Tidak jarang karyawan dalam suatu perusahaan mengalami ketidakpuasan kerja. Tekanan bathin dan stres kerap mereka alami. Akibatnya tak jarang kinerja mereka menjadi rendah. Masalah pokoknya bukan karena factor kompensasi dan fasilitas kerja yang tidak cukup namun karena faktor lingkungan kerja. Dalam hal ini adalah suasana kerja yang disebabkan oleh faktor kepemimpinan dari sang manajer. Yang terjadi adalah sang manajer tidak mampu membangun suasana nyaman. Yang ada lebih pada kentalnya hubungan atasan dan bawahan yang sangat kaku. Berlakulah disitu mekanisme birokrasi yang ketat. Hal ini dicirikan lemahnya upaya sang manajer dalam mengajak para karyawannya untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dengan kata lain proses pengambilan keputusan sangatlah bergantung pada sang manajer saja.

        Selain faktor-faktor di atas sang manajer kurang mendorong para karyawannya untuk mengembangkan pola pikir tentang pentingnya suatu inovasi. Proses pembelajaran dalam unit sangat langka. Sang manajer kurang bersemangat untuk mendengarkan secara seksama aspirasi yang berkembang di kalangan karyawan. Selain itu perhatian terhadap pengembangan karir juga sangat rendah. Dan yang lebih parah lagi sang manajer cenderung bersifat otoriter. Hampir setiap keputusan sekalipun yang lingkupnya sederhana diambil tanpa musyawarah dengan karyawan. Para karyawan lebih banyak berperan sebagai penonton dan pelaku kerja saja.

        Banyak tipe kemimpinan dalam suatu perusahaan yang kita kenal. Masing-masing tipe kepemimpinan tersebut memiliki kekuatan dan kelemahannya. Ada yang cenderung mendorong namun ada yang kurang mendorong karyawan dalam berprestasi. Salah satunya adalah kepemimpinan memotivasi. Model kepemimpinan ini dicirikan berberapa hal. Utamanya adalah dalam hal mendorong agar para karyawan selalu ingin belajar. Dengan belajar para karyawan akan memeroleh pengetahuan dan pengalaman baru khususnya yang berkait dengan pekerjaannya. Selain itu sang manajer selalu mengajak para karyawannya untuk memberi masukan-masukan bagi perusahaan. Dengan demikian para karyawan merasa diakui keberadaannya. Kemudian dalam kesehariannya sang manajer selalu menginspirasi para karyawan; bukan sebaliknya yakni mengintimidasi mereka. Dengan demikian para karyawan selalu merasa nyaman dalam melaksanakan pekerjaannya dalam suatu tim.

        Dengan sifat-sifat kepemimpinan di atas sang manajer relatif akan lebih mudah membangun suatu tim kerja yang tangguh. Dalam hal ini hubungan antara karyawan yang satu dengan yang lainnya terikat pada tujuan dan kepentingan yang sama. Mereka mampu bekerja dengan baik didasarkan pada saling percaya satu dengan lainnya, saling membutuhkan, saling bekerjasama, dan terkoordinasi dibawah seorang manajer yang memiliki kepemimpinan mendorong. Dengan kata lain sang manajer tidak jarang menerapkan hubungan sosial di dalam unit kerjanya. Kegiatan-kegiatan yang ada tidak dibangun dengan jalur formal saja namun juga dengan jalur informal yang padat suasana kekeluargaan. Tim kerja dibangun dalam semangat kebersamaan berbasis kekeluargaan yang solid.