Seorang manajer tidak jarang dalam mengambil keputusan dan tindakan berada dalam situasi yang tergesa-gesa dan persiapan yang tidak cukup. Karena itu hasilnya kerap tidak memuaskan. Hal itu bisa terjadi pada tingkat persoalan sederhana hingga yang rumit. Misalnya memecat seorang karyawan hanya karena yang bersangkutan tidak melakukan apa yang diperintahkan sang manajer dengan baik hingga beberapa kali. Dan ternyata pemecatan itu pun dilakukan pada beberapa karyawan lainnya. Padahal tindakan ini akan merugikan perusahaan itu sendiri yaitu semakin menurunnya kinerja.

         Kasus di atas terjadi karena kekurangan pertimbangan yang matang dari manajer dan manajer puncak. Sering kali keputusan memecat karyawan hanya didasarkan pada emosi yang tak terkendali. Jauh dari pertimbangan rasional misalnya mengapa kinerja karyawan rendah, bagaimana dengan pengetahuan dan ketrampilannya,  bagaimana pula tingkat komitmen dan kedisiplinannya dan apa akibatnya pada karyawan kalau dia dipecat. Contoh itu bisa digolongkan pada lemahnya sang manajer dan manajemen puncak untuk mau berpikir panjang.

       Kualitas berpikir apakah panjang atau pendek ada hubungannya dengan emosi. Dalam emosi terdapat perasan dan pikiran-pikiran yang digunakan sebagai basis untuk bertindak. Jadi emosi bukanlah sekedar respon tetapi sinyal dan timbulah stimulus. Dengan demikian kecenderungan terdapat proaktif dari emosi untuk bertindak. Seorang manajer yang melakukan pemecatan karyawannya tanpa berpikir panjang berarti dia tak mampu mengendalikan dirinya. Padahal berpikir panjang adalah produk dalam memertimbangkan sesuatu dengan baik-baik, hati-hati, dan rasional.

        Kemampuan menghitung untung ruginya suatu keputusan dan tindakan adalah sangat fundamental. Apalagi kalau yang menyangkut nasib dan hak asasi orang lain. Hal demikian berhubungan dengan apa yang disebut pengendalian diri dan mengelola diri. Pengendalian diri sangat berhubungan dengan kemampuan mengelola emosi. Dan itu berkaitan dengan kemampuan mengenali diri. Semakin paham kita mengenali diri sendiri semakin meningkat pula kemampuan mengelola emosi kita. Inilah yang disebut dengan kecerdasan emosi seseorang. Dengan demikian kalau kita memiliki kecerdasan emosi yang tinggi berarti kita mampu memotivasi diri untuk berpikir dan bertindak positif-rasional. Dengan kata lain kita mampu berpikir panjang.