Secara alami ketika seseorang usianya makin lanjut maka akan timbul pertanyaan apakah dia akan punya manfaat dalam kehidupan ini. Sementara kondisi fisik dan mental akan semakin berkurang. Mengapa demikian? Karena secara empirik ada hubungan usia dengan produktifitas kerjanya. Semakin lanjut usia semakin tinggi produktifitas namun ketika sampai usia tertentu produktifitasnya semakin menurun. Pada usia lanjut akan terjadi berbagai kemunduran pada organ tubuh seseorang. Kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri ataupun mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya akan perlahan-lahan menurun. Pada gilirannya sang manusia lanjut usia (manula) tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Ketika itu terjadi kondisi mental yang kerap muncul adalah perilaku pesimis. Tentunya mereka seharusnya membutuhkan perhatian ekstra baik yang dilakukan sendiri maupun oleh orang lain seperti keluarganya agar mereka tetap optimis dalam menjalani hidup dan kehidupan.

         Rasa optimis ada hubungannya dengan faktor intrinsik dan ekstrinsik seorang manula. Faktor intrinsik yang utama adalah cara pandang tentang hidup dan kehidupan. Semakin luas cara pandang semakin terdorong untuk tetap berbuat sesuatu bagi kehidupan di dunia ini. Faktor usia dianggap sebagai sunnatulah atau hukum alam. Dan disadari tidak ada yang bisa menunda atau memercepat tambahan usia. Karena itu biasanya manula seperti ini tidak merasa adanya sindroma pascajabatan ketika memasuki usia pensiun. Yang ada di depannya adalah apa yang terbaik yang bisa dilakukan agar hidupnya tetap bermanfaat.

       Sementara faktor ekstrinsik adalah kondisi lingkungan. Dalam hal ini adalah faktor peranan lingkungan keluarganya. Suatu keluarga yang harmonis akan selalu dicirikan dengan kehidupan interaksi sosial yang nyaman. Sekalipun orangtuanya memasuki usia pensiun, mereka akan memahami dan selalu mendorong sang manula untuk hidup rileks dan damai. Untuk itu biasanya sang keluarga semakin memberikan perhatian yang ekstra, misalnya baik dalam hal makanan maupun hiburan.

        Manusia lanjut usia yang optimis dicirikan oleh beberapa hal. Yang paling utama adalah adanya rasa syukur atas nikmat usia yang diberikan Allah. Dia akan selalu bersabar, berikhlas, dan bersyukur. Dengan demikian usia lanjut bukanlah sebagai fenomena yang patut dikhawatirkan. Selain itu rasa optimis dicerminkan oleh pengisian kesibukan sehari-hari. Sesuai dengan sumberdayanya, bisa dalam bentuk kegiatan mencari nafkah, kegiatan lembaga-lembaga sosial, syiar kebajikan, menulis, dan ikut memelihara keluarga. Pokoknya tiada hari tanpa kesibukan. Karena itu manusia lanjut usia yang hidupnya penuh optimis fisik dan wajahnya selalu tampak segar. Bagi mereka mengisi kegiatan keseharian apalagi buat orang banyak merupakan bentuk ibadah yang tak harus lekang dimakan usia.