClelland ini menyatakan bahwa masing-masing diri manusia dalam menjalani kehidupannya termotivasi oleh satu atau semua tiga kebutuhan tersebut. Tentunya setiap orang memiliki derjata kebutuhan yang berbeda. Ini karena setiap orang memiliki perbedaan dalam hal visi kehidupan, pengalaman hidup, usia, dan pendidikan. Dengan kata lain semangat dan motivasi bekerja akan berubah seiring dengan dengan berkembangnya kehidupan manusia.

        Dalam perjalanannya lalu timbul pertanyaan mengapa seorang karyawan tetap bersemangat. Hal ini dapat dijelaskan dari beberapa perspektif. Yang pertama adalah setiap karyawan memiliki suatu harapan berupa ingin lebih baik dibanding kondisi sebelumnya. Alasannya karena kebutuhannya bakal semakin meningkat. Dalam situasi seperti itu maka harapannya bakal dicapai sangat bergantung pada suasana kerja. Kalau suasana kerjanya sangat kondusif seperti kuatnya kerjasama, saling pengertian, dan saling menghormati maka karyawan akan tetap semangat bekerja. Sebaliknya kalau kondisi hubungan sosial di dalam pekerjaan buruk.

       Faktor penting lainnya yang memengaruhi karyawan tetap bersemangat adalah keadilan di tempat bekerja. Karyawan akan semakin terdorong untuk bekerja keras kalau terjamin hak-haknya. Tidak ada diskriminasi atau pembedaan perlakuan antarkaryawan. Semua berdasarkan ukuran-ukuran obyektif apakah dalam penghargaan kinerja, finansial, peluang karir, peluang menambah pengetahuan, dan penyediaan fasilitas sosial. Kondisi demikian akan semakin nyaman lagi kalau saja setiap pimpinan unit menerapkan model atau gaya kemimpinan yang partisipatif dan gaya memotivasi