Pada bulan Juni ini, para kandidat Gubernur/Kepala Daerah DKI Jakarta akan memulai kampanye. Seperti menghadapi musim hujan dengan peluang terjadinya wabah demam berdarah maka menghadapi musim pemilihan kepala daerah (kepda), para calon harus sudah siap-siap menghadapi fenomena trauma dan kejiwaan. Untuk itu beberapa pendekatan yang mungkin bisa memperkuat kesiapan untuk “kalah” adalah dengan cara memperkecil sikap TIGA B (berlebihan, berburuk sangka, dan bersedih):

(1). Berlebihan.

Sikap berlebihan terhadap sesuatu tidaklah menguntungkan. Berlebihan memandang kedudukan sebagai tujuan, status sosial terhormat, dan instrumen mata pencaharian bakal mengundang kekecewaan berat kalau tidak tercapai. Jabatan apapun seharusnya dipandang sebagai amanah. Bentuk berlebihan yang lain adalah dalam hal pembiayaan. Sampai-sampai dengan menumpuk utang dan menjual aset keluarga. Bahkan dengan menggunakan cek kosong. Selain itu sikap optimis berlebihan juga sangat mengundang resiko. Padahal setiap keputusan merupakan fungsi dari banyak faktor seperti sumberdaya, mutu dan relevansi konsep yang ditawarkan, dan kepopuleran serta kedekatan kandidat dengan rakyat. Orang cuma bisa berdoa dan berusaha. Berarti siapapun seharusnya sudah siap mental dan ikhlas dengan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan kata lain bersikaplah proporsional. Insya Allah kalaupun kecewa namun berskala waktu sementara dan siap untuk kembali normal.

(2). Berburuk Sangka.

Sikap berburuk sangka sama saja dengan membuka aib sendiri. Aib yang ditunjukkan dengan sifat sombong, egoistis, dan tamak. Orang yang ”kalah” seperti itu sangat gugup atau tidak tenang. Hobynya menyalahkan pemerintah, sistem, dan orang lain. Padahal dirinya dan organisasinyalah yang lemah konsep dan kapabilitas rendah, serta tidak populer. Sikap berburuk sangka yang paling parah adalah kepada Allah. Dengan entengnya dia berucap semua kegagalan itu karena Allah tidak memihaknya. Padahal itu bisa jadi merupakan keputusan terbaik bagi dirinya. Semestinya bukan berburuk sangka melainkan berbaik sangka kepada Rabb. Sejatinya caleg adalah mereka yang selalu siap untuk mengelola diri, tahu diri, dan mengakui kelemahan diri. Insya Allah relatif bakal tenang.

(3). Bersedih.

Siapapun pernah bersedih. Fenomena yang wajar. Begitu juga itu terjadi pada yang ”kalah” dari pemilu caleg dan pilkada. Di satu sisi, semakin bersedih semakin terganggu mentalnya. Dan ini membawa resiko kejiwaan yang semakin parah. Di sisi lain bersedih akan bisa dikurangi ketika yang bersangkutan menyadari diri akan kelemahannya. Dan pasrah serta ikhlas akan keputusan Allah. Hindarilah kesedihan berlarut, karena nun disana masih ada rencana kehidupan, panggung kehidupan, dan hari-hari kehidupan bahagia yang lain.

          Bisa jadi sampai sekarang ada tiga golongan kandidat. Yang pertama dan terbanyak adalah kandidat yang harap-harap cemas (H2C), kedua yang harap-harap senang (H2S), dan ketiga yang jumlahnya sangat kecil adalah golongan harap-harap biasa (H2B). H2C termasuk yang kurang percaya diri, pesimis, dan punya perasaan galau kalau tidak menang serta dekat dengan gangguan mental. Golongan H2S, mereka yang cukup berpengalaman menjadi politisi, percaya diri, dan optimis. Nah, H2B merasa tenang-tenang saja yakni tidak terlalu optimis dan tidak terlalu pesimis dan siap menerima keputusan apapun; relatif tanpa beban. Apapun golongannya, idealnya memiliki sikap ksatria yakni obyektif dan siap dengan keputusan apapun. Kalah atau menang, siap-siaplah ikhlas dan bersyukur. Agama mengajarkan, bersyukur kepada Allah seharusnya sebagai cerminan perilaku abadi. Konon orang yang bahagia dalam hidupnya adalah orang yang selalu bersyukur. Amiiin.